
Waktu terus bergulir, seharian ini tampak cuaca sangat bersahabat dan terus menggandeng indahnya semburat arunika. Bahkan suasana hatiku, begitu mengikuti alunan nuansa cahaya senja yang memanggil untuk keluar sejenak.
Bahkan awan biru yang sangat anggun pun bergerak ke sana dan ke mari, seakan mengajak untuk menari riang. Kicauan burung-burung terdengar pasih di telinga seraya membawa kenyamanan dalam bekerja. Meskipun masalah terus datang tanpa mau menepi, aku mencoba menyibak segalanya agar terlihat biasa saja.
Sebisa mungkin aku terus tampak ceria, meskipun hati ini menangis lara. Kala itu, aku berjalan membersihkan beberapa gelas dan piring sebagai tugas tambahan. Bekerja di sebuah kafe yang dikelola oleh seorang pemuda tampan berstatus duda. Namun, aku tidak mau mendengarkan ucapan para karyawan di sini, tujuanku adalah bekerja dan ingin menafkahi anak. Itu saja.
Detik demi detik telah menghampiri, cahaya senja seakan perlahan menepi dari bumi semesta. Tak berapa lama, tapakkan kaki seseorang pun seperti datang menghampiri.
“Mbak, kamu enggak pulang?” tanya Risma secara spontan.
“Eh, kamu, Ris. Aku kira siapa,” jawabku seraya menoleh sekilas. “Emang sudah waktunya pulang?” Aku malah balik nanya seraya menatap arloji di tangan kiri.
“Sudah waktunya pulang, Mbak,” jawab Risma.
“Astaga, iya. Jam tangan aku mati, Ris,” kataku memperjelas ketidakyakinan.
“Ya, sudah, kita pulang aja, yuk.” Risma pun berlalu dari tempat pencucian piring dan gelas.
Akhirnya aku mengikuti Risma dari belakang, kami sama-sama berganti seragam di kamar ganti. Setelah selesai, kami berjalan seiringan menuju pintu keluar. Akses yang selalu kami pilih ketika pulang adalah pintu belakang, karena kami sangat malu simpang siur di depan pembeli.
Tepat di depan pohon randu, seseorang berkata, “sudah selesai bekerja?”
Aku dan Risma berhenti sejenak, orang tersebut keluar dari balik tenda, tetapnya di samping koridor toilet. Ya, dia adalah Riko yang saat ini menjadi bos di tempat kami bekerja. Entah apa maunya, dari wajahnya seperti penuh dengan pertanyaan.
“Eh, Bos, kami kira siapa,” jawab Risma sedikit parau.
“Kalian mau pulang?” tanyanya lagi.
“Iya, nih, Bos.” Setelah berkata, Risma pun menatap rekan-rekan yang simpang siur memasuki ruang bekerja untuk sift malam.
“Marissa,” panggilnya.
“I-iya, Bos,” jawabku terbata-bata.
“Kamu besok malam ada acara enggak?” tanyanya.
“Enggak tahu, Bos, soalnya saya harus menjaga anak saya di rumah.”
__ADS_1
“Oh ... saya kira ada waktu.”
“Emang kenapa, Bos?” tanyaku lagi.
“Enggak, saya cuma mau mengajak kamu makan di sebuah tempat.”
“Kami enggak diajak, Bos?” sambar Risma dengan membuang pertanyaan.
“Hmmm ... diajak enggak, ya?” Bos Riko hanya mendongak ke atas langit-langit.
“Ih, resek si Bos, kami, kan, juga karyawan,” tambah Risma sedikit mencibir.
“Entar kita atur lagi waktunya, ya.” Tanpa menunggu jawaban, lelaki beranak satu itu meninggalkan kami berdua.
Saking merasa anehnya, aku dan Risma saling tukar tatap. Tak biasanya Bos Riko mengajak karyawan untuk pergi ke suatu tempat, apalagi makan malam. Sungguh aku tak pernah menduga segalanya terjadi sangat aneh beberapa hari ini. Begitu banyak lelaki yang datang menghampiri hanya untuk meminta waktu sekadar jalan bareng ataupun makan malam.
Akan tetapi, sampai saat ini aku masih belum bisa membuka hatiku pada laki-laki lain. Bukan karena aku masih punya rasa pada Revan—mantan suamiku. Namun, lebih kepada aku sangat trauma untuk membuka kembali hati dan rasa sakit yang masih terbalut perban putih karena pengkhianatan sang suami dulu.
