Pasung Tuan Muda

Pasung Tuan Muda
65. Sahabat Baru Di SMA Tunas Bangsa


__ADS_3

“Hallo, selamat pagi ... apakah kalian anak dari Marissa?” sapa pria misterius itu padaku dan Ziva.


“Iya, selamat siang, Om,” jawab Ziva dengan sangat lembut.


“Kalian kenapa enggak sekolah? Kan, ini waktunya anak SMA belajar?” tanyanya lagi.


“Ka-kami, kami tadi cabut dari sekolah, Om. Karena saya ingin lihat mamanya Anissa di sini,” jawab Ziva terbata-bata.


“Oh, lain kali jangan lakuin ini, ya? Enggak baik bolos dari sekolah.”


Tanpa menjawab kami berdua hanya sekadar mengangguk dan malu. Untuk mengeluarkan kata-kata, aku tidaklah seberani Ziva. Namun, pemuda berkumis tipis itu tak mau beringsut dari hadapan kami, dia pun menjongkokkan badannya seraya menatap kami dengan sangat heran.


“Kalian sudah makan siang?” tanyanya lagi.


“Sudah, Om,” jawabku, lalu aku mengambil ponsel di dalam kantong saku baju.


“Kalian makan apa?”


“Ini, kami telah dibelikan Tante Risma, dia baik banget mau beliin kami makan tadi,” jawab Ziva.


“Bagaimana kalau kalian saya teraktir makan di kantin? Pasti enggak kenyang, kan, makan segini saja,” ajaknya dengan penuh percaya diri.


“Ah, enggak, Om. Kami sudah kenyang, kok, benar enggak Ziv?” tanyaku pada sahabat di samping.


“Ah, iya, udah kenyang. Tapi kalau ditraktir lagi enggak bakal nolak,” jawab Ziva sedikit berbisik.


“Ih, kamu apaan, sih. Kita enggak kenal sama Om ini,” jawabku lirih.


“Kalian jangan takut, saya adalah bos di mana mama kamu bekerja. Masak iya saya sakiti anak dari calon saya.”


Deg!


Mendengar ucapan itu, aku terdiam seribu bahasa. Entah apa yang terlintas dari dalam isi kepalaku. Karena ucapan Om asing itu membuat aku dan Ziva tidak bisa menolaknya, apalagi mencari-cari alasan. Kemudian kami pun mengangguk tanpa menjawab ucapannya, dan Tante Risma pun seakan mengiyakan ucapan pria itu karena tidak melarangnya mengajak kami berdua.


Ketika kami membangkitkan badan, tampak Tante Risma sangat sedih dan tidak mau mengikuti. Dari gelagatnya, seperti terlihat rasa bersalah di wajah dan ekspresi wanita berbandana merah itu. Aku pun merasa sangat kasihan padanya, selepas Ziva membangkitkan badan, aku mencoba menarik tangan kanan Tante Risma.

__ADS_1


“Tan, kamu enggak ikut kita ke kantin?” tanyaku.


“Enggak, kalian pergi duluan saja,” jawabnya seraya menyibak air mata yang keluar sejurus dari lekuk pipinya.


“Tante ... enggak usah disesalkan, semua sudah takdir kalau mama akan ditabrak orang. Kita sama-sama doakan agar dia baik-baik saja, Tan,” jawabku mencoba meyakinkan.


“Saya tahu, tetapi saya merasa sangat bersalah. Jangankan untuk membayar biaya rumah sakit, untuk makan sehari-hari saja saya masih kekurangan.”


Mendengar ucapan itu, aku menadahkan tatapan menuju lantai. Untuk urusan biaya, ekonomi Tante Risma sama denganku saat ini, tidak sedang baik-baik saja. Kini aku berpikir keras perihal ucapan itu, karena lambat laun pasti akan menyapa keuangan kami saat ini.


“Sudah, kalian jangan bingung mikirin bayaran rumah sakit. Biaya sudah saya bayar tadi,” dengan lantangnya, Om asing itu menjawab.


“Om, kamu enggak salah ngomong?” tanyaku memastikan.


“Enggak, udah, kita ke kantin makan siang. Kalian jangan pikirkan tentang biaya perobatan lagi, yang penting kalian jangan cabut dari sekolah dan belajar yang bener, ingat itu.”


