Pasung Tuan Muda

Pasung Tuan Muda
84. Salah Dalam Milih Pasangan


__ADS_3

Tepat di jalan Sudirman tengah kota, aku menatap sebuah kaca di samping sebelah kanan. Seorang wanita pun keluar dari dalam rumah sakit seperti aku kenali, mengenakan seragam putih seperti pasien yang telah lama komah di sana. Namun, yang membuat aku terbelalak bukan sekadar wanita tersebut, tetapi lebih kepada seseorang di sampingnya.


Ya, dia adalah Marissa—mantan istriku beberapa tahun yang lalu. Dengan tapakkan gontai bersama wanita seusianya, dia pun seperti tampak meringis kesakitan di depan Rumah Sakit H. Mansyur. Karena merasa sangat penasaran, aku memandang secara saksama wanita itu tanpa memalingkan posisi netra.


“Maaf Tuan, kenapa dari tadi seperti orang bingung begitu?” tanya Diman spontan, dia pun menatap wajahku dari spion mobil.


“I-iya, Man, kayaknya saya kenal dengan wanita yang tadi di depan rumah sakit,” jawabku terbata-bata.


“Oh, maksud Tuan wanita yang hendak menyebrangi jalan tadi?” tanyanya lagi, kali ini dia seakan penuh selidik.


“I-iya, apa kamu melihat wajah wanita itu?” Aku pun balik nanya pada lawan bicara.


Tepat di depan setir, Diman pun mengangguk dua kali. “Saya lihat, Tuan. Tetapi enggak begitu jelas, karena dia merunduk saja dari tadi. Emang kenapa, ya?”


“Enggak, saya penasaran saja. Coba kita putar balik ke samping halte, barangkali mereka masih ada di sana!” seruku sembari menoleh seratus delapan puluh derajat.


“Oke, Tuan, saya akan putar balik ke tempat tadi.”


Tanpa basa-basi, Diman pun memutar mobilnya dan kami bergerak untuk kembali ke tempat semula. Dengan menginjak gas secara perlahan, kedua netraku menoleh tepian trotoar secara saksama. Akan tetapi, di sana tidak ada siapa pun. Yang terlihat hanya beberapa wanita menggunakan sanggul bersama sahabatnya, tidak terlihat Marissa dan wanita tak asing itu.


Kami pun masih melintasi jalan raya karena ingin melihat secara detail siapa wanita yang mirip dengan Marissa itu, karena aku ingin bertanya kepadanya, kenapa dia keluar dari rumah sakit. Rasa prihatin itu tumbuh begitu saja, karena ketakutan tumbuh perihal Anissa yang merupakan anakku juga.


Kalaupun Marissa yang sakit, mungkin aku tidak terlalu khawatir. Namun, apabila Anissa yang terkena musibah itu, aku tidak akan memaafkan diri aku sendiri. Karena di dalam tubuh Refal, telah hidup sebuah ginjal miliknya untuk membantu kehidupan anakku bersama Siska. Sungguh anak yang telah aku sia-siakan itu memiliki hati bagai malaikat.


Karena ketulusannya itu, aku tak mampu memberitahukan pada Refal, kalau Anissa adalah saudara kandungnya sendiri. Meskipun usia mereka sama-sama sudah remaja, aku tetap ingin merahasiakan segalanya hingga waktu telah tepat untuk diketahui semua itu. Tak berapa lama, aku memukul bangku depan, tempat di mana Diman menyopir.

__ADS_1


“Man-Man-Man,” ucapku spontan.


“I-iya, Tuan, ada apa, ya?” tanyanya.


“Coba kamu berhenti dulu, biar saya keluar dan mencari di mana wanita tadi berada,” ujarku.


“Oh, baik, Tuan. Saya akan menepi di sudut sana, apapah Tuan butuh teman untuk mencari?” tawar Diman seketika.


“Enggak perlu, Man, biar saya saja yang mencari mereka. Kamu di sini dan jaga mobil, jangan tinggalkan mobil, oke.”


“Siap, Tuan.”


