
"Susan, apakah pesanan ku masih lama?" tanya Arthur.
"Eumm... tunggu sebentar lagi." jawab Susan.
"Arthur, kenapa kamu langsung menghabiskan minuman mu? padahal makanannya belum di antar kesini."
"Aku sangkat kehausan, oleh sebab itu ku habiskan langsung, tenang saja aku bisa memesannya lagi nanti."
"Eum... Arthur, apakah boleh aku duduk lebih dekat dengan mu?" Susan mulai mendekat ke sisi Arthur.
"Tentu saja boleh."
"Hmm... tuan Arthur memanglah rajanya bersandiwara, begitu mulus dan sangat meyakinkan." ujar Adira di dalam hatinya.
"Arthur, apakah aku boleh bertanya?"
"Boleh, tanyakan saja."
"Seberapa besar cintamu terhadap Afmar?" tanya Susan.
"Aku sangat mencintainya sebesar cintaku terhadap Ilona."
"Ilona lagi, Ilona lagi! kenapa sih harus perempuan ****** itu!" ucap Susan di dalam hatinya.
"Susan? apakah kau baik-baik saja? wajahmu kelihatan nya sangat pucat."
"Eum-- iyah, aku tidak apa-apa kok, kau tenang saja yah." jawab Susan dengan lidah yang terbata-bata.
"Susan..."
"Eumm, iyah Arthur ada apa?"
"Umurmu sekarang sudah 29 tahun, kenapa kamu belum menikah?" tanya Arthur dengan niat untuk memancing Susan.
"Kenapa... dia bertanya soal itu? apakah obatnya sudah bereaksi?" tanya Susan di dalam hatinya.
"Aku belum menemukan seseorang yang tepat untuk ku." jawab Susan.
"Ya wajar saja sih... jika belum ada seorang pun yang dapat mendekatimu sebab selama ini kamu hanya menghabiskan waktumu untuk bekerja, sebenarnya apalagi yang kamu cari?"
"Aku hanya belum menemukan cinta sejatiku, Arthur."
"Iyah aku tau, namun kenapa kamu tidak berusaha untuk mencarinya?"
"Karna ada hal yang belum aku capai."
"Apalagi? rumah? uang?"
"Cukup Arthur!" bentak Susan.
"Eum... maafkan aku, Susan." ujar Arthur.
"Sudahlah Arthur, lupakan saja."
"Kamu kenapa? jangan marah-marah gitu dong, please." ujar Arthur yang mulai menembakan anak panahnya pada Susan.
Seketika Susan menjadi begitu terkejut dengan apa yang di katakan oleh Arthur. "Arthur, kau kenapa?"
"Susan, jam berapa ini? kenapa aku merasa hari ini begitu panas?"
__ADS_1
Susan bergumam di dalam hatinya. "Eumm sepertinya obat yang di beli oleh Sista memanglah bagus, secepatnya ini efeknya."
"Arthur, apakah kamu sedikit tidak enak badan?"
"Aku baik-baik saja, Susan dimana makanan yang aku pesan? apakah kamu lupa memesannya?"
"Tidak, sebenarnya aku yang meminta pelayan untuk tidak mengantarkan makanan mu."
"Ah... Susan sangat jahat sekali, bisa-bisa aku mati kelaparan disini."
"Ma-- maksudku, biar aku saja yang mengambilnya sendiri."
"Eumm... aku lapar Susan, cepat bawakan makanannya kesini." ujar Arthur dengan laga seperti seseorang yang sedang mabuk.
"Baiklah tunggu sebentar." Susan pun mulai beranjak dari tempat duduknya untuk membawakan makanan yang Arthur pesan.
"Susan, sebenarnya kau itu terlalu naif untuk melakukan hal sebesar ini, apalagi kau sendirian." gumam Arthur.
Tak lama dari itu Susan pun kembali lagi dengan membawa seluruh makanan yang ia dan Arthur pesan.
"Makanan sudah datang." ujar Susan.
"Waw... !!! liatlah semua makanan ini belihatannya sangat enak."
"Cobalah satu persatu Arthur."
"Aku begitu sangat lapar Susan, bisakah kamu menyuapiku?"
"Astaga! obatnya benar-benar sudah bekerja dengan sangat baik." ujar Susan di dalam hatinya.
"Arthur, apakah kamu masih merasa kepanasan?" tanya Susan.
"Emm... sedikit mendingan, aku mau makan Susan biarkan aku yang habiskan semuanya."
"Hahaha... baiklah, jika kamu masih merasa lapar katakanlah, nanti akan aku pesankan lagi makanan untukmu."
"Ahh... ini saja sudah cukup, selamat makan!" ujar Arthur.
"Selamat makan Arthur."
"Susan... kamu tidak mau menyuapiku?"
"Kamu sungguh ingin di suapi oleh ku?"
