Pasung Tuan Muda

Pasung Tuan Muda
26. Kucintai Bukan Karena Harta Dan Takhtamu


__ADS_3

Aku menatap mantap menuju arloji di tangan kiri. Sang waktu sudah menunjukkan pukul 13:00 siang. Suara ponsel terdengar sangat keras di kantong celana, menggunakan tangan kanan, aku mengambil ponsel tersebut dan melihat notifikasi di layar kaca.


Panggilan datang dari mama di rumah. 'Ada apa, sih, mama. Mengganggu orang lagi makan aja, deh,' batinku berkata.


Kemudian, dengan jari sebelah kiri, aku mematikan panggilan itu. Dari arah depan, Nissa menoleh penuh greget padaku.


"Fal, kok, lu matikan? Emang panggilan dari siapa?" tanyanya, lalu ia menatap menuju arloji di tangan kirinya.


Seketika aku menjawab dengan sedikit menggumam. "Ah, enggak." Kugaruk kepala dua kali. "Itu, nyokap gue," lanjutku seraya menghentikan aksi menggaruk kepala.


"Kenapa enggak kamu angkat? Kalau ada yang penting bagaimana?" jawab lawan bicara, Nissa mulai ngegas ucapannya.


"Enggak, kok, mama gue kebiasaan kalau jam segini suka nelepon enggak jelas."


Dari ujung penglihatan, Nissa mengangguk kecil dua kali. Tampak dari raut wajahnya, kalau ia seperti menelan ludah berkali-kali.


"Nis, kamu mau gue antar pulang enggak?" celetukku, lalu dengan tangan kanan aku mengambil kunci mobil.


Ia pun sedikit menggumam. "Hmmm ... gimana, ya, gue akan pergi kerja sore ini."


Setelah menolak, Anissa memekik gelisah. Tampak dari posisi badannya memutar beberapa kali. Mungkin ia tak mau ikut dengan aku. Padahal, ingin rasanya mengajak Anissa untuk mampir ke rumah dan berkenalan dengan orang tuaku.


"Nis, lu yakin enggak mau gue antar? Gue ingin banget—"


"Ingin apa, Fal?" sambarnya, lalu wanita berjilbab itu meneguk segelas minuman yang masih tersisa di dalam gelas.


"Gue ingin mengenalkan lu sama nyokap dan bokap gue di rumah."


Dari depan penglihatan, Anissa tampak tengah berpikir keras.


"Bagaimana, Nis?" timpalku secara bertubi-tubi.


Kemudian, tak berapa lama berpikir, akhirnya Anissa pun mengangguk dua kali. Ia tak mengeluarkan sepetah kata pun. Dengan bahasa tubuh, wanita berjilbab itu mengiyakan tawaran dariku.


Tanpa membuang banyak waktu, aku mengubah posisi badan menjadi berdiri. Cewek cantik berjibab itu pun tengah menenteng tas ranselnya dan mengikutiku dari arah belakang.


Kami pun keluar dari kedai kopi. Langkah kaki menuju sebuah mobil yang telah aku tinggalkan beberapa meter dari lokasi saat ini.


Butuh waktu sekitar tiga menit, kami pun sampai. Dengan tangan kanan, aku membuka pintu mobil untuk mempersilakan Anissa masuk. Setelah ia duduk, barulah aku memasuki pintu dari sebelah kanan.


Baru kali ini aku membawa cewek seperti Anissa. Begitu kalem, berhati lembut, dan berjilbab tentunya. Dari penampilan itu aku belajar untuk menghargai wanita. Tak seperti biasanya. Ketika membawa pacar, aku selalu bergandengan dan saling rangkul.


Akan tetapi, saat ini tidaklah demikian. Jangankan untuk menggandeng, bahkan mendekat dari jarak satu meter saja, Anissa sudah buru-buru menjauh. Sungguh ia adalah wanita calon surga yang sengaja aku pilih dalam hidup ini.


Kami pun bergegas pulang ke rumah, butuh sekitar tiga puluh menit sebelum akhirnya kami sampai di depan pintu gerbang. Dari ambang penglihatan, tampak rumah sangat sunyi. Karena memang tiada siapa pun yang bertamu untuk hari ini.


