Pasung Tuan Muda

Pasung Tuan Muda
37. Siapa Om Revan Sebenarnya


__ADS_3

Anissa POV


“Nissa, mama mau pergi sebentar,” kata wanita berbandana kuning itu.


“Mama mau pergi ke mana, Ma?” tanyaku penuh selidik.


Dengan menghela napas berat, tampak dari ekspresi wajah sang mama hanya sekadar memerhatikan. Namun, aku tak mau bertanya terlalu panjang kali lebar padanya. Sejak kejadian malam itu, dia tampak sangat emosi hingga pagi ini.


“Cuma sebentar, kamu jaga rumah. Kalau ada orang yang datang, bilang saja mama enggak ada.”


“Oke, Ma,” jawabku seraya menganggukkan kepala.


Mama pun mencium keningku dengan sangat penuh kasih sayang, karena dia tahu kalau keadaanku sekarang tidaklah baik-baik saja. Tetapi sekarang jiwa ini merasa sangat lega, karena bisa membantu Reval yang terbaring di rumah sakit untuk mendonorkan ginjal.


Walaupun terkadang, keputusanku sangatlah konyol. Namun, di sisi lain, aku tak bisa melihat dia sakit terus-terusan. Apalagi sampai meninggal dunia dengan cara yang tidak wajar.


“Mama pamit, assalammualaikum ...,” sapa mama lagi.


“Wa’alaikumsallam ...,” jawabku.


Tepat di atas dipan tanpa seorang pun menemani, aku menghabiskan waktu hanya sekadar memainkan ponsel. Dalam hati, rasanya ingin membuka momen indah bersama Reval ketika kami pergi ke sebuah tempat, yaitu puncak. Destinasi di sana memanjakan penglihatan, bagaimana tidak, hingga sampai saat ini aku masih merasa dilema dengan perasaan.


Rumor-rumor yang pernah terdengar, kalau Reval adalah saudara kandungku. Kami satu ayah, dan dia lahir lebih tua dariku beberapa hari. Namun, tes DNA di rumah sakit belum memberikan kepastian jelas perihal itu. Sehingga kini, perasaan konyol ini tumbuh dan besar seiring berjalannya waktu.


Mama pun sepertinya melarang aku untuk dekat-dekat dengan Reval. Entah apa maksudnya dia. Akan tetapi, sebisa mungkin aku harus nurut padanya agar dia tidak marah lagi padaku.


Seketika rasa haus menyergap, sementara untuk berjalan dan mengambil air mineral rasanya sangat susah. Kini, di dalam ruangan sepetak berukuran 6 X 6, aku hanya mampu menatap langit-langit dengan berharap penuh ada seseorang yang datang untuk menjeguk.


Tak berapa lama, sebuah ketukkan pintu pun terdengar dari luar rumah sewa. Namun, aku tak mampu untuk membukanya. Sesekali bunyi tersebut hening, tetapi terdengar lagi hingga membuatku ingin membukanya.


Oh, iya, kata mama kalau ada orang yang datang bertamu. Jangan pernah buka pintu siapa pun itu. Baiklah, aku harus di kamar saja dan tidak membiasakan diri untuk melanggar nasihatnya, batinku bersenandika.


Tidak sampai di situ saja, hilangnya ketukan pintu, malah memboyong sebuah tapakkan kaki seseorang yang datang bersamaan. Hentakan demi hentakkan terdengar pasih di telingaku. Entah siapa orang tersebut, yang pasti desas-desus itu bergerak sejurus ke tempat di mana aku terbaring lemah.

__ADS_1


“Assalammualaikum ...,” sapa orang tersebut.


“Wa’alaikumsallam ...,” jawabku.


Tepat di samping kiri, pemuda tampan berkulit sawo matang tengah mendudukkan diri. Mengenakan jas berwarna hitam, serta jam tangan keren berwarna abu-abu. Dia adalah Om Revan.


“Nissa, kau baik-baik aja?” tanyanya seraya membuang ekspresi sangat khawatir.


“Eh, Om, sejak kapan ada di sini?” Aku malah balik nanya padanya.


“Hmmm ... belum lama, karena enggak ada yang membuka pintu, jadi ayah masuk saja.”


Mendengar pernyataan itu, mulutku terbungkam. Lelaki berkumis tipis itu selalu mengatakan bahwa dia adalah ayahku. Namun, hingga saat ini ironi tak pernah berpihak dan menjelaskan sangat akurat bahwa dia adalah benar ayahku.


