
"Ilona, aku mohon percayalah padaku, aku tidak melakukan apa-apa pada Arthur." ujar Susan yang tak berdaya.
"Lalu kenapa kamu bisa telanjang?" tanya Ilona.
Susan langsung berfikir ia punya satu alasan yang mungkin cukup tepat, yaitu. "Hua... Ilona, percayalah semua ini karna Arthur telah menjebak ku, aku sama sekali tidak melakukan apa-apa, suami mu sendiri yang menjebak ku, Hua..."
"Dih air mata buaya, dia bisa-bisanya malah memputar balikan fakta dan memfitnah ku semudah itu." ujar Arthur di dalam hatinya.
"Nyonya, jangan percaya padanya aku mohon." ujar Adira.
"Sekarang aku tidak akan mempercayai siapa-siapa sebelum aku mendapatkan bukti." jawab Ilona.
Arthur tidak tahan lagi untuk terus berpura-pura pingsan, ia pun memutuskan untuk bangun dan langsung menyangga kepalanya dengan tangan kanannya. "Sayang... kau mau bukti?"
Susan melirik ke arah Arthur, dan seketika wajahnya berubah menjadi sangat panik. "Arthur... !!! kau sudah bangun?"
"Ah... Susan, aku tidak benar-benar meminum minuman yang kau berikan padaku itu lho." ujar Arthur dengan santainya.
"Maksudmu? akan tetapi aku melihatnya sendiri kau sudah menghabiskannya." jawab Susan.
.
.
.
"Sial... !!! ternyata selama ini aku yang sudah mereka semua jebak?" ujar Susan di dalam hatinya.
"Apa yang sedang kalian bicarakan!?" seru Ilona.
"Bunda... tenanglah, Afmar disini." ujar Afmar yang berusaha untuk memadamkan api yang ada di dalam diri Ilona sekarang.
"Maafkan bunda sayang, kamu tunggu disini." Ilona mulai melangkah masuk ke dalam kamar dan berjalan mendekati ranjang.
"Sayang... biar aku jelaskan, dia sudah menfitnah ku tadi, dan sungguh aku dalam keadaan sadar tidak dalam pengaruh obat." ujar Arthur.
"Susan! aku memintamu untuk menjawab ku, kenapa kau malah diam saja!?" tanya Ilona dengan suara nada tinggi.
"Dia tidak ingin bicara lagi karna sudah berada dalam kebingungan, bunda." saut Afmar.
"Susan! jawab Aku!?" seru Ilona.
"Sayang... sabarlah, Susan sudah tidak ingin bicara lagi, biarkan aku saja yang membantunya untuk berbicara dan menjelaskan semuanya padamu." ujar Arthur.
"Arthur... aku hanya ingin Susan yang menjelaskannya sendiri."
"Ilona, cukup! jangan keras kepala, percuma saja jika kamu ingin mengetahui suatu hal, akan tetapi kamu malah memaksa seseorang yang tidak mau menceritakannya."
"Bunda... untuk pertama kalinya Afmar sependapat dengan papah." ujar Afmar.
"Baiklah, cepat ceritakan." jawab Ilona.
__ADS_1
Arthur memulai penjelasannya pada Ilona. "Sayang, kau harus tau bahwasanya Susanlah dalang dari kedua kecelakaan yang Afmar dan kamu alami selama ini, ia melakukannya karna ingin merebut posisi mu sebagai Nyonya besar keluarga Sheng."
Mata Ilona seketika menjadi berkaca-kaca, ia sangat tidak menyangka bahwa ternyata Susanlah yang menjadi dalang dari kedua kecelakaan yang ia dan Afmar alami. "Susan... !!! katakanlah pada ku bahwa apa yang di katakan oleh Arthur itu salah, cepat katakan!"
Susan hanya dapat membungkam mulutnya karna takut. Segala kejahatannya sudah terungkap dengan mudahnya begitu saja.
"Bunda... apa yang di katakan oleh papah itu benar, Afmar punya buktinya." Afmar mengambil handphone yang ada di sakunya.
"Bukti? apa buktinya?" tanya Ilona.
"Di handphone ini ada bukti audio suara tante Susan dan tante Sista yang sedang merencanakan kecelakaan di tangga itu." Afmar memberikan handphone itu ke tangan Ilona.
Suasana menjadi begitu lebih panas ketika Afmar memberikan audio bukti itu kepada Ilona, Susan yang mulai panik pun melarang Ilona untuk mendengarkan audio tersebut.
"Ilona... !!!" teriak Susan.
"Ada apa? kenapa kau tiba-tiba berteriak seperti itu?" tanya Ilona.
"Jangan dengar audio itu! sungguh aku sudah di permainkan oleh mereka semua, aku mohon." ujar Susan yang mulai resah.