Akhirnya ... Miranda enggak datang. Coba aja ia di sini, bisa-bisa—Anissa akan membenci gue. Mantan enggak sadar diri, udah ditolak masih aja datang-datang ke rumah, celotehku dalam hati.


Mobil pun sengaja aku parkirkan di depan rumah. Bersama dengan Anissa, aku memasuki rumah yang sangat luas itu. Tepat sekitar sepuluh tahun lalu, ketika aku duduk di bangku Sekolah Dasar, kami sering bersama-sama mengerjakan tugas di rumah ini.


Setelah duduk di atas kursi sofa, aku berkata. "Nis!" panggilku singkat.


"Hmmm ...," respons Anissa, ia pun menoleh ke arahku setelah sebelumnya melirik seisi ruang tamu.

__ADS_1


"Lu ingat enggak. Dulu, ketika kita SD, sering banget mengerjakan tugas di ruang tamu ini."


Anissa pun mengangguk dua kali. "Hmmm ... iya, gue ingat. Tapi ... rumah ini sedikit berubah."


"Iya, barang-barangnya telah diganti dengan yang baru."


"Alasannya?" ia nanya, lalu menoleh menujuku.


"Gue enggak tahu," jawabku, kemudian Bi Ira lewat melintas dari ruang yang tak pernah aku buka seumur hidup.


Dengan teriakan, aku memanggil wanita paruh baya itu. "Bi Ira ...."


Wanita paruh baya itu berhenti. Ia pun menoleh ke arahku dari ujung koridor dapur. Tatapan matanya sangat keget setelah mendapati siluet sosok wanita cantik yang aku bawa hari ini, dan Anissa pun seperti memberikan suatu kode pada asisten rumah tanggaku.


Dengan langkah lebar, Bi Ira berjalan seraya menadahkan kepalanya di lantai. "Iya, Den. Ada apa, ya?"


"Bi ... buatin kami minuman, dong."


Akan tetapi, lawan bicara tak menjawab. Ia pun tak membalas kata-kataku, sedari tadi hanya menatap cewek cantik di samping kiri badanku saja.


"Bi ... hallo ...." aku melambaikan tangan dua kali di hadapan Bi Ira.


Ia pun membuyarkan lamunan. "Eh, iya, Den. Bibi akan membuatkan minuman, tunggu sebentar, ya."


"Siap, Bi."


Ia pun pergi meninggalkan kami berdua. Sementara Anissa kembali duduk dan terlihat tengah menelan ludah. Kemudian, ia memainkan ponselnya dan memakai eartphone putih. Selang beberapa menit, kedua telinga menangkap suara tapak kaki yang datang dari arah belakang.


"Bang ... kamu udah pulang?" ucap seseorang, dari suaranya terdengar seperti mama.


Seketika aku bangkit dan berdiri tepat di sampingnya. Kemudian, Anissa mengikuti seraya berdiri tegak di depan sang mama.


"Ma. Kenalin, ini Anissa," ucapku seraya mempersilakan Nissa berkenalan.


"Nissa, Tante," sapa Nissa sangat lembut.


"Gak usah cium tangan," tukas mama seraya melipat kedua tangan.


"Ma! Kenapa, sih? Nissa udah baik-baik mau menjabat tangan Mama."


"Fal, kamu kalau cari cewek yang modis dikit, dong. Cewek jelek dan seperti gembel begini kamu bawa ke rumah," cibir sang mama, kemudian kutoleh wajah Anissa yang sudah merunduk.


"Ma! Refal enggak pernah membedakan derajat manusia, kita sama-sama calon bangkai semuanya. Jangan Mama banggakan harga yang cuma sementara di dunia ini," pungkasku seraya menaikkan satu nada suara.


Dari arah depan, sang mama menarik tanganku erat. "Fal. Ayo, ikut mama ke dapur."


Tanpa membalas sepatah kata pun, aku mengikuti sang mama dari belakang. Ia menuju ke sebuah dapur. Sementara Bi Ira masih membuat teh hangat sebagai pesananku tadi.


"Refal! Kamu buta kalau Anissa itu enggak pantas buat kamu. Lihat pakai mata kamu, penampilannya aja seperti gembel."


Aku menarik napas panjang. "Ma! Refal enggak peduli kalau Nissa dari kalangan seperti apa. Yang pasti, Refal tetap akan bertahan sama Nissa apa pun yang terjadi."


