Pasung Tuan Muda

Pasung Tuan Muda
73. Tidak Dapat Dijelaskan


__ADS_3

Anissa POV


Bergeming tanpa suara, bahkan setiap kaki ingin melangkah rasanya sangat berat. Entah apa yang aku rasakan saat ini, hari libur tidak sama dengan ketika ada seorang mama di rumah. Karena merasa sangat bosan, akhirnya aku memutuskan untuk bersiap-siap menuju rumah sakit. Mungkin dengan keberadaan diri ini di sisi mama, kesehatannya dapat bertambah dan menjadi lebih baik.


Dengan cepat, aku melompat dari atas dipan seraya berjalan gontai menuju kamar mandi. Tepat di ambang pintu, kedua netra pun tercengang setelah mendapati penglihatan tak biasa. Apalagi kalau bukan sebuah bandana berwarna merah, benda yang kerap menempel pada mama telah tergeletak di lantai dan sejurus menuju sebuah bak mandi.


Karena merasa sangat penasaran, aku menjongkokkan badan seraya mengambil bandana itu. Kemudian netra hanya menatap secara saksama benda tersebut hingga menitihkan air mata. Mendadak perasaan ini menjadi sangat tidak karuan, ditambah dengan suasana hati yang setiap hari kian menghujam.


Kabar seputar keadaan sang mama belum pernah terdengar, karena Bi Ira tidak menelepon aku untuk sekadar memberikan kabar. Dengan sangat cepat, aku meletakkan bandana itu di dinding kamar mandi.


Lalu, yang selanjutnya ingin aku lakukan adalah membersihkan badan agar dapat terlihat segar ketika berada di samping mama. Meskipun hati masih menangisi keadaannya saat ini, dan itu membuat jiwa merasa terguncang sedikit pilu.


Selepas membersihkan badan, aku kembali menapak menuju kamar, pilihan baju dan hijab berwarna merah muda menjadi sebuah hiasan di badan dan sebagai penutup kepala. Aku mendudukkan badan di atas dipan seraya menatap buku diary di sebelah kiri. Di mana, buku ini adalah teman yang ada di saat aku dalam keadaan senang maupun sedih.


Kemudian aku membuka lembaran pertama buku tersebut, terpampang jelas sebuah biodata lelaki yang kini menjadi mantan ayahku di luar sana. Tulisan yang tertulis pun telah menunjukkan tanggal beberapa tahun lalu, ketika aku duduk di bangku SMP. Buku diary ini telah ada sejak lama, bercerita betapa indahnya penyiksaan seorang ayah kandung pada anak dan istrinya.


Rasa-rasanya, untuk membalaskan dendam telah mendarah daging dalam tubuh ini. Tetapi, entah kenapa aku tidak pernah bertemu dengan ayah. Baik di jalan, maupun hanya berpas-pasan di sebuah tempat. Tak berapa lama bermonolog dalam batin, ponselku berdering dan menggetarkan dipan. Lalu aku mengambil ponsel seraya menatap layar dan notifikasi datang dari Ziva.


Ya, teman yang sekarang membuat aku bersemangat dalam menjalani hidup tengah menghubungi. Entah apa maunya dia, setelah sekian jam aku menghindarinya di sekolah, kini panggilan telepon datang menghampiri. Aku pun mengangkat telepon yang sudah tersambung beberapa detik, akan tetapi tidak sepatah kata pun terdengar dari lawan bicara.


[Hallo, Nissa.]


[Iya, Ziv, ada apa, ya?]


[Kamu ada acara enggak hari ini?]


[Sepertinya tidak, karena aku hanya akan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk mama.]

__ADS_1


[Oh, bisa temani aku enggak hari ini?]


[Ke mana? Soalnya aku sudah berjanji akan ke rumah sakit hari ini.]


[Kita ke rumah sakit setelah pergi bersama aku, soalnya ada yang harus aku bicarakan hari ini.]


[Hmmm ... oke, aku tunggu di rumah kalau begitu.]


[Baiklah, tunggu aku, ya.]


Tak berapa lama, telepon pun mati. Dari suara yang terdengar, Ziva seperti tengah mengalami sebuah kejadian yang tak biasa. Karena nada suaranya sedikit mendayu seperti tengah menangis. Namun, aku tidak terlalu ingin mengkaji apa masalah dia, karena dapat membuatnya merasa sakit hati jika terlalu kepo dan peduli yang berlebihan.


