
Revan POV
Tepat di tengah malam, aku berjalan menemui siluet wanita yang masih bercengkerama dengan sebuah boneka di atas kasur putih. Sang istri menatap mantap menuju tubuh ini setelah mendapati sebuah penglihatan dari ambang pintu untuk menemuinya, aku pun berjalan seraya menadahkan kepala menuju lantai.
Tepat di sebuah kamar, kutoleh Marissa yang seketika membalas tatapan mata. Sepertinya ia tengah kesal padaku tadi, soalnya dengan nada suara membentak, aku lebih membela Siska dibanding ia. Dengan tangan kanan, aku menyentuh rambut sang istri perlahan.
Kemudian ia menggeser posisi duduknya agar aku tak dapat menyentuhnya lagi, air mata menetes dari lekuk pipinya secara tiba-tiba. Selang beberapa menit membungkam, aku menarik napas panjang dan menelan ludah beberapa kali.
"Sayang, saya ingin mengatakan sesuatu malam ini." Lawan bicara sepertinya tengah mendengarkan, akan tetapi hati ini berkata bahwa ia tak mengerti apa yang orang lain katakan.
Tanpa balas kata, mulut ini kembali mengerocos tanpa henti. "Mar, saya akan menikah lagi dengan—Siska."
Respons yang terlihat dari wajah sang istri hanyalah tarikan napas berulang-ulang, mungkin ia bisa merasakan kekecewaan itu, walau dirinya tengah gila dan tingkat depresi sangat keterlaluan ia alami saat ini.
Marissa meletakkan tangan kanannya di pipiku, ia menatap penuh greget seraya embusan napas itu sangat terasa seperti ngos-ngosan. Namun, sang istri masih membungkam.
"Apakah kamu merestui saya?" jeda sejenak, kemudian. "Saya telah membuat Siska hamil, dan mau tidak mau akhirnya saya harus bertanggung jawab."
Wanita yang menjadi lawan bicara meneteskan air mata, barangkali ia memahami apa maksud dari perkataanku. Akan tetapi sang istri merespons biasa aja dan mengubah posisinya bergeser lebih dekat. Dengan tangan kanan, Marissa meletakkan boneka yang ada dipelukannya.
"Ka-kamu ... ka-kamu, siapa?" tanyanya terbata-bata, masih bersama embusan napas yang sangat terasa menemui jiwa ini untuk meneteskan air mata.
Dari ambang penglihatannya, aku berpaling. Membuang tatapan menuju arloji di dinding kamar, karena kedua bola mata tak sanggup memandang istri yang aku zalimi dengan tingkah dan perbuatan zina beberapa hari yang lalu.
Kemudian ia menyentuh tanganku perlahan. "Kamu ingin menikah? Dengan siapa? Apakah kita adalah suami dan istri."
Aku mengangguk dua kali, air mata pun terus mengalir tanpa henti. "Mar, maafkan saya yang sudah mengkhinati cinta suci ini. Saya mohon jangan usir saya dari rumah ini, karena memang semua harta adalah milikmu."
Merengek tanpa henti, posisi badan berubah menjadi jongkok dan bersipu di hadapannya. Lalu, sang istri mengelus kepalaku perlahan. Tanpa balas kata, rupanya sang istri memukul pundakku dengan pot bunga hias.
Brug!
"Laki-laki enggak tahu diuntung kamu, kembalikan anak saya yang telah kamu bunuh."
Darah yang keluar dari leher membuatku terkapar di atas lantai, memegang pundak yang menjadi sasarannya tadi. "Mar, kamu tega lakuin ini sama saya? Kamu itu keguguran, Mar! Bukan saya yang membunuh anak di kandunganmu," pekikku menaikkan nada suara.
Mencoba untuk bangkit dari lantai, aku pun berjalan dan mendekap erat tubuh Marissa yang sedang membawa beberapa benda di kedua tangan. Seketika emosinya meredah, tetapi masih dalam keadaan menangis histeris.