Arthur melambaikan tangannya kehadapan wajah Susan. "Hey... aku tidak akan memintanya jika tidak mau."
Seketika Susan menjadi salah tingkah dengan sikap yang di tunjukan oleh Arthur padanya. "Hahaha... baiklah, aku akan menyuapimu."
"Yuhu... a..." Arthur membuka mulutnya.
"Hahaha... Arthur, kau kelihatan lebih menggemaskan jika sedang dalam pengaruh obat." gumam Susan.
"Astaga! paman Adira, apakah itu paman Arthur?" bisik Danis yang sedang memperhatikan.
"Iyah Danis itu tuan Arthur, dia sangat pandai bersandiwarakan?"
"Bakat yang di miliki oleh paman Arthur ternyata turun pada Afmar, karena ia pun sangat lihey dalam bersandiwara sama dengan halnya paman Arthur."
"Mereka berdua memang memiliki banyak kesamaan, dari wajah, tingkah laku, pemikiran, dan masih banyak lagi."
__ADS_1
"Aku berharap paman dan tante cepat kembali seperti semula, agar Afmar dapat merasakan bagaimana rasanya memiliki keluarga yang lengkap."
"Akupun memiliki harapan yang sama dengan mu, Danis"
"Jika mereka berdua bersatu kembali, kedepannya mereka akan menjadi pasangan yang seperti apa yah?" ujar Danis yang sepertinya sangat penasaran.
"Mereka adalah pasangan bahagia, hubungan yang selalu di hiasi dengan keromantisan, cinta, dan kasih sayang. Nyonya dan Tuan selalu menjadi daya tarik bagi orang-orang, mereka pun menjadi contoh baik bagi pasangan lainnya."
"Kenapa paman Adira mengetahui semua itu?" tanya Danis.
"Karna paman sudah bekerja cukup lama dengan Tuan Arthur jadi pantas saja jika paman mengetahui segala hal dari masa lalu mereka, karna paman selalu ada di dekat mereka kapan pun dan dimana pun, itulah tugas tangan kanan."
"Waw... paman, aku ingin menjadi sepertimu." ujar Danis.
"Eh... kenapa kau tiba-tiba merubah cita-citamu?" tanya Adira.
"Aku tidak merubah cita-citaku, hanya saja aku kagum dengan kesetiaan yang di miliki oleh paman Adira, dan kepercayaan yang paman dapatkan dari paman Arthur itu sungguh sangat penuh."
"Jadi kau memutuskan untuk menjadi sepertiku?" tanya Adira dengan raut wajah yang serius.
"Iyah..."
Adira mengusap kepala Danis. "Hahaha... baiklah, kau harus bisa lebih baik dariku yah! karna aku bisa saja setia kepada tuan ku akan tetapi aku pernah membuat kesalahan karna tidak setia dengan pasangan ku."
"Kenapa kau tidak setia pada pasangan mu?" tanya Danis dengan rasa ingin tau yang tinggi.
"Emm... tidak-tidak, aku salah bicara, sudah lupakan kembali memantau." mode memantau kembali di aktifkan.
"Kau sangat aneh paman." ujar Danis dengan lirikan sinis.
Kembali lagi ke keadaan Susan dan Arthur. Setelah Arthur selesai makan Susan langsung bergegas melanjutkan rencananya, Susan berbohong kepada Arthur bahwasanya ia baru saja mendapatkan pesan berisikan pembatalan pertemuan.
"Arthur, sepertinya kita tidak jadi rapat." ujar Susan.
"Oh... kenapa? padahal kita sudah menunggu lama untuk menunggu mereka datang." jawab Arthur.
"Eumm... akupun tidak tahu..."
"Trus kita harus bagaimana?" tanya Arthur dengan suara yang lesu.
Tanpa ada basa-basi lagi Susan pun bergegas ngajak Arthur pulang, namun maksudnya pulang ke hotel yang berbeda. "Arthur, sebaiknya kita pulang saja untuk beristirahat, okey?"
"Eumm... okey."
Susan sedikit hawatir jika Arthur terlihat seperti seseorang yang sedang dalam pengaruh obat, maka Susan bertanya. "Arthur, apakah kamu bisa berdiri sendiri?"
"Susan, aku bukan bayi yang baru saja lahir jadi tentu saja aku bisa berdiri dan berjalan." ujar Arthur.
"Baiklah, aku akan membantumu." Susan bergegas menggandeng tangan Arthur.
Jangan lupa untuk melanjutkan ke bab 43 yah!
Tetap suport dengan cara Like, Favorit, dan Vote setiap hari senin.
Jika ada pemasukan ide silahkan tulis di kolom komentar. So jangan ketinggalan bab selanjutnya♡(∩o∩)♡
Jangan lupa mampir ke Novel baru Author yah❤
Judulnya : Cinta Dalam Balas Dendam
__ADS_1