
"Novita, lama sekali kamu tidak mengunjungi kita, kau pasti sangat sibuk." ujar Ibu Arthur.
"Eumm... sedikit, keuntungan bisnis ku selama dua tahun ini cukup meningkat Ibu, dan kemarin aku sempatkan libur untuk berkunjung." jawab Novita.
"Ouh ya Novita, apakah kau sudah mengenal Ilona? dia istri Arthur."
"Aku tau Ibu, akhirnya dia pun berani datang kembali setelah hampir sepuluh tahun menelantarkan anak dan suaminya." ujar Novita dengan kata-kata menyakitkannya.
"Jaga bicaramu, Novita! dia menantu di rumah ini kau tidak berhak mengatakan itu padanya!" bentak Ayah Arthur.
"Ayah... ayo sebaiknya kita buat kue kesukaan Ayah di dapur." ujar Ilona, yang berusaha mengalihkan.
Dengan tatapan sinis Ayah Arthur, langsung meninggalkan ruang tamu bersama Ilona. "Baiklah nak."
"Hmm... sepertinya Bunda, benar-benar terganggu dengan kedatangan bibi Novita, tapi bagaimana ini... di sisi lain Bunda adalah ibuku dan di sisi lainnya lagi ada Bibi Novita yang telah merawatku sama dengan halnya tante Susan." ujar Afmar di dalam hatinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ayah, aku mohon kendalikan emosimu." ujar Ilona.
"Ilona, kau tidak boleh bersikap seperti itu. Novita, memanglah gadis baik, namun ia memiliki sikap yang tidak mau di salahkan, dan baginya apa yang di katakan olehnya itu adalah benar."
"Aku tidak masalah dengan kehadirannya, hanya saja aku takut Afmar lebih menyukainya, memang benar ayah dengan apa yang di katakan oleh Novita, aku adalah wanita yang tidak tahu malu, karena berani kembali setelah hampir sepuluh tahun menelantarkan anak dan suami."
Mengeusap kepala. "Ilona, kau adalah wanita yang baik, ini semua bukan salahmu akan tetapi ini garis takdirmu."
"Eumm... iyah ayah." ujar Ilona.
"Kalo begitu ayo kita buat roti, karena ayah sedang ingin makan roti." ujar Ayah Arthur dengan sedikit candaan.
"Hahaha... baiklah-baiklah."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sisi lain tepat yaitu di perusahaan Sheng. Arthur, sedang memikirkan makanan apa, atau benda apa yang harus ia bawa ke rumahnya selepas ia pulang kerja untuk Ilona.
"Adira, lihat jadwal kerjaku hari ini." ujar Arthur.
Mengambilkan berkas dengan cepat. "Ini tuan, jadwal tuan hari ini tinggal satu lagi, yaitu menandatangani seluruh berkas-berkas perusahaan."
"Sebenarnya setelah sukses seperti ini hal apa lagi yah yang harus aku lakukan? pekerjaan ku setiap harinya hanya meeting, mengontrol pekerja kantor, membetulkan sistem yang tidak bekerja dengan baik itupun hanya tinggal memberi perintah, setelah itu menandatanganin dokumen-dokumen."
"Satu lagi tuan yang belum kau sebutkan."
"Apa?" tanya Arthur.
"Menggaji para karyawan." jawab Adira.
"Ouh ya itu satu lagi, karyawan yang aku miliki sekarang sekitar berapa ribu orang?"
Mengambil berkas pendataan karyawan dengan cepat. "Sekitar dua belas ribu orang."
"Cabang-cabang perusahaan makanan ku sekarang ada berapa?"
"Hmm... sekitar lima puluh lima cabang."
"Bagus, kau menghafalnya dengan sangat baik."
"Tentulah tuan, aku ini kan tangan kanan kesayangan mu." ujar Adira yang memberikan candaan.
__ADS_1
"Hahaha... sudah diam, sekarang berikan aku saran untuk membawakan hadiah ke rumah."
"Hadiah untuk siapa tuan? Afmar?" tanya Adira.
"Bukan bodoh! untuk Ilona." seru Arthur.
"Ouh... untuk nyonya, kalo begitu bawakan saja kue kesukaan nya, brownies."
"Astaga... untung saja kamu masih bekerja di tempatku, hampir saja aku lupa dengan makanan favoritnya."
"Tuan, qku tidak akan pernah keluar dari pekerjaan ini, terkecuali kau yang memecatku."
"Hahaha... tenang saja, sampai kau akhirnya menikah dan juga memiliki anak, aku tidak akan pernah memecatmu."
"Tuan kau sangat baik padaku. Jangan lupa bawakan coklat dan bunga, agar suasananya lebih romantis."
"Apakah aku perlu membelikan cincin untuknya?" tanya Arthur.
"Boleh saja tuh, ide yang bagus tuan." jawab Adira.
"Baiklah, untuk semua berkas yang harus aku tandatangani bawa saja ke rumah, karena akan aku kerjakan di rumah saja nanti. Sekarang siapkan mobil dan antar aku ke toko cincin."
"Siap laksanakan bos!" seru Adira.
...****************...
