Pasung Tuan Muda

Pasung Tuan Muda
62. Lompat Pagar Sekolah


__ADS_3

Anissa POV


Pagi yang cerah masih di dalam sebuah ruang kelas, aku menghabiskan suasana hari ini dengan penuh kegelisahan. Entah apa yang hinggap dalam isi kepalaku, yang pasti sejak beberapa jam lalu terasa seperti ada yang mengganjal. Untuk memulai pelajaran rasanya sangat berat, apalagi sekadar mendengarkan guru di depan kelas.


Arloji menunjukkan pukul 09.30, sudah saatnya bel istirahat berbunyi. Para siswa dan siswi menghambur keluar seraya berlari menuju kantin, akan tetapi aku masih betah di dalam kelas karena memang tidak begitu berminat untuk jajan dan berkumpul pada teman-teman. Di sekolah aku adalah termasuk anak yang pendiam, apalagi mereka sangatlah elite dalam berdandan dan berpenampilan.


Sebagai seorang anak yang telah menyandang status janda, aku biasanya hanya membuka buku diary seraya menuliskan keluh kesah setiap hari. Dengan dibantu oleh pena bertinta merah, segala coretan-coretan terpampang jelas di atas kertas putih. Hari-hari yang kujalani sangatlah membosankan, ditambah persahabatan yang tidak ada sejak aku duduk di bangku SMA Tunas Bangsa.


Tak berapa lama mendudukkan badan, sebuah sentuhan mendarat lembut di pundakku paling belakang. Karena sangat penasaran, kutoleh siapa gerangan yang ingin mengajak berinteraksi pagi ini. Bersama tatapan datar, orang tersebut berkacak pinggang seraya mengipas wajah menggunakan buku tulis.


“Hai, sendirian aja?” ucapnya seraya membuang pertanyaan.


“Eh, iya, nih, aku lagi sendirian,” jawabku sembari menoleh sekilas.


“Bolehkah aku duduk di sini?” tanyanya.


“Oh, boleh silakan saja. Kebetulan aku enggak ada teman yang bisa diajak untuk berbicara,” jawabku, kemudian aku mempersilakan lawan bicara untuk duduk.


Secara saksama, orang tersebut mendudukkan badan seraya menghisap es krim warna-warni. Dari gayanya terlihat bahwa dia adalah anak manja, akan tetapi aku tidak peduli akan hal itu, karena yang aku tahu bahwa dia adalah anak yang baik karena sudah berani berkenalan kemarin ketika aku sampai di sekolah ini.


“Nama kamu siapa?” tanyaku memperjelas lagi.


“Nama aku Ziva, pasti nama kamu Anissa, kan?” tanyanya seraya menebak namaku.


Tanpa menjawab, aku hanya sekadar menganggukkan kepala. Kemudian, sebuah getaran ponsel pun terasa dari dalam kantong saku bajuku. Dengan sangat cepat, aku mengambil ponsel tersebut dan membaca pesan singkat yang datang dari nomor ponsel baru.


Pesan tersebut juga bukan datang dari mamaku, akan tetapi di sana menyebutkan kalau sang mama sedang mengalami kecelakaan dan dirawat di sebuah Rumah Sakit. Ekspresi ini mendadak berubah, karena tak pernah mama mengalami ini sebelumnya. Sementara Ziva pun menatapku dengan penuh penasaran.


“Astaghfirullah ...,” ucapku sendiri seraya menekan mulut menggunakan kedua tangan.


“Nissa, kamu kenapa? Kok, sepertinya kaget gitu?” tanya Ziva penuh selidik.

__ADS_1


“Iya, Ziv, mama aku lagi terkena musibah. Sekarang aku mau ke rumah sakit,” jawabku seraya memasukkan buku ke dalam tas dengan cepat.


“Nissa, aku ikut kamu boleh?” tanyanya.


“Ziv, nanti kamu dicariin sama bu guru.”


“Enggak, kok, tenang aja,” paksanya.


“Ya, udah, terserah kamu aja.”


Kami pun keluar dari dalam kelas sementara bel masuk belum berbunyi. Tanpa menghiraukan orang yang sedang lalu lalang di depan koridor, kami hanya terfokus dan berlari sejurus menuju halaman sekolah. Tepat di depan tiang bendera, sejenak aku terdiam karena gerbang telah ditutup oleh satpam. Sementara untuk keluar, gerbang itu adalah akses satu-satunya.


“Yah, gerbangnya telah ditutup,” ucapku.


