Papa Merindukannya

Papa Merindukannya
Bab 8 Setelah 10 tahun berpisah


__ADS_3

Ilona merasa sangat senang sekali karena ia akan segera mengerjakan proyek barunya. Proyek kali ini adalah proyek terbesarnya yang dapat menghantarkan ke jalan kesuksesan.


Ilona mulai bersiap-siap untuk interview besok ke kantor pihak pembangunan, ini proyek besarnya yang menandakan ia harus memakai pakaian yang super bagus, karena ia berfikir pemilik pembangunan museum itu pasti orang yang sangat kaya.


Ilona tidak tau bahwa sebenernya pemilik dari pembangunan museum tersebut adalah suaminya sendiri. Pada kejadian 10 tahun yang lalu, Arthur berhasil menemukan dalang dari pencurin uang di perusahaanya dalam kurung waktu 3 bulan, dan ia pun sudah menjebloskanya ke penjara dengan hukuman 10 tahun penjara.


Uang nya memang kembali, namun tidak dengan Istrinya. Takut akan kehilangan harta benda itu tidaklah berarti di bandingkan dengan kehilangan seseorang yang dicintai.


"Rio ikut aku sekarang!, aku membutuhkan pendapatmu." ujar Ilona yang menarik tangan Rio.


"T... tapikan katanya kamu mau suapin ayah dulu." jawan Rio.


Berbalik badan menghampiri ayah Rio, "Ayah... nanti Ilona suapi lagi yah, sekarang Ilona mau siap-siap dulu buat interview besok, Ayah ga keberatankan?"


"Hahaha... iyah deh iyah, yasudah kamu siapkan dulu semuanya malam ini setelah itu kamu istirahat untuk besok yah nak." ujar Ayah Rio dengan tawa kecilnya.


"Baiklah Ayah."


"Yasudah Rio juga ke bawah dulu yah, ngikutin anak kesayangan Ayah." ujar Rio yang mengejek Ilona.


"Iyah sudah sana, biarkan Ayahmu ini mau istirahat dulu." ujar Ibu Rio.


"Iyah bu, yasudah ayo Ilona anak manja Ayah." ejek Rio lagi.


"Apasi kamu anak manja-anak manja, maaf ya aku itu ga pernah manja seperti kamu, dasar ingusan!" ujar Ilona yang mengejek balik Rio.


"Apa kau bilang!?, awas yahh arghh..." seru Rio yang mengejar Ilona.


"Ah... Rio kau ini seperti anak kecil saja! diam kamu jangan kejar-kejar aku!" teriak Ilona kepada Rio.


"Hahaha... terserah aku dong kan ini rumahku." ujar Rio yang terus mengejar Ilona sampai lantai bawah.


Berbisik, "Xhi... apa kau memiliki fikiran yang sama sepertiku?"


"Milan, aku memiliki fikiran sama sepertimu akan tetapi Ilona itu masih bersuami." ujar ayah Rio.


"Tidak jadi masalah besar Xhi, kitakan tidak tau suaminya itu masih mencintainya atau tidak."


"Itu kamu tau sendiri, oleh sebab itu kamu jangan gegabah, kalau memang Rio itu adalah takdirnya Ilona mereka pasti akan bersatu, namun apabila memang bukan takdirnya mereka tidak akan pernah bersatu."


"Tapi Xhi, coba kau fikir saja mau sampai kapan Rio memperpanjang masa lajangnya?, Ilona itu gadis yang sangat baik, pintar, penyayang, dan sangat perhatian cocok apabila bersanding dengan Rio."


"Aku faham Milan, akupun ingin sekali menggendong cucu, umurku sekarang sudah renta tapi apa boleh buat." ujar Ayah Rio dengan raut muka sedih.


"Yasudah sebaiknya kau istirahat saja dulu."


"Iyah, malam sayang." ujar Ayah Rio yang menggombali Istrinya.


Seketika Ibu Rio terdiam sesaat, wajahnya sedikit memerah karena ucapan Ayah Rio, "Xhi kau ini sudah tua, masih saja berlakuan seperti anak muda."


Memegang tangan ibu Rio, "Walau sudah tua aku ini adalah pasanganmu."


"Hahaha... iyah sayang iyah, ayo cepat tidur, aku keluar dulu." ujar Ibu Rio yang tersipu malu.


"Baiklah sampai jumpa, hati-hati turun tangga nya, aku tau kamu itu suka encok hahaha..."


"Xhi..." seru Ibu Rio dengan tatapan tajam.


"Hehe maaf."


Beralih lagi kepada Rio dan Ilona, mereka berdua sedang mempersiapkan keperluan Ilona besok, mulai dari pakaian sampai ke berkas-berkas.


"Rio... coba lihat kesini, bagusnya aku pakai baju warna pastel atau warna yang terang?" tanya Ilona yang meminta pendapat Rio.


