Pasung Tuan Muda

Pasung Tuan Muda
85. Aku Tak Malu Berstatus Janda


__ADS_3

POV Marissa


“Risma, bawa aku pergi dari sini. Aku enggak mau berlama-lama dengan manusia berhati binatang seperti dia,” ucapku seraya ingin mengakhiri posisi bergeming.


“Mbak, jangan ngomong begitu, kasihan Mas ini menunggu di sini sejak lama. Apakah kamu yakin ingin meninggalkannya?” tawar Risma sembari menatapku penuh selidik.


“Aku yakin, Ris. Kalau kau mau di sini, silakan. Tetapi jangan halangi aku untuk tetap pergi,” sambarku seraya ingin berjalan limbung dan menyentuh dinding sebuah koridor.


Tiba-tiba, sebuah sentuhan lembut mendarat di pundakku sebelah kanan. Karena merasa sangat penasaran, aku pun memberhentikan langkah sejenak. Dari ekor netra, lelaki yang tadinya ada di posisi lebih jauh, malah semakin mendekat. Ya, dia adalah Revan—mantan suamiku.


Kemudian aku menyibak tangannya agar menjauh, karena setuhan yang bukanlah muhrim, haram untukku. Apalagi dia adalah penyebab dari hancurnya hidup ini, sebisa mungkin aku tetap bersikap kuat dan menolak semua kata maafnya. Rasa sakit hati yang telah mendarah daging itu tak lantas dapat cair begitu saja, semua akan tetap sama meskipun dia menangis darah dan bersimpuh di hadapanku.


“Marissa,” panggil Revan sangat lirih.


“Lepaskan, Mas! Kau tidak usah menghalangi aku untuk pergi dari sini, karena kau hanya membuat luka saja di hidupku.”


“Ta-tapi, Mar ... aku masih ingin bersamamu, jangan kau halangi aku untuk kembali lagi dan membangun kisah cinta kita. Bagaimanapun juga, suatu saat kita akan menghadapi masalah besar jika tak bersama,” ujarnya sedikit memaksa.


“Tidak! Kau salah besar jika masalah itu harus aku yang alami. Karena sejak dulu, hanya kau yang berani bermain api. Jika memang akhirnya masalah besar akan ditemui, aku pinta pada Tuhan agar kau saja yang mengalaminya. Karena pengikut dajal adalah manusia yang mencampakkan istrinya masih dalam mengandung,” pungkasku lagi.


Mendengar ucapan itu, Risma pun terbelalak seakan heran. Selama ini aku menutupi perihal AIB besar yang tengah aku alami, akan tetapi tidak hari ini. Semua yang terjadi pun terkuak kembali, karena emosi dan jiwa ini tak mampu menahan semua omong kosong yang Revan ucapkan.


Agar tak banyak pertanyaan seputar rumah tangga, aku pun mencoba untuk berjalan meninggalkan lelaki yang dulu pernah menjadi mantan suami. Tepat di ambang jalan raya, ternyata taksi yang tadinya dipesan oleh Risma telah menunggu kami untuk segera pergi.


“Mar, jangan lakukan ini padaku,” tahan Revan lagi.


Tanpa menjawab, aku menyibak tangan lelaki berkumis tipis itu seraya berjalan sedikit laju. Tepat di samping kanan, Diman—mantan penjaga pos satpam di rumahku dulu tengah bergeming tanpa sepatah kata pun. Padahal, kehadirannya dulu adalah tak lain sebagai seorang pengemis.


Akan tetapi, aku mengajaknya ke rumah untuk memberikan dia pekerjaan. Naas, ketika aku merasa depresi oleh sebuah peristiwa, dia malah membantu Revan untuk memasung aku di ruang bawah tanah. Sungguh manusia bersifat binatang telah hadir di sekitar hidupku saat ini. Kami pun berselisihan dan sekilas aku buang tatapan tajam padanya, akan tetapi dia hanya menadah dan kembali menoleh.

__ADS_1


“Masih hidup kau rupanya, Man?” tanyaku singkat.


“Nyonyah, ma-maaf—“


“Kau tak akan pernah aku maafkan, sifatmu yang tidak tahu diri akan mendapat balasan dari Tuhan. Apakah kau ingat siapa kau sebelum aku pekerjakan di rumah, beberapa bulan ke depan kalian akan merasakan balas dendam yang sesungguhnya. Ingat itu!” hardikku seraya menunjuk lawan bicara menggunakan jemari.