Setelah Diman memahami sebuah perintah, aku pun membuka pintu mobil seraya menapakkan kaki dengan cepat menuju jalan aspal. Dengan sedikit berlari, aku bergerak ke arah sebuah jalan yang dipenuhi beberapa orang di sana. Namun, sedari tadi aku tak melihat Marissa ada di situ. Akibat rasa penasaran yang kian gelenyar, akhirnya membawa diri ini untuk tetap menelusuri tiap koridor.


Sampailah aku di sebuah kafe dengan bangunan sangat megah dan tinggi, akan tetapi di sana juga nihil. Seketika langkah kaki membawaku menuju sebuah ruangan yang terlihat sedikit temaram.


Selepas bersenandika dalam hati, aku mencoba menyibak rasa canggung seraya mendatangi kedua wanita yang seperti tengah melakukan sesuatu. Akhirnya aku sampai di tempat tujuan, menggunakan tangan kanan, aku menyentuh Marissa yang saat ini sedang menekan wajahnya dengan kedua tangan.


“Mar-Marissa,” ucapku spontan.


Mendengar panggilan itu, lawan bicara menoleh dengan membuang tatapan sangat terkejut, ekspresinya juga berubah total.


“Mas-Mas Revan, apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya terbata-bata.


Aku pun menatap ke belakang, samping kanan dan kiri karena ingin melihat siapa saja yang ada di koridor.

__ADS_1


“Yang harusnya bertanya itu aku, bukan kamu. Emang kamu ngapain di sini? Itu tangan kamu kenapa lagi dibalut perban begitu?” tanyaku bertubi-tubi.


“Eng-enggak ada, ini adalah perban biasa. Sekarang jawab pertanyaan aku, kamu ngapain ada di sini?” tanyanya penasaran.


“Hmmm ... mau tau aja atau mau tau banget?”


“Aku enggak lagi bercanda, Mas. Kalau kau tak punya kepentingan, tolong menjauh dan pergi dari tempat ini!” seru Marissa ngegas.


Setelah mendapati ucapan yang seperti itu, aku pun mendadak sangat merindukan saat-saat bersamanya ketika dulu. Ya, hubungan rumah tangga kami terbilang sangat romantis. Entah kenapa, yang menjadi penghancur saat itu adalah sekadar egoisme diri ini yang tidak dapat memilih mana wanita baik dan mana wanita jahat.


Kalau bicara tentang ketulusan, kedua netra Marissa tampak sangat tulus dibanding Siska. Namun, yang membuat aku kesal dan emosi saat itu adalah, karena dia bertingkah seperti orang gila di tengah-tengah pesta yang digelar besar-besaran. Memang rasa sakit sekarang aku alami tidak sebanding ketika malu itu dia ciptakan.


“Marissa, apakah kau masih membanci aku?” Pertanyaan itu aku lempar lagi pada sang mantan istri.


“Cukup! Jangan lanjutkan ucapanmu, karena aku tidak akan pernah memaafkan kesalahan yang pernah kau lakukan, Mas,” jawabnya menyambar seketika.


“Mbak ... yang sabar, jangan emosi begini. Kamu baru aja pulih dari sakit, ingat kata dokter tadi,” ujar teman Marissa menengahi.


“Apa!? Kamu sakit apa, Mar? Kenapa kamu enggak telepon aku. Seperti inikah rasa bencimu terhadap aku, ingat kalau Anissa adalah—“


“Jangan lanjutkan! Tolong jangan ucapkan apa pun di sini, karena aku tidak mau membuka AIB yang sudah aku kubur dalam-dalam, kamu pergi sekarang, Mas ....” Marissa pun bertambah histeris dan merengek di bangkunya.


Sementara wanita di samping Marissa merasa sangat heran dengan ucapan kami, sedari tadi dia hanya sekadar mendengar ditimpali dengan sebuah gelengan kepala. Namun, aku tidak memerdulikannya, karena yang ada masalah akan bertambah panjang karena mulut demi mulut tahu perihal AIB rumah tangga di masa lalu.


Kemudian Marissa membangkitkan badan, seraya tertegun di posisinya. Wanita di samping kanannya juga membantu, dia tetap berada di dekat Marissa meskipun kami tengah membahas perihal masalah sensitif.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2