
“Mbak, katanya mau pergi sama si bos?” tanya Risma spontan.
“Iya, Ris, tetapi dia di mana, ya?” Kami berdua celingukan tanpa henti di depan teras kafe.
Sambil membawa lap untuk menghapus air keringat, aku dan Risma pun saling tukar tatap sejurus pada ambang jalan raya. Tak disangka, berdirinya kami di depan kafe membawa seseorang yang datang tanpa diundang. Ya, siapa lagi kalau bukan Reza, brondong dengan ukuran badan sangat minimalis itu selalu hadir di saat kami sedang merasa bingung.
“Hallo ... dua wanita cantik penghuni surga,” ucapnya seraya memperbaiki rambut.
“Za, kamu lihat si bos enggak?” tanya Risma.
“Hmmm ... kasih tau enggak, ya ...,” jawab Reza seraya membuang senyum simpul.
“Ih, ini anak kalau ditanya enggak ada seriusnya,” cibir Risma sembari memutar kedua bola mata.
“Oh, ya, kamu mau ke mana Dek Marissa?” tanyanya padaku.
“Adek, mata lu soek. Usia aku lebih tua dari kamu, enak aja manggil adek,” omelku sedikit ngegas.
Mendengar ucapan itu, tampak Risma tersenyum kecil. Sementara kami hanya sekadar menatap jalanan dan teras kafe. Tak berapa lama, orang yang dicari pun hadir, membawa mobilnya dan memarkirkan di halaman.
Kemudian kami menepikan diri karena menghalangi mobil sport milik si bos, padahal dia tidak memarkirkan mobilnya tepat di posisi kami ketika tertegun tadi. Dengan sangat lembut, dia membuka pintu dan keluar dari dalam. Kacamata yang dia pakai serasi dengan jas hitamnya, ditambah dengan sepatu pansus berwarna hitam pekat.
Seketika aku dan Risma tercengang, karena belum pernah mendapati si bos serapi dan sekeren itu. Walaupun dia sudah duda, tetap tampak sama dengan usia anak brondong. Yang menjadi bedanya hanya satu, kalau dia ada brewok yang seakan menambah kejantanannya sebagai pria.
Sebenarnya banyak wanita yang tergila-gila padanya, akan tetapi entah kenapa setiap ada wanita yang datang ke kafe untuk bertemu, si bos malah menghindar dan tidak menemui sama sekali. Sementara aku, seorang janda beranak satu, bau dan sangat jelek, mampu membuatnya tertarik.
Meskipun itu hanya sekadar perasaanku saja, mungkin dia hanya ingin bermain-main dan mencari teman curhat. Tetapi apa pun itu namanya, aku tetap menghormatinya layaknya seorang bos, bukan sebagai kenalan atau apa pun.
Dengan tapakkan kaki yang kian lambat, lelaki berkacamata itu mendekat. Kemudian dia tertegun di hadapanku yang masih tercengang, lalu dia membuka kacamatanya.
“Marissa,” panggil Bos Andreas.
__ADS_1
“I-iya, Bos,” jawabku terbata-bata.
“Yuk, kita pergi sekarang. Takutnya entar kemalaman,” ajaknya seraya mempersilakan.
“Ta-tapi, Bos.”
“Udah, Mbak, masuk sana. Mumpung dapat yang masih seger,” suruh Risma dengan berkata sedikit berbisik.
Seketika aku menoleh ke arah Risma, bersama jantung yang berdacak kencang seperti kendaraan yang hendak berperang.
“Ris, kamu pulang sama siapa nanti?” tanyaku berbisik di daun telinganya.
“Tenang aja, beres semuanya,” jawabnya singkat.
“Ya, udah, aku pergi dulu.”
“Hati-hati, semoga berlanjut, Mbak,” ucap Risma.
“Yuk, kita pergi,” ajak Bos Andreas.
Aku harap, Reza mendapatkan gadis saja yang seusianya, bukan janda anak satu seperti aku. Jika dibilang rasa, aku juga merasa sedikit berbeda padanya. Namun, apa jadinya kalau aku sempat menjadi istrinya. Pasti tetangga akan mencibir diri ini termasuk Anissa—anakku.
