
Setelah sekian menit gelisah, aku memandang langit hitam yang mulai turun rintik-rintik gerimis tipis. Sementara angkutan umum tak kunjung datang melintas. Akibat dari rasa takut yang berlebihan, aku mengambil ponsel di dalam tas dan mencoba untuk menatap layarnya. Dengan harapan, ponsel tersebut dapat menyala kembali. Namun, naas menerpaku, ponsel tetap mati dan tidak mau menyala juga.
Tak berapa lama, suara tapakkan kaki seseorang kembali terdengar di kedua telingaku. Kali ini berbeda, setelah beberapa menit menghilang, kini datang lagi. Yang paling membuat tubuhku gemetar adalah, lolongan anjing yang mampu memecah keheningan malam. Sehingga aku hanya terpaku menatap layar ponsel sedari tadi.
Bayangan hitam pun hadir bersamaan dengan lolongan anjing itu, tertegun dan seakan menatap menghadapku. Sorotan cahaya lampu seakan hilang sejak hadirnya bayangan itu yang kini menutup separuh wajahku. Ternyata dia adalah orang asing yang datang tanpa diundang. Untuk wajahnya pun aku tak kenal, karena dia mengenakan jaket kulit berwarna hitam serta menghisap satu batang rokok.
Yang membuatku semakin gemetar, satu orang lagi muncul dari belakang badannya. Dengan badan kekar dan tegap, seakan ingin memangsa aku yang kurus ini. Karena aku merasa tidak mengganggu siapa pun di sini, aku sekadar buang muka dan tidak memedulikannya.
Kemudian, salah satu dari mereka pun duduk di sampingku. Berambut panjang sudah layaknya seorang wanita, dengan wajah sangar dan menakutkan menatap ke arah wajahku.
Menggunakan tangan kanan, dia menyentuh rambutku yang terurai sedikit. Dengan cepat aku berteriak dan menyibak tangan tersebut.
“Mau apa kau!” bentakku ngegas.
“Ha-ha-ha ... ayolah, jangan takut Nona manis,” jawabnya dengan sedikit meledek.
“Untuk apa kalian ada di sini! Biarkan aku sendirian,” tukasku diiringi dengan jantung yang bergetar hebat.
“Oh, galak sekali Nona cantik. Kami hanya ingin mengajakmu senang-senang saja.” Selepas berkata, pemuda sangar itu menyentuh sedikit kerah bajuku.
Secara spontan aku menampar pipinya dengan membuang tatapan marah.
Plak!
“Jangan kurang ajar kamu!” hardikku ngegas.
“Ha-ha-ha ... kena tampar dia, udahlah, Bro serahkan padaku,” jawab salah seorang yang menjadi kawanan satu komplotannya.
Mendengar ucapan itu, aku merasa muak dan ingin muntah. Memang aku sudah lama tidak pernah disentuh seorang laki-laki. Namun, tidak sertamerta orang asing dapat mengangguku semaunya. Karena merasa sangat tidak nyaman, aku mencoba untuk membangkitkan badan dan berjalan satu tapakkan ke depan.
Akan tetapi, orang yang yang tadinya duduk, membangkitkan badan seraya menarik tanganku dengan erat. Sehingga aku tidak bisa melanjutkan kedua kaki ini.
“Lepaskan aku! Apa maksud kalian?!”
__ADS_1
“Duduk dulu sebentar manis, kami ingin bercanda sebentar,” rayunya.
Karena tarikan tangannya sangatlah erat, membuatku mengikuti aksi pemuda ****** itu dan kembali mendudukkan diri di sebuah halte. Tak berapa lama, pemuda yang mirip dengan preman itu mengambil korek dan rokoknya.
“Kau merokok?” tanyanya seraya menawarkan.
Tanpa menjawab, aku hanya sekadar menatap jalan raya. Di dalam dada, jantung ini terasa ingin lepas karena terlalu lama berdekatan dengan orang yang terlihat sangat sangar dan menakutkan.
“Sudah berapa lama jadi pelacur?” tanyanya lagi, membuatku menatap spontan ke arah lelaki ****** itu.
“Jaga ucapanmu, aku bukan pelacur!” hardikku ngegas.
