Papa Merindukannya

Papa Merindukannya
Bab 66 Kebahagiaan keluarga kecil


__ADS_3

Keesokan harinya.


Afmar, yang sudah tidak sabar lagi untuk bermain di pesisir pantai, segera bersiap-siap tepatnya jam 7 pagi Afmar sudah mengetuk-ngetuk pintu kamar Arthur untuk segera bangun dan bermain.


Tuk... tuk... tuk...


"Halo! apakah ada orang di dalam? papah! bunda! bangun dong, ayo kita main pasir, liat deh pemandangan nya bagus banget." ujar Afmar, yang memanggil kedua orang tuanya dari luar kamar.


Dan ternyata Arthur, sudah mengetahui kelakuan anaknya itu, jika dirinya sudah tidak sabar lagi untuk melakukan suatu aktifitas yang ia sukai ia pasti akan bangun lebih awal dari pada orang lain.


"Iyah sayang, kami udah bangun kok." ujar Ilona.


"Emangnya papah ga tau apa kamu pasti bakal ngetok-ngetok pintu? papah sama bunda udah bangun dari jam 05.30." saut Arthur.


"Hahahaha... yaudah buka dong pintunya pah! Afmar, mau masuk dong."


"Iyah-iyah benar nih bunda bukain."


Ilona, berjalan menuju pintu untuk membukakan pintu untuk Afmar.


"Bunda!" ujar Afmar, yang langsung memeluk Ilona secara berlahan.


Ilona, langsung tersenyum dan memeluk balik anaknya itu. "Umm sayang."


Afmar, seketika langsung melihat ke sekeliling kamar Ilona. "Loh kok bund?"


"Kenapa?" tanya Ilona, yang kebingungan.


"Kok kamar bunda sama papah bagus banget ada bunga bunganya? trus lampu-lampunya bagus banget!"



"Anak bawang ga perlu kepo-kepo deh." ujar Arthur.


"Ish papah, pelit banget sih sama anaknya sendiri. Bunda-bunda, jawab dong... kenapa sih kamar bunda sama papah bagus banget?"


"Jadi ini tuh namanya hiasan kamar pasangan, biasanya di pake buat pasangan pengantin baru, seseorang yang sedang bulan madu, ataupun seseorang yang sedang merayakan hari spesial contohnya seperti hari ulang tahun pernikahan, dan lain-lain." jawab Ilona.


"Ouh... kalo Afmar, boleh nggak kamarnya di hias-hias? tapi Afmar, mau di hiasnya sama bola-bola."


"Hahaha iyah-iyah boleh sayang, nanti papah minta tolong ke pelayan penginapan nya yah?"


Dengan senangnya Afmar, kembali memeluk Ilona secara berlahan. "Terimakasih bunda."


"Sama-sama, sayang."


"Papah, ayo kita main." ujar Arthur.


"Ya ayo! siapa juga yang nggak mau, kita udah jauh-jauh kesini masa ga main pasir." seru Arthur, dengan penuh semangat.


Ilona, tersenyum dan berucap dalam hati. "Arthur, kelihatannya sangat senang. Ternyata seseorang yang dulunya dingin, tegas, cuek, dan penuh dengan aturan bisa seceria ini jika bersama keluarga kecilnya."

__ADS_1


"Bunda mau ikut nggak?" tanya Arthur.


"Bunda, ayo ikut dong!" seru Afmar.


"Iyah sayang-sayangku, nanti bunda nyusul yah. Bunda, harus beresin dulu baju-baju nih." jawab Ilona.


"Ahh... bunda ayo! sekarang aja, barang-barang biar bibi aja yang beresin." ujar Afmar, yang memaksa.


"Sayang, bibi juga harus istirahat, gapapa ini sama bunda aja. Kalian berdua duluan aja nanti bunda pasti nyusul kok."


"Afmar, pengen nya sekarang bunda." Afmar, mulai memaksa Ilona untuk menyisihkan pekerjaan nya.


"Afmar... nggak boleh gitu, bunda kalo udah pengen beresin sesuatu pasti jadi keras kepala, mau sekuat apapun Afmar bujuk bunda, bunda juga ga akan mau kalah sama Afmar. Jadi, Afmar aja yah yang ngalah sama bunda." bujuk arthur.


"Eum... janji yah!" ujar Afmar.


"Iyah Afmar, sayang." jawab Ilona, dengan senyuman.


"Oke deh. Papah! lest go!" ujar Afmar, dengan penuh semangat.


Ilona, pun segera membereskan barang-barangnya dengan cepat, karena ia pun tidak ingin anak dan suaminya menunggu lama.


