Pasung Tuan Muda

Pasung Tuan Muda
52. ATM Yang Mendadak Aneh


__ADS_3

Arloji menunjukkan pukul 24.00 tengah malam. Saat-saat seperti ini jarang aku lakukan, apalagi karena keadaan yang membuat diri sangatlah muak. Untuk sekadar menyapa saja aku tidak ingin, bahkan sekarang orang-orang yang ada di sekitar terasa sangat aneh, bahkan begitu memusuhi jiwa


Kini aku sudah menjalani pernikahan ke tujuh belas tahun dengan Siska. Namun, semakin jauh aku menjalani hubungan suami dan istri itu semakin hati merasakan kegelisahan. Bahkan aku sempat berpikir, bahwa Siska hanyalah ingin memanfaatkan harta yang kupunya saat ini.


Di sisi lain, aku telah mengecewakan banyak orang, salah satunya adalah Marissa, Anissa, dan Bi Ira. Bahkan ibu mertuaku sendiri pun melarang untuk aku menikahi Siska, padahal dia adalah ibu kandung dari Siska sendiri. Sampai saat ini berat rasanya untuk menyingkap tabir kepasuan cinta sang istri, terlebih dia telah menjadi bahan gosipan di luar sana.


Prilakunya yang tidak mencerminkan wanita lazim pada umumnya. Membawa segala pria yang dia anggap menyenangkan. Padahal aku adalah suami sahnya. Namun, terkadang aku berpikir lagi, bahwa aku tidak memberikan nafkah batin padanya setiap saat. Seperti lelaki kebanyakan, selalu mesrah dan setia dalam waktu yang panjang.


Tetapi tidak denganku, kesibukan mencari uang adalah yang utama, karena itu untuk sang istri dan anak semata wayangku juga. Masa depan adalah yang utama, walaupun terkadang ada yang memanfaatkan situasi itu untuk berbuat curang. Contohnya sang istri, sejak dua bulan lamanya aku menjaga Refal, dia menghabiskan uang perusahaan dan meninggalkan banyak utang.


Sebagai seorang suami, aku tidak pernah telat memberikan dia uang. Bahkan sebelum satu bulan, dia telah menerima dariku. Entah kenapa, ironi memang tidak berpihak sekarang. Kini, yang aku jalani hanyalah seberkas cahaya terang, kemudian akan beringsut pergi bersama tatapan jahat dari alam semesta.


Sebuah tapakkan kaki terdengar ringan dari depan kursiku saat ini, tanpa menunggu lama, aku memerhatikan siapa gerangan yang tengah tertegun di depan sana. Ya, dia adalah pelayan kafe yang tadi membawakan menu pesanan. Tatapannya juga sangat semringah, entah apa maunya dia.


Aku pun mendongak seraya bertanya, “ada apa, Mbak? Kok, melihatnya seperti itu?”


Lawan bicara malah melirik jam tangannya. “Maaf, Pak, kami akan segera tutup.”


“Oh, begitu, ya? Emang ini jam berapa?” tanyaku penasaran.


“Ini sudah tengah malam, Pak, kami tidak pernah menutup kafe selama ini,” titahnya menjelas.


“Maafkan saya, Mbak. Oh, ya, berapa saya harus membayar minuman ini?”


“Silakan temui kasir kami, Pak.” Dia pun mempersilakan aku yang seperti orang bodoh. Padahal, aku tidak meneguk minuman alkohol sama sekali. Entah kenapa, rasanya malam ini susah untuk berpikir fokus.

__ADS_1


Karena pelayan dan para pengunjung telah banyak yang meninggalkan lokasi kafe, aku pun bergerak cepat menuju kasir pembayaran.


“Mbak, berapa?” tanyaku.


“Ini, Pak,” jawab penjaga itu seraya memberikan bil pembayaran.


“Bisa pakai ATM? Saya tidak bawa uang cash,” jawabku.


“Bisa, Pak.” Penjaga kasir itu pun mengambil card yang aku berikan padanya.


Tampak sedari tadi dia seperti mengkerutkan kening, entah apa maksudnya. Namun, aku tetap berpikir positif bahwa dia baik-baik saja. Dengan senyum simpul, aku meninggalkan ruang kafe dan bergerak menuju mobil sport di halaman.