“Baik, Om, terima kasih untuk kebaikannya.” Selepas berkata, aku menarik tangan Tante Risma dan kami menuruni anak tangga lantai dua.


Setibanya kami di kantin, kedua bola mataku tercengang setelah mendapati suasana yang begitu mewah di hadirkan rumah sakit. Bagaimana tidak, makanan yang tersedia juga sangat banyak dan bermacam-macam minuman juga ada. Meskipun kantin itu bukanlah hasil kelolaan dari rumah sakit, akan tetapi tetap saja banyak pengunjung dan sangatlah ramai.


“Kalian mau pesan apa?” tanya Om yang mengenakan jas hitam itu.


“Aku ayam goreng, Om,” jawab Ziva dengan sangat lantang.


“Kamu Anissa?”


“Saya ikut Ziva aja, Om.” Selepas berkata, aku menatap tas ransel di pangkuan.


“Anissa, kamu kenapa malu-malu seperti itu, sih? Kata mama aku, kalau orang malu itu enggak bakal kenyang!” seru Ziva.


“Nah, itu benar kata temen kamu, kalau malu-malu enggak bakal kenyang. Ziva, rumah kamu di mana?” tanya Om itu.


“Rumah saya tidak jauh dari sini, tepatnya pemilik perusahaan Athena One Company, Om.” Selepas berkata, Ziva pun mengambil sendok garpu di atas meja.


Mendengar ucapan itu, aku pun menelan ludah karena pernah mendengar seputar perusahaan tersebut. Tak disangka, di balik penampilan Ziva yang sangat biasa saja, dia adalah anak orang kaya paling tersohor di kota ini. Namun, aku tak menyadari itu semua.

__ADS_1


Sementara Om asing di hadapanku juga terdiam seribu bahasa, tampak sedari tadi dia seperti tengah menelan ludahnya.


“Kalian kenapa pada diam, sih?” tanya Ziva mengawali percakapan.


“Ah, enggak, aku lagi nunggu menu aja,” jawabku terbata-bata.


“Ziva, berarti kamu anak Mario? Pemilik perusahaan yang tadi kamu bilang?” tanya Om di hadapan.


Tanpa menjawab, Ziva hanya mengangguk dengan polosnya, kemudian dia tertawa kecil dan memperbaiki bando di atas rambut.


“Menunya lama sekali, aku sudah lapar,” jawabnya.


“Menu telah datang ... ini pesanannya,” sambar pelayan yang menggunakan seragam merah, dia datang secara tiba-tiba.


“Terima kasih, Mbak Wid ...,” jawab Ziva.


“Loh, kamu kenal dengan pelayan di sini?” tanyaku heran.


“Iya, Mbak Wid dulu pernah kerja di rumah aku. He-he-he ....”


“Non Ziva, kenapa bisa sampai di sini? Emang siapa yang sakit?” tanya pelayan itu.


“Aku ke sini nemani Anissa—sahabat aku. Mama dia kecelakaan. Oh, ya, semua makanan di sini aku yang bayar, Mbak Wid,” jawab Ziva.


“Ziv, tapi Om itu yang mau bayarin kita?” tanyaku sedikit lirih.


“Jangan, makanan di sini mahal-mahal, nanti uang Om itu habis.” Selepas menjawab, Ziva mengambil ayam goreng miliknya dan memakan sangat lahap.


Berdasarkan ucapan Ziva tadi, aku memang mengiyakan kalau menu makanan di kantin tersebut sangat mahal. Soal rasa yang di hadirkan juga membuat lidah ingin menambah kembali menu pagi ini, akan tetapi aku tidak begitu suka makanan di luar dari masakan mama. Seenak apa pun menu di tempat lain, bagiku yang juara adalah masakan mama.


Akan tetapi, entah kapan aku akan memakan masakan mama lagi, karena dia masih terbaring lemah di dalam ruangan. Siang ini, Tuhan menghadirkan orang-orang berbaik hati padaku. Karena rezeki, kata-kata untuk penyemangat, serta gaya hidup telah ada yang memberikan pandangan betapa hidup harus dihargai.


Seperti layaknya Ziva, teman yang baru saja aku kenal ternyata anak dari pemilik perusahaan tersohor di kota ini. Rasanya aku minder untuk berteman dengannya, karena tidak sepantas dengan apa yang dia miliki.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2