"Emm... warna pastel deh." jawab Rio.


"Okey, aku ke kamar mandi dulu kamu tunggu di sini jangan kemana-mana!"


"Iyah bawel banget, jangan lama ya bu bos."


"Ga akanlah cuman nyobain aja kok." seru Ilona.


Beberapa saat kemudian Ilona keluar dari kamar mandi. Ia memakai jas berwarna coklat pastel di padukan dengan rok berwarna crem, Ilona begitu terlihat sangat cantik dengan pakaianya yang membuat Rio sedikit tercengang saat melihatnya.

__ADS_1


"Rio... coba lihat kesini." seru Ilona.


Melirik ke arah Ilona, seketika Rio tercengang dengan penampilan Ilona yang sangat anggun, "Wow... boleh aku jujur?"


"Apa?" tanya Ilona sambil mendekat ke arah Rio.


"Ketika bosmu itu tau bahwa pendesain nya adalah kamu Ilona, tebak apa yang akan terjadi."


"Apa?" tanya Ilona sekali lagi.


"Ia pasti langsung ingin menikahimu hahaha... kamu cantik Ilona memakai pakaian itu." ujar Rio yang memuji kecantikan Ilona.


"Ah kamu ini aku sangka kenapa, lagian bos aku nanti pasti dia sudah tua hahaha, mana ada anak muda yang mau membangun museum." ucap Ilona yang percaya diri.


"Iyah benar, sudah tua betul sekali, namun tidak akan menutup kemungkinan kau akan di jadikan istri kelimanya, hahaha." ujar Rio yang mengejek Ilona.


"Rio!" seru Ilona dengan nada tinggi.


"Aku hanya bercanda, tenanglah anak manja, sudah selesaikan?, sebaiknya kamu menuruti perintah ayah, setelah kamu ganti baju langsung pergi beristirahat jangan beres-beres lagi. Aku pergi dulu ke kantor ada hal penting yang harus ku urus di kantor." ujar Rio yang bergegas pergi dari kamar Ilona.


"Iyah, hati-hati di jalan Rio." seru Ilona.


🌻🌻🌻


Singkat cerita keesokan harinya. Ilona bergegas bangun dari tidurnya, ia bersiap-siap untuk pergi ke kantor untuk interview.


"Pagi Ibu, pagi juga Rio." ujar Ilona yang menyapa di pagi hari.


"Pagi sayang, ayo cepat sarapan dulu, ibu udah masak makanan yang enak loh." seru Ibu Rio kepada Ilona.


"Pagi anak kesayangan ayah." ujar Rio yang berusaha mengejek Ilona di pagi hari.


"Iyah Bu, ayah masih ga kuat buat jalan yah bu?" tanya Ilona.


"Iyah, tapi kamu jangan hawatir biar ibu yang siapin semuanya untuk sekarang, kamu fokus aja sama kerjaan kamu." ujar Ibu Rio yang menyemangati Ilona.


"Iyah bu, terimakasih."


"Tidak apa-apa ibu, emm... sesekali Ilona bilang makasih sama ibu."


"Hah? ga salah tuh sesekali, perasaan udah beribu-ribu kali deh." ujar Rio yang tiba-tiba menyela pembicaraan.


"Rio masih pagi nih, jangan buat kesel bisa?" seru Ilona.


"Ilona sudah makanya bekal sajalah lama banget makanya, nanti terlambatloh."


"Yasudah aku mau makan roti aja di mobil, ibu aku bekal makanan nya yah." ujar Ilona sambil menyiapkan makanan ke dalam tempat bekal.


5 menit kemudian.


"Ayo cepat!, nanti aku terlambat lagi, Ibu aku pamit dulu yah, Ilona sayang ibu." ujar Ilona.


"Bu aku berangkat dulu yah." ujar Rio.


Mereka berduapun beranjak dari meja makanya dan bergegas pergi ke kantor tempat Ilona interview. Sepanjang perjalanan Ilona tidak berbicara sedikitpun kepada Rio, melirik ke arah Rio pun Ilona tidak mau karena ia sangat kesal sekali dengan kelakuan Rio di meja makan tadi.


Sesampainya mereka di kantor tempat Ilona interview Rio berbicara kepada Ilona agar tetap tenang dan hadapi situasi nanti. Ilona merasa bersalah kepada Rio karena ia sudah diam selama di perjalanan.


"Ilona pada saat interview tetap tenang dan hadapi situasinya, aku percaya kamu pasti bisa." ujar Rio yang menyemangati Ilona.


Ilona merasa bersalah sekali karena ia sudah marah kepada Rio, namun anehnya Rio tetap saja menyemangatinya, "Iyah Rio terimakasih, maaf juga sudah marah padamu."


Tersenyum, "Tidak apa-apa Ilona, yasudah masuk sana berjuanglah, aku pergi dulu."


