Papa Merindukannya

Papa Merindukannya
Bab 38 Rencana dimulai


__ADS_3

Adira bergegas pergi dari proyek pembangunan menuju ke hotel. Sesampainya Adira di hotel, ia langsung bergegas menuju ke kamar Afmar.


Adira tiba-tiba membuka pintu.


Brak....


"Anak-anak!" seru Adira.


"Astaga... !!! paman!" bentak Afmar bersama teman-temannya secara bersamaan.


"Datang-datang bikin heboh aja, kenapa sih?" tanya Alex.


"Ada hal penting yang harus paman ceritakan kepada kalian." ujar Adira dengan suara nafas yang masih terengah-engah.


"Apakah itu soal papah?" tanya Afmar.


"Iyah, Afmar dugaan mu salah." jawab Adira.


"Salah bagaimana? paman sebaiknya kau masuk saja dulu, lalu ceritakan semuanya kepada kami." Afmar menarik tangan Adira untuk masuk ke dalam.


"Aku akan melihat keadaan sekitar." ujar Danis.


"Terimakasih, Danis." saut Afmar.


"Afmar, papahmu ternyata sangat pintar." bisik Adira.


Afmar menyela pembicaraan Adira. "Sebentar paman, Danis belum kembali."


Tak lama kemudian Danis kembali masuk ke dalam kamar. "Semuanya aman, Afmar."


"Terimakasih, Danis. Ayo paman sekarang kau boleh cerita."


"Ternyata dugaan kita semua salah, ternyata tuan Arthur telah lebih dahulu menyelidiki ini semua."


"Lah... kalo papah udah duluan kenapa kita harus repot-repot?" tanya Afmar.


"Kita hanyalah sebuah pengalihan." jawab Adira.


"Hmm... kalau begitu apakah papah sudah mendapatkan jawabannya?" Afmar bertanya kembali kepada Adira.


"Iyah Afmar, papahmu sudah menemukan seluruh jawabannya. Kalau begitu tanpa basa-basi lagi, paman ingin kalian menyimak sebuah audio." Adira mengambil handphonenya dari tas.


"Audio? apakah itu buktinya?" tanya Danis.


"Iyah kau benar. Okey, apakah kalian siap untuk mendengarnya?"


"Paman, apakah pelakunya benar-benar tante Susan?" tanya Afmar.


"Sebaiknya kamu mendengarnya sendiri, Afmar." Adira mulai memutar seluruh Audio yang Arthur kirim padanya.


Mereka semua pun langsung menyimak isi audio tersebut ketika Adira mulai memutarnya. Hingga akhirnya Afmar mengetahui ternyata memang benar bahwa ternyata Susan adalah dalang dari semua ini.


Afmar semakin merasa membenci Susan, ia menganggap Susan sebagai seorang penghianat besar, bisa-bisanya ia merencanakan semua hal licik itu demi mendapatkan posisi Ilona.


Afmar mulai kembali meneteskan air mata. "Tan~te Susan! aku sangat membencimu."


"Afmar, tenanglah." Misha langsung berusaha menenangkan Afmar.


"Tak bisa di ampuni!" seru Afmar dengan nada suara tinggi.

__ADS_1


Alex pun bergegas ikut untuk menenangkan Afmar. "Afmar... Afmar... coba kau tenang dulu, semua masalah pasti ada jalan keluarnya."


Danis menepuk pundak Afmar. "Afmar, percayalah padaku bahwa Tante Susan akan menerima hukumannya nanti."


Ketika Afmar mendengar kata hukuman ia seketika menjadi tenang kembali. "Kau benar! akan aku hukum tante Susan seberat-beratnya, karena ia sangat berani telah mencelakai Bunda."


"Hmm... ayo kita hukum Susan bersama-sama." ujar Adira.


Afmar melirik ke arah Adira dengan tatapan kejam. "Baiklah paman! ayo kita hukum si pengahianat itu. Ayo ceritakan bagaimana rencananya."


Adira pun menceritakan seluruh rencana yang di tambahkan oleh Arthur dengan singkat, padat, dan jelas.


"Baiklah paman, kita tunggu besok!" seru Afmar.


"Sekarang waktunya kalian istirahat, siapkan diri untuk besok. Paman pergi dulu, selamat malam anak-anak." ucap Adira yang mulai beranjak dari kamar.


"Baik paman, selamat malam." jawab mereka secara bersamaan.


Keesokan harinya Arthur memperpanjang masa rawat Ilona selama satu hari hanya karna untuk menjalankan rencana ini. Susan dan Sista telah bersiap untuk melaksanakan rencananya. Begitupun dengan Arthur ia sudah siap untuk bersandiwara seolah ia tidak tau apa-apa dan bersikap begitu sangat ramah kepada Susan untuk hari ini.