Singkatnya, mereka pun sampai di toko cincin sesuai dengan apa yang di perintahkan oleh Arthur, begitu banyak cincin-cincin indah disana yang membuat Arthur bingung untuk memilih.
"Adira, bisakah kamu memilihkan cincin yang bagus untuk Ilona? aku bingung, serasa ingin membelinya semua." ujar Arthur.
"E... eh, jangan semuanya juga!" seru Adira.
Adira, segera langsung melihat-lihat cincin yang tepat untuk Ilona, namun di saat Adira sedang sibuk memilih Arthur, malah tiba-tiba mengganti keinginannya, yang awalnya ingin sekedar cincin menjadi seperangkat perhiasan.
"Adira, aku tidak ingin memberikan cincin saja pada Ilona." bisil Arthur.
Adira menepuk jidatnya. "Astaga! lalu tuan mau membelikannya apa lagi?"
"Seperangkat perhiasan. Kau tunggu saja di luar, sisanya serahkan padaku, karna aku akan memilih nya sendiri."
Sebenarnya Adira cukup terkejut dengan keputusan Arthur yang secara tiba-tiba mengganti keputusannya yang awalnya hanya cincin berubah menjadi seperangkat perhiasan, namun percuma saja Adira, merasa heran ataupun aneh, karena Arthur adalah bos besar yang dapat membeli semuanya.
15 menit kemudian.
Akhirnya Arthur pun keluar dari toko perhiasan dengan membawa kotak perhiasan di tangannya.
"Adira, cobalah lihat perhiasan yang aku beli di dalam mobil." ujar Arthur.
"Okay." jawab Adira sembari membukakan pintu mobil untuk Arthur.
"Bagimana? bagus tidak?" tanya Arthur.
"Astaga tuan! ini sangat cantik, nyonya Ilona pasti akan langsung menyukainya, aku dapat menjamin nya." jawab Adira.
"Hahaha... baiklah sekarang ayo kita beli kue, bunga dan juga coklat."
"Tenang saja tuan itu sudah aku persiapkan, cobalah kau lihat ke belakang." ujar Adira.
__ADS_1
Bayangkan semua barang yang ada di bawah ini tersimpan dengan rapi di kusi mobil belakang.
Bunga, coklat, dan kue di dominasi dengan warna ungu, karena Ilona sangat menyukai warna ungu, menurutnya warna ungu itu adalah warna yang paling cocok dengannya.
Warna ungu memiliki arti kuat, anggun, cantik dan juga mandiri, begitu indah menurut Ilona.
"Mantap Adira, kalo beginikan Ilona, pasti sangat senang." ujar Arthur dengan bangga.
"Siapa dulu dong... Adira, hahaha." ucap Adira dengan sombong.
"Yaudah yu gas, kita pulang." ujar Arthur.
"Siap bos!" seru Adira.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Singkatnya, Arthur pun akhirnya sampai di rumah. Dengan rasa senang Arthur pun bergegas langsung masuk ke dalam rumah dan memanggil nama Ilona.
"Ilona... sayang, aku pulang." seru Arthur.
Namun, betapa terkejutnya Arthur ketika melihat Novita berada di dalam rumahnya. Dengan tidak sopan nya Novita bergegas menghampiri Arthur dan langsung memeluknya.
Betapa hancurnya hati Ilona, ketika ia baru saja muncul dari dapur menuju ke depan untuk menyambut Arthur dengan bahagia, namun semuanya seketika hancur begitu saja saat ia melihat suaminya di peluk oleh wanita lain.
Dengan pintarnya Ilona, malah menutupi sakitnya dengan senyuman. "Hai sayang... selamat datang."
Arthur yang melihat getaran tangan Ilona dari jauh pun langsung melepaskan pelukan Novita dengan kasar, dan bergegas menghampiri Ilona untuk memeluk dan menenangkannya.
"Lepaskan aku!" ujar Arthur, yang langsung melepaskan pelukan Novita dengan kasar.
"Arthur... kau kasar sekali." ujar Novita, dengan sandiwaranya.
"Arthur! dia itu teman mu." seru Ibu Arthur.
Arthur, sama sekali tidak mendengarkan apa yang di katakan oleh Ibunya, ia hanya fokus untuk langsung menghampiri Ilona, dan menenangkannya.
Hap....
Arthur, memeluk Ilona dengan erat. "Sayang, tenanglah... dia hanya teman masa kecilku, aku pasti akan menjelaskannya nanti, ketika kita sudah berada di dalam kamar, okay? kamu pasti sangat terkejut yah?"
Ilona, menganggukan kepalanya. Air mata seorang wanita kuat pun akhirnya jatuh di pelukan suaminya yang begitu kuat mencintainya. "Baiklah, izinkan aku untuk menggendongmu ke kamar. Adira! bawakan seluruh hadiah yang aku beli tadi ke kamar, sekarang!"
"Baik tuan." jawab Adira.
Bersambung.................
Jangan lupa like, favorit, vote, and share.♡(∩o∩)♡
Jangan lupa mampir ke Novel baru Author yah❤
Judulnya : Cinta Dalam Balas Dendam
__ADS_1