“Mbak, sudah. Yuk, kita pergi saja dari sini,” ajak Risma.


“Iya, Ris. Aku pun sudah muak melihat wajah-wajah mereka, biarkan sang waktu dan Tuhan yang membalasnya.”


Dengan cepat, kami berdua berjalan menuju sebuah taksi berwarna kuning. Sebelum masuk, aku menatap Revan sekilas di ujung koridor. Sejak kepergian kami, dia tampak sedang menangis dan tak mau pergi. Sementara Diman, dia hanya menatap tanpa pergerakan sama sekali. Kemudian Risma membawaku masuk ke dalam mobil, kami pun mendudukkan badan bersebelahan.


“Mbak, enggak usah dipikirkan untuk masalah tadi. Aku tahu kalau Mbak masih memikirkan ucapan yang keluar bersama kisah masa lalu itu. Aku akan menjaga rapat-rapat masalah ini, dan tidak akan ke mulut orang.”


“Risma, apabila kau ingin membocorkan masa laluku, silakan saja. Karena aku udah enggak peduli lagi dengan hidup ini. Tuhan itu tidak tidur, dia mendengar doa hambanya yang sedang teraniaya.”


Akhirnya ucapan kami berhenti setelah lampu merah, sopir taksi pun membungkam seraya memantau dari spion mobil depan. Hari ini, kota tampak sangat sunyi, tidak ada macet sama sekali. Namun, hatiku merasa sangat penuh dan ingin meluapkan semua amarah itu.


Akan tetapi, setidaknya aku telah puas dengan memaki Revan tadi. Sebisa mungkin aku tetap tenang dan merasa ceria, agar Anissa tidak lebih khawatir di rumah dengan apa yang telah terjadi. Setibanya kami di depan halaman rumah, taksi pun berhenti di tepian trotoar.


“Mbak, kita udah sampai rumah. Yuk, masuk,” ajak Risma.


“Iya, Ris.” Kemudian, Risma pun membantuku untuk mengangkat pundak dan kedua tangan.


“Turun pelan-pelan, Mbak,” kata Risma.


“Ris, jangan gendong saya. Malu dilihat orang-orang, saya bisa berjalan sendiri.”


“Mbak, peduli banget apa kata orang. Aku merasa sangat bersalah padamu, bagaimanapun. Yang membuat celaka Mbak adalah aku,” tukasnya lagi.

__ADS_1


“Enggak ada yang salah, karena udah naasnya aja aku begini.”


Risma pun membayar taksi dan kami memasuki halaman rumah dengan berjalan sedikit limbung. Namun, pintu rumah tidak terkunci dan sebuah mobil berwarna merah terpampang di halaman depan.


Yang membuat aku merasa sangat heran, Anissa tak pernah membawa teman laki-laki di rumah. Apalagi rumah masih dalam keadaan sunyi, karena yang kutahu, kalau Anissa tak mau berteman dikarenakan dia sangat senang menyendiri.


“Mbak, ini mobil siapa? Kok, bagus banget?” tanya Risma bertubi-tubi.


“Mbak juga enggak tau, Ris.”


“Apakah ini mobil milik pacar Mbak Anissa, wah ... mantu orang kaya ini, Mbak.”


“Hus! Anissa enggak mungkin bawa anak laki-laki ke rumah kalau enggak ada Mbak. Barangkali teman perempuan,” ujarku.


Tanpa memperpanjang perdebatan, kami pun sama-sama memastikan dan melintasi mobil mewah berwarna merah itu. Tepat di ambang pintu, tampak Anissa sedang berkata-kata sangat pelan, seakan berbisik.


“Assalammualaikum ...,” sapaku serempak dengan Risma.


“Wa’alaikumsalam ...,” ucap mereka serempak juga.


Kemudian, Anissa membangkitkan badan. Tampak dari kedua netranya, dia seperti hendak menangis dan ekspresinya berubah total. Namun, posisi anak semata wayangku itu masih bergeming tanpa mampu beringsut menemui.


“Sayang, kamu kenapa?” tanyaku.


“Ma-Mama ...!” teriaknya seraya berlari dan memeluk tubuhku sangat erat.


Saking senangnya, kami berpelukan tidak terlepas lama. Bagai orang yang tidak bertemu dalam kurun waktu bertahun-tahun lamanya. Sore ini membuat aku bahagia, bisa menghirup udara rumah dan bertemu dengan putri kesayangan.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2