Pasung Tuan Muda

Pasung Tuan Muda
42. Gosip Yang Mampu Membuka Mata Hatiku


__ADS_3

“Selamat pagi semuanya,” ucapku seraya tertegun di depan ruang rapat.


“Selamat pagi, Bos ...,” jawab seisi ruangan dengan lantangnya.


“Hari ini, saya akan memegang kembali perusahaan. Segala wewenang dan tanggung jawab akan mutlak di tangan saya.” Selepas berkata, aku menatap seluruh karyawan yang seperti tengah heran di posisi duduknya.


“Bos, apakah ucapan Bos barusan benar?” tanya Olivia sangat heran.


“Emang kenapa, kamu tidak percaya kalau saya akan kembali memimpin perusahaan ini?” Aku pun bertanya kembali pada lawan bicara.


“Bukan begitu, Bos, karena Bu Siska telah mengklaim kalau beliaulah pemilik sah dari perusahaan ini,” jawabnya menjelaskan.


“Kalian tidak perlu khawatir lagi, saya yang akan mengambil alih semua pekerjaan, termasuk proyek-proyek yang sempat istri saya tangani.”


“Alhamdulillah ... ternyata kita bisa terbebas dari manusia kejam seperti Bu Siska itu,” ujar Vanes seraya berbisik ke daun telinga Olivia.


Terdengar samar, para karyawan tampak sedang berbisik-bisik. Desas-desus perihal pencabutan pemimpin di sebuah perusahaan mampu membuat seluruh karyawan tercengang. Bagaimana tidak, mereka selama ini rupanya mendapatkan penindasan dari Siska selama bekerja.


Aku yang saat ini tidak tahu menahu, hanya selalu menyalahkan karyawan saja. Padahal, mereka sudah bersusah payah untuk meningkatkan kualitas perusahaan dan bekerja sangat maksimal. Namun, akibat dari hati dan pikiran ini yang terus berkecamuk pada sang buah hati, semua urusan menjadi terbengkalai dan tidak berjalan sebagaimana mestinya.


Siang ini, rapat pun berakhir dengan sambutan senyum indah dari berbagai karyawan. Pasalnya, mereka sangat senang kalau aku menaikkan gaji untuk mereka beberapa persen. Meskipun mereka mengatakan hal tersebut tidak perlu dilakukan, akan tetapi aku yang sengaja ingin menerapkan. Agar ke depannya, para karyawan lebih bersemangat dalam membangun bisnis bersamaku.


Sejak pagi tadi, aku belum mengganjal perut sama sekali. Rasa lapar mulai menemuiku dan ingin rasanya pergi ke sebuah kantin. Seketika aku melangkah keluar dari ruangan dengan tapak sangat laju. Setibanya di ambang pintu, aku pun berhenti.


Hiruk pikuk terdengar dari beberapa karyawan yang tengah membahas sesuatu. Mereka seakan duduk membentuk lingkaran, seperti tengah membuka forum pembahasan. Kali ini, yang sangat lantang berkata adalah Dimas dan Brama. Mereka berdua merupakan orang yang paling pintar dalam menjalin bisnis untuk ke mancanegara.


Saking penasarannya, aku pun tertarik untuk menguping dari ambang pintu. Tanpa mampu membalikkan badan, kedua telingaku menangkap pasih suara-suara pembahasan penting yang menyebut-nyebut namaku saat ini.


“Kalian tau enggak, aku hari ini bahagia banget,” kata Brama.


“Emang kamu bahagia kenapa, Bram?” tanya Dimas penuh selidik.


“Bagaimana tidak, karena manusia kejam di perusahaan kita telah pergi dan tidak terlihat lagi,” jawabnya.

__ADS_1


“Ma-maksud kamu, Bu Siska?” tanya Olivia.


“Hmmm ... benar banget yang kamu bilang, Bram. Aku juga benci banget sama Bu Siska. Kalau saja aku enggak berpikir tentang jasa Bos Revan, pasti aku sudah keluar dari perusahaan ini,” sambar Vanes.


“Hus! Enggak boleh ngomong gitu, nanti ada yang dengar bagaimana,” jawab Olivia.


“Gini, ya, Liv. Aku rasa Bos Revan itu buta kali ketika dulu, kok, dia mau-maunya menikahi wanita kejam seperti Bu Siska. Udah cerewet, lantam, dan suka ngomel gak jelas. Uang perusahaan habis ke mana coba, mungkin untuk laki-laki yang sering datang ke perusahaan kita.” Vanessa pun semakin ngegas berkata.


“Nes, yang kamu bilang ada benarnya. Sepertinya, Bu Siska itu selingkuh, deh, sama Pak Bambang. Karena selama Bos Revan tidak ada di perusahaan, aku sering melihat mereka berduaan di kafe,” jelas Dimas.


