
Revan POV
Hari terus bergulir, bahkan sang waktu seakan menertawakan aku saat ini. Bagaimana tidak, berbagai masalah yang datang silih berganti tidak mau beringsut pergi. Sementara untuk mencari angin segar, rasanya sangat sulit dikarenakan ironi mencekam jiwa. Tepat di dalam ruang kamar, aku menatap arloji di dinding dengan cat berwarna silver.
Sementara pikiran masih berkecamuk pada kedua belah pihak. Antara Refal—anakku, dengan Anissa yang jelas-jelas tidak mengenali siapa ayahnya. Dalam konteks pembahasan kali ini, aku sekadar serpihan hati yang gundah akan keputusan. Sementara untuk mencari kebenaran itu, rasanya sangat sulit sekali.
Sempat terbesit di dalam benak, aku ingin mengakhiri hidup ini dengan membunuh jiwa dan raga. Namun, di sisi lain aku masih sayang kepada kedua anak yang saat ini tak tahu apa kabarnya. Memang kuakui, bahwa hanya dirikulah seorang ayah yang tidak punya kasih sayang pada belahan jiwa.
Semburat cahaya di atas langit menghadirkan panorama indah, aku menatap sekilas seraya ingin menemui keindahan itu dengan melompatkan badan dari atas dipan. Langkah yang kian gontai, membawa tubuh bagai tanpa nyawa ini menapak di balkon lantai dua. Sorotan bulan sabit seakan main mata, keindahan itu pernah tercipta sebuah momen mesrah ketika bersama istri pertama.
Kini sirna, bahkan Sang Pencipta sepertinya telah melupakan aku. Bagaimana Dia tidak melupa, karena selama ini aku hanya fokus pada nafsu dan material bangkai dunia. Mungkin jalan inilah yang akhirnya meyeret kedua kaki untuk menatap di tepian trotoar, menyingkap misteri tak terpecah hingga meluapkan api panas bak gunung merapi
Malam ini aku sendiri, sekadar menahan gundah gulana akibat tidak berdayaan melawan takdir hidup. Suasana rumah sangatlah ramai, tetapi hatiku terasa sangat sunyi bagai kuburan. Awan hitam berbalut kabut putih bergerak anggun ke sana dan ke mari, menari di atas luka yang tengah aku derita saat ini.
Tiba-tiba, aku merasakan sebuah tapakkan tangan mendarat dari belakang badan. Sentuhan itu sangat lembut dan membuat diri ini menoleh sekilas.
“Untuk apa kau di sini?” tanyaku.
“Mas, kau tidak tidur?” Dia malah balik nanya.
“Aku belum ngantuk, kalau kau ingin tidur, silakan.”
“Mas, aku ingin bertanya padamu.”
“Katakan,” jawabku singkat, lalu aku menoleh kembali ke atas langit yang dipenuhi bintang-bintang.
“Apakah kau sudah tidak mencintaiku lagi? Belakangan ini, aku banyak mengalah dan tidur sendiri. Bahkan kita telah pisah ranjang sesuai keinginanmu. Apakah kau menyesal menikahi aku saat ini?” tanya sang istri seraya membungkam mulutku.
__ADS_1
Mendengar ucapan itu, aku menggeleng dua kali. Jujur, sebenarnya yang dia katakan ada benarnya. Bahwa aku telah muak hidup dengannya. Bukan karena aku memiliki pilihan lain, tetapi lebih kepada sikapnya sangat membuat diri ini bosan. Menghabiskan uang miliaran rupiah hanya untuk memfasilitasi lelaki lain di luar sana.
Sebenarnya aku telah memberikan maaf padanya lebih dari cukup. Akan tetapi, dia malah semakin melunjak dan ingin membunuh kekeluargaan ini dengan tangan kosongnya. Dari situ aku berpikir, bahwa dia tidaklah sebaik Marissa—mantan istriku dahulu.
Meskipun kami berpisah telah lama, tetapi aku belum pernah mengucapkan talak padanya. Apalagi menceraikannya. Mungkin ini adalah karma untukku, lebih memilih pelakor yang jelas-jelas menjadi musuh dalam selimut. Akibat kejadian malam itu, perbuatan terlarang pun terjadi. Sebagai seorang lelaki, aku tidak mungkin lari dari tanggung jawab.
“Mas, kenapa kamu diam?” tanyanya lagi.