"Tenang, Mar ... saya melakukan ini bukan karena kemauan saya! Tetapi memang peristiwa itu tak mampu untuk dihindari lagi."
Dari pelukan kedua tangannya, sang istri membuka laci dan mengambil pisau tajam. Aku pun menoleh dengan tatapan greget, seraya ingin melepaskan pelukan itu perlahan. Jika nantinya aku memberontak, pasti pisau itu melayang di perut ini.
__ADS_1
Bergeser sedikit demi sedikit, akhirnya tubuh berhasil menjauh tiga puluh lima senti meter dari posisinya sekarang. Perkiraan benar, bahwa Marissa melayangkan pisau itu hampir mengenai perutku.
"Mar! Apa yang kamu lakukan? Buang pisau itu!" hardikku seraya menghambur keluar kamar.
"Tolong ...."
"Bi Ira ... Diman ...."
Setelah sampai di anak tangga lantai dua, aku berhenti sejenak. Bi Ira yang datang bersama—Diman—penjaga pos satpam di dekat pintu gerbang, mereka pun merubah ekspresi seperti orang bodoh, karena mendengar teriakan dariku.
"Tuan ... ada apa teriak-teriak," ucap wanita paruh baya yang selalu mengikat rambutnya dengan tali rafia, ia adalah Bi Ira.
"Itu!" kutunjuk menuju pintu kamar yang telah terbuka lebar.
Seraya menetralisir napas yang masih ngos-ngosan, aku pun menelan ludah beberapa kali.
"Iya, Tuan. Itu kenapa?" tanya Diman serius sambil mengernyitkan kedua alisnya.
"Mar-Marissa mau membunuh saya!" pungkasku mengejutkan kedua lawan bicara.
Secara serempak, mereka berteriak. "Apa! Nyonya mau membunuh Tuan?"
"Ayo, kita masuk ke kamar. Barang kali ia sudah tidak membawa pisau lagi." Selesai berucap dengan tergopoh-gopoh, kami pun bergegas menuju ruang kamar.
Bi Ira spontan berteriak. "Nyonya ... jangan lakukan itu, astaghfirullah ... Gusti...."
Wanita paruh baya yang biasa menjadi teman sekaligus dianggap sebagai ibu kandung oleh Marissa berjalan tanpa rasa takut, sementara aku dan Diman saling tukar tatap karena enggak tahu harus berbuat apa.
"Tuan, bagaimana kalau kita tarik kedua tangan Nyonya," ujar Diman seketika.
"Tuan dari kanan, dan saya dari kiri," lanjutnya dengan wajah penuh kemenangan.
Dari samping kiri lawan bicara, aku pun mengikuti kata-katanya. "Benar juga kamu, Man. Ayo, kita lakukan."
Diman pun mengangguk dua kali. Dengan langkah mengendap-endap, kami berjalan dari posisi yang berlawanan. Sementara Marissa masih serius menatap Bi Ira, dengan hitungan ketiga menggunakan kode bahasa tubuh kami berdua menyergap Marissa.
Pisau yang ia pegang seketika kurampas, dan dengan cepat aku membuang benda tajam itu ke arah sudut kamar. Sang istri sangat emosi dan meluapkan amarahnya, ia berteriak histeris dan mengoyangkan kedua kakinya.
Kasur pun sangat berantakan, akan tetapi kami berdua tetap tidak akan melepaskan tangan Marissa. Rupanya tenaga sang istri sangatlah kuat, sehingga kami hampir kewalahan menahan amuknya yang memuncak.
"Tuan ... bagaimana ini, Nyonya terus memberontak." Dari ujung kasur, Diman memekik beberapa kali.
__ADS_1
"Diman! Ayo, kita tarik tubuh Marissa ke dalam ruang bawah tanah. Kalau tidak, semua akan celaka bila ia terus-terusan ada di antara kita."
