
Setelah beberapa saat mereka tertawa bersama, Ilona baru saja menyadari semua apa yang telah terjadi padanya, yaitu saat dirinya merasa cemas dan hawatir ia telah menggenggam tangan Arthur sekaligus bersandar di pundaknya.
Seketika wajah Ilona berubah menjadi merah, Afmar yang melihat wajah bundanya menjadi merah ia pun bertanya akan keadaannya, apa dia baik-baik saja atau sedang merasa sedikit tidak enak badan.
"Bunda, kenapa?" tanya Afmar sambil memegang tangan Ilona.
"Oh... bunda tidak apa-apa sayang." Ilona menjawab pertanyaan Afmar dengan gugup.
"Emm... bunda sedang berbohong yah?"
"T... tidak sayang." lagi-lagi Ilona menjawab pertanyaan Afmar dengan gugup.
"Jangan hawatirkan bunda, tenang saja ia hanya sedang menyadari sesuatu." ternyata Arthur telah menyadarinya dari sejak awal Ilona bertingkah aneh.
"Hah? menyadari apa?" tanya Afmar.
"Hiraukan papahmu Afmar!." seru Ilona yang tidak mau Afmar mengetahui soal kebiasaan nya.
"Bunda... ayolah kenapa?"
"Jadi..." Arthur baru saja akan memberitaukan Afmar, namun tiba-tiba Ilona menutup mulut Arthur.
"Afmar, sayang sudah papahmu ini hanya berbicara omong kosong." ucap Ilona sambil membungkam mulut Arthur.
"Benarkah bunda?, tidak apa-apa kalau bunda tidak mau memberitahukan Afmar sekarang, nanti setelah sampai di hotel papah pasti akan memberitahukan Afmar kok." Afmar mengucapkan hal yang membuat Ilona tak berdaya lagi.
Ilona melepas tangan nya dari mulut Arthur.
"Kau benar Arthur, anakku terlalu pintar untuk di bodohi."
Arthur, tertawa lepas saat mendengar Ilona mengatakan bahwa anaknya itu tidak mudah untuk di bodohi. "Hahaha!... lihatlah Afmar bundamu baru saja menyadarinya."
"Bunda... anakmu ini terlahir ke dunia berdasarkan ****** yang dimiliki oleh papah, dan pasti bunda sudah tau kalo papah itu seorang pria yang sangat licik. Jadi, mana mungkin tidak tertanam kelicikanya di dalam diri anakmu ini bunda." Afmar menepuk jidatnya seraya orang dewasa.
Karena melihat tingkah laku menggemaskan anaknya, Ilona tidak bisa menahan tangan nya untuk tidak mencubit pipi Afmar. "Umm... lucunya anak bunda, iyakah anak bunda yang satu ini licik? iyahkah?"
"Ah... bunda sakit!, tanyakan saja pada pria licik disana." ujar Afmar yang menunjuk Arthur.
"Sebentar, apa kamu dengar tadi bundamu mengatakan bahwa (anak bunda yang satu ini), hmm... Afmar, apa ini adalah sebuah kode dari bundamu yang mau memberikanmu seorang adik?" Arthur melontarkan candaan nya terhadap Ilona.
"Hah... kau benar papah!. Bunda... berikan aku seorang adik, please." ujar Afmar dengan wajah polosnya.
Ilona yang mendengar suami dan anaknya berkata seperti itupun segera membantah perkataan mereka. "Tidak!, maksud bunda bukan seperti itu, kalian berdua salah faham."
__ADS_1
"Bunda... ayolah, Afmar ingin memiliki seorang adik. Emm... papah! bagaimana dengan adik perempuan?, pasti ia sangat cantik seperti bundakan?"
"Ah... kau benar sekali, Afmar seperti papah dan adik Afmar seperti bunda, wah pasti seru yah kalo Afmar punya adik dan papah punya anak lagi!" Arthur terus memojokan Ilona.
"Tidak!, kalo kata bunda tidak ya tidak. Lagian bunda juga belum siap untuk punya anak lagi. memangnya gampang apa punya anak itu." Seru Ilona dengan nada suara tinggi.
"Gampang sayang!" Arthur menyeru kembali Ilona.
"Iyah bunda gampang!. Bunda kalo hamilkan lebih enak tidak usah kerja lagi, terus bunda juga bisa suruh-suruh Afmar deh." ucap Afmar yang mengikuti kata-kata Arthur.
"Arghh... kalian ini kenapa?"
"Ingin punya anak/ingin punya adik." Seru Arthur dan Afmar bersamaan.
"Astaga kalian ini!. Afmar sayang coba dengarkan bunda selali saja, punya adik itu tidak segampang apa yang di katakan, dan kamu Arthur jangan pernah memicu api disini! jikalau kamu sudah lupa akan aku ingatkan kembali" ucap Ilona tegas.
