Pasung Tuan Muda

Pasung Tuan Muda
54. SMA Tunas Bangsa


__ADS_3

Anissa POV


Pagi telah tiba, hari ini adalah kali pertama aku menuju sekolah setelah libur panjang menoleh. Ya, bukan libur karena jadwalnya dari sekolah, tetapi lebih kepada karena aku sendiri yang tidak masuk selama itu. Sudah sekian bulan diri ini mendekam, di dalam rumah yang hanya ada aku, Bi Ira, dan Mama saja.


Tepat di portal dengan tulisan SMA Tunas Bangsa, aku kembali menimbah ilmu di sekolah baru. Keputusan ini telah bulat, meninggalkan segala kenangan indah di sekolah lama bersama sahabat, guru, dan terutama Refal. Sejujurnya aku masih betah di sana, tetapi ini lebih kepada menghilangkan rasa bosan saja. Sejak beberapa bulan menutup diri, kini aku bisa bernapas lega.


Sepanjang jalan menuju lokasi sekolah, lumayan jauh, dan aku pun perginya pagi-pagi sekali bersama mama. Menggunakan angkutan umum, kami berdua melalui jalan lintas dan melaksanakan rutinitas masing-masing. Kini aku telah keluar dari rumah Refal, rumah bak istana itu yang kini mengubur rasa dendam mendalam perihal untuk menyakiti.


Naif memang, selama hampir tujuh belas tahun tinggal di ruang bawah tanah dengan kedua kaki sang ibu yang telah dipasung oleh lelaki tak bertanggung jawab itu, lantas aku diam saja. Kali ini, aku berjalan di tepian. Untuk masuk ke perkarangan, rasanya berat. Seberat beban masalah yang terpikul selama ini.


Kini hari-hariku tampak biasa saja, karena di sekolah ini tidak ada satu pun yang aku kenal. Namaku Anissa, jenis kelamin perempuan, dan aku adalah orang yang gemar memakai hijab. Meskipun di sekolah masih jarang cewek pakai hijab, akan tetapi aku ingin tampil layaknya muslimah yang diinginkan Allah dan ajaran agamamu.


Tak berapa lama, kedua telingaku mendengar berisik suara gemuruh seperti orang yang tengah berkelahi. Namun, aku tidak tahu pusat suara itu berasal dari mana. Setibanya aku di koridor, tatapan ini tertuju pada seorang pemuda yang sedang menggerompok ramai di depan mading, tepatnya di perpustakaan.


Karena aku tidak tahu ruangan yang akan kutuju, langkah pun berhenti di depan portal dengan tulisan Ruang Kepala Sekolah. Setibanya aku di depan ruangan, siswa dan siswi masih banyak yang lalu lalang di samping badanku. Bahkan banyak dari mereka tak mengenakan hijab, seraya membuang tatapannya.


Kemudian aku memberanikan diri untuk berjalan kembali menuju ambang pintu, di sana ada seorang wanita yang sedang mengepel lantai dengan sedikit bersenandung. Secara saksama, aku mengetuk pintu perlahan.


“Assalammualaikum ...,” sapaku.


Satu panggilan tak terjawab, karena pekerja sekolah yang sedang mengepel itu menyumbat kedua telinganya menggunakan earphone. Lalu aku mencoba kembali untuk mengetuk pintu, dengan harapan dia mendengarnya.


“Assalammualikum ...,” sapaku lagi.


Panggilan kedua pun nihil, malah pekerja sekolah itu membelakangi aku. Karena merasa sangat lelah, aku mendudukkan badan di kursi yang berbaris rapi terbuat dari besi. Catnya juga serasi, berwarna biru seperti tembok gedung sekolah.


Sembari menunggu kepala sekolah, aku terdiam sambil menatap fokus ke jalan yang menghubungkan menuju parkiran. Lalu, seseorang siswi perempuan tanpa hijab mendudukkan badannya di sampingku. Kehadirannya membuat kursi bergetar kecil, bersama senyum simpul, dia buang tepat di wajah ini.


Agar tidak dianggap anak sombong, aku membalas senyumnya sedikit. Kemudian kami sama-sama menjalankan aksi, dia pun sibuk menyisir rambutnya dan mengikat menggunakan bandana merah.


Selang beberapa menit, bel pun berbunyi. Para siswa dan siswi berhamburan dan berlari ke suatu tempat. Namun, aku tidak menghiraukan mereka dan tetap duduk di kursi, lalu siswi tadi tertegun di sampingku.


