
Marissa POV
“Aduh ... kepalaku sakit banget, aku ada di mana ini?” ucapku sendiri seraya mencoba untuk membangkitkan posisi badan yang terbujur lemah.
Dengan membuka kedua netra, aku menatap ruangan dengan nuansa serba hijau. Kipas angin serta decak jarum jam, bergerak ke sana dan ke mari. Tepat di suasana yang memecah keheningan malam, aku pun membuka mata seraya celingukan tanpa henti.
Di tangan sebelah kiri, telah ada infus yang tergantung dan menitihkan partikel kecil cairan putih. Sementara orang-orang tidak ada di dalam ruangan yang sedikit temaram. Entah di mana aku berada saat ini, karena heningnya malam ini membuat bisu seluruh isi dunia.
Saking merasa penasarannya aku, selimut yang menutup badan pun dengan mudah aku buang, tapakkan kaki menderat perlahan di atas lantai seraya membawa sekantong infus di sebelah kiri. Ya, tujuan utama adalah ingin keluar dari dalam ruangan tersebut. Namun, ketika kaki hendak melangkah pergi, sebuah sentuhan mendarat lembut di pundak paling belakang.
Secara saksama, aku menoleh ke posisi seratus delapan puluh derajat. Tepat di belakang, seorang wanita tertegun menatap mantap kedua netra ini. Dia adalah Bi Ira, seorang wanita yang aku bilang sangat baik melebihi seorang malaikat di bumi ini. Tatapan dengan penuh deraian air mata dia buang seraya menggetarkan kedua bibirnya.
“Nyah, mau ke mana malam-malam seperti ini?” tanyanya seketika.
“Bi Ira, saya kira siapa,” jawabku dengan nada suara parau.
“Nyah, yuk, tidur lagi. Ini sudah larut malam kalau untuk pergi keluar ruangan,” ujarnya menyuruh aku untuk kembali berbaring.
“Saya bosan, Bi, saya ingin mencari udara segar di luar sana.” Selepas berkata, aku memutar badan seraya menatap kiri.
Tepat pojok ruangan, aku bergeming seraya menatap suasana sunyi di luar ruangan. Yang terdengar hanyalah jangkrik dan hewan-hewan kecil berterbangan ke sana dan ke mari. Namun, dalam posisi tertegun, aku tak merasakan kembali kehadiran Bi Ira. Entah ke mana perginya dia, lalu aku memutar dan menatap wanita yang tadi mengajak aku bercerita.
Akhirnya semua terbayar lunas, karena Bi Ira memang telah tidak ada di belakang sana. Dengan sangat lembut, aku menyentuh kening sembari berpikir keras. Ilusi malam ini membuat jiwa berkhayal terlalu jauh, karena di ruangan ini memang tidak ada siapa pun.
Tak berapa lama, pintu ruangan pun terbuka dan lampu menyala dengan sangat terang. Aku yang tadinya masih bergeming di pinggir meja, menoleh siapa gerangan yang hadir itu.
__ADS_1
“Nyonyah ...,” teriak seorang wanita paruh baya yang sekarang membawa piring dan gelas.
Dengan kencang, Bi Ira berlari menujuku saat ini. Tak disangka, kalau yang aku lihat di awal adalah ilusi semata. Karena baru sekarang Bi Ira hadir dan menatap mataku sangat tajam, sangat berbeda jauh dengan tadi.
“Nyah, ayo, saya bantu untuk tidur kembali,” ucapnya seraya membantuku tidur dan berbaring.
Secara saksama, aku menatap kedua netra lawan bicara. “Bi, kamu dari mana saja? Saya daritadi mencari orang dalam ruangan ini.”
“Ma-maaf, Nyah, saya tadi pergi sebentar keluar untuk membeli makanan.” Selepas berkata, Bi Ira menadahkan tatapan di sebuah piring berisikan roti bakar.
“Apa ini, Bi?” tanyaku pura-pura tidak tahu.
“Ini adalah roti bakar, makanan yang biasa Nyonya makan di rumah ketika nonton televisi.”
Ya, Allah ... masih ada orang yang ingat dengan kesukaanku. Sampai larut malam dia pun rela keluar dengan suasana dingin merayap lubang pori-pori, dengan cara apa lagi aku membalas kebaikannya, batinku berkata.