"Bujukan Arthur tadi terhadap Afmar begitu lembut, dan juga penuh dengan kasih sayang. Aku sangat kagum padanya, ia bisa berlaku tegas pada Afmar akan tetapi ia pun dapat berlaku sangat lembut seperti tadi." gumam Ilona, yang memuji suaminya.


Senang rasanya Ilona dapat melihat anak dan suaminya bersama, tertawa bersama, juga memberikan sebuah kebahagiaan tersendiri baginya, ia sangat bangga mendapatkan seorang suami yang begitu perhatian, dan sangat mencintai dirinya.


Ia pun begitu sangat senang melihat pertumbuhan anaknya yang begitu baik, kebijakan nya dalam berlaku begitu sangat mirip dengan papahnya. Memanglah do'a dari seorang ibu itu tidak akan pernah di tolak oleh tuhan.


Afmar, yang sedang bermain di pesisir pantai pun melihat ke arah Ilona dengan senyuman bahagianya, sambil melambaikan tangan nya Afmar memanggil bundanya. "Bunda, halo! Afmar, lagi main pasir, bunda cepet beresin yah kerjaan nya."


"Iyah sayang, sebentar lagi bunda nyusul yah." jawab Ilona.


"Oke bunda. Papah! tangkap ini." ujar Afmar, yang kembali bermain bersama Arthur.


Ilona, dapat melihat anak dan suaminya yang sedang bermain bersama dari atas penginapan yang langsung mengarah ke arah mereka.


"Papah... papah... apakah kau sudah membawa cetakan istana pasir?" tanya Afmar.


"Cetakan istana pasir? tidak, papah tidak membawanya." jawab Arthur.


"Ah... yasudah, Afmar mau ambil dulu." ujar Afmar, yang langsung beranjak menuju kamar Arthur.


"Afmar! kita bisa menggunakan tangan sajakan? atau tunggu bunda saja."


"Tidak! Afmar, mau mainnya sekarang." saut Afmar, dari kejauhan.


"Anak itu, sangat keras kepala mirip sekali dengan bundanya. Semoga saja anak kami yang kedua lebih pengalah." gumam Arthur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Bun... bun... liat cetakan istana pasir Afmar nggak?" ujar Afmar.

__ADS_1


Sambil mencari-cari mainan nya tersebut Afmar, terus menerus memanggil bundanya dengan sangat keras.


"Bunda... bunda, dimana sih?" panggil Afmar.


Afmar, pun memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar Ilona dan Arthur tanpa meminta izin, dan betapa terkejutnya Afmar ketika melihat bundanya yang sedang mual-mual di kamar mandi.


Uo.......


"Bunda! bunda, kenapa? ko mual-mual gitu? bunda ga enak badan yah? Afmar, panggil papah yah? sebentar." ujar Afmar, yang seketika menjadi panik.


Ilona, pun menjadi ikut terkejut karena melihat anaknya yang secara tiba-tiba sudah berada di kamarnya. "Jangan!"


"Ke-kenapa?" tanya Afmar.


Ilona, berusaha mencari alasan yang tepat dan mengekspresikan dirinya dengan benar. "Bunda, tadi makan biskuit, tapi biskuitnya nggak enak jadi bunda mual-mual deh."


Fiuhh....


Afmar, menghembuskan nafas leganya. "Ish bunda, bikin Afmar kaget aja."


Ilona, langsung mengusap kepala Afmar dengan halus. "Umm maaf, bunda bikin Afmar hawatir yah?"


"Iyah..."


"Afmar, ke kamar bunda mau ngapain? kok ga izin dulu?"


"Etto... tadi Afmar, mau cari cetakan istana pasirnya Afmar, cuman Afmar lupa nyimpen nya dimana."


"Oh... sebentar bunda ambilin dulu." Ilona, bergegas mengambil mainan yang di maksud oleh Afmar dari dalam tas mainan Afmar.


"Okey deh."


Ilona, mengeluarkan mainan tersebut dari dalam tas. "Yang ini bukan?"


Gambaran mainan yang di maksud oleh Afmar



"Oh... masih ada di tas rupanya, hehehe. Terimakasih bunda, Afmar mau ke pantai lagi yah, dadah... nanti bunda nyusul yah." ujar Afmar, yang langsung bergegas kembali ke pesisir pantai untuk bermain.


"Hahahaha iyah sayang." jawab Ilona.


Bersambung......


Jangan lupa Like + Komen + Vote setiap hari senin + Share juga yah.


...♡(∩o∩)♡...


Jangan lupa mampir ke Novel baru Author yah❤


Judulnya : Cinta Dalam Balas Dendam

__ADS_1



__ADS_2