
"Danis, pastikan kamu merekamnya dengan baik." ujar Adira.
"Iyah paman, kau tenang saja aku sudah handal menggunakan camera." jawab Danis.
"Jika aku memberikan sebuah kode padamu untuk menzoom gambar, maka secepatnya kau harus langsung menzoomnya."
"Iyah paman."
Adira merasa bahwa dirinya sedang mengobrol dengan kulkas dua pintu, di karenakan sikap yang di tunjukan oleh Danis kepadanya memanglah sangat dingin. "Danis, kau bisa tidak berhenti untuk bersikap dingin kepadaku, bersikaplah seperti ketika kamu berusaha untuk menghibur Afmar di rumah sakit."
"Emm... aku lupa caranya." Dengan mudahnya Danis malah beralasan bahwa ia lupa dengan caranya.
"Astaga, yasudah sebaiknya kau fokus saja mengamati Sista."
"Dari tadi aku sudah fokus, hanya saja paman yang banyak bicara."
Adira menundukan kepalanya lalu bergumam. "Disini sebenarnya siapa yang lebih dewasa?"
"Paman, fokus saja ke jalan."
"Iyah sudah-sudah, aku tau tugasku!" seru Adira.
Pindah ke lain sisi, yaitu di tempat area pembangunan.
Afmar, bersama dengan Alex dan Misha sedang memantau gerak-gerik Susan dari jarak jauh, ia pun selalu mengganggu Susan agar tidak dekat-dekat dengan Arthur.
"Teman-teman, pokoknya kita harus bisa jauhin tante Susan dari papah, okey." ujar Afmar.
"Tapi, bagaimana caranya? kita di larang untuk ke dalam area pembangunan." tanya Misha.
Alex menjawab. "Halah Misha, kenapa kau ini selalu ribet sih? kita tinggal telfon saja si wanita ular itu untuk kemari."
"Ouh... iyah juga si, hahaha." tidak terlintas di benaknya bahwa mereka dapat menggunakan handphone sebagai sarana untuk memanggil.
"Jadi yang bodoh itu siapa? aku atau kamu sih?" tanya Alex.
"Kau, karena kau lebih bodoh dariku." jawab Misha.
"Lah, trus kalo kamu lebih pintar dariku sedikit... mungkin kamu akan berfikir soal tadi."
Dengan entengnya Misha mengatakan. "Kau hanya hoki."
"Ah... sudah-sudah! kalian diam aku mau telfon tante Susan." seru Afmar.
"Emm... ya maaf." ucap Misha dan Alex.
...Pembicaraan di telfon...
"Tante Susan."
^^^"Ada apa sayang? apakah kamu membutuhkan sesuatu?"^^^
"Aku ingin tante menemaniku di sini, sebentar saja bolehkan?"
^^^"Tapi, tante belum selesai bekerja, masih ada banyak hal yang harus tante selesaikan."^^^
"Hu..~ hu..~ tante tidak sayang padaku, padahal tante bisa sambil bekerja juga disini, Afmar hanya ingin di temani saja" (Afmar mengeluarkan air mata buaya.)
^^^"Emm... yasudah, tapi Afmar harus berjanji jangan mengganggu tante saat bekerja yah."^^^
"Siap laksanakan, tante cepat kesini yah! dadah..."
Tut......
"Wo... aku serasa ingin muntah mengatakan itu semua." ujar Afmar.
"Hahaha... akupun." jawab Alex.
"Sandiwara yang kau buat memanglah bagus, Afmar." saut Misha.
"Ah yasudahlah, sekarang mari kita tunggi tante Susan disini."
Afmar, di didik oleh Arthur untuk tetap sopan kepada semua orang yang ia temui, sekaligus ia pun harus tetap bersikap manis dan sopan ketika bertemu dengan musuhnya, tujuan nya adalah untuk mempermudah ketika akan mengelabui sang musuh tersebut.
Tak lama dari itu Susan pun datang ke taman dengan membawa sedikit cemilan untuk Afmar dan teman-temannya.
Afmar memulai sandiwaranya. "Tante Susan!"
__ADS_1
"Hahaha... kau begitu bersemangat, ada apa?" saut Susan.
Afmar memeluk Susan dengan cukup erat yang tujuannya adalah untuk menyempurnakan sandiwaranya tersebut. "Aku sangat merindukan mu tante."
Alex berbisik ke telinga Misha. "Ya ampun, dia itu adalah seorang aktor besar, jago sekali."
Misha menjawab bisikan Alex. "Hmm... Afmar, wajib untuk mengikuti sebuah audisi."
"Kita setiap harikan ketemu." jawab Susan.
"Aku rindu memelukmu, temani aku di sini, sebenatar saja."
"Iyah-iyah, tujuan tante datang ke sinikan memang untuk dirimu."
"Umm... aku sangat menyayangimu tante." ujar Afmar dengan menunjukan wajah memelasnya.
"Tante juga sangat menyayangimu." jawab Susan dengan tingkat kepercayaan diri yang tiba-tiba meningkat.
"Tante, apakah makanan ini untukku?"
"Hmm... nih, tante khusus membelikannya untukmu."
"Terimakasih tante, nanti Afmar akan memakannya bersama teman-teman Afmar yang lain. Tante tenang saja Afmar tidak akan mengganggu."
"Emm... baiklah, yasudah tante duduk di sebelah sana yah, kamu baik-baik."
"Iyah tante baiklah, semangat."
"Baiklah sayang."
Afmar berlari menuju ke arah teman-temannya. "Teman-teman, aku membawakan sesuatu untuk kalian."