“Mana ada wanita baik-baik keluar malam sampai jam segini. Ngaco kamu, pasti lagi cari pisang laki-laki, kan?” Pertanyaan yang membuat mual kembali tercipta dari lelaki brengsek itu.
“Maaf, aku tidak ada waktu untuk berlama-lama dengan manusia binatang seperti kalian,” jawabku seraya kembali membangkitkan badan.
Setelah menatap ke arah Timur, aku pun mencoba untuk berjalan dengan menyandang tas di pundak kanan. Setelah sekian menit berjalan, rupanya kedua lelaki itu mengikuti dari belakang. Seketika aku menoleh ke belakang. Namun, mereka tampak diam dan tak melakukan apa pun.
Aku sudah menebak, pasti mereka mengikuti dan ingin berbuat jahat. Sialan, kenapa aku harus bertemu dengan laki-laki bajingan seperti mereka? Batinku bersenandika.
Setelah memasuki koridor, aku bersembunyi di balik dinding toko yang sangat gelap. Tampak sepintas satu dari lelaki itu melintas dan pergi seperti mencari sesuatu. Keringat pun mengalir deras dari lekuk badanku. Napas mulai ngos-ngosan dan pikiran tak lagi netral.
Tuhan ... tolong hamba, tolong selamatkan hamba dari manusia iblis seperti mereka.
Selang beberapa menit kepergian kedua lelaki itu, aku memutar tatapan karena ingin kembali pergi dari sudut koridor. Namun, setelah aku putar badan, kedua lelaki itu telah ada di depan mataku dengan membuang cengir.
“Hallo, Nona ... mau pergi ke mana?” Salah satu dari mereka menyentuh leher serta pipiku.
“Bajingan!” Setelah menampar, aku pun berlari dan keluar dari koridor.
Akan tetapi, mereka pun berhasil menarik tanganku dengan erat. Menggunakan tas berwarna hitam, aku memukul tangan mereka beberapa kali.
“Tolong ...!” teriakku.
__ADS_1
“Enggak ada yang mendengarmu di sini Nona,” jawab lelaki ****** itu.
Kemudian, lelaki berambut panjang di belakang pun memeluk tubuhku dan menyentuh bagian sensitif dari badan ini. Karena merasa sangat takut, aku kembali memukul wajahnya dengan tas berisikan dompet dan berkas.
Brug!
“Ach, sialan,” jawabnya sembari meringis.
Karena cengkeraman itu telah mereka lepas, aku berkesempatan untuk melarikan diri. Tepat di arah Barat, aku berlari dan mencari jalan keluar. Sementara kedua kaki ini tidak lagi memakai sendal sebagai alas.
Setelah beberapa menit berlari dan menelusuri koridor, aku pun terpaku seraya menatap tembok bangunan yang buntu. Jalan untuk keluar dari tempat gelap itu tidak ada. Sehingga, aku kembali memutar badan karena merasa kehabisan akal.
Selang beberapa menit, kedua lelaki ****** itu kembali hadir, menatapku dengan tatapan layaknya binatang buas yang hendak menerkam mangsanya. Tapakkan kecil pun mereka langkahkan, bersamaan dengan kedua tangan yang ingin memeluk.
“Ayolah, kita bersenang-senang sebentar. Kami tidak akan menyakitimu, karena itu nikmat,” ucapnya.
“Cuih!” Lalu aku membuang ludah di samping kiri badan.
“Ha-ha-ha ... ayolah, Nona. Aku akan sedikit lembut padamu, pasti kau akan merasakan indahnya malam ini,” ajak lelaki berambut panjang itu dengan nada suara parau.
“Jangan mendekat! Atau kalian akan aku laporkan polisi,” hardikku seraya menggertak.
“Laporkan saja, Nona, kami tidak takut. Yang kami mau adalah membuat kau bahagia malam ini. Selepas itu, kami akan membiarkanmu pergi dari tempat ini.”
“Tolong ....”
“Percuma kau berteriak, di sini tidak ada siapa pun. Lebih baik kita bersenang-senang sekarang.” Selepas berkata, lelaki ****** itu mengambil sebungkus benda berwarna merah dari dalam kantong celana.
Akan tetapi, yang satunya lagi malah membuka resleting celananya dan membuka jaket yang dia pakai setengah badan.
“Tolong ... siapa pun yang ada di sana, tolong ....”
Bersambung ...
__ADS_1