Papa Merindukannya

Papa Merindukannya
Bab 34 Arthur kau hanya milik ku!


__ADS_3

"Iyah, aku akan berhenti untuk menangis." Afmar menghapus air matanya dengan baju lengan panjangnya.


Adira mengusap kepala Afmar. "Tenanglah, di sini ada paman yang selalu mendukung Afmar, paman pun tidak ingin jika tuan Arthur menikah kembali dengan wanita lain apalagi dengan Susan."


"Paman, berjanjilah untuk terus mendukung Afmar."


Namun, tiba-tiba Alex menghampiri mereka berdua yang sedang duduk di bangku taman.


Alex berjalan menghampiri Afmar yang sedang bersama Adira. "Woi! Afmar, kau sedang apa? kenapa kau begitu lama mengobrol dengan paman jelek itu."


"Heh! dasar anak tengil, siapa yang kau bilang jelek itu!?" seru Adira.


"Ya siapa lagi kalo bukan, PAMAN ADIRA! hahaha..." ujar Alex yang mengolok-ngolok Adira.


"Ish... ish... ish... bagi paman jelek itu tidaklah menjadi masalah besar." jawab Adira dengan santainya.


"Lalu?"


"Gapapa jelek yang penting banyak yang suka! paman ini salah satu pria yang menjadi pusat perhatian di kantor, Wle!" Adira mengejek balik Alex dengan cara mengulurkan lidahnya.


"Eh paman! jangan salah akupun di sekolah menjadi salah satu daya tarik para wanita." Alex menyilangkan tangannya seperti seorang bos.


Dengan sombongnya Adira mengatakan, "Hahaha... kau ini masih kecil, para wanita mendekatimu hanya ingin di beri coklat berbeda dengan paman, banyak wanita yang mendekati karena ingin di nikahi."


"Argh... berisik sekali! Afmar, segera kembali jangan dekat-dekat dengan paman ini!" Alex meninggalkan tempat dengan rasa kesal.


Ketika Alex pergi, Afmar merasa terhibur dan ia pun tertawa sangat keras, karena entah kenapa sikap yang di buat oleh Alex itu menurutnya sangatlah lucu. "Hahaha... baiklah aku akan menyusulmu nanti, jangan marah-marah lagi!"


"Afmar! kenapa kau malah tertawa seperti itu? kau tertawa di saat aku sedang merasa kesal, aneh sekali." teriak Alex yang menjawab ucapan Afmar.


"Tidak apa-apa, aku hanya merasa terhibur saja, terimakasih!" teriak Afmar dengan senyuman tulus di pipinya.


Alex yang awalnya merasa kesal ketika ia mengetahui bahwa ternyata Afmar merasa terhibur karenanya ia pun dengan secara tiba-tiba berubah sembilan puluh derajat menjadi sangat ceria. "Hahaha... baiklah, terimakasih kembali."


"Sama-sama Alex, nanti aku akan menyusul!"


Alex yang sudah merasa senang pun merubah cara berjalannya menjadi setengah berlari dan melompat-lompat karena senang. "Baiklah aku akan menunggumu!"


"Hahaha... lihatlah teman mu itu, Afmar." bisik Adira.


"Alex, memang selalu begitu paman, ketika ia tau bahwa aku merasa senang karna dirinya ia pun akan merasa senang, malah sepertinya dia lebih bahagia." jawab Afmar dengan senyuman.

__ADS_1


"Seharusnya kamu bersyukur, Afmar."


"Iyah paman, Afmar sangatlah bersyukur memiliki seorang teman seperti mereka, Alex selalu membuat Afmar tertawa kembali, Misha selalu menjadi penasehat terbaik, dan Danis adalah pendengar terbaik bagi Afmar."


"Syukurlah, kamu memiliki teman yang sangat peduli terhadap mu. Afmar, Berjanjilah untuk menjadi teman terbaik mereka yah!?"


"Itu pasti paman, Afmar akan selalu menjadi teman terbaik mereka hingga kelak kita menjadi dewasa."


Adira mengulurkan tangan nya untuk menjabat tangan Afmar. "Baiklah, kalo begitu kita seharusnya dapat bekerja sama untuk menyelidiki tante Susan."


Afmar menjabat tangan Adira dengan penuh semangat. "Pasti! apapun akan Afmar lakukan demi keharmonisan papah dan bunda. Afmar, tidak akan dapat menerima sebuah penghianatan seperti ini!"


"Baiklah, paman setuju dengan mu!" ujar Adira dengan mengusap kepala Afmar dengan sisi tangan yang lainnya.