“Mbak, hallo ....” Risma melambaikan tangannya tepat di hadapanku.
“Ah, eh, Risma.” Seketika aku membuyarkan lamunan karenya memikirkan hal konyol barusan.
Sambil berjalan kaki, kami ngobrol tanpa henti. “Aku juga enggak tahu, Ris. Belakangan ini banyak banget laki-laki yang dekat denganku.”
“Terus, Mbak.”
“Ya, aku enggak maulah, Risma. Lagian aku adalah janda, dan anakku juga sudah besar.”
“Mbak, kenapa semua ditolak coba. Emang apa salahnya, sih, menerima kembali laki-laki yang sekarang ingin serius. Semua orang punya kesempatan, Mbak, dan enggak semua lelaki itu sama.”
“Aku tahu kalau itu, Ris, tetapi aku masih belum bisa untuk membuka hati lagi saat ini. Sudah cukup banyak masalah yang aku hadapi, semua hanya menambah beban saja.”
“Kalau menurut aku, Bos Riko itu penyayang, deh. Soalnya, sejak istrinya meninggal dunia. Sampai saat ini enggak ada wanita lain yang dekat dengannya,” papar Risma menjelaskan.
“Mungkin sekarang belum, tetapi kita enggak tahu di luar sana.”
“Aku yakin, Mbak. Atau jangan-jangan—“ Risma menggantung ucapannya.
__ADS_1
“Jangan-jangan apa?” tanyaku.
“Atau jangan-jangan, Mbak naksir sama Diki.”
“Astaga! Dia baru anak kemarin sore, jangan ngaco. Diki itu pantasnya untuk anak aku di rumah. Ada-ada saja kamu,” jelasku.
“Bisa jadi, Mbak, kalau sudah jodoh.”
“Udah, ah, yuk, kita naik mobil. Entar kemalaman baru tau rasa,” ajakku dengan menarik tangan sahabat terbaik di tempat kerja.
Kami pun bersama-sama menaiki sebuah angkutan umum yang biasa kami naiki. Di sepanjang perjalanan menuju rumah, pikiranku masih berkecamuk dengan segelintir ucapan Risma barusan. Memang, ucapan dia ada benarnya juga, bahwa enggak semua laki-laki itu sama. Namun, bagiku laki-laki itu sama saja. Suka menyakitkan hati perempuan, bahkan jika telah menikah pun mereka mampu mendua.
Entahlah, saat ini aku merasa sangat dilema untuk membuka hati. Yang aku ingin jalani saat ini adalah, sekadar membahagiakan anak semata wayangku di rumah, agar dia tidak haus kasih sayang. Karena mencari nafkah sekaligus menjadi seorang ayah untuknya sangatlah susah.
Semua sudah aku pikul sendirian sejak kelahirannya di dunia ini. Ini adalah aku, wanita yang tumbuh dan besar, tegar dari rasa balas dandam dan sakit hati dari seorang laki-laki. Sosok tersebut tidak lain adalah suami sendiri yang tega, bercumbu dan mempersunting wanita lain di hadapan mata ini.
Untuk melupakan apa yang pernah Revan lakukan beberapa tahun silam, membuat gejolak amarah di dalam jiwaku ingin pecah dan mengeluarkan semua emosi. Bahkan kebencian terhadap laki-laki. Di mataku, semua kaum mereka hanyalah sampah dan bajingan.
Tetapi untuk ke depannya, aku hanya menyerahkan segalanya pada Tuhan. Mungkin Dia yang lebih tau hati hambanya, dan dengan singkat dapat membuka perasaan kembali setelah sekian tahun mati rasa.
“Risma, kita sudah sampai, nih,” ucapku seraya menggoyang-goyangkan tangan Risma.
“Mbak, kita sudah sampai?” tanyanya.
“Iya, sampai rumah kamu. Kalau rumah aku masih lumayan,” jawabku.
“Kalau begitu, aku duluan, Mbak. Oh, ya, enggak singgah dulu?” tanyanya menawarkan.
“Enggak, Ris, karena aku mau pergi ke toko kue dulu nanti.”
“Oke, Mbak, sampai bertemu besok di tempat kerja, ya.”
“Iya, Ris. Mbak lanjut dulu ini.”
“Hati-hati, Mbak. Kirim salam sama Anissa, Mbak.”
“Wa’alaikumsallam ....”
__ADS_1
Bersambung ...