Pasung Tuan Muda

Pasung Tuan Muda
61. Minuman Yang Memabukkan


__ADS_3

Suara kicauan burung-burung terdengar samar merayap memasuki telinga, serta cahaya mentari juga bersinar menerangi seisi nusantara seakan membakar kulit dan perlahan mengeluarkan seberkas rasa panas tak mau beringsut pergi. Sedikit demi sedikit, deru ombak terdengar dan percikkan airnya mengenai wajahku yang tak bisa membukakan kedua netra secara bersamaan.


Sebuah sentuhan lembut angin pantai membangunkan aku yang pagi ini masih tergeletak di tepian pesisir pantai dengan tidur pulas, akan tetapi rasanya badan seperti remuk redam dan tak mampu untuk bangkit. Bahkan utntuk membuka netra saja, aku tidaklah mampu. Burung-burung bangau putih berjalan ke sana dan ke mari melintasi diri ini yang terbujur kaku bak mayat hidup.


“Pak, bangun, Pak,” ucap seseorang yang tiba-tiba melintas dan ada di samping kanan.


“Ah, aku ada di mana?” tanyaku memastikan.


“Bapak ada di pantai, dan sejak tadi malam Anda tidur di sini,” katanya lagi, akan tetapi aku tidak bisa untuk berdiri tegak.


“Saya tadi malam tidur di istana, kok, bukan di bibir pantai,” jelasku lagi, lalu orang itu menolong aku untuk mendudukkan badan.


“Ayo, Pak, saya bantu. Kita menepi saja, karena hari semakin panas,” ajaknya, dan kami pun berjalan seiringan untuk menuju tepian pantai.


Angin sepoi-sepoi seakan menerpa, serta hewan-hewan kecil lalu lalang di sekitar menambah keyakinan kalau aku memang tidur di pantai ini sejak malam tadi. Namun, yang membuat aku tidak habis pikir adalah, perihal pembicaraan yang terjadi malam itu, semua tampak nyata dan bukan sekadar halusinasi.


Karena penasaran, aku mencoba untuk bertanya pada lawan bicara, seorang lelaki paruh baya yang sekarang mendudukkan badannya di samping. Dengan tatapan datar, dia membuang cengir seraya menarik napas berat.


“Maaf, Pak, saya boleh bertanya sesuatu?” tanyaku penuh selidik.


“Iya, Pak, Anda mau bertanya apa?” jawabnya seraya membuang pertanyaan juga.


“Apakah di pantai ini ada hantunya?” Selepas berkata, kutoleh secara saksama lawan bicara dengan membulatkan mata girang.


Namun, orang di samping membungkam, sebelum akhirnya membuang senyum geli karena ucapanku barusan. Aku hanya sekadar memerhatikan secara saksama, karena rasa yang sangat penasaram itu membawa dir ini memalingkan tatapan menuju mobil sportku di tepian pantai.


“Ngaco kamu, Pak, di sini mana ada hantu,” jawabnya seraya meledek.

__ADS_1


“Oh, begitu, ya, berarti saya hanya berhalusinasi saja,” jawabku, kemudian orang yang menjadi lawan bicara pun pergi meninggalkan aku di bawah pohon sendirian.


Karena suasana pagi semakin berjalannya waktu semakin panas, aku merasa tak tahan dan ingin pergi. Sementara lelaki paruh baya yang menjadi lawan bicara juga telah pergi begitu saja, sehingga aku tak memiliki alasan untuk tetap tinggal di pantai ini sendirian.


Dengan tapakkan gontai, langkah kaki pun hanya sekadar berjalan memasuki mobil di tepian pantai dan beringsut pergi melintasi jalan kota. Butuh waktu sekitar tiga puluh menit, hingga akhirnya sampai di depan sebuah kafe yang ramai akan pengunjung.


Di sana, di samping portal dengan tulisan Andreas Cafe, aku memberhentikan mobil karena tercengang melihat sebuah kejadian yang ramai akan pengunjung. Kamudian aku berjalan keluar dari dalam mobil dan mendekat ke pusat keraiaman, hanya sekadar melihat kenapa orang-orang sangat ricuh di sana.


Kamudian aku menyibak beberapa warga yang tengah datang lebih dulu, mereka menatap mantap dan membentuk sebuah lingkaran.