“Siska, tolong jangan beri aku beban lagi sekarang. Tinggalkan aku saat ini, karena aku pusing,” kataku seraya mempersilakannya pergi.
“Mudah sekali kamu melupakan masa-masa indah kita ketika dulu. Kalau kau memang menganggap aku beban, mengapa waktu itu kau berani menentang ibu aku dan mama kamu yang gila harta itu untuk melanjutkan pernikahan ini.”
“Diam mulut kamu! Jaga ucapanmu, jangan sekali lagi aku mendengar kata-kata yang menjelekkan mamaku.” Dengan tangan kanan, aku menunjuk wajah lawan bicara.
“Apakah kau lupa, Mas, siapa yang memaksa aku untuk menikah denganmu kalau bukan mama kamu!”
“Wanita kurang ajar!” Aku melayangkan tangan kanan dan hendak menampar pipi sang istri.
Tanpa menjawab, aku pun beringsut pergi dari hadapan sang istri. Dengan langkah cepat, aku mengambil jaket hitam, ponsel, dan kunci mobil di atas nakas. Kemudian, aku pergi dan menuruni anak tangga lantai dua. Setelah sampai di ambang pintu garasi, aku mengambil mobil sport dan pergi dari halaman rumah.
Entah ke mana mobil ini akan membawaku, hanya sunyinya malam yang kini menemani sepinya jiwa. Tepat di sebuah kota dengan—sedikit cahaya, aku berhenti di kafe. Dengan cepat, aku memarkirkan mobil di teras dan memasuki ruangan itu dengan langkah limbung.
Aku memilih tempat duduk paling depan, tatapan pun sekadar menatap menuju luar jalan lintas. Tiba-tiba, seseorang datang dengan tapakkan kecil.
“Selamat malam, Pak, pesan apa, ya?” tanyanya dengan lembut.
Mendengar ucapan itu, aku memutar badan seraya menatap sekilas menujunya. “Saya pesan kopi hangat saja satu gelas.”
__ADS_1
Kemudian aku mendongak, dari gelagatnya seperti aku kenal. Namun, dia memakai topi dan menutup separuh wajahnya. Sementara dari gayanya, sama persis dengan Marissa—mantan istriku. Namun, sedari tadi dia hanya tertegun tanpa mau beringsut.
“Maaf, Pak, tunggu saja pesanannya datang,” ucap pelayan itu seraya meninggalkan aku sendiri.
Kenapa galagatnya aneh banget, ya, sudah seperti melihat hantu aja. Apakah benar dia adalah Marissa? Tetapi enggak mungkin dia bekerja di kafe ini, batinku bersenandika.
Selang beberapa menit, ponsel di kantongku berdering. Dengan sigap, aku membuka dan menatap notifikasi yang datang dari Siska. Karena masih sangat muak, aku mematikan ponsel dan membungkam semua panggilan telepon yang datang.
Untuk malam ini, aku menghabiskan waktu hanya sendiri, tanpa ada yang bisa mengganggu. Siapa pun itu. Seraya menunggu minuman hangat, aku menatap sebuah bartender di pojok ruangan. Tiba-tiba, seorang pelayan yang mengenakan seragam merah pun datang menghampiri.
Dari gaya berjalannya, sangat berbeda dari yang tadi. Tatapan kedua bola matanya juga berbeda jauh. Setibanya dia di samping kanan meja, dia meletakkan kopi hangat pesananku seraya mempersilakan.
“Silakan diminum, Pak,” katanya.
“I-iya, terima kasih,” jawabku.
“Kalau ada yang mau dipesan lagi, silakan panggil karyawan atau menuju bartender, Pak.”
Tanpa menjawab, aku menatap menuju gelas itu. Kenapa wajahnya berubah, ya? Atau jangan-jangan yang tadi memang bukan Marissa. Tetapi aku paham benar, kalau tadi adalah Marissa.
“Mbak,” panggilku menahan langkah pelayan berseragam merah itu.
“I-iya, Pak, ada yang bisa saya bantu?” tanyanya.
“Saya mau bertanya, Mbak, boleh?”
“Silakan saja, Pak. Emang mau bertanya apa,” jawabnya seraya membuang senyum simpul.
__ADS_1
Untuk memulai perkataan, aku merasa sangat berat. Namun, hati dan pikiran terus berkecamuk pada penglihatan yang tadi tampak sangat jelas.
Bersambung ...