Pasung Tuan Muda

Pasung Tuan Muda
76. Berada Di Fase Ingin Sendiri


__ADS_3

“Apakah saya boleh bergabung di sini?” tanya seseorang yang tiba-tiba menyuarakan ucapannya.


Tanpa mampu menjawab, aku dan Ziva menoleh ke arah wajah yang tengah menutup kedua netranya menggunakan kacamata berwarna hitam pekat. Tidak hanya itu, pria berkumis tipis dengan jas hitam di badannya sangat serius menatap kami berdua. Ya, spontanitas aku terdiam seribu bahasa karena tak tahu harus berkata apa. Boleh atau tidak sebagai bahasa untuk mengekspresikan kata-kata orang tersebut.


“Kenapa kalian seperti itu menatap saya? Ada yang aneh dengan penampilan ini? Jika enggak boleh gabung, ya, sudah biar saya pergi dari sini,” ucap pria itu lagi, lalu dia membuang tatapan tepat menuju ke wajah Ziva.


Kemudian, aku menyiku lengan Ziva sedikit. “Ziv, kamu kenal dengan Om ini?”


Tanpa menjawab, Ziva hanya mengangguk dua kali seraya memutar tatapan. Tak berapa lama, sahabat terbaik di samping kanan pun mengambil tas yang dia letakkan. Aku tidak tahu kenapa Ziva tampak sangat kesal, yang pasti tebakan awal kalau dia pasti kenal dengan pria tampan itu.


“Nissa, kamu kenapa melihat aku seperti itu?” tanyanya sembari menoleh sekilas.


“Eng-enggak, aku heran aja. Kenapa kamu mendadak berubah ekspresi gitu, perasaan tadi aman-aman aja.” Selepas berkata, aku meletakkan punggung tangan kananku tepat di kening Ziva.


“Hmmm ... dia adalah papa aku, masa kamu lupa dengannya?!” omel Ziva sedikit ngegas.


Setelah mendengar ucapan itu, aku pun salah tingkah dan mendadak malu. Entah kenapa, perasaan ini sangat takut karena sedari tadi menatapnya bagai orang asing. Padahal dia adalah orang yang baik, meskipun aku hanya mengenalnya sepintas tidak tahu isi hatinya bagaimana.


“Eh, Om, ma-maaf. Silakan saja kalau mau gabung di sini,” ucapku terbata-bata.


“Yakin saya boleh gabung, entar Ziva enggak memberikan izin lagi,” jawabnya dengan nada suara lirih.


“Papa ngapain, sih, ada di sini. Mengganggu ketenangan orang aja tau enggak,” omel Ziva lagi.


Mendengar ucapan itu, pria tampan berkumis tipis di hadapanku pun menadahkan kepalanya, lalu dia membuka kacamata dan bergeming tanpa suara. Entah kenapa, aku merasa sangat iba melihat seorang ayah diperlakukan sekasar itu. Padahal aku sangat ingin memiliki seorang ayah, walau terkadang setelah dipikir-pikir rasanya tidak mungkin terjadi.


Akan tetapi, melihat sikap Ziva yang mendadak galak pada ayah sendiri, aku pun ingin memberikan nasihat padanya. Sebagai seorang anak, apalagi dia adalah pria lembut dan bertanggung jawab dengan mengurus anaknya sampai dewasa, tidak pantas jika dibentak seperti itu.

__ADS_1


“Om, silakan duduk aja di sini, kami enggak keberatan,” ucapku lagi.


Kemudian, pria itu mendudukkan badan seraya menatap wajah kami satu persatu. Namun, sedari tadi Ziva hanya membuang ekspresi marah.


“Ziva, kamu kenapa bersikap seperti itu pada ayah kamu?” tanyaku lirih.


“Enggak perlulah kita jalan-jalan harus diikuti seperti ini. Lagian, Nissa, kita udah besar bisa jaga diri.”


“Ya, enggak gitu juga kali ngomongnya. Lagian, ayah kamu datang dengan cara baik-baik, kan, enggak memarahi kamu.”


“Tetap aja, aku enggak suka!”


“Jadi mau kamu apa? Apakah ayah kamu harus pergi dari sini?” tanyaku lagi.


