Pasung Tuan Muda

Pasung Tuan Muda
50. Tidak Ingin Menjadi Seorang Pelakor


__ADS_3

“Kamu kenapa, dari tadi saya lihat gelisah sekali?” tanyanya.


“Ah, eng-enggak, Mas, aku cuma lelah saja,” jawabku seraya mengalihkan topik pembicaraan.


“Kalau kamu ada masalah, cerita saja padaku. Barangkali aku bisa membantu,” katanya, lalu dia mematikan mesin mobilnya tepat di depan pintu gerbang rumahku.


“Ini, Mas, tadi aku ke toko kue.”


“Lalu?” sambarnya membuang pertanyaan.


“Kue aku tertinggal di halte, padahal aku sudah dibantu untuk mendapatkan kue itu. Hmmm ... memang lagi naas, Mas.” Aku pun menekuk wajah seraya membuang tatapan keluar kaca jendela mobil.


“Oh, kalau cuma itu masalahnya, aku punya solusi untuk kamu.” Lawan bicara pun mengambil satu kantong plastik berwarna hitam yang ada di bangku mobilnya paling belakang.


Dengan sigap, pemuda tampan itu menyodorkan benda di dalam kantong plastik tersebut padaku. Tanpa mampu untuk meraih, tatapan sekadar menatap benda itu. Aku tidaklah semudah yang dia pikirkan untuk menerima pemberian orang asing, apalagi dengan lelaki yang belum saling kenal.


“Kok, malah bengong?” tanyanya membuyarkan lamunan.


“Ta-tapi, Mas, aku sudah terlalu merepotkan. Takutnya, istri kamu marah jika melihat kedekatan ini.”


“Enggak, ambil saja. Karena saya telah membeli tiga bungkus tadi, ini untuk anak kamu.”


Aku mengambil sodoran darinya, meskipun sebenarnya sangat malu. Namun, di sisi lain aku tidak mau berlagak kaya dengan menolak pemberian orang. Setelah menahan malu, kami pun sama-sama keluar dari dalam mobilnya.


“Mas, aku masuk dulu ke rumah, karena sudah malam banget.”


“Silakan, oh, ya, saya boleh minta nomor ponsel kamu?”


Tanpa menjawab, aku sekadar mengangguk dua kali. Setelah dia mencatat nomor teleponku, kemudian aku berjalan sedikit pongah memasuki halaman rumah. Batin pun masih berkutat dan berkata, bahwa lelaki tampan itu memerhatikan dari posisi semula.


Saking merasa malunya aku, kemudian kutoleh ke belakang badan. Setelah kepala memutar 180 derajat, ternyata lelaki tampan itu menghilang dari peredaran. Kepergianya sangatlah cepat bagai embusan angin, aku hanya mampu celingukan memantau sekitar gerbang rumah.


Loh, kok, cepat sekali lelaki itu perginya? Aneh banget, tetapi ya sudahlah, mungkin dia buru-buru. Terima kasih, Mas, kamu tampan sekali, batinku bermonolog.


Tepat di ambang pintu, aku langsung membuka tanpa mengetuk lebih dulu. Ternyata, rumah tidaklah terkunci. Di ruang tamu, Anissa dan Bi Ira saling merangkul dan seperti tengah menangis. Tubuh mereka berdua pun seakan lunglai.

__ADS_1


“Assalammualikum ...,” sapaku.


“Wa’alaikumsallam .... Nyah, Mama ...!” teriak mereka berdua secara serempak.


Anissa pun membangkitkan badan dari atas sofa dan berlari menujuku saat ini tertegun membawa sekotak benda.


“Sayang, kamu kenapa, Nak?” tanyaku penuh selidik.


“Mama kenapa baru pulang, Ma? Nissa khawatir banget kalau Mama kenapa-kenapa,” jawabnya sangat lirih.


Menggunakan tangan kanan, aku mengelus rambutnya dan mencium kening putri semata wayangku. Tak pernah terlihat ekspresi seperti ini sebelumnya, karena Anissa tampak sangat sedih setelah kehadiranku di rumah.


“Nyah, kok, lama sekali pulang? Ini baju Nyonyah kenapa?” tanya Bi Ira bertubi-tubi.


“Ceritanya panjang, Bi. Ayo, kita duduk dulu, biar saya ceritakan sedikit,” ajakku dengan merangkul kedua malaikat yang hidup di dunia ini.


Tidak lupa, aku mengunci pintu yang tertiup semilir angin. Udara di luar rumah sangatlah dingin dan memasuki tiap lubang pori-pori kulit. Setelah mendudukkan badan di atas kursi, aku memulai percakapan lagi hingga membuat kedua lawan bicara tercengang. Namun, aku memutar balikkan fakta perihal siapa yang menolong.