“Ah, iya, Bi, terima kasih. Oh, ya, kenapa Bibi bisa tahu kalau saya suka dengan roti panggang?” tanyaku penuh selidik.
“Saya sering memerhatikan saja, Nyah, karena setiap malam ketika nonton televisi. Nyonyah, kan, sering beli roti bakar.”
“Wah, Bibi baik banget sama saya. Hmmm ... Bi,” panggilku.
“Iya, Nyah?”
“Saya boleh nanya sesuatu enggak sama Bibi sekarang?”
__ADS_1
Seketika candaan, ucapan pun terhenti. Kami saling tukar tatap karena sama-sama merasa sangat penasaran. Yang membuat aku ingin bertanya adalah perihal kasih sayang, dia adalah wanita dengan tingkat kebaikan luar biasa di dunia ini. Tidak dengan aku saja, tetapi pada Anissa. Bahkan dia rela menjemput anak semata wayangku ketika sekolah dengan basah kuyup hujan-hujanan.
Padahal, Bi Ira bukanlah saudaraku ataupun ada aliran darah yang mengalir di badannya. Akibat hujan deras di kala malam, ketika dia membawa anaknya dan mengetuk pintu rumahku, aku memperlakukannya sudah seperti ibu sendiri. Karena memang, aku tidak lagi punya seorang ibu saat ini.
Wajar saja, ketika melihat seorang wanita seusia ibuku, diri ini terketuk untuk membawanya masuk ke rumah dan memberikan pekerjaan. Bagiku itu hal wajar sesama manusia, akan tetapi dia memiliki kasih sayang yang berbeda pada aku dan Anissa.
Hal seperti ini wajib aku tanya, karena penasaran itu terus menghujani diri ini.
“Nyah, kalau boleh saya jujur. Sebenarnya saya adalah orang yang terlantar di kampung, menuju kota peruntukkan nasib untuk memperbaiki ekonomi. Membawa anak saya ketika itu berusia dua bulan kelahirannya, saya enggak tahu lagi harus pergi ke mana.”
“Terus, Bi?”
“Saya berjalan di sepanjang jalan dan mencari di mana rumah yang masih buka pintu pada jam 24.00 tengah malam. Ketika itu saya melihat rumah Nyonyah masih terbuka.” Bi Ira pun berhenti sejenak, lalu dia kembali melanjutkan, “lalu saya berbelok dan mencoba mengetuk pintu rumah mewah bagai istana itu dengan kaki yang telah penuh darah akibat berjalan sangat jauh.”
“Ya, saya masih ingat itu, Bi. Apakah kasih sayang itu tumbuh begitu saja pada saya? Karena kita bukanlah satu darah,” sambarku.
“Kuta bukan satu darah, tetapi Nyonya adalah orang pertama dari sekian banyak orang di kota itu yang memberikan saya air mineral. Pada saya pamit pergi, Nyonya dan Tuan kala itu menahan saya, dengan alasan sudah malam. Ketika saya ingin pergi, sepertinya suasana masih bisa ditempuh manusia.”
“Lantas, kenapa Bibi memilih bertahan pada keluarga kami waktu itu?”
“Karena saya melihat akan ada kejadian besar yang akan menimpah Nyonya di kehidupan rumah tangga. Ketika saya masuk ke dalam rumah, ada aura yang berbeda ketika Tuan mempersilakan seorang wanita untuk masuk kala itu. Sekarang, semua terjawab segalanya. Bahwa memang ada penyusup yang hendak menghancurkan rumah tangga Nyonya,” jawabnya seraya meneteskan air mataku saat ini.
Mendengar ucapan itu, badai besar seakan memberikan cambukan keras padaku. Entah kenapa, perkataan yang datang dari Bi Ira membuat jiwa ini merasa terbungkam. Ternyata, dia hadir bagai benteng yang tinggi untuk aku melawan ketidak adilan masalah rumah tangga.
Akan tetapi, kenapa hal ini baru aku tahu saat sekarang. Coba saja Bi Ira jujur dari dulu, mungkin takdir dapat aku cegah dengan tidak membiarkan Siska untuk menginap di rumahku yang saat ini telah dia kuasai.
__ADS_1
Sungguh seorang pelakor tak akan mendapat ampunan di dunia, maupun di akhirat.
Bersambung ...