
“Jadi, sekarang kita akan pergi ke mana, Ziv?” tanyaku.
“Aku enggak tahu mau pergi ke mana sekarang, buntu banget ini otak.”
“Aneh banget, ngajak pergi tapi enggak tau mau ke mana,” tukasku lagi.
“Kamu beri saran, dong, Niss kita pergi ke mana.”
“Ya, udah, kalau gitu kita pergi ke pantai aja. Di sana, aku akan ajari bagaimana cara kamu untuk membuang semua masalah,” ucapku meyakinkan.
“Ma-maksud kamu, aku disuruh masuk ke laut gitu? Ah, enggak-enggak. Aku masih ingin hidup, belum mau mati. Jangan ngaco, deh.”
“Siapa juga yang mau nyuruh kamu bunuh diri, kita itu akan membuang masalah pergi ke sana. Udah, deh, kamu ikut aja sama saran aku.”
“Oke, awas aja kalau kamu nyuruh aku lompat ke laut.”
Dengan membuang cengir kecil, aku pun menatap keluar jendela mobil. Begitu polosnya Ziva, dia mengatakan kalau aku akan menyuruhnya untuk lompat ke laut. Padahal, ke pantai adalah cara jitu untuk menghilangkan stres yang mulai menumpuk. Tanpa menunggu lama, Ziva pun menginjak gas mobilnya sangat kencang.
Untuk menuju ke pantai terdekat, tidak membutuhkan waktu lama. Hanya memakan sekitar lima belas menit, sebelum akhirnya tiba di sana dengan melintasi jalan berbatu dan berkelok. Namun, ketika aku sedang diruntuk malasah, biasanya aku memilih untuk pergi ke pantai. Entah kenapa, tempat itu seakan sakral untuk didatangi apabila lagi banyak masalah yang susah untuk dipecahkan.
Selang beberapa menit menikmati alunan lagu-lagu nostalgia, aku pun membuka jendela kaca mobil seraya menatap samping kiri. Ya, di luar sana tampak jelas pohon cemara tengah bergoyang ke sana dan ke mari diterpa angin pantai. Sudah lama juga aku tidak ke sini, sekitar satu tahun yang lalu. Itu pun karena ada masalah yang tidak terpecahkan ketika bersama Refal di SMA Gemilang.
Akan tetapi, aku tidak tahu bagaimana kabarnya sekarang. Selain pindah rumah, keluargaku memboyong kami untuk keluar dari kota dan mencari hidup baru. Perkiraan awal, kalau masalah itu lantas pergi dan semua dapat dilupakan. Ternyata tidak, hasilnya tetap sama dan kami tetap tergoncang musibah seperti semula.
Yang pasti, aku harus kuat menghadapi hidup ini demi mama. Apalagi dia sangat ambisius untuk membuat aku menjadi anak yang berguna, berhasil, dan menempuh pendidikan sarjana. Walaupun ekonomi sedang dilanda susah, aku masih memiliki impian besar itu untuk membahagiakan sang mama. Semoga saja nasib dan takdir dapat berubah, karena doa hamba Allah pasti didengar oleh sang Maha Kuasa.
Tak berapa lama di dalam mobil, akhirnya kami sampai di sebuah portal dengan tulisan Pantai Romantis. Dari ujung netra, terlihat jelas kalau ada bangunan baru dilengkapi dengan sebuah pondok kecil. Bentuknya juga sangat unik, ada gorden warna-warni dan simbol LOVE telah berdiri tegak di sepanjang jalan menuju pondok-pondok tersebut.
Dengan cepat, aku dan Ziva keluar dari dalam mobil seraya bergeming tanpa suara. Semilir angin dan suara ombak pantai memanjakan penglihatan. Tak hanya itu, pasir putih bak permadani itu menghiasi pantai seolah berkilau dan membuat hati sangat tenang. Tak disangka, kalau Ziva ternyata sangat tercengang dengan panorama Pantai Romantis.
Karena merasa tidak sabar, aku menarik tangan Ziva untuk segera menapak menuju pasir putih itu. Namun, sedari tadi Ziva hanya menyentuh mulutnya dengan tangan. Ya, dia sangat terpesona dengan apa yang dia lihat saat ini.
“Ya, Tuhan ... apakah ini benar Pantai Romantis? Kok, aku belum pernah ke sini, ya?” ucap Ziva.
__ADS_1
“Emang kamu baru sekali ini pergi ke sini?” tanyaku penasaran.
Tanpa menjawab, Ziva hanya sekadar mengangguk dua kali, kemudian dia melepas sepatunya dan dia lebih memilih tidak menggunakan alas kaki.