Dalam konteks kali ini, aku menyebutkan lelaki itu adalah seorang wanita, agar Anissa tidak marah jika aku dekat dengan seorang laki-laki. Karena yang aku tahu, kalau Anissa sangat membenci laki-laki yang mencoba kenal denganku.


“Begitulah ceritanya,” ucapku membuyarkan lamunan anak dan Bi Ira.


“Iya, mama juga enggak menyangka. Oh, ya, ini ada sesuatu untuk kamu. Pemberian dari orang yang menolong tadi,” ucapku seraya menyodorkan.


“Apa ini, Ma?” tanyanya.


“Mama enggak tahu, Sayang, kamu buka aja!” seruku.


Anissa pun mengambil kantong plastik itu dengan segera, dia bersemangat untuk membuka pemberian yang sebenarnya dari Mas Andreas tadi. Setelah sekantong plastik terbuka, Anissa pun terdiam seribu bahasa. Aku dan Bi Ira memerhatikan ekspresinya secara saksama.


“Sayang, kamu kenapa?” tanyaku.


“Ma, lihat kue ini, sangat cantik dan sepertinya mahal banget.” Anissa menunjukkan kue yang memiliki motiv sangat cantik itu, terkesan sangat mewah dan memesona.


“Baik banget orang itu, Nyah,” puji Bi Ira.

__ADS_1


Astaga! Ternyata Mas Andreas memberikan kue semahal ini sama aku, baik banget, sih, dia. Baru juga kenal udah melakukan itu.


“Ma, Mama ....” Anissa pun melambaikan tangannya seakan membuatku membuyarkan lamunan.


“Ah, eh.”


“Mama kenapa melamun?” tanyanya.


“Enggak, Nak, mama enggak nyangka aja kalau dia memberikan kue semahal ini.” Aku mengalihkan topik pembahasan. “Tapi kamu suka, kan, Sayang?”


“Iya, Ma, Nissa suka banget. Kuenya lebih mahal dari yang pernah Om Revan berikan,” jawab Anissa seraya memasang wajah semringah.


Sesaat aku terdiam seribu bahasa. Ucapan Anissa kali ini membungkam ironi yang tak semestinya terputar kembali. Sekarang, aku mulai tidak takut berbincang pada seorang lelaki.


“Nak, Mama masuk kamar dulu, ya, mau ganti baju,” kataku.


“Iya, Ma, balik lagi ke sini, ya?”


“Iya.”


Kemudian aku berjalan meninggalkan Anissa dan Bi Ira di ruang tamu. Setelah sampai di kamar, aku membuka ponsel yang sekarang aku charger di samping nakas. Pesan singkat datang dari nomor baru yang mengatasnamakan Andreas. Namun, aku tak membalasnya karena sudah larut malam.


Entah kenapa, untuk dekat dengan seorang laki-laki aku berpikir panjang. Sekalipun hanya sekadar chattingan saja. Takutnya, dia sudah punya istri dan aku menyusup sebagai pelakor rumah tangga. Karena yang aku tahu, jika suami kita direbut oleh wanita lain rasanya tidak enak. Sehingga keputusan itu sudah bulat, kalau seluk-beluk masalah rumah tangga tidak tahu jelas, aku tak mau mengganggu siapa pun.


Selang beberapa menit, aku meninggalkan ponsel di atas nakas karena ingin memenuhi keinginan Anissa untuk memakan kue di ruang tamu. Menggunakan tangan kanan, aku mengambil bandana di atas meja rias, lalu aku pakai sebagai pengikat rambut.


Tapakkan yang semakin laju membawaku bertemu kembali pada kedua wanita yang kuanggap sebagai malaikat penyemangat di dunia ini. Mereka berdua tampak sangat bahagia dan sangat semringah dalam berekspresi. Meskipun tanpa seorang ayah, Anissa mampu membendung rasa sedihnya dengan menikmati kehidupan yang apa adanya.


“Sepertinya ada yang lagi asyik, nih,” ucapku spontan.


“Eh, Mama, ayo duduk sama kita,” ajak Anissa.


“Mari, Nyah, ini kue yang sudah kami potong untuk Nyonyah,” sambar Bi Ira seraya menyodorkan kue.


“Wah, Bibi baik banget,” jawabku seraya membuang senyum kecil.

__ADS_1


Kami pun menyantap kue nikmat itu bersama-sama. Padahal, pikiranku masih berkecamuk dengan Mas Andreas—selaku pemberi kebahagiaan malam ini.


Bersambung ...


__ADS_2