
Mario POV
Bersama dengan sebuah foto yang aku ambil beberapa hari yang lalu dari sebuah buku, sekarang akan aku pertanyakan pada orangnya secara langsung. Akan tetapi, rasanya mulut ini terasa sangat keluh untuk memulainya. Setiap malam aku membuka lipatan foto tersebut dan menatap secara saksama wajah seseorang yang ada dalam potret tersebut.
Beberapa kali netra ini ingin memalingkan firasat, larinya akan tetap tertuju pada Revan. Pikiran masih terasa sangat penasaran akan apa yang ingin aku utarakan, selain ingin menjaga privasi orang lain, aku juga tidak mau dianggap terlalu kepo pada urusan rumah tangga Revan. Akibat dari rasa yang mendadak canggung itu muncul, alhasil aku merasa sangat takut untuk berkata.
Foto yang aku ambil dari buku diary milik Anissa, memperlihatkan bahwa mesrahnya seorang wanita itu ketika diambil gambarnya. Namun, kenapa Anissa seakan menjelek-jelekkan pria tersebut dalam sebuah buku dan ingin membalas dendam. Sebagai seorang laki-laki dan sekarang menjadi seorang ayah, aku merasa sangat aneh dan begitu ingin tahu kenapa Revan bisa sedekat itu pada Anissa.
Apa sebenarnya yang terjadi pada Revan, dan siapa Anissa serta Marissa. Semua perlu jawaban dengan keterkaitan buku diary yang sempat terbaca sekilas, ditambah dengan sebuah foto yang ketika itu telah terkoyak sedikit dibagian wajah. Namun, dari gaya-gayanya, lelaki tersebut sama dengan perawakan Revan.
Ketika kami sudah berada dalam ruang yang hanya disaksikan oleh alam, mulut membungkam dan ingin rasanya tidak mengucapkan rasa kepo tersebut. Namun, aku harus bertanya padanya perihal ini. Anissa adalah anak yang sangat baik, lembut, dan ibunya juga aku kenal begitu santun. Tidak mungkin kalau Anissa ingin berbuat celaka pada orang lain, apalagi dia adalah Revan—rekan satu kerjaku.
Selama aku mengenal Marissa, dia tidak pernah bercerita siapa mantan suaminya itu. Akan tetapi, berdasarkan dari perkataan Anissa lewat diary, semua ada keterkaitannya pada Revan.
“Pak Mario, kenapa Anda diam saja dari tadi? Kok, saya hanya disuruh untuk menatap wajah Anda?”
Ucapan itu datang secara spontan, membuat aku membuyarkan lamunan. “Ah, i-iya, Pak. Maaf kalau saya terlalu lama berpikir, soalnya bingung mau ngomong apa.”
“Emang Bapak berpikir apa tentang saya?” tanya Revan penuh selidik.
__ADS_1
“Ti-tidak, Pak, tadi cuma ingin bertanya sesuatu. Akan tetapi, rasanya saya tidak mungkin bertanya soal pribadi orang lain. Karena ingin mengobati rasa kepo saya yang terlalu dalam,” titahku seraya menggaruk kepala beberapa kali, aku merasa sangat malu dan canggung.
“Pak, Anda kenapa? Kok, wajahnya mendadak takut begitu? Kalau mau cerita dan bertanya, silakan saja. Lagian ... saya enggak makan orang, kok, kita sama-sama makan nasi.” Selepas berkata, Revan mulai membuang tatapan jaimnya dan seperti orang yang lagi butuh penjelasan.
Gila ini orang, tampan-tampan tapi terlihat seperti ho-mo aja tau enggak. Mana membuang senyum kecil lagi, ta-tapi tunggu dulu. Ah, masa iya Revan adalah laki-laki ho-mo, sih? Memang zaman sekarang kalau yang begitu dapat terjadi pada siapa pun. Setahu aku, Revan adalah lelaki sejati yang masih suka sama perempuan. Atau dia sekadar menjadikannya topeng, ya? Dan ini adalah alasan dia turun ranjang selama ini, batinku bersenandika.
Setelah sekian menit berdialog dalam batin, aku merasa sangat aneh dengan tatapan Revan barusan. Sebuah pancaran mata yang tidak biasa itu menembus batas karismatiku sebagai seorang pria sejati. Dari luar pintu, terdengar tapakkan kaki seseorang yang hendak menuju ke ruangan. Sementara aku, masih belum ingin menuntaskan percapakan padanya.