"Tapi Tuan! Saya enggak tega kalau Nonya—kita masukkan ke dalam ruang bawah tanah, soalnya di sana penuh dengan tikus dan tempatnya juga jorok," bantah Diman menggerutu tanpa henti.
Karena sudah tak ada pilihan lain, aku pun bersikeras untuk membawa Marrisa keluar dari kamar. "Kamu mau saya pecat atau tidak, Man?"
Seketika lawan bicara menelan ludah, ia pun menadahakan kepala menuju lantai. "Baiklah Tuan, sekarang kita ke ruang bawah tanah saja."
"Tidak! Jangan kurung Nyonya ... saya enggak mau kalau ia menderita sendirian di sana," rengek Bi Ira seraya memeluk tubuh Marissa sangat erat.
Diman pun kembali menukar tatap padaku, ia sepertinya tak tega juga. Akan tetapi apa boleh buat, demi kebaikan seisi rumah bahwa Marissa harus mendekam di ruangan itu.
"Man, tarik tangan Marrisa!"
"Baik, Tuan," responsnya singkat.
Akhirnya, Bi Ira pun menggeser posisi badannya dan melepas pelukan erat itu. Setelah turun dari ranjang, sang istri mengikuti kami dengan beberapa kali memberontak.
Mar, maafin aku yang telah membuatmu seperti ini. Andai aja kamu enggak gila, mungkin aku masih bisa memilikimu dan kita hidup bersama seperti biasanya, celotehku dalam hati.
Sesampainya di ruang bawah tanah, aku dan Diman memasukkan Marissa ke dalam sebuah kamar tempat menyimpan barang-barang tak terpakai. Sang istri pun terkapar di atas lantai karena dorongan yang telah kami lakukan malam itu. Dari samping kiri, aku mengambil alat pasung kuno bekas peninggalan orang tua.
Tepat di bawah lemari yang sudah kusam karena hampir sepuluh tahun enggak dibersihkan, aku memasung kedua kaki sang istri dengan sangat hati-hati.
Lalu, Marissa pun berteriak sangat keras. "Tolong ... tolong ... tolong ...."
Dengan menggunakan dua tangan, aku pun menutup kedua telinga, gembok sudah terkunci sangat rapat. Besi sebagai pengikat pasung itu juga tidak mungkin mampu membawa sang istri kembali ke dalam rumah, malam itu seperti habis kesabaran melihat tingkahnya yang sangat anarkis.
Akan tetapi, aku berharap suatu saat Marissa bisa sembuh dan hidup damai di rumah lagi. Dari ambang pintu, Bi Ira menghambur datang. Ia berlari seraya menangis sangat histeris, kemudian wanita paruh baya itu memeluk tubuh sang istri yang sudah dipasung.
Aku menekan kepala dengan kedua tangan, seraya menadahakan kepala menuju lantai penuh dengan debu.
"Tuan ... jangan lakukan ini sama Nyonya," rengek wanita paruh baya itu seraya menatap lirih ke arahku.
"Bi, ia tak bisa lagi diatasi. Saya melakukan ini agar tidak ada yang menjadi korban anarkisnya," paparku sambil merubah posisi berdiri menjadi jongkok.
Kembali mendongak ke atas menuju wajah Mang Diman, ia tampak sangat memekik gelisah seraya meteskan air matanya.
Dari arah depan, aku berkata. "Mar, istriku. Maafkan aku yang melakukan ini semua, karena aku enggak mau kamu terus-terusan berbuat anarkis pada tamu dan orang-orang di sekitar rumah."
Sang istri pun menadahkan kepalanya, ia sesekali melirik ke arah pasung yang mengikat kedua kakinya. Menarik napas panjang, seraya membuang dari mulut. Kutoleh menuju pasung berwarna kecokelatan itu, sekarang keputusan ini telah bulat untuk membuatnya jera.
__ADS_1
Bersambung ...