“Guys, tujuan kita di sini bukan mau gibah, apalagi ngurusi rumah tangga orang. Bos Revan itu Bos kita, kalian enggak boleh bicara begitu,” cibir Olivia.


“Justru karena Bos Revan adalah bos kita. Makanya, kita sangat peduli pada bos, kalau enggak peduli. Bodo amat si bos kenapa-kenapa,” titah Vanes membungkam ucapan Olivia.


“Benar kata Vanes,” kata Brama.


Jadi, selama aku enggak masuk di perusahaan ini, Siska menghambur-hamburkan uang untuk laki-laki lain. Dasar perempuan bajingan, bisa-bisanya dia selingkuh di saat anaknya lagi kritis di rumah sakit, batinku.


“Guys, si Bos datang,” ucap Olivia berbisik.


Keempat karyawan menoleh ke arahku dengan membuang senyum simpul. Mereka seakan tidak berkata apa pun sejak kehadiranku kali ini. Padahal, sedari tadi aku telah mendengar semua ucapan dari mereka. Berkat dari kata-kata para karyawan, aku menjadi sadar, bahwa Siska masih sama seperti ketika dulu.


Perjanjian yang dia tandatangani di atas materai seakan hanya menjadi sebuah angin lalu. Tak berapa lama, aku memesan menu di kantin. Dimas dan Brama pun berjalan seraya mendudukkan badan di sampingku, sementara Olivia dan Vanesa juga mengikuti.


“Bos, boleh kami bergabung?” tanya Vanesa.


“Oh, boleh, silakan saja,” jawabku semringah.


“Terima kasih, Bos,” jawab Olivia.


Mereka berempat pun duduk bersamaku kali ini. Tampak dari raut wajah mereka, kalau keempatnya sangat khawatir dan cemas ketika kehadiranku. Namun, aku tidak emosi dengan ucapan tadi. Karena percakapan mereka sangat mencerminkan tentang perhatian lebih, bahwa semua kesalahan mutlak dilakukan oleh Siska.


“Kalian tidak pesan sesuatu?” tanyaku.

__ADS_1


“Sudah, Bos, kami sudah pesan,” jawab Dimas.


“Kalau mau tambah, silakan saja. Biar saya yang bayar,” titahku menawarkan.


“Ah, si Bos, entar malah bikin repot,” sambar Brama.


“Tapi, kalau Bos memaksa ... kami akan pesan lagi, soalnya masih lapar.” Dengan polosnya, Dimas berkata.


“Yey! Elu memang begitu, Dimas,” cibir Vanesa.


“He-he-he, kalian kalau mau pesan lagi juga boleh. Biar saya yang bayar,” jawabku.


Kami pun berbincang seputar kejadian-kejadian lucu di perusahaan. Ternyata, selama beberapa bulan aku tidak masuk bekerja, para karyawan sangat merindukan sosok pemimpin yang dulu sempat ada di dekat mereka.


Berbagai masalah dan hal yang sangat penting, membuatku harus terjun langsung. Karena bagiku, anak adalah yang nomor satu. Tidak hanya sekadar mencari uang dan harta saja. Tetapi kali ini aku sedikit lebih lega, karena Refal telah ditangani oleh profesional dan akan melakukan sebuah perawatan maksimal.


“Bos, kalau boleh tahu, keadaan anak Bos bagaimana sekarang?” tanya Olivia penasaran.


“Alhamdulillah ... sekarang anak saya jauh lebih baik, karena sudah ditangani oleh dokter dari luar negeri. Bahkan, dia juga sudah pulih dari sakitnya. Kemungkinan bulan depan bisa bersekolah kembali,” jawabku menjelaskan.


“Alhamdulillah ... kami ikutan senang, Bos, mendengarnya. Mohon maaf, Bos, kalau kami belum bisa menjenguk kembali. Karena di perusahaan lagi sibuk-sibuknya,” sambar Brama.


“Enggak apa-apa, saya mengerti, kok. Pasti kalian tidak mendapatkan libur, kan, sejak istri saya menjadi pemimpin di perusahaan ini?” Setelah berkata, aku menatap wajah-wajah takut dan gemetar para karyawan.


“Eng-eng—“


“Jangan bilang enggak, karena saya tahu watak istri saya seperti apa. Kalian jangan takut untuk terbuka pada saya, karena saya bukanlah manusia setengah serigala seperti beliau—“


“He-he-he ....” Senyum terpaksa pun tercipta dari keempat karyawan yang sedari tadi hanya membuang cengir. Namun, untuk berkata-kata mereka sangat susah.


Setelah kejadian ini, aku harus bisa memperbaiki mental ketakutan mereka, karena maju atau mundurnya sebuah perusahaan itu sangat berpengaruh dari hasil kerja karyawannya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2