Seketika senyuman yang tadinya berada di pipi Arthur kini telah berubah menjadi cemberut di saat Ilona mengatakan hal yang menyakitkan baginya. "Iyah, maaf Ilona."
Ilona pergi meninggalkan ruangan rawat Afmar. "Bunda mau sendiri dulu, Afmar tunggu di sini bersama papah."
"B... baik Bunda." Afmar merasa memiliki sejuta kesalahan kepada Ilona, karena ia telah membuatnya pergi untuk menenangkan diri.
Sebenarnya Ilona juga memiliki keinginan untuk memberikan Arthur seorang anak lagi, namun ia masih memiliki ketakutan dalam dirinya untuk segera kembali kepada Arthur, pada akhirnya iapun memilih untuk menegakan kembali pendiriannya saja.
Arthur juga jadi merasakan rasa sakit di dalam dadanya saat ini, ia berfikir bahwa ini adalah salahnya, memang kesalahan besarnya. Kalau saja di waktu itu ia tidak mengusir Ilona, mungkin saat ini ia akan hidup lebih bahagia dengan keluarga kecilnya.
"Papah... apa ucapan kita membuat hati bunda sangat terluka?" tanya Afmar.
"Benar, mungkin itu terlalu awal bagi bundamu Afmar, kami baru saja bertemu kembali beberapa hari yang lalu, namun papah sudah berani meminta lebih pada bundamu. Sedangkan bunda mungkin masih memiliki banyak luka yang tersimpan dalam hatinya gara-gara papah." ujar Arthur yang murung.
Tiba-tiba Ilona kembali ke dalam ruangan Afmar. "Tidak Arthur, kau sama sekali tidak salah disini akulah yang salah, andai aku tidak menganggap ucapanmu itu benar, mungkin kamu sudah menemukanku sebelum 1 hari."
Arthur memutar badan nya ke arah Ilona, lalu berkata. "Maafkan aku Ilona."
Ilona berjalan menuju ke hadapan Arthur. Ilona tiba-tiba langsung memeluk Arthur dengan erat. "Arthur, aku sudah lama telah memaafkan mu. Namun please jangan paksa aku untuk punya anak sekarang, dan aku juga membutuhkan waktu untuk kembali kepadamu, aku mohon Arthur berikan aku sedikit waktu, please."
Arthur terkejut dengan sikap Ilona yang tiba-tiba berubah, Arthur memeluk balik Ilona, lalu menjawab. "Baiklah, aku dan Afmar akan menunggumu, terimakasih Ilona."
"Sama-sama sayang, muach." Ilona mengecup kening Arthur.
"Ah... bunda... papahkan bilang aku dan Afmar berarti Afmar juga mau di cium." rengek Afmar yang iri pada Arthur.
"Ah... kamu ini iri terus sama papah." seru Arthur.
__ADS_1
"Sudah stop! nih bunda juga cium Afmar, muach..." Ilona mengecup Afmar dengan rentang waktu yang cukup lama dari Arthur.
"Makasih bubun..."
"Hahaha... bubun sebutan baru Afmar ke bunda yah?, tapi apasih yang engga buat anak bunda yang paling tampan ini."
"Iyah hehe, papah ayo kita pulang Afmar bosan harus di rumah sakit terus."
"Baru berapa jam kamu disini sudah bosan?"
"Arghh... cepat papah, Afmar pengen pulang!." ujar Afmar yang semakin merengek ingin pulang pada Arthur.
"Iyah... ya ampun, yasudah bunda sama Afmar duluan ke mobil, papah mau bayar biaya rumah sakitnya dulu."
"Okay, papah." seru Ilona dan Afmar bersamaan.
Setelah beberapa menit menunggu Arthur akhirnya ia datang, dan membawakan Afmar vitamin C untuk meningkatkan imun di dalam tubuhnya.
"Nanti minum vitamin nya ingat!" ujar Arthur.
"Asal bunda yang suruh."
"Emm... manja kamu, nanti minum yah vitamin nya, biar Afmar sehat kalo Afmar sehat bunda sayang Afmar." bujuk Ilona pada Afmar.
"Siap laksanakan bos."
"Jangan lupa pake sabuk pengaman!, kita jalan sekarang." ucap Arthur yang mulai menjalankan mobilnya.
"Yey... kita pulang bareng bunda, hore..." Seru Afmar yang sangat kegirangan karena ia sudah di temani Ilona ke rumah sakit.
ð»ð»ð»
...â¥Bersambung..... lanjut baca Bab 16 yah!, makin kepo ga nih?, Jangan lupa untuk terus suport, dan selalu berikan dukungan terbaik Kalian.â¥...
ã¥ï¿£ ³ ̄)ã¥
Jangan lupa mampir ke Novel baru Author yahâ€
Judulnya : Cinta Dalam Balas Dendam
Waktunya iklan checkð
__ADS_1