“Maaf, permisi, ada apa, ya?” tanyaku pada seorang wanita berbandana merah.


“Ini, Pak, da kecelakaan yang terjadi,” jawabnya seraya celingukan tanpa henti.


“Tapi saya enggak melihat ada korban di sini, mana orangnya?” tanyaku lagi.


Selepas berkata, orang yang menjadi korban kecelakaan pun memasuki mobil dan sepertinya aku kenal. Dalam samar, tampak bahwa dia adalah Marissa yang sudah lebam karena peristiwa pagi ini. Sementara di sampinh kanan dan kirinya, tampak sahabat dan lelaki yang bertemu denganku di kafe mewah malam itu.


Mereka pun pergi bersama-sama melintasi jalan di samping taman, aku bergegas mengikuti mereka dari belakang karena hanga sekadar ingin tahu di mana Marissa akan di bawa. Karena pagi ini sangatlah macet, sehingga aku kehilangan jejaknya lumayan jauh. Namun, aku mencoba untuk tetap mencari tahu dan ingin memastikan keadaan Marissa.


Entah kenapa, belakangan hari ini aku merasa sangat khawatir padanya. Meskipun kami telah berpisah, setidaknya aku belum pernah menceraikannya. Rasa sayang yang ada dalam diri ini seakan tumbuh kembali seiring berjalannya waktu, akan tetapi sepertinya tidak dengan Marissa.


Akibat dari rasa benci yang telah mendarah daging itu, membuatnya buta bahwa ada lelaki menyesal di belakang yang ingin bersamanya kembali. Tepat di samping rumah sakit H. Anwar Mangunkusumo, aku berhenti seraya memantau dari kejauhan, tampak lelaki berjas hitam membawa Marissa masuk ke dalam rumah sakit dan berjalan sangat penuh hati-hati.


Tiba-tiba, suara ponselku berdering keras di saku sebelah kiri. Aku mengambil dan menatap notifikasi yang datang dari Olivia—sekretarisku di kantor.


[Hallo, Olivia. Ada apa nelepon saya pagi-pagi?]

__ADS_1


[Hallo, Bos, pagi ini ada rapat penting di kantor. Para petinggi perusahaan akan kita beberapa menit lagi.]


[Oh, oke, saya akan segera ke sana. Kamu urus saja semua yang ingin disapkan, sehingga saya tidak mengurus lagi ketika datang.]


[Baik, Bos, maaf telah mengganggu.]


[Iya, tidak apa-apa.]


Selepas berkata melalui telepon, aku pun putar mobil dan bergerak menuju perusahaan yang ternyata pagi ini ada jadwal rapat. Akibat minuman keras tadi malam, rasanya membuat diri ini hilang kesadaran dan lupa akan pekerjaan. Namun, sebisa mungkin aku akan bersikap tetap tenang, agar segalanya berjalan sesuai keinginan.


Aku tak ingin malu jika selalu salah bicara akibat sisa mabuk malam itu, sehingga semua harus terkendali sebagaimana mestinya. Tak berapa lama, aku sampai di sebuah perusahaan milik pribadi, di mana perusahaan itu telah aku kelola bersama Marissa hampir lima tahun menjelang pernikahan.


Namun, seiring berjalannya waktu aku merasa kehilangan momen indah bersama istri pertama, karena Marissa tidak ada di sana dan bekerja sebagai sekretaris sekaligus istri tercintaku lagi. Waktu seperti cepat berlalu, hingga membuat roda dunia berputar tidak lagi pada porosnya.


Setiap hari, aku hanya bertemankan sepi di kantor ini. Tak seperti dulu, bahkan para karyawan menjuluki aku sebagai pemuda yang cinta pada istri karena sangat lembut dan setia memperlakukan wanita. Namun, sekarang telah berbeda dari apa yang persepsi orang mengatakan.


Tepat di depan perusahaan, aku mendapti para karyawan yang telah hadir di sana lebih awal, membawa berkas dan tertegun menatap pintu perusahaan. Kemudian aku menghampiri mereka.


“Selamat pagi, Bos,” ucap Vanessa.


“Ya, selamat pagi,” jawabku.


“Selamat pagi, Bos,” kata Dimas dan Brama.


“Selamat pagi, kalian kenapa masih di sini?” tanyaku.


Bersambung ..:

__ADS_1


__ADS_2