“Permisi ...!” teriak seseorang yang dari nada suaranya adalah Rizal.
“Masuk ... pintu tidak ditutup,” jawabku lembut.
Kemudian, Revan pun memekik di atas bangkunya. Akibat dari kedatangan Rizal, percakapan harus terbungkam sesaat. Pria yang memutuskan untuk berhenti bekerja beberapa minggu lalu, kini datang lagi. Entah hal apa yang akhirnya membawa dia untuk singgah dan bergeming menadahkan tatapannya.
“Oh, sa-saya belum. Ah, oke, silakan kalau begitu.” Selepas berkata, aku pun membiarkan Revan pergi.
Untuk hari ini, dia lolos dari pertanyaan barusan. Karena aku merasa hal itu sangatlah sensitif dan begitu privasi, sehingga aku membiarkan dia pergi dari ruangan dengan cepat. Setelah pintu tertutup, aku masih menatap Rizal yang sedari tadi menadahkan wajahnya seperti ingin menumpahkan air mata.
“Rizal, kau kenapa?” tanyaku, “apakah ada masalah lagi? Katanya mau pergi ke luar negeri?”
__ADS_1
Pertanyaan pun mengawali ucapanku kali ini, akan tetapi lawan bicara hanya menggeleng dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Yang membuat heran adalah, kedua tangannya tampak begitu memerah seperti bekas sayatan benda tajam. Karena penasaran, aku menatap lebih dekat untuk sekadar memerhatikan tangannya.
“Tangan kamu kenapa ini? Kok, seperti orang yang ingin bunuh diri gitu.” Aku menjedah sejenak, lalu, “kan, saya sudah bilang, kalau kamu jangan tinggalkan kantor ini. Sesulit apa pun tetap hadapi, masalah butuh jalan keluar, bukan malah pergi enggak tau ke mana. Di sini adalah perusahaan kita, kau sudah saya anggap saudara kandung.”
“Ma-maafkan saya, Bos. Maafkan saya ....!” Rizal pun bersimpuh seraya menggenggam kedua tanganku sangat erat.
Tak disangka, aku mendengar rintihan tulus seorang laki-laki yang sedang kecewa berat. Sepanjang aku hidup di dunia ini, tak pernah mendengar seorang laki-laki menangis. Tetapi kali ini berbeda, kalau Rizal begitu tulus dalam mengeluarkan air matanya. Rasa iba, prihatin, dan semua yang dia alami sama persis dengan yang terjadi padaku ketika dulu.
Ini adalah alasanku mempertahankan status duda, karena masih traumatis pada seorang wanita. Akan tetapi, di sisi lain, aku juga masih membutuhkan seorang wanita yang kelak akan memberikan warna tersendiri di hidup ini. Untuk memulai dekat dengan wanita, rasanya masih tarik ulur bak bermain layangan.
Seperti kejadian Rizal dalam pernikahannya, si wanita memperlakukan sang suami layaknya hewan. Bahkan memukul, dan memaki sesuka hatinya. Bukan hanya itu, seluruh gaji miliknya habis untuk membayarin laki-laki lain di luar sana.
“Zal, sudahlah. Kau tak perlu meratapi hidup ini sangat lemah begitu, bangunlah. Kau adalah laki-laki, masalah hakikatnya membuat hati manusia lebih tangguh, bukan malah lemah.” Menggunakan tangan kanan, aku menyentuh pundaknya.
“Ta-tapi, Bang, aku enggak bisa sepertimu. Hati aku hancur setelah tahu kalau ternyata istriku memilih laki-laki lain daripada aku. Mungkin masalah ini terlihat ringan untuk lelaki tangguh sepertimu, tetapi tidak bagiku.” Selepas berkata, Rizal menyibak air matanya dengan kedua tangan.
“Iya, saya tahu akan hal itu. Kamu harus bisa mengendalikan emosi kamu, jangan terpancing dengan tipu muslihat setan. Lihat ini, tangan kamu telah tersayat pisau. Pasti kau ingin membunuh diri kamu, kan, mau masuk neraka kenapa tanggung-tanggung. Nih, kunci pintu untuk menuju loteng lantai sepuluh. Lompat aja dari lantai sepuluh perusahaan, dijamin kau akan mati tanpa menyiksa diri.”
“Bang, kenapa kamu begitu, sih.” Rizal menatap wajahku dengan senyum kecil.
__ADS_1
Aku pun membangkitkan badan Rizal dan memeluknya sesaat.
Bersambung ...