Seraya mendudukkan badan di atas kursi sofa, aku memainkan ponsel seraya menatap beberapa status di akun social media teman-teman. Sekitar beberapa menit menunggu, suara clarkson mobil pun terdengar dari arah luar. Lalu aku membuka gorden jendela rumah seraya menatap mantap sebuah mobil berwarna merah tengah terparkir di halaman rumah.


Ya, sudah pasti itu adalah Ziva, akan tetapi dia tidak kunjung keluar dan mengetuk pintu rumahku. Karena hari ini aku mendadak penasaran, langkah kaki pun membawa raga untuk tertegun di samping mobil tersebut. Dari luar, terlihat kalau Ziva hanya sendiri, tidak menbawa sopir pribadinya.


Tanpa menjawab, aku mengangguk dua kali sebagai pernyataan bahwa aku mengiyakan ucapannya.


“Oke, lets go ....” Selepas berkata, Ziva membuka pintu sebelah kanan dan aku masuk dengan segera.


Setelah aku masuk ke dalam mobil, Ziva menginjak gas dan kami keluar dari halaman rumah dengan sedikit laju. Tepat berada di jalan Sudirman, Ziva mulai menghidupkan lagu-lagu nostalgia dari band yang sangat terkenal, yaitu Viera. Band yang memiliki ciri khas itu menjadi kesukaan untuk anak remaja masa kini.


Walaupun lagu tersebut sudah jarang terdengar, baik di radio maupun di youtube, aku tetap menyukai suara dan alunan musik dari band tersebut. Ziva mengerti dengan apa yang menjadi kesukaan aku. Sedari tadi, aku menghabiskan waktu dengan bernyanyi sedikit pelan mengikuti vokalis. Namun, Ziva hanya terfokus menatap depan dan tidak mau menoleh sedikit pun.


“Ziv, kau baik-baik aja, kan?” tanyaku penasaran.


“Aku baik-baik aja, emang ada yang aneh?” jawabnya seraya menaikkan satu nada suara.

__ADS_1


Kok, Ziva jadi ngegas gitu tiba-tiba. Atau dia lagi ada masalah, ya? Lagian kenapa aku yang jadi sasarannya, ucapku dalam hati.


“Ziva, kalau kamu lagi ada masalah, bilang sama aku. Enggak usah diam begini,” paparku memperjelas.


Dengan deraian air mata, lawan bicara pun akhirnya menggerakkan kedua bibirnya. “Aku enggak tahu dengan sikap laki-laki, semua sama saja bagiku. Belum lagi rasa sakit itu hilang, kini harus terbuka kembali.”


“Wait-wait-wait, emang ada masalah apa? Kok, kamu langsung nyalahkan laki-laki. Emang laki-laki itu siapa? Pacar kamu?” tanyaku bertubi-tubi.


“Ayahku, Niss, siapa lagi coba.”


“Lah, emang kenapa dengan ayah kamu?” tanyaku lagi.


“Dia pernah janji sama aku dulu, kalau dia enggak akan menikahi wanita lain dan hanya mengutamakan aku sebagai wanita yang dia sayangi. Anaknya, tetapi kenapa sekarang berubah.” Selepas berkata, Ziva memukul setir dengan kedua tangan.


“Ziv, hati-hati, kita lagi berkendara. Kalau kamu lagi bawa aku sekarang, kalau mau celaka jangan ngajak-ngajak, dong. Lagian, aku bertanya cuma mau memberikan saran aja, bukan mau ngajak bergelut.”


“Hmmm ... sorry-sorry. Aku lagi kesal banget sekarang,” jawabnya.


“Ngomongnya pelan-pelan, seorang wanita itu yang dinilai adalah tutur kata, bukan untuk adu kekerasan. Buat apa kamu menegeluarkan urat leher hingga mau putus, tetapi solusi enggak ada. Buang-buang waktu, santai aja, Bos.”


“Niss, kenapa coba ayah aku harus mengelak lagi. Jelas-jelas di ponselnya ada nomor wanita yang setiap hari chatingan sama dia, aku enggak suka.”


“Loh, bagus, dong. Berarti ayah kamu masih normal mau chatingan dengan perempuan, kalau ayah kamu chatingan sama laki-laki baru kamu marah,” jawabku.


“Nissa, bukan itu maksud aku ...,” tukasnya.


“Makannya, kalau ngomong jangan pakai emosi. Aku enggak mau, ah, dengar curhatan orang yang suka emosian.”

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2