Di sisi lain tempat, Susan dan Sista sedang merencanakan sebuah rencana baru mereka.


"Susan, sepertinya disini aman, bagaimana jika kita mulai merencanakannya sekarang? lebih cepat lebih baik bukan?" ujar Sista.


"Hmm... lebih cepat memang lebih baik, namun kita pun harus merencanakan nya dengan sangat matang, kau ingat!?"


"Iyah aku tau, yasudah ayo cepat katakan apa rencana yang kau buat itu."


"Hari ini saja ia sepertinya sangat lelah dan lesu, itu adalah waktu yang tepat untuk memanfaatkan nya."


"Aku sangat yakin, Sista kau jangan bertingkah bodoh seperti itu, Arthur pasti akan mempercayai ku."


"Yasudah... yasudah, bagaimana rencananya?"


"Aku akan menaruh obat perangsang di minuman nya, namun kamu jangan hawatir aku tidak akan membawanya ke hotel tempat kita beristirahat, karena jika aku membawa Arthur ke hotel tempat kita beristirahat pasti semuanya akan hancur."


"Kau benar, karena ada Afmar kan?"


"Benar sekali."


"Karena kau akan rugi jika Afmar mengetahui bahwa kau lah yang memanipulasi keadaan ini, kau akan mendapatkan hati Arthur tapi tidak dengan Afmar."


"Aku tau, oleh sebab itu aku akan membawa Arthur ke hotel lain."


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Sista.


"Kau cukup belikan aku obat perangsang, dan buatlah rencana untuk menjebak Arthur, contohnya buat proposal palsu."

__ADS_1


"Emm... sepertinya aku tau bagaimana gambaran rencanamu itu. Tugas ku sekarang adalah membuat proposal kontrak palsu, setelah itu kau akan membawa Arthur ke sebuah caffe untuk berpura-pura menemui klien, lalu kau akan memesan minuman dan mencampurkan obat perangsang itu ke dalam minuman Arthur, begitu?"


Susan melanjutkan rancangan rencana yang Sista buat. "Hahaha... kau benar sekali, setelah semuanya berjalan lancar dan Arthur pun sudah meminum minuman itu aku akan berpura-pura mendapatkan telfon dari salah satu Klien."


Di sambung kebali oleh Sista. "Lalu di dalam pembicaraan itu ternyata sang Klien tidak dapat hadir, dan pertemuan pun di batalkan, kalian berdua pun memutuskan untuk pulang, di tengah perjalanan obatnya mungkin sudah bereaksi, Arthur merasa panas dan akhirnya membuka sebagian kancing bajunya."


"Hahaha... kau itu memang patner terbaik ku, Sista. Aku jadi tidak sabar ingin melihat seluruh tubuh Arthur." gumam Susan.


"Jangan lupa nanti kau harus menaruh kamera di kamar hotel sebelum... kau dan Arthur bercinta, hahaha."


"Sista! kau sangat pintar sekali, Ilona lihat saja nanti Arthur akan segera menceraikan mu."


"Jadi semuanya sudah deal?" Sista mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


Susan menjabat tangan Sista dengan menuh percaya diri. "Deal!"


Adira dan Afmar yang melihat Susan dari kejauhan merasa curiga dengan apa yang sedang mereka bicarakan, akhirnya mereka pun memutuskan untuk memata matainya mulai dari sekarang.


"Paman, sepertinya kita harus segera mencari tau apa yang sedang mereka berdua bicarakan." bisik Afmar.


"Iyah, paman punya rencana untuk mengikuti Susan."


Afmar melirik ke arah Adira dengan raut wajah yang kebingungan. "Lalu bagaimana dengan tante Sista?"


"Astaga, paman hampir melupakan nya, bagaimana jika kita bagi tugas, paman memata-matai Sista dan Afmar memata-matai Susan?"


"No! no! no! Afmar tidak mungkin sendirian, walau Afmar pintar tetap saja kejahatan di luar sana itu lebih banyak."


"Hmm... Afmar ada benarnya juga, biarkan paman berfikir dulu."


...Bersambung...................


Jangan lupa untuk melanjutkan ke bab 35 yah!


Tetap suport dengan cara Like, Favorit, dan Vote setiap hari senin.


Jika ada pemasukan ide silahkan tulis di kolom komentar. So jangan ketinggalan bab selanjutnya♡(∩o∩)♡


Jangan lupa mampir ke Novel baru Author yah❤


Judulnya : Cinta Dalam Balas Dendam

__ADS_1



__ADS_2