
Tak menunggu terlalu lama, akhirnya sopir pribadi dari rumah pun datang membawa mobil yang biasa untuk mengantar dan menjemputku. Namun, kali ini aku pulang bersama dengan Anissa yang sejak tadi hanya merenung tanpa henti.
Dari gayanya, dia seperti tengah memikirkan mamanya yang sedang dirawat di rumah sakit. Walaupun aku baru mengenalnya, akan tetapi batin ini bisa merasakan.
Tepat di dalam mobil kami sengaja memilih tempat duduk di belakang, agar aku bisa mengajak Anissa berbicara. Mungkin dengan adanya teman curhat, dia bisa sedikit lebih tenang. Namun, aku masih bingung untuk memulai perkataan dari mana, karena sedari tadi tampak Anissa sangat murung dan tak mau mengeluarkan sepatah kata pun.
“Nissa, silakan masuk,” ucapku seraya mempersilakan Anissa.
Bukan masuk ke dalam mobil, Anissa pun hanya bergeming dan tak menghiraukan perkataanku. Sementara Mang Kardi hanya menatap Anissa yang sedari tadi terdiam.
“Hallo ... Nissa, kamu kenapa termenung?” Aku melambaikan tangan tepat di hadapan Anissa.
“Ah, iya, kamu ngomong apa barusan?” Dengan tergesa-gesa, Anissa pun membuyarkan lamunan.
“Nissa, masuk ke dalam mobil. Karena kita akan segera pulang,” suruhku lagi.
“Oke-oke, aku akan masuk sekarang.” Kemudian, Anissa pun membuka pintu dan masuk ke dalam mobil.
Dibarengi dengan aku yang juga naik di bangku paling belakang, seraya mendudukkan badan di samping kanan Anissa yang masih terdiam. Entah bagaimana aku memulai ucapan kali ini, karena masih terasa canggung jika bertanya perihal masalah pribadinya lebih jauh. Kemungkinan dia akan membungkam lagi, apalagi menyangkut tentang masalah keluarganya.
Sungguh berat yang dialami oleh Anissa sekarang, aku pun tidak bisa membayangkan jika masalah itu terjadi padaku. Namun, untuk saat ini aku lebih menghargai hidup yang nota bene lebih baik daripada Anissa. Sebagai seorang anak remaja, membutuhkan keluarga yang lengkap adalah alasan kami untuk bisa hidup sebagai mana mestinya.
Terkadang, dengan berjalan di pinggiran trotoar, menatap ke samping dan melihat anak-anak seusia kami masih dalam dekapan orang tua membuat iri.
“Nissa, kau baik-baik saja?” tanyaku mengawali pembicaraan.
Anissa pun menyibak air mata yang keluar dari lekuk pipinya secara saksama. “Ah, Ziva, aku baik-saja.”
“Enggak mungkin kamu lagi baik-baik saja, aku tahu apa yang kau rasakan saat ini.”
Anissa pun tak menjawab kata-kataku, dia sedari tadi hanya terfokus menatap tas ranselnya dan sesekali membuang tatapan menuju luar mobil. Di sepanjang perjalanan, dia tampak sangat sedih dan gelisah. Padahal, aku hadir di sampingnya untuk memberikan semangat agar dia tidak sedih terus-terusan.
“Nissa, kalau kau butuh teman curhat, aku siap menjadi teman curhat kamu malam ini.”
__ADS_1
“Tetapi, aku enggak mau merepotkan siapa pun dengan menginap di rumah kamu, Ziv,” jawabnya sangat lembut.
“Nissa, kita adalah sahabat, dan aku sudah menganggap kamu sebagai saudara kandung. Ayolah, jangan sungkan-sungkan. Anggap aja aku butuh teman malam ini,” ujarku seraya menatap penuh harapan.
“Oke, deh, kalau begitu aku akan ikut kamu ke rumah. Namun, jika kehadiranku membuatmu repot, aku akan pulang secepatnya.”
“Aku bukanlah orang yang seperti itu dalam menghargai teman. Memang kalau selama ini sifatku sangatlah seperti perempuan brandalan, tetapi tidak dengan hati ini.”
“Ziva, aku percaya kalau kau adalah anak yang baik. Dan kamu enggak usah berkata seperti itu, aku akan memastikan bahwa pertemanan kita akan lama.”