“Loh, kok, kamu buka sepatu?” tanyaku.
“Sepertinya di sini lebih enak kalau enggak pakai sepatu, semoga aja dapat jodoh seperti Cinderella.”
“Halu ... mana ada pangeran di sini, Ziva ... yang ada cuma nelayan dan tukang jualan,” ledekku sedikit mencibir.
“Anissa ... di mana pun tempatnya, pasti ada cowok. Masak iya di sini cewek semua, kan, enggak.”
“Terserah kamu aja, deh, aku mau duduk di sana.” Menggunakan tangan kanan, aku menunjuk pondok yang telah tergantung gorden berwarna merah muda.
“Ya, udah, kita ke sana aja,” jawab Ziva.
Kami pun berlari menuju pondok berukuran minimalis dan mendudukkan badan bersamaan. Tak berapa lama, pelayan bertopi datang seraya membawa menu makanan. Dari gayanya, seperti laki-laki. Namun, dia menutup wajahnya dengan menggunakan jaket hitam dilengkapi topi.
“Mau pesan apa, Mbak?” tanyanya seraya menyodorkan menu makanan.
“Kalau aku, pesan jus stroberi aja.” Selepas berkata, Ziva saling tukar tatap padaku saat ini.
Dengan menaikkan dagu, aku membalas tatapan Ziva.
“Ditunggu pesanannya, Mbak,” ucap pelayan itu, lalu dia pergi begitu saja dari hadapan kami.
Tak berapa lama, Ziva pun menatap pelayan itu secara saksama. Entah apa yang dia lakukan, seperti orang yang sudah kenal lama. Karena sangat penasaran, aku pun menatap pelayan tadi juga dan wajah Ziva menoleh ke wajahku secara bersamaan.
“Astaga! Nissa, kamu ngapain?” tanyanya.
“Lah, yang harusnya bertanya itu aku. Kamu ngapain begitu?”
“A-aku, aku enggak ngapa-ngapain.” Ziva pun memperbaiki rambutnya yang sempat berantakan dengan menatap sebuah cermin berbentuk lingkaran.
__ADS_1
“Kamu kenapa dandan, kan, udah rapi?” tanyaku.
“Ah, rambut aku tadi kena angin, makanya sedikit berantakan.”
“Alasan, berantakan atau lagi ingin cantik di depan pelayan tadi?” ledekku dengan membuang cengir.
“Enak aja, bener kalau rambut aku lagi berantakan.” Tampak dari ekspresi Ziva, kalau wajahnya memerah dan sangat malu untuk mengakui.
Kemudian, aku turun dari atas pondok seraya berjalan gontai menuju bibir pantai.
“Nissa, kamu mau ke mana?” tanya Ziva.
“Aku mau ke pantai, kamu di situ aja ...!” teriakku.
“Tunggu ... aku ikut kamu, Nissa ...!” Dengan sangat kencang, Ziva berlari dan menemuiku.
Tepat di bibir pantai, aku menatap secara saksama gulungan ombak dan menikmati semilir angin. Tempat di mana setahun lalu aku datangi, sekarang berubah menjadi sangat indah. Reinkarnasi bumi secepat kilat memperbaiki keadaan. Namun, tidak dengan aku yang masih hanya berjalan di tempat.
Sesekali, ombak pun menerpa ujung kakiku hingga membasahi mata kaki. Kedua tangan telah berkacak pinggang menikmati indahnya alunan kehidupan yang tampak jelas, akan tetapi terasa semu kurasakan. Kini, hanyalah puing-puing masa lalu yang terus menghantui.
Sebuah sentuhan lembut mendarat di pundakku paling belakang. Kemudian aku menoleh seraya menatap siapa gerangan orang yang hadir di sana.
“Kamu lagi ada masalah juga, Nissa?”
“Ya, masalah yang tidak bisa dipecahkan,” jawabku.
“Aku tahu kalau masalahmu sangat berat, bahkan aku tak mampu berada di posisimu saat ini.”
“Lantas, kenapa kamu mengeluh dengan masalahmu yang hanya sekecil kuman itu? Harusnya kamu belajar dari semua yang terlihat, kalau masalah setiap manusia itu berbeda. Bahkan ada yang merasakan lebih dahsyat darimu.”
“Aku adalah orang yang lemah, tak tahu mencari jalan keluar, dan hanya menyalahkan Sang Pencipta.”
“Ya, itu adalah kesalahan terbesarmu, Ziva.”
__ADS_1
Bersambung ...