Perasaan dilema dan tidak tenang datang menghampiri. Sejak seminggu ini, aku telah pergi bersama lelaki bergantian, dimulai dari Mario hingga Bos Andreas. Entah apa jadinya jika kedua pria ini jika bertemu, yang pasti aku tidak mau cari ribut dan membiarkan keduanya untuk mencari wanita pilihan masing-masing.
Akibat dari traumatis yang masih melekap dalam jiwa, aku merasa seperti tidak layak dicintai, apalagi dimiliki oleh seorang lelaki. Karena yang aku tau, lelaki hanyalah menjadi petaka dalam hidup ini. Tepat di dalam mobil, aku sekadar membungkam dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Karena merasa sangat canggung duduk di mobil yang sangat mahal dan mewah.
Sembari menyopir, si bos tampak sedang memerhatikan diri ini dan menoleh kecil. Sementara di bibirnya seperti tengah membuang senyum kecil dan ingin berucap tapi malu. Sebagai seorang wanita, aku masih punya harga diri yang harus dipertahankan.
“Marissa,” panggil Bos Andreas.
“I-iya, Bos, ada apa, ya?” tanyaku penasaran.
__ADS_1
“Kok, saya perhatikan dari tadi hanya bengong?”
“Iya, Bos, saya canggung naik mobil semewah ini. Maklumlah, saya terlahir dari kalangan orang miskin.”
“Marissa, kamu enggak boleng ngomong gitu, kaya atau miskin sama saja, ketika mati hanya kain kafan yang kita bawa.”
“Iya, Bos, tetapi tetap saja kalau saya merasa enggak pantas pergi sama Bos,” jawabku.
Sejenak perbincangan berhenti, aku pun membuka ponsel dan memainkannya di dalam mobil. Sementara Bos Andreas, tampak berubah ekspresi karena membungkam dan hanya sekadar fokus menyopir. Entah ke mana kami akan pergi, yang pasti aku mengikuti apa maunya bos sore ini.
Tepat di sebuah kafe yang menyajikan beragam makanan dan minuman, kami berhenti dan memasuki halaman parkiran. Aku tidak menyangka kalau akan diajak ke sebuah kafe semahal itu, apalagi aku hanya mengenakan seragam kerja karena belum sempat berganti pakaian.
Akan tetapi, si bos tampak sangat bangga membawa wanita tidak tau fashion sepertiku. Dari sisi baiknya, dia membuat diri ini sangat merasakan bahwa ada kepribadian tersendiri darinya. Namun, tidak kebanyakan pria sangat suka wanitanya berpenampilan sangat menarik.
“Marissa, yuk, kita keluar,” ajaknya.
“Ah, enggak, Bos, saya malu,” jawabku.
“Loh, malu kenapa?” tanyanya.
“Saya masih pakai seragam kerja, belum mandi lagi.”
“Sudah enggak masalah, kamu tetap tampak cantik, kok,” sambarnya seolah membuatku percaya diri.
Mendengar semangat darinya, aku pun keluar dengan perasaan canggung. Walau ini adalah kali pertama aku menapakkan kaki di kafe semewah itu. Di sepanjang jalan menuju ruangan, seluruh pengunjung hanya menatap wajahku yang sama seperti karyawan di kafe tersebut.
Sementara si bos memegang tangan kanan ini dan kami menapak sangat lambat. Sungguh dia tidak malu membawaku masuk dengan seragam karyawan, tatapan matanya sangat percaya diri dan sangat sederhana.
Sampailah kami di kursi mewah dengan meja yang dihiasi lilin, suasana dan panorama kemarlap lampu kafe terpancar indah seisi ruangan. Alunan lagu-lagu klasik juga terputar di atas fodium, menambah gemetarnya badan seolah ingin beringsut pergi.
Sementara di samping kanan dan kiri, para pengunjuang tampak sangat cantik dengan gaunnya dan sepatu kaca di kakinya. Tidak seperti aku yang memaki sepatu pansus berwarna cokelat tipis tanpa tumit.
__ADS_1
Malam ini adalah keadaan yang sangat membuat malu, tetapi malah menambah daya tarik tersendiri bagi perasaan Bos Andreas yang menginginkan kesederhanaan seorang wanita.
Bersambung ...