“Iya, biarkan papa aku pergi dari sini. Aku enggak mau merusak momen kita, itu aja. Please, kita liburan itu jarang banget. Papa aku selalu sibuk dengan pekerjaan, enggak tahu mau anaknya seperti apa.”


Rasa khawatir yang dimiliki seorang ayah melebihi wanita. Hal itulah akhirnya mampu mengetuk pintu hatiku untuk menyetujui dia akan tetap ada di momen hari ini.


“Kalau begitu, saya permisi pergi dulu, kalian lanjutin aja makan-makannya.” Selepas berkata, pria itu memutar badan seraya menapakkan kaki pertamanya di atas pasir pantai.


“Tunggu!” teriakku.


Kemudian, pria yang tadinya menapak mendadak berhenti. Dengan tatapan singkat, dia menoleh ke arahku yang tengah memanggil tadi. Tak hanya itu, Ziva pun seperti sangat sedih telah berkata sekasar tadi.


“Maaf, lebih baik saya saja yang pergi dari sini. Ziva, dia adalah ayah kamu, dan kamu bisa hidup seperti saat ini karena dapat biaya darinya.”


“Nissa, ada fase di mana kita itu sendiri. Emang aku anak TK yang harus dipantau terus?” omel Ziva.

__ADS_1


“Kalau aku bisa memilih, lebih baik mama aku hadir di sini. Di mana pun langkah kaki ini menapak, karena keadaan yang membuat aku harus tetap pergi sendiri. Semua yang aku lakukan harus serba sendiri, enggak seperti kamu. Uang ada, makan bisa yang mahal-mahal. Karena kerja siapa? Kerja pria ini, kamu sadar akan hal itu.”


Selepas berkata, aku pun mengambil tasku seraya berjalan melintasi pria yang sedang bergeming tadi. Semilir angin membawa langkah untuk menjauh dari orang yang tidak pernah menghargai perjuangan, apalagi hidup. Ini adalah sebuah cara, bagaimana menyikapi sang penebar kasih sayang di muka bumi.


Bagaimana caramu bertafakur, kalau sang pahlawan kehidupan saja mampu kau sakiti. Di sepanjang jalan, air mataku menetes tidak karuan.


Andai saja aku masih punya ayah, dan tingkat kebaikannya seperti tadi. Mungkin hidup ini tidak akan sesepi ini, selalu ada yang perhatian, menafkahi, dan memberikan kasih sayang. Tetapi rasanya tidak mungkin, karena hidup telah menggariskan takdir seperti ini padaku, batin pun bersenandika.


“Nissa! Tunggu ...!” teriak seseorang dari belakang.


Dari nada suaranya, itu adalah Ziva. Akan tetapi, aku masih tetap melangkah dan tidak menghiraukan kata-katanya.


“Nissa-Nissa, tunggu. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu sekarang.” Tiba-tiba, Ziva menahan kepergian ini.


“Ziva, aku akan pulang. Aku ingin ke rumah sakit melihat mama aku. Daripada di sini, berteman dengan orang yang tidak tahu caranya berterima kasih pada perjuangan.”


“Oke, aku minta maaf sama kamu. Tapi please, jangan putuskan persahabatan kita. Cuma kamu yang bisa membuat aku berteman,” rengeknya.


“Coba kamu lihat wajah laki-laki di ujung sana lagi.” Selepas berkata, aku menunjuk laki-laki yang masih bergeming, lalu, “apakah kamu tega dengan wajahnya yang sangat penuh dengan kasih sayang seperti itu?!”


“Maaf, Nissa. Aku udah minta maaf sama papa aku tadi, kita kembali lagi ke sana, ya. Ini adalah permintaan dari papa, dia ingin berkata sesuatu padamu.”


“Oke, kalau ini benar permintaan dari papa kamu, aku akan ikuti. Tetapi kalau tidak, perteman kita sampai sini aja.”


Mendengar ucapan itu, Ziva mengangguk dua kali. Kami pun sama-sama berjalan menuju tempat semula. Dengan langkah kaki yang kian limbung, tibalah kami di hadapan pria tampan berkumis tipis itu.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2