Setibanya aku di depan, aku pun mengingat sesuatu bahwa bahan bakar mobil telah sekarat. Sehingga aku ingin mengambil uang yang ada di dalam ATM. Karena di depan kafe terdapat tempat untuk mengambil uang, kulangkahkan kaki menuju ruangan kecil dan mengantre pada orang-orang yang berdatangan.


Kini masuklah giliranku untuk mengambil uang, dengan segera aku memasukkan card dan mengetik nominal yang ingin diambil. Namun, mesin ATM menolak card tersebut. Aku pun berulangkali mencoba untuk memasukkan card. Namun, hasilnya sama saja.


Tak berapa lama, seorang pria mengetuk dari kaca luar. “Mas, lama sekali?”


“Oh, iya, maaf. Saya akan segera keluar,” jawabku seraya meninggalkan tempat.


Dari ambang pintu mesin ATM, aku memerhatikan pria paruh baya itu mengambil uang. Ternyata dia berhasil mengambil uangnya dengan nominal banyak. Akan tetapi, ketika aku mencoba lebih dari tiga kali, uang tersebut tidak kunjung keluar.


Setelah pria itu keluar dari mesin, aku pun menyentuh tangannya sedikit. “Mas.”


“I-iya, Mas, ada apa, ya?” tanyanya seraya memberhentikan langkah.

__ADS_1


“Kenapa saya tadi mengambil uang tidak bisa, ya?”


“Loh, kenapa emangnya, Mas?” katanya penuh selidik.


“Saya kira uang di dalam mesin habis, atau jaringan lagi rusak.”


“Enggak, Mas, saya mengambil bisa-bisa aja. Barangkali saldonya, Mas, yang habis!” jelasnya.


“Oh, gitu, ya?” tanyaku.


Kemudian, pria itu berlalu dengan sedikit mencibir kecil. “Mobilnya mahal, bajunya bagus, tapi uangnya enggak ada.”


Mendengar ucapan itu, aku memutar badan seraya menatap pria tadi yang mengendarai motornya, dia pun bergegas pergi dari lokasi saat ini. Karena sangat penasaran, aku kembali masuk ke dalam ruang mesin ATM karena ingin mengecek saldo tabungan.


Dengan cepat, aku memasukkan card dan mengecek. Ternyata ucapan pria tadi benar, bahwa saldo yang ada di dalam ATM-ku kandas tanpa sisa. Padahal, aku baru saja menyimpan uang sebesar seratus juta rupiah.


Pasti ini kerjaan Siska, kalau bukan dia siapa lagi yang suka menghabiskan uang ATM-ku. Dasar wanita kurang ajar, beraninya mengambil tanpa bilang-bilang, gerutuku dalam hati.


Setelah sekian menit menggerutu, aku tertegun seraya menatap ambang jalan lintas. Di sana telah ada seorang wanita yang ingin menyebrang ke sebuah halte. Dari ukuran badannya, aku seperti kenal. Namun, aku tidak peduli padanya karena takut salah untuk kedua kalinya.


Ketika aku memutar badan, kutoleh lagi menuju belakang. Tepat di tepian trotoar, penglihatan tercengang dengan apa yang terlihat. Ternyata dugaanku benar, bahwa dia adalah Marissa yang tengah berdiri di samping mobil mewah berwarna hitam. Akan tetapi, aku tidak tahu siapa yang ada di dalam mobil itu, karena dia tidak keluar untuk mempersilakan Marissa.


Akibat dari rasa penasaran yang berlebihan, aku pun memasuki mobilku dan menyalakan mesin. Kemudian, kami sama-sama bergerak melintasi jalan raya menuju jalan Sudirman. Akan tetapi, kali ini sedikit berbeda. Yang mereka tuju adalah rumah yang sepertinya kukenal.


Oh, berarti mereka akan pergi ke rumah Marissa. Namun, yang ada di dalam mobil itu siapa, ya? Kenapa dia enggak mau keluar? Atau jangan-jangan, dia adalah pacar baru dari Marissa. Ah, tetapi enggak mungkin. Karena yang aku tahu, kalau Marissa masih belum bisa menerima lelaki lain, selain aku.

__ADS_1


Selang beberapa menit bersenandika, aku pun menutup kaca jendela mobil. Namun, tatapan Marissa sepertinya mengarah ke mobil milikku saat ini. Karena telah tertangkap basah, aku segera menutup jendela mobil secara keseluruhan.


Bersambung ...


__ADS_2