“Kau enggak ke lapangan?” tanyanya.


“Ke lapangan? Ngapain?” Aku membalasnya seraya menatap serius.

__ADS_1


“Apel pagi, lah, emang mau ke mana lagi?” katanya menyambar ucapan.


“Haruskah kita ke sana?”


“Kalau enggak, kamu bisa kena hukum entar,” jelasnya seraya memperbaiki dasi.


“Oh, oke, aku ikut kamu.” Selepas berkata, aku pun mengikuti siswi cantik itu dan kami berjalan seiringan. Dari gelagatnya, dia seperti tomboi, karena mengenakan gelang dan berjalan layaknya laki-laki.


Akhirnya kami sampai di lapangan sepak bola, aku tak tahu yang mana kelas sesuai denganku saat ini. Yang pasti, aku mengikut siswi tadi dan kami bersebelahan.


“Hei, kamu kenapa baris di kelas kami? Entar ketahuan guru,” katanya sedikit berbisik.


“Loh, emang kelas aku yang mana?” tanyaku.


Mendengar ucapan dariku, siswi itu menggaruk kepalanya. Tampak sedari tadi dia seperti orang yang tengah bingung. Apalagi aku, kami pun sama-sama bingung. Guru-guru telah menghambur menuju fodium, mereka memberikan kata sambutan, serta ceramah sedikit.


Sebelum para guru datang, siswi sangatlah ribut. Namun, setelah seorang lelaki tampak masih muda itu berkata, semua siswa membungkam dan memerhatikan. Kurang lebih tujuh menit dia berkata, kami akhirnya dipersilakan untuk memasuki kelas.


“Ayo, ikut aku,” kata siswi tadi.


“Ya, masuk kelaslah,” jawabnya.


“Emang kelasku di mana?”


“Loh, emang kamu anak IPA atau IPS. Kok, dari tadi tampak bingung gitu.”


“Iya, aku anak baru di sini.”


Deg!


Mendengar pernyataan itu, siswi tomboi sebagai lawan bicaraku terdiam seraya menggaruk kepala. Tampak sedikit demi sedikit, kedua kakinya ingin kabur dariku.


“Hei, kau mau ke mana?” teriakku.


“Aku mau masuk kelas, maaf kalau aku salah orang.”

__ADS_1


Ih, aneh banget, sih, dia. Tadi akrab banget, kenapa tiba-tiba kabur coba, batinku bersenandika.


Setelah sekian menit berdiri, aku mencoba kembali mendatangi ruang kepala sekolah yang tadi terlihat. Dengan tapakkan gontai, akhirnya aku sampai di ruangan tersebut dan celingukan dari ambang pintu.


“Assalammualikum ...,” sapaku.


“Wa’alaikumsallam ...,” jawab seorang wanita paruh baya yang mengenakan hijab putih.


“Bu, apakah Ibu adalah kepala sekolah?” tanyaku penasaran.


“Iya, Nak, kamu anak baru di sini?”


“Iya, Bu, saya anak baru.”


“Pantas saja saya merasa sangat asing, mari masuk. Kamu kenapa enggak menunggu di dalam ruangan saya saja?” tanyanya.


“Iya, Bu, tadi ada siswi yang mengajak saya. Katanya apel pagi, jadi saya ikut dia saja.”


“Hmmm ... pasti ulah Laras lagi,” gerutunya.


Kami pun duduk berhadapan. Sementara kepala sekolah menulis sesuatu dan membuat aku hanya terpaku saja. Lalu, dia membangkitkan badan seraya mengambil ponselnya.


[Hallo, Pak Reza bisa ke ruangan saya?]


[Bisa, Bu, ada apa, ya?]


[Penting.]


Terdengar samar dari telepon percakapan kepala seklolah. Kemudian, kepala sekolah pun mendudukkan kembali badannya di atas kursi. Kali ini aksinya tidak ada selain menatapku, bersama senyum simpul yang dia buang, mencerminkan wibawanya sebagai seorang pimpinan sekolah.


Ruangan yang menghias di ruanganya juga sangat indah, banyak berbagai kerajinan tangan terpampang di atas meja, lemari, hingga dinding. Sedari tadi aku terfokus pada sebuah foto yang ada di belakang badannya, karena mirip seseorang. Namun, aku tidak mau terlalu kepo pada foto itu.


Semilir angin dan cahaya matahari menembus kaca jendela ruangan, seakan mengajak diri untuk menikmati indahnya dunia luar. Karena sudah lama aku tak melihat panorama indah itu.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2