Pasung Tuan Muda

Pasung Tuan Muda
22. Wanita Pengkhianat


__ADS_3

Dari ambang pintu, aku melangkahkan kedua kaki memasuki rumah. Melintasi kursi sofa berwarna hitam, yang kala itu sudah ada wanita sebagai mantan pacar. Miranda adalah perempuan yang tak memiliki malu sama sekali, sudah ditolak berulang-ulang tetap saja menemuiku tanpa rasa bosan.


Karena hari ini aku tak ingin berjumpa siapa pun, kedua kaki hanya menuju pusat penglihatan. Tanpa menoleh ke samping kiri. Di sana sudah ada mama dan Miranda tengah berbincang-bincang.


"Bang ...!" panggil seseorang dari samping kiri.


Aku pun berhenti dan menoleh sedikit. Dengan gaya malas dan menarik napas panjang, kemudian kutatap mantap lawan bicara.


"Bang, ada tamu, kok, enggak dihargai seperti ini," lanjut mama sambil menukar tatap pada wanita di hadapannya.


Aku pun memebalas dengan sedikit menggumam. "Apaan, sih, Ma. Enggak penting juga Refal menghargai ia."


"Bang, Miranda udah datang jauh-jauh, loh, dari Spanyol. Ia ingin bertemu dengan kamu."


"Ma! Mau ia datang dari neraka pun, Refal enggak peduli! Karena Refal udah enggak mau lihat wajahnya lagi." Selesai berkata, aku kembali berjalan menuju lantai dua gedung rumah.


Tangan kanan yang tadinya memegang jaket berwarna hitam, kemudian aku buang di lantai begitu saja.


'Mama apa-apaan, sih, pakai acara melayani Miranda baik banget. Ia enggak tahu apa, kalau perempuan itu tukang selingkuh,' batinku berkata.


Membanting pintu sangat keras. Lalu, aku tidur di atas ranjang tanpa membuka sepatu sekolah. Selang beberapa menit aku tertidur, suara ketukan terdengar keras dari luar pintu kamar.


Tok-tok-tok!


"Siapa ...?"


"Ini mama, Bang."


"Mau ngapain lagi, sih?" omelku singkat, kemudian merubah posisi badan menjadi duduk.


"Buka pintunya, Bang. Ada yang mau mama bicarakan," titahnya seraya menekan nada suara sangat mengayun.


Akhirnya, mau tidak mau aku melompat dari kasur dan membuka pintu kamar. "Ada apa, sih, Ma?"


Wanita yang selalu mengikat rambutnya dengan bandana merah itu menghambur masuk. Ia duduk di kasur putih seraya menyuruhku untuk berada di sampingnya. Memasang wajah masam, aku mengikuti gelagatnya yang sangat membuat bosan.


Setelah aku duduk di samping kanan, wanita itu menatap mantap kedua bola mataku.


"Bang, kamu jangan seperti itu kalau ada tamu," ucapnya, ia pun menyentuh pipiku dengan lembut.


"Ma, Refal enggak mau ketemu Miranda lagi. Ia itu pengkhianat," tukasku seraya memandang sangat kesal pada wanita di hadapan.


Sang mama menarik napas panjang dan membuang dari mulut secara perlahan. "Bang, bukankah ... setiap manusia itu punya kesempatan untuk yang kedua kalinya. Setidaknya ia tak menjalin hubungan, akan tetapi kalian masih bisa berteman."


"Refal bukan tidak mau kalau untuk sekedar berteman. Akan tetapi, Refal enggak mau kalau ujung-ujungnya Mama bakal menjodohkan Refal sama ia lagi."

__ADS_1


Mendengar bentakan mulut ini, sang mama mengubah posisi menjadi berdiri. Tampak dari wajahnya kalau ia sedang kesal. "Sekarang gini, Fal. Kalau kamu udah enggak mau menuruti apa yang mama bilang, semua fasilitas kamu akan mama cabut mulai sekarang."


"Oke! Emang Refal butuh dengan semua itu? Asal Mama tahu, mobil ini yang membeli papa, bukan Mama. Jadi kalau Mama mau melakukan ini, pastikan semua sudah diketahui sama papa," hardikku menaikkan nada suara.


Tanpa berpikir panjang, wanita yang aku panggil dengan sebutan mama itu menampar pipi kananku sangat keras.


Plak!


Seketika posisi wajah berubah membuang tatapan. Kedua bola mata mulai berkaca-kaca dengan sebuah sikap mama yang sering membuat aku sakit hati. Tak hanya satu kali, ia melakukan ini dihampir setiap kali ada wanita jodohannya.


Dengan tangan kanan, aku menyentuh pipi perlahan dan langsung menadahkan tatapan menuju lantai.


"Ma, sekarang Refal mau tanya sama Mama. Apakah Refal anak kandung Mama? Atau bukan?"


Dari posisi tepat di hadapan, wanita itu mendekat dan memeluk tubuhku. Ia juga meneteskan air mata bersama dengan isak tangis tersedu-sedu.


"Fal, maafin mama." Ia jeda sejenak, kemudian. "Mama enggak sengaja udah nampar kamu, Bang," lanjutnya bernada sangat rendah.


Aku pun mendorong wanita yang saat ini sedang memeluk, ia mundur dua langkah ke belakang seraya menekan mulut dan wajahnya dengan kedua tangan.


Tanpa basa-basi, aku langsung beranjak dari ruang kamar dan keluar bersama hentak kaki yang sangat laju.


"Bang, kamu mau ke mana?" tanyanya.


"Jangan cari Refal lagi, bukannya kepergian Refal yang Mama mau selama ini?"


"Refal!" ia mengubah posisi duduk menjadi berdiri di samping, kemudian ia mengedarkan senyum semringah bersama kedua tangannya yang ada di bawah pinggang.


"Mau apa lagi lu ke sini? Belum puas lu buat hancur kehidupan gue!" pekikku menaikkan nada suara.


"Fal ... maafin gue. Soalnya, kemarin itu cuma salah paham. Gue enggak pacaran sama Brama, benar."


Miranda mendekat ke samping kiri dan menggandeng tanganku perlahan. Akan tetapi, emosi malah bertambah sangat *******. Aku pun menepis tangannya sangat keras.


"Lepasin tangan gue! Dan satu lagi gue ingatkan sama lu, jangan pernah lu menginjakkan kedua kaki lu ke rumah ini lagi!" hardikku dengan menunjuk ke arah wajah lawan bicara.


Lalu, Miranda menadahkan kepalanya menuju lantai.


"Ral ... gue mohon sama lu, jangan gini sama gue. Apa pun akan gue lakuin buat lu," rengeknya seraya tetap menggandeng tangan kananku.


"Lepasin! Gue udah punya pacar yang alim dan sopan, enggak seperti lu pengumbar aurat di mana-mana."


"Siapa, sih, perempuan yang udah ada di hati lu, Fal. Emang ada wanita di Indonesia melebihi kecantikan gue?"


"Gue bukan cari wajah yang cantik. Tetapi hati, gue mencari wanita berhati cantik. Lu simpan aja wajah lu untuk pria selevel lu, permisi!" Setelah berkata, aku beranjak dari hadapan lawan bicara.

__ADS_1


"Refal ...."


"Refal ... kamu mau ke mana, Sayang ...."


Teriakkan itu membuatku menjadi sangat muak, apalagi memandang wajahnya yang semakin lama seperti wanita malam. Memakai rok pendek kurang pendek, sudah seperti penjajah nafsu laki-laki hidung belang.


Mengendarai mobil berwarna putih, aku segera pergi dari rumah. Menelusuri kota dan membuka jendela kanan, kemudian kedua bola mata menatap sosok wanita berhijab cantik tengah berjualan martabak dan beberapa minuman hangat.


Kumatikan mesin mobil, dan kedua bola mata hanya tertuju pada wanita itu. Tepat di taman Sudirman pusat kota, aku mengernyikan alis dan sesekali membuang tatapan menuju depan.


Batin pun berkata. 'Eh, bukankah ... itu Anissa? Ngapain, ya, malam-malam gini masih di tempat penjualan martabak?'


Rasa penasaran menyergap. Alhasil, aku membuka pintu mobil dan keluar menuju pusat penglihatan. Tampak dari balik jilbab hijau muda itu wajah yang sangat memesona, belum lagi sikap lembutnya mampu menggetarkan jantung ini.


Dari samping meja, aku beranjak mendekatinya. Sesekali wanita berjilbab itu menoleh, akan tetapi ia tetap menjalankan aktivitasnya untuk membersihakan meja.


"Assalam' mualaikum ...," sapaku seraya mengedarkan senyum semringah.


"Waalaikum' sallam ...," responsnya, kemudian ia beranjak menuju tempat pemanggangan martabak.


"Silakan duduk, Bang," katanya, kemudian. "Mau pesan martabak rasa apa?" lanjutnya seraya membuang pertanyaan.


Dari posisi tempat duduk, aku hanya melamun dan menatap wajah cantik di balik jilbab itu. Rupanya, selain pintar di sekolah, Anissa juga bekerja menjual martabak di malam hari.


"Hallo ... Bang, mau pesan apa?"


Lamunan seketika membuyar setelah Anissa melambaikan tangannya.


"Kamu Anissa, bukan?" kutanya.


"Hmmm ... iya. Udah tahu, kok, pakai nanya lagi?" responsnya, lalu ia menadahkan kepala menuju lantai.


Dari samping kiri, para karyawan yang lainnya memerhatikan kami berdua.


"Gue mau martabak rasa cinta, dong," ucapku sangat lembut.


"Cie ... martabak rasa cinta, Nis." Di posisi paling ujung tempat duduk, teman satu rekannya malah meledek.


"Mana ada martabak rasa cinta, Bang," ujar Anissa sangat malu.


Aku pun memukul kening dengan tangan kanan. Astaga! Bodoh banget gue, mana ada martabak rasa cinta. Kok, jadi salah tingkah seperti ini sejak dekat Anissa, celotehku dalam hati.


"Yang ada rasa apa?" kutanya singkat.


"Rasa kacang, rasa strawberry, rasa jagung dan pulut hitam, Bang," paparnya, kemudian dengan tangan kanan Anissa menyodorkan menu martabak yang tersedia.

__ADS_1


Dengan tangan kanan, aku meraih sodoran dari Anissa. Alhasil, aku malah bingung untuk memilih martabak rasa apa.


Bersambung ...


__ADS_2