“Jangan khawatir, kita lewat pintu belakang aja, yuk?” ajak Ziva seraya menarik tangan kananku erat.


Akhirnya kami berdua berlari menuju gedung belakang, setibanya di sana, pintu juga telah terkunci dan kami tidak bisa lewat. Tidak kehabisan akal untuk keluar, Ziva mengajak aku untuk melompat pagar dan kami bergantian. Hal seperti ini adalah pertama kali aku lakukan, apalagi bersama dengan sahabat yang baru saja aku kenal.


Akhirnya kami keluar dari dalam gedung sekolah, meskipun kedua kaki kami terasa sangat sakit, akan tetapi Ziva begitu lihay untuk bolos dari gedung.


“Enggak, Ziv, cuma sedikit sakit aja.”


“Kamu enggak pernah pasti lompat pagar, kan? Pantas saja kesakitan begitu,” cibirnya sedikit meledek.


“Lalu kita pergi ke mana ini?” tanyaku.


“Yuk, kita ke sana saja, soalnya nanti kita cari angkot.” Ziva pun menarik kembali kedua tanganku yang tadinya menyentuh lutut kaki.


Selang beberapa menit berlari, sampailah kami di tepian trotoar. Tepat di depan halte yang telah ada beberapa pejalan kaki dan menunggu bus angkutan umum. Ziva berhenti dan memberhentikan angkutan berwarna kuning entah menuju ke mana. Kami menaiki angkutan itu tanpa menunggu terlalu lama. Di dalam angkutan tersebut, aku hanya sekadar memerhatikan ponsel dengan pesan singkat yang tertulis.


Meskipun aku sedikit ragu dengan kebenaran pesan itu, akan tetapi batin berkata kalau sang mama memang benar lagi dalam keadaan tidak baik-baik saja. Dengan sangat lembut, Ziva pun menyentuh baju seragamku perlahan.

__ADS_1


“Nissa, kamu yang sabar, ya, aku yakin mama kamu pasti baik-baik aja,” katanya menyemangati.


“I-iya, aku juga berharapnya seperti itu. Karena aku cuma punya mama di dunia ini, selebihnya hanyalah sebagai penghancur hidupku.”


“Aku paham, tetapi aku sekarang ada buat menemani kamu. Yang terpenting, kamu jangan menangis lagi untuk saat ini. Kita akan tiba tepat waktu,” papar Ziva memberikan nasihat.


Angkutan umum bergerak sangat lambat, karena sopir tengah mencari penumpang di pinggir jalan. Ziva pun tak kehabisan akal untuk menyuruh si sopir itu agar lebih mempercepat laju kendaraannya.


“Pak, cepat dikit dong bawa mobilnya,” omel Ziva.


“Neng, ini udah kencang. Lagian saya sambil cari penumpang,” jawabnya.


“Pak, pagi ini jangan cari penumpang dulu, deh, biar saya bayar berapa penghasilan Bapak pagi ini, asal cepat ke rumah sakitnya,” jawab Ziva mendesak sopir tersebut.


“Baik, Neng, kalau begitu saya akan lebih kencang lag.”


Melihat aksi Ziva, aku tak mampu berkata-kata. Padahal aku bukanlah anak yang begitu berani naik mobil ngebut-ngebut di jalanan. Namun, demi mama yang telah tidak baik-baik saja di rumah sakit, membuat jiwa begitu tertantang untuk segera tiba di sana.


Beberapa menit bergelut pada kendaraan lain di jalan raya, kami pun sampai di depan sebuah rumah sakit yang ada dipusat kota. Dengan cepat, kami berdua keluar dan mendekat ke depan sopir.


“Berapa, Pak?” tanyaku seraya membuka dompet.


“Nissa, biar aku aja yang bayar,” jawab Ziva.


“Ah, enggak, nanti uang kamu habis.”


“Nissa, lagian yang mau membayar juga aku tadi. Udah, uang kamu simpan aja, enggak apa-apa.” Selepas berkata, Ziva menyodorkan uang yang dia ambil dari dalam dompet.


“Ziva, terima kasih banget, ya, atas bantuan kamu pagi ini.”


“Halah ... jangan dipikirin, kita sama-sama manusia yang kelak akan saling membutuhkan. Anggap saja kalau aku sedekah, dan kamu akan membantu aku suatu saat nanti.”

__ADS_1


“Iya, terima kasih ...,” ucapku.


Bersambung ...


__ADS_2