"Kami semua mempermainkan mu itu karna untuk mendapatkan sebuah kebenaran, tidak ada salahnya bukan?" ujar Adira.
"Kami mempermainkan mu itu karna untuk menemukan jawaban yang sebenarnya, jika yang kami lakukan itu salah atau memiliki hukum keadilan mungkin seorang detektif dan polisi pun akan masuk ke dalam penjara." saut Alex yang melanjutkan ucapan Adira.
"Ayo bunda, dengar audionya." ujar Afmar.
"Eumm baiklah." Ilona mulai memutar audio tersebut.
Bruk...... !!
Afmar bergegas mendekat dan memeluk Ilona. "Bunda... kami tidak akan pernah berbohong padamu."
Begitupun dengan Arthur yang langsung bergegas membantu Ilona untuk berdiri. "Ilona, seharusnya kamu tidak perlu sampai berlutut seperti itu. Kamu kuat untuk berdiri? duduklah di sofa."
"Tidak apa-apa Arthur, aku masih kuat." jawab Ilona yang mulai bangkit kembali.
"Baiklah, ada beberapa hal lagi yang mau ku tunjukan padamu." Arthur mengambil handphonenya yang sengaja ia letakkan tadi di meja.
"Bunda, akupun meliki bukti yang lainnya." Afmarpun bergegas mengambil camera tersembunyi yang ia letakan di mobil Arthur.
"Ini Sayang/Bunda." ujar Arthur dan Afmar yang memberikan barang tersebut bersamaan.
"Baiklah... cukup! akan Bunda lihat nanti okay?" seru Ilona.
Arthur dan Afmar saling menatap dengan tatapan yang sama dinginnnya.
"Semua ini gara-gara papah, kenapa dia malah duluan ngasihin handphonenya sih." bisik Afmar.
"Dih... makah nyalahin." jawab Arthur.
"Sudah cukup! Susan, sebaiknya kamu cepat pakai kembali pakaian mu itu di kamar mandi!" ujar Ilona.
__ADS_1
"Eumm... iyah Ilona." Susan bergegas membungkus tubuhnya memakai selimut dan pergi ke kamar mandi dengan membawa pakaiannya.
Ilona menghela nafasnya, lalu ia berkata. "Adira, tolong telfon polisi sekarang!"
"Untuk apa nyonya?" tanya Adira.
"Kau masih bertanya untuk apa!?"
"Bukan seperti itu Nyonya, hanya saja saya merasa terkejut dengan perintah Nyonya, karena akhirnya Nyonya bisa kejam juga, hihihi." ujar Adira yang memberikan sebuah gurauan.
Ilona, tersenyum. "Iyah deh, makasih karna kamu sudah memperhatikan ku."
Dan sketika Adira di tatap oleh kedua pawang Ilona dengan tatapan kejam. "Adira/Paman, kau ingin ku bunuh!?"
"Ma~maksudku bukan seperti itu, Tu~tuan." jawab Adira.
Ilona langsung memeluk anak dan suaminya, dan bergegas memberi sebuah kode jari jempol untuk Adira melarikan diri. "Sayang-sayangku, aku ini hanya milik kalian berdua kok."
"Adira, sangat tidak sopan padamu, dia bisa-bisanya memperhatikan mu tanpa meminta izin dulu padaku!" ujar Arthur yang merasa cemburu.
"Puftt... kau ini benar-benar cemburu buta, Arthur." Ilona sedikit terhibur dengan tingkah anak dan suaminya.
"Bunda, bunda... Afmar, juga sayang sama bunda pokoknya gak boleh ada yang ambil bunda dari Afmar, titik!" seru Afmar.
"Hey... ingat dengan perjanjian kita? bunda itu hanya memiliki berapa persen saja untuk menjadi milikmu, ingat?"
"Bunda... papahnya pelit!" seru Afmar yang mengeluh.
"Arthur, ayolah jangan mulai lagi." ujar Ilona dengan terus memeluk mereka berdua dengan nyaman.
Arthur dan Afmar dengan kompaknya berbisik. "Misi kita berhasil!"
"Apa yang sedang bicarakan tadi?" Ilona melepaskan pelukannya.
"Tidak!" ujar Arthur dan Afmar yang lagi-lagi terus mengucapkan kata dengan bersamaan.
Bersambung................
Lanjutkan kembali ke bab 47 ✔️
Jangan lupa vote+Like✔️
Suport terus Author✔️
Bagikan juga link novel "Papa merindukannya" ke teman-teman kalian✔️🖤
Jangan lupa mampir ke Novel baru Author yah❤
Judulnya : Cinta Dalam Balas Dendam
__ADS_1