"Kalau kamu masih mau mama anggap sebagai anak. Tolong jangan pernah membantah, Fal," pekik sang mama, kemudian ia membulatkan mata girang dan menatapku tanpa berkedip.

__ADS_1


Akhirnya, aku tak mampu berbicara. Mama pun berjalan dua langkah ke depan. Dengan tangan kanan, aku menarik tangan wanita berambut pendek itu.


"Ma! Mama mau ke mana? Jangan usir Anissa."


Tanpa mau mendengar rengekan, mama menepis tanganku sangat keras. "Lepasin mama, Fal. Biar mama usir perempuan gembel itu dari rumah ini."


"Ma! Jangan, Ma ... Refal mohon jangan lakuin itu." Aku pun bersujud dan bersibu di hadapan wanita keras kepala itu.


Dari ambang penglihatan, mama tak mempedulikan aku dan ia tetap berjalan menuju ruang tamu. Dengan tangan kanan, aku menghapus air mata yang mengalir deras dari lekuk pipi. Tiba-tiba, Bi Ira datang dan menemuiku. Ia memeluk tubuh ini secara perlahan.


"Den ... yang sabar. Jangan nangis lagi. Kan, Aden udah tahu kalau ibu sifatnya begitu."


"Tapi, Bi ... saya enggak tega lihat Nissa dimarahi seperti itu."


"Iya, Den! Bibi ngerti."


Kedua telinga mendengarkan omelan sang mama pada Anissa.


"Nisa! Mulai sekarang, kamu jangan dekat-dekat dengan anak saya. Kamu itu orang miskin, gembel. Gak pantas kamu mencintai anak konglomerat."


"Tante ... saya bukan pacar Refal. Asal Tante tahu, saya datang ke sini juga bukan karena kemauan saya. Tapi anak Tante yang memaksa."


"Enggak mungkin! Pasti kamu, 'kan, yang mengejar-ngejar—Refal—anak saya. Karena kamu ingin memakan uangnya aja."


"Maaf, Tante. Saya tidak serendah itu, permisi!"


Seketika percakapan terhenti. Kemudian, aku berlari dan melepas pelukan Bi Ira. Langkah kaki menapak sangat lebar, akan tetapi Anissa tak lagi ada di luar rumah.


Selang beberapa menit, ayah pun pulang dari kantornya. Wajah capek yang ia alami, membuat pemuda berhati lembut itu menoleh sosok cewek yang berlari kencang melalui pintu gerbang.


Sesampainya di depan pintu, ayah menatap wajahku yang masih menangis histeris. "Nak, kamu kenapa nangis di sini? Mana mama?"


Tanpa menjawab, aku memandang ke posisi belakang. Mama pun masih melipat kedua tangannya.


"Cewek tadi siapa? Kok, lari-lari keluar rumah?" lanjutnya, kemudian ayah menyentuh rambutku.


"Itu Nissa, Yah. Ia pergi karena diusir sama mama," jawabku lirih.


Tanpa balas kata, sang ayah berjalan kencang menemui mama di ruang tamu. Aku pun menoleh ke arah mereka berdua.


"Siska! Kamu apa-apaan, sih, ngusir orang sembarangan. Ia itu teman Refal, bersikap manusiawi kamu."


"Mas, Nissa itu gembel. Anak orang miskin. Ia enggak pantas sama anak kita."


"Siska! Awalnya kamu juga orang miskin. Sadar kamu, jangan usir orang sembarangan."


"Tega kamu, Mas! Tega! Kalau memang saya miskin, kenapa kamu memilih saya, Mas ...."


"Kamu harusnya berkaca, Siska. Refal sudah dewasa, ia bisa membedakan mana wanita baik dan mana wanita buruk. Jangan pernah bawa-bawa material di dunia ini."


Setelah membentak, ayah pun pergi meninggalkan mama. "Mas! Kamu mau ke mana ...?"


"Saya mau tidur. Jangan ganggu saya."

__ADS_1


"Mas ... buka pintunya ...," rengek sang mama seraya memukul pintu kamar. Namun, ayah tak mau membuka pintu dan membiarkan sang mama menangis sangat histeris.


Bersambung ...


__ADS_2