Adira dan yang lainnya pun ikut bersiap untuk memata-matai Susan dengan Sista, tim di bagi dua yaitu tim Adira bertugas untuk mengikuti Sista dan tim Afmar bertugas untuk terus memantau Susan.


Ternyata Sista lupa untuk membeli pengaman untuk Susan beraksi bersama Arthur nanti malam, di karenakan Susan tidak mau hamil, hanya saja ia ingin Arthur tau bahwa ia sudah menidurinya dan wajib untuk bertanggung jawab.


"Anak-anak, kalian mulai bersiap-siap." bisik Arthur di dalam mobil.


"Papah, kau tenang saja." jawab Afmar.


"Hanya sekedar mengingatkan, bekerja samalah dengan baik."


"Iyah papah, kami turun duluan."


"Laksanakan!" jawab Afmar dengan membalas kedipan mata Arthur.


"Kalian ini memanglah duo maut." bisik Adira.


Arthur tersenyum bangga pada saat ia melihat ketulusan yang di tunjukan oleh Afmar. "Kau benar Adira ternyata anakku sudah mulai tumbuh dewasa."


"Baiklah tuan, silahkan mulai sandiwaramu dan turunlah dari mobil."


"Hahaha... kau mengusirku?"


"Bukan seperti itu maksudku, namun lebih cepat lebih baik bukan?"


"Iyah kau benar. Adira, aku harap kau dapat melakukan tugasmu dengan baik."


"Akan aku usahakan dengan sangat baik, tuan." jawab Adira dengan penuh kepercayaan diri.


Arthur membuka pintu mobil, lalu berkata, "Kalo begitu sampai jumpa nanti malam."


"Iyah tuan, sampai jumpa."


Beralih ke sisi lain, yaitu ke sisi Susan dan Sista.


"Hai calon nyonya besar keluarga Sheng." sapa Sista kepada Susan.


Susan berbalik badan. "Ah... Sista, kau bisa saja memujiku seperti itu."


"Apakah aku salah?"

__ADS_1


"Sama sekali tidak, karena perkataan mu itu sangatlah benar, aku adalah calon nyonya baru di keluarga Sheng." ucap Susan dengan sombongnya.


"Baiklah, kalo begitu aku akan mengujimu terlebih dahulu sebelum kamu resmi masuk ke dalam keluarga kaya."


"Ujian apa itu, Sista?" tanya Susan.


"Bagaimana caramu memanjakan anak tirimu nanti."


"Maksudmu, Afmar?"


"Ya siapa lagi kalo bukan Afmar."


"Hmm... aku akan menjadi sesosok ibu pengganti yang terbaik untuknya, karena kau juga tau bagaimana kedekatan ku dengan Afmar selama ini."


"Emm... sepertinya kamu lulus di ujian ini, kalau begitu ujian yang ke dua, bagaimana caramu memanjakan calon suamimu nanti malam di ranjang."


"Ouh... aku akan sangat memanjakan nya pasti, hahaha... sudah cukup Sista, jangan kamu membuatku semakin tidak sabar."


"Astaga!" seru Sista.


"Ada apa?" tanya Susan.


"Aku lupa membeli pengaman tadi."


"Sista, untung saja ini masih jam sepuluh, yasudah sebaiknya kamu cepat membelinya sekarang."


"Hahaha... rasa apa nyonya?" ujar Sista yang mengguraui Susan.


"Astaga... bagaimana kalo bluberry." jawab Susan.


"Pilihan yang tepat, baiklah tunggu aku sebentar disini, sepertinya tuan Arthur pun sebentar lagi tiba."


"Iyah Sista, yasudah cepat hahaha..." Susan mendorong Sista keluar dari tenda dengan pipi yang tersipu malu.


"Hahaha... baiklah." jawab Sista.


Adira yang melihat gerak-gerik mencurigakan dari Sista pun langsung bergegas memantaunya dengan baik-baik, ketika ia melihat Sista naik ke dalam mobil ia bergegas untuk bersiap mengikutinya dari belakang.


"Danis! apakah kau lihat itu?" seru Adira.


"Paman, ayo cepat nyalakan mobilnya, kita harus mengikuti tante Sista secepatnya." saut Danis.


"Persiapkan kameramu, Danis."


"Hm... siap laksanakan, paman."


...Bersambung...................


Cerita ini mempunyai alur cerita panjang, jadi sabar yah untuk menunggu semuanya terungkap, terimakasih dan tetap suport Author yah!✔️


Jangan lupa untuk melanjutkan ke bab 39 yah!


Tetap suport dengan cara Like, Favorit, dan Vote setiap hari senin.


Jika ada pemasukan ide silahkan tulis di kolom komentar. So jangan ketinggalan bab selanjutnya♡(∩o∩)♡


Jangan lupa mampir ke Novel baru Author yah❤


Judulnya : Cinta Dalam Balas Dendam

__ADS_1



__ADS_2