
“Assalammualikum ...,” sapa seseorang yang datang dari luar ruangan.
“Wa’alaikumsallam ...,” jawabku disertai dengan ibu kepala sekolah.
“Silakan masuk, Pak Reza,” titah wanita paruh baya berhijab putih di hadapanku.
“Terima kasih, Bu. Oh, ya, kalau boleh tahu ada apa saya dipanggil?” tanya guru berperawakan tampan dengan pangkas cepak.
“Pak, tolong antar Anissa ke kelas XI IPA,” suruh bu kepsek.
“Oh, baik, Bu. Mari, ikut dengan saya,” ajak Pak Reza yang sedari tadi memerhatikan di samping kanan.
Kami berdua pun pergi dan berjalan seiringan, untuk menuju kelas tersebut membutuhkan waktu beberapa menit, karena kami telah melewati lantai dua gedung sekolah. Sedari tadi Pak Reza hanya sekadar menatap kecil, akan tetapi enggan untuk berkata.
Karena dia tidak mau berkata, aku yang memulai lebih dulu. “Bapak guru di sini?”
“Iya, kamu siswi baru, ya?” tanyanya sangat canggung.
“Saya siswi baru, Pak,” jawabku.
“Pindahan dari sekolah mana?” tanyanya. “Seperti pernah lihat.”
“Saya pindahan dari SMA Gemilang, Pak. Oh, ya, saya juga seperti enggak asing lihat Bapak.” Kemudian, kami berhenti sesaat, sementara tatapan masih sama-sama tertuju tanpa berpaling.
Tak berapa lama, kami pun kembali berjalan dan memasuki ruangan. Terdengar samar, suara-suara siswa dan siswi yang sangat kacau tercipta dari ruang kelas. Namun, seketika terhenti ketika kami berada di ambang pintu.
Karena merasa sangat canggung, aku pun hanya mengikuti Pak Reza dari belakang. Kemudian dia mendudukkan badan dia atas kursi, seraya menatap ke arahku yang masih merasa sangat takut. Untuk berkata, rasanya mulut enggan terbuka. Padahal, sedari tadi nyaliku sudah cukup baik mengobrol pada pak guru.
Melihat gelagatku yang masih sangat takut, Pak Reza membangkitkan badan seraya berdiri di samping kanan. Aku pun menatapnya sebentar karena dia membuang senyum simpul pada seisi ruang kelas.
“Anak-anak, kita kedatangan siswi baru. Ayo, silakan perkenalkan nama kamu,” suruh Pak Reza mempersilakan.
“Assalammualaikum ...,” sapaku.
“Wa’alaikumsallam ...,” respons seisi ruangan.
“Perkenalkan nama saya Anissa Almahera, panggil saja Anissa. Saya adalah siswi pindahan dari SMA Gemilang, semoga kalian bisa berteman baik dengan saya. Terima kasih, assalammualikum ....”
“Wa’alaikumsallam ....”
Setelah semua merespons dengan baik, Pak Reza kembali mendudukan badan seraya mempersilakan aku untuk duduk di bangku paling belakang. Namun, ketika aku melangkah satu tapakkan, seorang siswi yang duduk di depan menghentikan aksiku sejenak.
__ADS_1
“Eh, sepertinya aku pernah melihat kamu, deh,” ucapnya secara spontan.
“Ziva, kamu pernah lihat dia di mana? Kan, dia anak baru,” jawab teman sebangkunya sedikit berbisik.
Sementara aku pun menatap wanita cantik tak berhijab itu secara saksama. Ya, akhirnya momen beberapa bulan lalu terputar kembali.
“Iya, aku seperti pernah melihatmu,” jawabku.
“Ziva, kalian kalau mau kenalan nanti saja ketika istirahat,” sambar Pak Reza secara spontan.
“Bentar, Pak, kalau enggak salah kamu yang pernah juara satu olimpiade Matematika, kan, tahun ini?” tanyanya.
“I-iya, saya yang pernah menang, melawan sekolah ini.” Setelah menjawab, Pak Reza membangkitkan badannya dari atas kursi.
“Anissa,” panggilnya.
“Iya, Pak?” tanyaku.
“Coba kamu ke sini, soalnya saya mau bertanya sedikit.” Lalu, aku mengikuti ajakan Pak Reza dan berdiri kembali di depan kelas.
Untuk memulai kata-kata, aku tak mampu. Karena di sekolah baru ini, aku tidak ingin menyombongkan diri. Terlebih karena aku sudah berjanji untuk bersikap biasa saja agar banyak teman.
