Pasung Tuan Muda

Pasung Tuan Muda
77. Anak Baru


__ADS_3

Sang fajar telah memboyong semburat arunika di perbatasan khatulistiwa. Bunga dan dedaunan bergesek serta berserak ke sana dan ke mari terkena terpaan angin. Indahnya suasana bersama sumburat putih alam semesta, hanya pohon cemara yang sekarang berada di tepian dan berbaris rapi bersama beberapa hewan kecil. Sementara embun pagi juga hinggap sebentar, kemudian pergi bersama sang surya menyinari dunia.


Pada hari Senin, terlihat cuaca di luar rumah sangat indah. Menyamai dengan kata pujangga soal cinta, bergerak anggun dan membuat manusia dengan girang melakukan rutinitasnya. Begitu juga dengan aku, sejak tadi telah membuka netra bersamaan, akan tetapi masih betah di atas dipan. Rasanya, kemilau cahaya di luar sangatlah susah untuk dihadirkan perihal kata-kata.


Kini aku terdiam, bergeming tanpa suara, menyambut sang Maha Kuasa lewat perwakilannya yang menghadirkan keindahan. Panorama terbaik hinggap di bumi nusantara, membawa seberkas kisah yang mungkin akan lebih baik dari hari kemarin. Harapan sebagai manusia lemah. Ya, mencoba untuk lari, akan tetapi dapat dikejar juga oleh masalah.


Karena terlalu banyak beban pikiran, aku memutuskan untuk tetap di rumah. Ini adalah alasanku agar tidak pergi ke sekolah. Percikan air keran di dalam kamar mandi selalu menyala sejak malam itu, akan tetapi tiada siapa pun. Katanya di kamar mandi sangat berhantu, tetapi aku tidak takut. Jika harus tidur di sana malam-malam, mungkin saja aku takut.


Ponsel sedari tadi tak berdering, entah kenapa pagi ini begitu sunyi dan sayup terasa. Bahkan Ziva, dia tidak lagi mengirimkan pesan singkat lewat aplikasi hijau berbentuk bulat, pasti semua tahu jika aku sudah berkata seperti itu. Namun, ketika kedua kaki ini menapak lembut menuju kamar mandi, getaran pun terasa hingga membuat dipan sedikit bergerak.


Kedua netra ini tercengang, ternyata ponselku yang tengah bergetar. Dengan sangat cepat aku mengambil, walaupun telepon sudah mati. Ini adalah alasan kenapa aku tak mendengar telepon dari Ziva, ternyata ponsel ini telah aku silent sejak kemarin malam. Akibat banyak memikirkan yang tidak seharusnya dipikirkan, sampai ponsel pun hanya sekadar tidur di atas nakas.


Yang membuat diri ini heran, kenapa ponsel itu dapat berpindah ke atas selimut. Atau jangan-jangan, sejak kemarin aku tertidur sambil berjalan. Sudah seperti film horror yang tayang di bioskop baru-baru ini. Pesan singkat di ponsel pun hanya sekadar terbaca, meninggalkan sebuah peringatan dan ucapan selamat pagi saja dari sang sahabat.


Ketika aku melangkah kembali, ponsel pun berdering. Kali ini terdengar keras, karena pengaturannya sudah aku rubah menjadi mode umum. Dengan cepat, aku mengangkat telepon yang datang dari sang sahabat.


[Hallo.]


[Hallo, Ziva. Ada apa, ya, nelepon aku pagi-pagi?]


[Kamu di mana, Nissa ...? Aku sudah siap pergi ke sekolah.]


[Tumben, biasa juga aku yang nelepon kamu untuk cepat bangun. Tetapi, pagi ini sepertinya membuat aku tidak masuk sekolah. Karena badan aku lelah, habis jalan-jalan sama kamu seharian.]


[Ayolah ... kamu harus masuk, aku mau ngomong sesuatu. Ini sangat penting, lebih penting dari sekadar rasa malasmu.]

__ADS_1


[Hmmm ... gimana, ya? Emang kamu sudah di jalan?]


[Aku udah sampai di depan rumah kamu, coba buka jendela kaca kamu itu.]


Dengan cepat, aku pun membuka jendela kamar dan menatap ke sebuah halaman rumah. Perkataan Ziva kali ini benar, bahwa dia telah rapi dan tertegun di samping mobilnya. Seperti biasa, dengan dandanan super cantik ditambah dengan rambut yang dikepang dua. Sementara aku, masih sibuk dengan batin dan berdebat antara pergi atau tetap di rumah saja.