"Iyah pasti, hati-hati." seru Ilona sambil melambaikan tangan.


Tidak menunggu lama lagi Ilona bergegas masuk ke dalam kantor untuk interview. Saat Ilona baru saja memasuki kantor seketika semua karyawan melirik ke arah Ilona, mereka semua menanyakan siapa wanita cantik itu? siapa?.


Namun sepertinya tangan kanan Arthur mengetahui bahwasanya Ilona itu adalah pendesain yang dimaksud oleh Siska.


Berjalan mengahampiri Ilona, "Selamat datang, apa saya boleh tau maksud dari kedatangan ibu kesini?"


Ilona menjawab dengan sedikit gugup, "Ouh ya saya disini mau bertemu dengan bos pemilik dari perusahaan ini, saya Ilona calon pendesain dari proyek museum."

__ADS_1


"Sudah saya duga, mari saya tunjukan jalan ke ruangan pak direktur."


"Oh baik, mari."


Setelah Ilona meninggalkan lobby tiba-tiba semua karyawan Arthur membicarakan Ilona. Mereka tidak percaya bahwa Ilona itu sangat cantik dan anggun.


"Asli tuh yang tadi pendesain museum kita?, cantik banget aku jadi sirik deh." ujar salah satu karyawan.


"Iyah ih... ko bisa si dia cantik banget, tapi yaaudahlah ayo kembali bekerja." jawab karyawan lainnya.


Setelah Ilona sampai ke kantor pak direktur melainkan itu adalah kantor milik Arthur, Ilona di minta untuk menunggu sebentar di kantonya.


"Mohon maaf atas keterlambatan pak direktur, ibu boleh duduk dulu, tunggu sebentar saya mau menghubungi pa direktur terlebih dahulu."


...isi perbincangan dalam telefon...


"Halo pak."


^^^"Iyah ada apa Adira?"^^^


"Pendesain bangunan museum sudah datang pak."


^^^"Ouh baiklah, saya sedang dalam perjalanan ke kantor kok. Sebaiknya sekarang kamu ambil berkas persetujuan lalu minta dia tanda tangan, agar ia tidak bosan menunggu.^^^


"Baik pak, saya tutup telefonya."


Tut....


Mengambil berkas lalu hendak menjelaskan, "Ibu Ilona ini berkas..."


Tiba-tiba Ilona menyela, "Tidak apa-apa saya sudah tau kok persyaratan yang ada di dalam berkas ini, pada intinya jika mengundurkan diri lebih awal dari syarat kontrak itu akan di kenakan sangsi berupa denda, betul?"


"Betul sekali ibu, maaf telah meragukan."


"Tidak apa-apa, yasudah sini saya tanda tangan dulu."


Tanpa berfikir panjang lagi Ilona langsung menandatangani berkas tersebut. Tak lama kemudian Arthur sampai ke kantor, Arthur pun bergegas masuk ke dalam ruangan nya, karena ia takut akan di cap sebagai direktur yang terlambat, walau sebenarnya Ilona yang terlalu cepat datang.


"Ibu Ilona, direktur kami sudah datang, mohon tunggu sebentar, saya permisi." ujar Adira sebelum ia keluar dari ruangan Arthur.


Tak menunggu lama Arthur pun masuk ke dalam ruangan. Ilona merasa gugup ketika mendengar suara langkah kaki orang masuk ke dalam ruangan.


Berbicara dalam hati sambil menunduk, "Ilona jangan gugup okey, jangan gugup!"


"Sepertinya para pendesain didikan pak Xhi memang teladan semua yah." ujar Arthur yang berbicara di belakang Ilona, dan ia sama sekali tidak menyadari bahwa itu adalah Ilona.


Ilona merasa kenal dengan suaranya, namun Ilona mengalihkan fikiran nya ke arah lain.


"Hahaha... iyah pak." jawab Ilona.


"Apa nyonya ini menunggu lama?" tanya Arthur yang sambil berjalan menuju kursinya.


"Tidak pak direktur tenang saja, jangan panggil saya nyonya jadi malu." jawab Ilona lagi.


"Lalu kenapa apabila saya memanggil anda dengan sebutan..." Arthur seketika terdiam, ia terkejut melihat seseorang yang ada di hadapanya sekarang, itu ternyata adalah istrinya sendiri.


Ilona melirik ke arah sumber suara, dan betapa terkejutnya ia melihat Arthur ada di hadapanya, "Kamu?"


Bersamaan "Ilona/Arthur!"


🌻🌻🌻


...♥Bersambung..... lanjutkan ke Bab 9. Jangan lupa untuk terus suport, dan selalu berikan dukungan terbaik Kalian.♥...


づ ̄ ³ ̄)づ


Jangan lupa mampir ke Novel baru Author yah❤


Judulnya : Cinta Dalam Balas Dendam



__ADS_1


__ADS_2