Kami pun akhirnya menghabiskan waktu menuju rumah dengan bercanda di dalam mobil. Pak Kardi seolah memerhatikan kami sedari tadi, aku pun menebak pasti dia merasa sangat heran denganku. Karena yang dia tahu, aku tidaklah orang yang gampang memiliki teman. Apalagi membawanya ke rumah. Anissa adalah orang satu-satunya.
Selang beberapa menit di perjalanan, kami sampai di depan rumah dan Pak Kardi memasuki halaman dengan sangat lambat. Sementara penjaga rumah telah membuka gerbang dan kembali menutupnya. Akhirnya, kami tiba di depan teras.
Dengan lembut, aku menarik tangan Anissa untuk segera keluar dari dalam mobil.
“Nissa, yuk, kita keluar. Aku udah enggak sabar ingin mengajak kamu makan malam,” ucapku mempersilakan.
“Oke,” jawabnya singkat.
“Nissa, kamu kenapa termenung?” tanyaku. “Ayo, kita masuk.”
“Ah, enggak, Ziv. Aku hanya heran aja, ini rumah atau istana, ya?” tanya Anissa dengan polosnya.
“Ah, kamu berlebihan. Yuk, kita masuk,” ajakku seraya menarik tangan Anissa.
Kami pun bersama-sama memasuki rumah dan menuju kamar. Setibanya di ruangan sepetak dilengkapi dengan AC, aku mendudukkan badan seraya melepas sepatu. Diikuti dengan Anissa, dia mendudukkan badan di atas dipan seraya menatap ke atas plafon rumah. Entah apa yang dia lakukan, seperti merasa asing dan canggung.
“Nissa, kita makan malam, yuk?” ajakku.
“Makan malam?” tanyanya.
Aku mengangguk dua kali. “Iya, kita makan malam dulu. Pasti kamu sudah lapar, kan?”
__ADS_1
“Ziv, aku belum lapar,” jawabnya.
Mendengar ucapan itu, aku merasa sangat sedih. Karena aku mengira dia akan mau ikut makan malam, akan tetapi malah penolakan datang darinya. Alhasil, kami hanya mendudukkan badan di atas dipan tanpa sepatah kata pun terucap.
“Ziv, katanya kamu mau makan malam?” tanya Anissa.
“Aku enggak akan makan kalau kau enggak ikut,” jawabku.
“Ya, udah, aku ikut dengamu. Tetapi aku makan sedikit saja, ya,” jawab Anissa.
Daripada tidak, aku pun mengiyakan Anissa yang akhirnya mau menuruti keinginanku. Kami pun keluar dari dalam kamar seraya menuruni anak tangga lantai dua. Yang membuat aku betah berteman dengan Anissa adalah, dia anak yang anggun karena tak mau melepas hijabnya.
Ingin rasanya aku memakai hijab, akan tetapi hatiku masih belum mampu. Sehingga, aku mengucir rambut saja setiap harinya. Tibalah kami di sebuah meja makan yang telah terhidang menu dengan jumlah banyak. Aku mengambil ayam goreng sebagai kesukaan.
“Nissa, kamu mau lauk apa?” tanyaku.
“Aku lauk apa aja, yang penting ada sayurnya,” jawab Anissa.
“Nih, aku ambilkan ayam goreng. Kamu harus makan banyak, biar gendut.”
“Enak aja, aku enggak mau gendut,” jawab Anissa.
Kami pun menyantap menu dengan sangat senang, tampak Anissa juga menghargai apa yang aku tawarkan malam ini. Tak berapa lama, pintu rumah pun kembali terbuka dan menghadirkan papa di ambang pintu. Secara saksama, dia menatap kami yang sudah menyantap makan malam lebih dulu.
“Assalammualikum ...,” sapa papa.
“Wa’alaikumsallam ...,” jawab kami serempak.
Setibanya di samping meja makan, Anissa pun meraih tangan papa dan menciumnya. Akan tetapi, aku malah memerhatikan karena belum pernah menjabat tangan ayah sendiri.
“Om, mari makan bareng kita,” ucap Anissa.
“Wah, kalian sudah makan lebih dulu, ya?” jawab papa.
__ADS_1
“Iya, Pa, kami makan lebih dulu karena sangat lapar.” Selepas menjawab, aku meraih tangan papa dan menciumnya juga.
Bersambung ...