Susan yang melihat Afmar yang senang karenanya semakin yakin bahwa ia lebih pantas untuk menjadi ibu Afmar, di bandingkan dengan Ilona.
"Afmar, apakah kau tidak merasa aneh?" tanya Misha.
"Aneh? kenapa aku harus merasa aneh?" Afmar bertanya balik.
"Ya, kau memeluk tante Susan, apakah itu tidak aneh?"
"Misha, ini hanyalah sebuah sandiwara, sudahlah lihat saja hal yang selanjutnya akan terjadi." ujar Afmar.
"Makan melulu yang ada di otak kamu."
"Hahaha... makanan ini tidak ada racunnya kok, Misha." saut Afmar.
"Ya itu benar jadi ayo kita makan!" seru Alex.
Misha menghela nafasnya. "Yasudahlah, aku juga lapar."
Di sisi lain Adira dan juga Danis masih terus membututi mobil Sista dari belakang.
"Paman, jangan sampai kita kehilangan jejaknya." ujar Afmar.
"Kau tenang saja, karna dia tidak akan pernah bisa menghilang dari patauan ku." jawab Adira dengan penuh percaya diri.
"Ya sebaiknya kau membuktikannya, paman."
"Tenang saja..."
Tiba-tiba mobil yang di tumpangi oleh Sista berbelok ke arah kanan. "Paman! lihatlah mobil tante Sista belok ke kanan."
"Kau benar, baiklah Danis mulailah merekam dengan baik."
"Baik paman, aku akan merekamnya sekarang."
Tak berselang lama Sista pun turun dari mobil dan mampir kesebuah Apotek yang ada di pinggir jalan.
Adira bergumam. "Dia? ngapain masuk ke apotek?"
"Paman, apakah ada yang sakit?" tanya Danis.
"Entahlah, tunggu saja."
5 Menit kemudian.
Sista pun keluar dari Apotek tersebut dengan membawa sesuatu di tangannya.
__ADS_1
Adira langsung gencar memerintah Danis untuk menzoom gambar ke arah tangan Sista. "Danis! cepat zoom ke arah tangannya!"
"Baik paman." ujar Danis.
"Bagus, dia sudah kembali ke dalam mobil. Sekarang tugasmu adalah menyelidiki obat apa yang ia pegang tadi."
"Baik paman."
"Berhenti merekam dan cepat ambil kesimpulan!" seru Adira.
"Baik paman."
"Hey Danis! bisa tidak kau menjawabku dengan selain kata 'Baik paman' jadi pusing dengernya."
"Kenapa harus pusing?" tanya Danis.
"Nah... sekarang sudah tidak pusing."
"Emm... baik..."
Dengan secara tiba-tiba Adira menyela Danis yang sedang berbicara. "Iyah! cukup! sudah jangan bicara lagi."
Danis pun hanya bisa terdiam ketika Adira memberikan perintah kepadanya untuk berhenti berbicara. Danis pun memutuskan untuk bergegas mencaritahu sebenernya obat apa yang Sista beli di Apotek tadi.
Tidak membutuhkan waktu yang lama Danis pun langsung menemukan jawabannya. "Paman, aku sudah menemukan nama merk obatnya."
"Apa? sebutkan."
"Durex." ujar Danis dengan tatapan lurus mengarah ke Adira.
"APA!" teriak Adira di dalam mobil.
"Ouh sebentar biar Danis cari di internet." Danis hendak mengambil handphonenya.
"JANGAN! paman sudah tau kok."
"Terlanjur, Durex adalah merk dari sebuah alat kontrasepsi untuk para pasangan suami istri ketika sedang berhubungan badan."
Dengan wajah murung Adira mengatakan. "Danis! paman kan sudah bilang tidak usah, tetapi kenapa kau masih tetap mencaritaunya."
"Alat kontrasepsi itu apa? jelaskan." tanya Danis.
"As~astaga... bagaimana aku harus menjawabnya, dia masih di bawah umur..." ujar Adira di dalam hatinya.
"Paman, ayo jelaskan."
"Tidak mau!"
"Paman, jika kau tidak mau memberitahuku, maka aku akan mencaritahunya sendiri di internet." Danis mulai mengancam.
"Baik-baik! paman akan jelaskan, alat kontrasepsi itu adalah sebuah alat ketika sebuah pasangan sedang berhubungan badan, kau taukan maksud dari berhubungan badan?"
"Seperti rencana tante Susan kepada paman Arthur?" Danis bertanya kembali.
"Emm... iyah."
"Astaga!" Seru Danis.
"Kenapa?" tanya Adira yang terkejut.
"Tidak apa-apa, hanya saja aku aneh dengan para orang dewasa, kenapa mereka harus berhubungan badan?"
"Sudah cukup! sekarang belum waktunya kau tau tentang ini! kau masih masuk ke dalam daftar bocah ingusan."
"Baiklah-baiklah."
...Bersambung...................
Cerita ini mempunyai alur cerita panjang, jadi sabar yah untuk menunggu semuanya terungkap, terimakasih dan tetap suport Author yah!✔️
Jangan lupa untuk melanjutkan ke bab 40 yah!
Tetap suport dengan cara Like, Favorit, dan Vote setiap hari senin.
Jika ada pemasukan ide silahkan tulis di kolom komentar. So jangan ketinggalan bab selanjutnya♡(∩o∩)♡
Jangan lupa mampir ke Novel baru Author yah❤
__ADS_1
Judulnya : Cinta Dalam Balas Dendam