Pasung Tuan Muda

Pasung Tuan Muda
25. Jangan Menilai Orang Dari Penampilan


__ADS_3

Refal POV


"Nis, lu enggak apa-apa?" tanyaku, seraya membuka kotak P3K yang berisikan obat-obatan.


"Gue ... enggak apa-apa, kok." Setelah membalas ucapan, Anissa kembali menyentuh keningnya dengan tangan kanan.


Setelah kotak P3K berisikan obat-obatan terbuka, aku mengambil kapas putih dan menyiram beberapa tetes obat biru. Dengan perlahan, aku membasahi luka goresan di kening cewek cantik yang saat ini ada di hadapan. Sedari tadi, ia hanya mendahkan kepala seperti tengah berpikir keras.


Aku meletakkan kapas putih di keningnya, lalu ia merings kesakitan. "Auch ... Fal, pelan-pelan dong."


"Yey! Ini juga udah pelan. Tadi, lu berani baku hantam sama Misel. Tiba diobati malah kesakitan. Ach ... kesatria seperti apa lu."


Anissa pun memukul keningku. "Kesatria kepala lu. Namanya juga cewek, wajar aja dong, kalau gue enggak tahan rasa sakit."


"Ngeles mulu dari tadi. Mau diobati enggak, nih?" tukasku, lalu tubuh berubah posisi menghadap samping.


Dari arah berlawanan, ia memekik. "Terserah lu aja. Ya, udah, kalau lu enggak ikhlas keluar aja."


Setelah berkata, ia merebut kotak P3K yang berisikan obat-obatan dari tangan kiriku. "Eh-eh, lu mau ngapain? Jangan bunuh diri di sini."


"Bunuh diri kepala lu, gue mau ngobati luka gue sendiri," pekiknya, lalu ia membuka kotak P3K dan memandang dengan bola mata ke sana ke mari.


Dari hadapannya, aku meringis geli. "Hayo, loh, ngapa nengoknya gitu banget? Pasti bingung, 'kan, mau pakai obat apa. Makanya, kalau dikasih tahu sama cowok ganteng jangan suka ngebantah."


Setelah berkata, aku mengambil kotak berisikan obat-obatan dari tangan cewek keras kepala itu. "Sini, biar gue yang ngobati." Selang beberapa menit, aku kembali meletakkan kapas dengan cairan obat biru di keningnya.


Seketika kedua bola mata gagal fokus dengan tatapan yang Anissa lempar saat ini, ia juga memandang wajahku tanpa berkedip. Jantung pun berdetak sangat kencang, tak mampu untuk memalingkan penglihatan pada sosok siluet cewek cantik di hadapan.


Astaga ... Anissa cantik banget hari ini, jantung gue berdetak sangat kencang. Apakah ini yang namanya cinta? Tapi ... secepat itu gue merasa nyaman padanya, batinku.


Hampir tiga menit tanpa jeda untuk saling tukar tatap, akhirnya lamunan buyar ketika cewek di hadapan membuang tatapan.


"Fal, lu ngapain ngelihatnya gitu banget." Dengan menggunakan dua tangan, Anissa menepis pundakku dan membuat posisi duduk menjadi menyandar di kursi.


Aku pun mengaruk kepala dua kali. "Eh, maaf. Gue ... gue ...."


"Gue apa? Mau cari kesempatan dalam kesempitan, 'kan, lu?" cibirnya, lalu ia memakai jilbabnya.


Penglihatan masih sama dengan tadi, menatap mantap lawan bicara dan tak mampu untuk berpaling. Sungguh wanita ciptaan Tuhan kali ini mampu menggoyahkan jiwa dan ragaku. Kecantikan yang menempel di wajah Anissa berbeda, tak seperti wanita yang aku kenal selama ini.


"Nis, gue mau ngomong sama lu." Aku mengubah posisi menjadi menghadap lawan bicara. Anissa pun hanya mendelik beberapa kali, selepas itu ia membuang tatapan.


"Ngomong apa?" tanyanya singkat.


"Lu kenapa, sih, pakai acara baku hantam sama Misel. Pasti kalian lagi memperebutkan gue, 'kan?" Dengan penuh percaya diri, aku memungkas pembicaraan. Optimis dalam hati, kalau Nissa tengah memperjuangkan aku di depan cewek yang memiliki geng paling ditakuti di sekolah.


Dari ujung penglihatan, Anissa membulatkan mata jijik. "Ih, percaya diri banget lu."


"Lantas?"


"Gue cuma enggak rela kalau ada satu orang pun yang menghina nyokap gue! Apalagi mengatakan kalau nyokap gue gila," titah Nissa, lalu ia menadakan kepala menuju lantai.


"Tapi, Nis ... lu bisa celaka kalau melawan mereka. Lu sendirian sedangkan mereka bertujuh."


"Fal! Gue enggak peduli. Gue cuma ingin memperjuangkan nyokap gue apa pun yang terjadi, karena apa? Ia adalah wanita tangguh yang selama ini merawat gue tanpa seorang ayah."


"Emang ke mana, sih, ayah lu? Sampai ia tega menelantarkan anaknya dan istrinya," pekikku seraya menaikkan nada suara.


"Entar lu tahu siapa ayah gue, Fal," jawabnya, lalu Nissa pun berdiri dan pergi begitu saja.

__ADS_1


Dari atas kursi, aku kembali membayangkan apa yang ia katakan. Pertanyaan tanpa jawaban datang secara bertubi-tubi dari dalam kepalaku saat ini.


Gue cuma enggak rela kalau ada satu orang pun yang menghina nyokap gue! Apalagi mengatakan kalau nyokap gue gila.


Tapi, Nis ... lu bisa celaka kalau melawan mereka. Lu sendirian sedangkan mereka bertujuh.


Fal! Gue enggak peduli. Gue cuma pengen memperjuangkan nyokap gue apa pun yang terjadi, karena apa? Ia adalah wanita tangguh yang selama ini merawat gue tanpa seorang ayah.


Emang ke mana, sih, ayah lu? Sampai ia tega menelantarkan anaknya dan istrinya.


Perasaan bersalah tumbuh dengan sendirinya dari dalam isi kepalaku. Dengan langkah lebar, kedua kaki membawa diri untuk memasuki ruang kelas. Setelah sampai di bangku paling belakang, rupanya kursi Anissa telah kosong.


'Loh, Nissa ke mana? Kok, enggak ada di kelas? Apa ia lagi ke toilet,' batinku berkata.


Karena di depan banku hanya ada—Loli—sahabatnya, akhirnya aku memutuskan untuk bertanya.


"Lol," panggilku sambil menyentuh pundak lawan bicara dari arah belakang.


Cewek berambut kepang dua itu menoleh ke arahku. "Ada apa cowok ganteng ...?" katanya, dengan ekspresi semringah.


"Anissa kenapa, ya? Kok, dari tadi enggak ada di dalam kelas?" kutanya, kemudian kembali tatapan menuju cewek berambut kepang dua itu.


Loli pun menggeleng dua kali. "Mungkin ia permisi pulang kali, Fal. