
Malam itu, di keheningan malam. Aku merebahkan kedua sayap di atas ranjang. Sesekali bola mata mendelik ke arah arloji di dinding kamar. Rasanya lama sekali sang waktu berputar. Sementara suasana, semakin larut semakin terasa dingin.
Kemudian, batin pun berkata, Nissa lagi apa, ya? Ia tidur pakai selimut enggak malam ini? Gue kangen banget sama ia. Apalagi ibunya sedang dipasung. Namun, siapa, sih, yang tega memasung ibunya?
Perasaan sangat gelisah. Malam ini, aku memberanikan diri untuk menuju lokasi bawah tanah. Tempat yang tak pernah kudatangi selama tujuh belas tahun lamanya, karena ayah dan ibu melarang untuk pergi ke lokasi bergembok rantai.
Dengan memberanikan diri, aku pun keluar kamar tepat pukul 24:00 malam. Waktu yang sangat sakral untuk anak remaja masih berada di luar rumah, akan tetapi aku harus menuntaskan rasa penasaran itu secepatnya.
Menggunakan tangan kanan, kubuka pintu kamar perlahan. Berjalan mengendap-endap dan tatapan hanya menuju ruang kamar sang ayah yang masih tertutup rapat. Menapaki anak tangga lantai dua, kutoleh kanan dan kiri untuk memastikan tidak ada satu orang pun yang melihat.
Setelah situasi aman, langkah kaki berlanjut dan sampailah di depan pintu kamar. Karena ruangan sangat gelap, aku sesekali memekik gelisah dan ketakutan.
Pintu kamar ayah dikunci enggak, ya? batinku. Kemudian, kucoba untuk membuka secara perlahan. Dan pintu pun terbuka membawa suara yang sangat lembut.
Krak ....
Alhamdulillah ... rupanya pintu kamar ayah enggak dikunci, kataku dalam hati lagi.
Memasuki ruang kamar secara perlahan, aku menapak, ‘kan kaki untuk menuju sebuah jas hitam milik ayah. Merogoh dua kantong yang tertutup sangat rapi. Hasilnya nihil, kunci untuk membuka gembok ruang bawah tanah tidak ada.
Dari atas ranjang, sang ayah mengigau sendiri. "Kalian jangan ganggu pekerjaan saya hari ini."
Aku pun tiarap di bawah tempat tidur, karena mendapati ucapan sang ayah yang berbicara meski kedua bola matanya tertutup.
'Ih, ayah apa-apaan, sih. Tidur aja suka ngomel, apalagi kalau ia enggak tidur. Cerminan manusia yang suka ngomel, ketika tidur pun tetap ngomel. Dasar ... sugar daddy. Hi-hi-hi ...,' batinku meledek sang ayah.
Kembali mengubah posisi badan menjadi berdiri, aku menuju nakas berbentuk kubus di samping kanan tempat tidur. Rupanya, untuk membuka benda tersebut harus memakai kode rahasia.
Batin kembali berkata. Haduh ... ini kodenya apa, sih? Kok, gue bodoh banget pakai acara membuka benda ini.
Tak kehabisan akal, aku pun mencoba beberapa kali dengan tanggal dan tahun lahir ayah. Akan tetapi, nakas tak kunjung terbuka. Mencoba membuka dengan sembilan digit angka berderet, hasilnya sama saja.
Seketika aku duduk dan menatap sebuah dinding kamar. Tepat di sebelah arloji, terdapat tulisan angka special di sana. Eh, itu tulisan apa, ya? Kok, seperti angka special. Oh ... mungkin itu tanggal pernikahan kali, ya? Oke, deh, gue coba aja dulu. Selesai membatin, aku mencoba memasukkan kode tersebut.
Deg—
Akhirnya, pintu nakas terbuka. Bersama wajah semringah, kuedarkan senyum kecil seraya menoleh ke tubuh sang ayah. Mereka masih tertidur sangat pulas.
Oh, jadi dalamnya ada dua kunci? Yang mana satu untuk membuka ruangan bawah tanah? batinku. Ah, bodo amat. Gue ambil aja keduanya, barang kali bisa digunakan untuk yang lain.
Mengambil dua kunci di dalam nakas, aku pun keluar ruang kamar dengan segera. Sesampainya di lantai dua, rupanya aku lupa menutup pintu kamar. Kembali menoleh ke atas, kemudian aku membiarkan pintu itu terbuka. Kalau tidak segera pergi, nanti mereka malah memergokiku.
Turun dengan langkah penuh hati-hati, aku pun sampai di depan pintu ruang bawah tanah. Kedua telinga mendengar sebuah suara dari dalam ruangan tersebut. Ketika aku mulai meletakkan kunci di sebuah gembok, seketika seseorang memukul pundakku secara perlahan.
"Refal ... kamu mau ngapain?" Seketika kedua bola mata menoleh siapa gerangan yang telah menyentuh pundak ini.
Dengan sedikit cengir, aku menjatuhkan kunci di atas keset untuk membersihan kaki. "Eh, Ayah ...." karena sudah tertangkap basah, akhirnya aku hanya menggaruk kepala dua kali.
"Mau ngapain kamu malam-malam di sini, Nak?" tanyanya.
__ADS_1
Tetapi nada suara itu sangat lembut. Tak seperti biasa, mungkin ia tak mencurigai kalau gelagatku adalah ingin membuka pintu itu.
"Ini, Yah ... Refal dengar suara kucing di dalam ruangan. Jadi ... Refal mau menangkapnya saja."
"Ini udah malam, Sayang ... besok aja ditangkapnya. Ayo, kamu tidur. Besok bukannya mau sekolah pagi-pagi?"
"Tapi, Yah—"
"Refal ... jangan bikin ayah marah lagi. Ini udah malam, ayo, kita tidur lagi." Dengan sangat erat, sang ayah menarik tangan kananku. Ia pun membawaku menuju kamar.
Sesampainya di depan pintu, sang ayah bukan putar balik. Ia malah masuk ke kamarku dan tidur di kasur posisi samping kanan.
Ih, ayah ngapain pakai acara tidur di sini, sih? Kan, gue enggak bisa balik lagi untuk membuka pintu itu. Aataga! Kuncinya, 'kan jatuh di keset kaki. Kalau besok ketemu orang lain bagaimana? Mati gue ..., batinku.
...***...
Pagi telah tiba. Kedua bola mata terbuka sangat perlahan, menoleh arloji yang menunjukkan pukul 0700. Dari samping badan, sang ayah tak lagi ada, mungkin ia telah keluar kamar lebih awal.
Dengan langkah lebar, aku menuju sebuah pintu ruang bawah tanah. Seraya mengubah posisi menjadi jongkok dan mencari kunci yang terjatuh tadi malam.
"Refal ... kamu ngapain lagi, sih, di pintu itu?" Dari belakang badan, suara datang secara tiba-tiba.
Aku pun kembali bangkit dengan handuk yang menutup setengah badan. "Ini, loh, Yah ... suara kucingnya masih ada," ujarku berpura-pura mengalihkan topik.
"Mandi, gih. Entar telat ke sekolah," suruh pria berusia tiga puluh tiga tahun itu.
"Tapi, Yah ...."
"Ih, apaan, sih." Seketika kubuang tatapan jijik pada sang ayah.
Kedua kaki berjalan melintasi pria tiga puluh tiga tahun itu. Ia pun menoleh ke arahku dan ingin menjahil lagi.
"Tarik handuknya ...."
"Ih, Ayah. Genit sama anak sendiri, hmmm ...."
Sesampainya di ruang dapur, aku menatap Bi Ira yang sedang bersenandung riang. Tak seperti biasanya, ia tampak bahagia pagi ini. Tanpa menghiraukan wanita paruh baya itu, aku bergegas mandi dan pergi ke sekolah.
Tiga puluh menit kemudian ...
Aku telah tiba di depan pintu ruang kelas. Berjalan santai dan menyumpal telinga dengan eartphone berwarna putih, aku menuju bangku paling belakang. Dari samping kanan dan kiri, para siswi memekik gelisah dan menggoda ketika aku melintas.
"Hallo ... cowok ganteng."
"Pagi ini ganteng banget, sih!"
Fans-fans di ruang kelas memang selalu memekik heboh, alay, lebay dan sejenisnya. Ketika aku melintasi koridor, mereka selalu seperti itu. Namun, tidak dengan satu cewek yang berjilbab putih tepat di depan mejaku. Ia hanya sibuk dengan buku diary-nya dan menulis sebuah novel.
"Shut-shut ...," kupanggil Anissa dengan menggunakan kode.
__ADS_1
Ia pun menoleh dan membulatkan mata jijik. "Kenapa lu? Lagi kerasukan?" pekiknya.
"Enak aja ... ganteng-ganteng gini dibilang kerasukan."
"Lah, terus ...?"
"Sama pacar sendiri bukan diberi salam. Malah ngata-ngatain," sambarku sedikit menggerutu.
"Ogah! Amit-amit ... mimpi apa gue ngasih salam sama cowok kayak lu."
Aku pun beranjak dari kursi dan duduk di sampingnya. "Eh-eh, lu mau ngapain? Minggir enggak?" Dengan membawa buku diary, Nissa pun ingin memukul.
"Nis-Nis! Gue mau bilang sesuatu, nih."
"Ingin bilang apa lu?" tanyanya singkat. Lalu ia mengambil permen di dalam kantong bajunya.
"Tadi malam, gue berhasil mengambil kunci ini." Dengan tangan kanan, aku meletakkan kunci tersebut di hadapan Anissa.
Ia pun menyambar. "Kunci apa ini?" tanyanya.
"Ya, elah ... ini kunci untuk membuka ruang bawah tanah. Kan, lu tinggal di belakang rumah gue."
Ups ... mampus gue! Kok, mulut gue keceplosan. Haduh ... pasti Anissa bakal tahu kalau selama ini, gue udah ngikuti ia pulang, batinku berkata.
Seketika Anissa mendelik. Ia pun menatap mantap kunci di tangan kananku. Tanpa basa-basi, ia merampas kunci itu dan memegang sangat erat.
"Nis-Nis, kembalikan kunci itu, dong," rengekku. Lalu, Anissa bangkit dari atas kursinya dan bergegas keluar kelas.
Dari arah belakang, aku mengejar cewek yang terlihat sedang meneteskan air matanya.
"Nissa ... tunggu gue ...!" teriakku.
Dengan langkah lebar, aku berlari untuk mengejar—kekasihku itu. Tampak dari ujung penglihatan, Anissa tengah berdiri di pinggir aspal. Aku pun berhenti seketika, napas ngos-ngosan membuat otak tak mampu berpikir tenang.
Tak lama, sebuah taksi berhenti dan Anissa masuk dengan cepat. Sampailah aku di samping pintu taksi yang sudah tertutup.
"Nis ... buka pintunya gue mohon. Nissa! Nissa!"
Akan tetapi, sang kekasih tak menghiraukan ucapanku.
"Pak, jalan."
Karena taksi sudah bergerak, aku pun menuju parkiran dan membuka pintu mobil. Bel pun berbunyi sangat keras, akan tetapi aku akan tetap mengejar Nissa dan mengikutinya.
Pak Burhan pun menutup gerbang perlahan. Dengan menginjak gas sangat kencang, aku hampir menabraknya dan berhasil keluar dari pagar sekolah.
"Astaghfirullah ...," ucap Pak Burhan sangat gemetar.
Tanpa menghiraukan perkataannya, aku melaju di tengah jalan lintas dan membunyikan clarkson tanpa henti. Tiba-tiba, lampu merah pun menyala. Mau tidak mau, sekarang aku kehilangan jejak dari Anissa bersama dengan taksi yang membawanya pergi.
__ADS_1
Bersambung ...