“Maaf, Om, ta-tadi bilang seputar ayah? Emang siapa yang ayah Nissa?” tanyaku penuh selidik.


“Ah, sorry-sorry kalau saya terlalu lancang. Mungkin saya hanya teringat dengan Reval saja di rumah sakit. Bagaimana dengan keadaanmu, Nissa?” tanyanya.


“Dia juga sudah mulai baikan, dan itu berkat kamu.”


“Bukan berkat saya, Om, tetapi berkat Allah yang memberikan kesehatan untuk hambanya. Saya cuma perantara saja,” jelasku panjang kali lebar.


Mendengar ucapan itu, tampak dari wajah lelaki berjas hitam itu seperti tengah berkaca-kaca. Entah apa yang dia rasakan saat ini. Namun, aku tak terlalu ambil pusing karena pesan mama. Wanita yang selalu membuat aku tegar selalu berkata: bahwa wanita sekalipun, tidak usah merasa lemah di depan laki-laki.


“Nissa, ini ada hadiah sedikit buat kamu.” Lelaki beranak satu itu menyodorkan amplop berwarna kuning padaku.


Dengan tatapan heran, aku menatap amplop tersebut dan membolak-balikkan beberapa kali. “Ini apa, Om?”


“Hanya sekadar uang jajan untukmu,” sambarnya.


“Enggak, Nissa enggak mau menerima apa pun dari Om,” tolakku mentah-mentah.


“Anggap aja ini sebagai rasa terima kasih saya, bukan untuk yang lain,” jawabnya melas.

__ADS_1


“Tetapi tetap saja, Om, Nissa enggak bisa ambil uang ini.”


Sesaat dia terdiam. Pandangannya pun kabur dengan menatap wajahku. Rasa bersalah mulai tumbuh dari dalam hati kecilku. Sebagai seorang manusia biasa, naif rasanya untuk tidak menerima pemberian orang lain. Namun, di sisi lain, mama tidak pernah memperbolehkan untukku menerima apa pun dari Om Revan.


“Baiklah, Om, hadiah ini saya terima. Letakkan saja di atas nakas,” kataku seraya menarik napas berat.


Ternyata, lelaki berwajah tampan itu mengikuti kata-kata dariku. Dia pun menghapus sedikit air matanya yang bergerak sejurus membasahi lekuk pipi. Ternyata, Om Revan bisa juga menangis.


Yang membuat aku sangat heran adalah, mengapa dia melakukan itu di hadapanku. Apa istimewanya diri ini hingga seorang pemuda kaya raya mau berbuat hal tak wajar—laki-laki.


“Om,” panggilku lirih.


“Iya, Nak,” jawabnya.


Nak? Kenapa Om Revan manggil aku dengan ucapan Nak lagi, ya? Sumpah, deh, aku semakin bingung dengan kisah hidup ini.


Tanpa memedulikan ucapannya, aku sekadar menoleh sedikit. “Bisa ambilkan Nissa minum, Om?”


“Oh, bisa-bisa. Sebentar, biar om ambilkan,” katanya, kemudian dia melangkah pergi dari ruang kamar.


Menunggu beberapa menit hingga akhirnya lelaki berbadan maskulin itu datang kembali, aku sibuk membuka ponsel seraya menatap potret dalam galeri bersama Reval. Kenangan ketika kami sama-sama konyol berawal dari musuh, sekarang dekat tanpa sekat.


“Ini minumnya,” kata Om Revan.


“Terima kasih, Om.” Menggunakan tangan kanan, aku meraih sodorannya.


Karena aku masih sedikit lemah, akhirnya dia membantu untuk diri ini mendudukkan badan di atas dipan. Tak disangka, ada getaran aneh yang tercipta dari sentuhan tangan lelaki berjas hitam itu. Namun, hingga saat ini, aku masih bertanya-tanya siapa Om Revan sebenarnya.


Setelah meminum air mineral, aku meletakkan ponsel di atas meja. Tepatnya di samping nakas. Kemudian Om Revan mengambil ponselku dan menatap mantap wallpaper yang terdapat di layar utama.


Aku merasakan keanehan, karena netranya tak mau beringsut memandang. Entah apa yang dia lakukan pada ponsel murahan milikku itu, sedari tadi seperti ingin memakan benda komunikasi tersebut.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2