“Nissa, aku adalah Ziva. Lawan kamu yang ketika itu olimpiade, kamu lupa? Kan, kita pernah tukar gelang di koridor,” sambarnya.
“Wah, ternyata kita kedatangan senior dari SMA yang tidak pernah bisa kita kalahkan dalam lomba. Beruntung sekali kita kedatangam Anissa,” puji Pak Reza.
“Pak, jangan berlebihan, saya jadi malu.” Selepas berkata, aku menadahkan kepala menuju lantai.
“Nissa, prestasi itu patut dibanggakan, bukan berlebihan. Oke, kamu boleh duduk sekarang.” Pak Reza mempersilakan aku untuk menduduki bangku paling belakang.
Tepat di depan penglihatan, Ziva tampak sedang memberikan kode. Namun, aku hanya sekadar menatap materi yang telah ditulis oleh pak guru di papan tulis. Pagi ini sangat membuat aku merasa sangat nyaman, karena di sekolah ini aku merasakan betapa diri ini diterima sangat baik.
Meskipun di sekolah lama aku juga merasa sangat nyaman, tetapi baru kali ini rasanya aku merasa sangat betah. Untuk ke depannya, semua aku serahkan pada Tuhan. Semoga segala sesuatu yang kuinginkan dapat tercapai melalui sekolah ini untuk kuliah di luar negeri.
Tak berapa lama, bel pun berbunyi. Para siswa dan siswi menghambur keluar ruangan. Karena aku tidak memiliki teman di sekolah baru, aku pun berjalan gontai dan mendudukkan badan di atas kursi besi berwarna biru. Sebagai rutinitas setiap pagi, buku diary selalu ada dalam genggaman, menulis dan menceritakan keluh dan kesah.
Embusan angin seperti kehadiran seseorang mulai terasa. Ya, dia adalah seorang lelaki tampan yang tengah tertegun menatap. Mengenakan baju seragam pramuka seraya membuang senyum simpul.
“Pak Reza,” ucapku.
“Boleh saya duduk?” tanyanya.
__ADS_1
“Boleh, Pak, silakan saja.” Selepas aku menjawab, pak guru pun mendudukkan badannya di samping kanan.
Tanpa memedulikan pak guru, aku sekadar menatap buku diary dan menulis tanpa henti. Hingga suatu ketika, dia menyodorkan air mineral padaku.
“Apakah kamu haus?” tanyanya.
“Eh, Pak, ini buat siapa?” jawabku seraya membuang pertanyaan.
“Emang di sini ada siapa saja?” katanya.
Aku hanya sekadar menggelengkan kepala dua kali, karena memang di lokasi saat ini hanya ada aku dan Pak Reza saja. Awalnya ingin menolak pemberian itu, akan tetapi pesan dari mama, jangan pernah membuat orang lain merasa sakit hati jika memberikan sesuatu yang halal.
“Terima kasih, Pak,” jawabku.
“Oh, ya, kenapa kamu begitu tertarik masuk ke sekolah ini?” tanyanya.
“Karena apa, ya, Pak. Saya sebenarnya ingin berlari dari masa lalu.”
“Masa lalu bersama seseorang?”
“Iya, Pak, mungkin dengan begitu saya bisa terbebas.”
“Apakah dengan kamu berlari dari masalah, semua itu akan terselesaikan?” tanyanya, kemudian aku menoleh sebentar, dia pun mengernyitkan alisnya.
“Saya tidak yakin, Pak, tetapi apa salahnya mencoba.”
“Kamu telah mengambil keputusan yang tepat.”
“Maksud Bapak?” tanyaku penuh selidik.
“Ya ... menurut saya kamu sudah tepat pindah ke sekolah ini. Selain sama-sama banyak menorehkan prestasi, kamu dapat bertemu dengan guru setampan saya.” Selesai berkata, Pak Reza menutup mulutnya secara tiba-tiba.
Tepat di bangku berwarna biru, aku sekadar membuang tatapan karena merasa sangat aneh. Kejadian pagi ini adalah pertama kali aku alami, karena merasa sangat dekat dengan seorang guru yang baru bertemu satu kali.
Tiba-tiba, bel masuk kelas pun berbunyi. Dengan sigap, aku menbangkitkan badan dan ingin memasuki ruangan.
“Pak, saya permisi dulu,” ucapku.
“Iya, Nissa, silakan.”
“Assalammualikum, Pak.”
__ADS_1
“Wa’alaikumsallam ... anggun sekali siswi itu, selain cantik dia juga sangat sopan.” Terdengar samar pujian dari Pak Reza.
Bersambung ...