Karena Ziva sudah datang, aku pun mengikuti apa katanya. Hitung-hitung, pagi ini adalah bonus terbaik untuknya yang telah datang lebih awal. Lalu, aku meletakkan ponsel di atas nakas, dan langkah panjang pun membawa diri tiba di depan kamar mandi. Dengan cepat aku membersihkan badan, membasuh sekujur tubuh dengan air, kemudian bergegas mengambil seragam.


Setelah selesai, aku pun keluar kamar tanpa ragu dan memakai bedak. Meskipun tidak pakai apa-apa, wajah ini tetap terlihat putih dan bersinar. Lalu aku berlari dan menamui Ziva yang telah berkacak pinggang bersama ponselnya.


“Lama banget, sih,” omelnya tiba-tiba.


“Hmmm ... kamu, sih, tumben banget datang cepat. Biasa juga jam segini masih molor,” jawabku dengan sedikit mencibir.


“Mulai, mengungkit masa lalu.” Jawaban Ziva pun diiringi senandung lagu-lagu nostalgia.


“Astaga! Aku lupa, yuk, kita masuk. Entar terlambat datang ke sekolah. Hari ini jam pertama Pak Reza, bisa mampus aku kalau sampai telat lagi.”


Kami berdua masuk ke dalam mobil dan bergerak lebih kencang dari biasanya. Tepat di jalan lintas, aku mengambil ponsel seraya menatap social media. Status-status teman-teman yang super lebay pun terlihat pagi ini, akan tetapi pembahasan bukan lagi perihal anak baru yang brutal kemarin. Ya, pagi ini adalah tentang cowok tampan mengendarai motor besar melintas di koridor.


“Kamu lihat apa, sih, Niss dari tadi?” tanya Ziva.


“Halah ... biasa, cewek-cewek selalu, deh. Kalau udah ada siswa baru, ganteng pula, pasti trending.”


“Oh, kirain apaan. Enggak penting banget bahas cowok, masih sekolah juga,” desis Ziva seraya menaikkan kedua netranya.

__ADS_1


“Jangan ngomong begitu, entar kamu naksir baru tau, loh,” sambarku.


“Hmmm ... kalau pun aku naksir, pasti akan aku kasih ke Laras. Biar dia enggak jadi cewek tomboi lagi,” ledek Ziva diiringi dengan tawa kecil.


“Hus! Kalau lagi nyetir jangan bercanda,” jawabku lagi.


Kami pun memasuki gerbang sekolah, kemudian bergerak melintasi koridor dan memarkirkan mobil di samping sebuah motor berwarna merah. Namun, siswa dan siswi di sekolah mendadak sunyi. Tidak seperti dengan hari-hari biasanya, tampak simpang siur melintas. Perkiraan awal, kalau mereka sedang menghafal materi ujian pagi ini.


“Kenapa sekolah kita seperti kuburan, ya, Niss?” tanya Ziva.


Aku pun mengangguk dua kali, akan tetapi kedua netra hanya celingukan tanpa henti. “Mungkin mereka pada pergi ke sana, deh.”


Menggunakan tangan kanan, aku menunjuk sebuah perpustakaan yang telah ramai. Namun, di sana hanya dipenuhi dengan siswi perempuan. Untuk anak cowok, malah menyingkir dan sangat jijik ketika menatap.


Setelah memarkirkan mobil, Ziva menatap kaca spion mobilnya seraya memparbaiki rambut. Sedari tadi, dia tampak sangat memerhatikan penampilan saja. Aku pun menunggunya dengan mengambil sebuah catatan dari Pak Reza kemarin, karena hari ini adalah ujian pelajarannya. Secara saksama, kedua netraku terfokus dan menatap materi-materi itu. Dengan harapan, kalau soal tersebut masuk dalam ujian kali ini.


Dengan lembut, Ziva memukul lenganku. “Nissa!”


“Iya, ada apa?” Kutoleh sebentar sang sahabat yang sedang bercermin.


“Aku udah cantik belum?” tanyanya.


“Udah, emang kenapa?” Tanpa menatap dengan jelas, aku pun menjawab sekenanya saja.


“Nissa, kalau lihat yang benar, dong ... aku udah cantik atau belum?!”

__ADS_1


“Udah ... kamu bawel banget, ya, yang namanya perempuan mana ada yang ganteng.”


Bersambung ...


__ADS_2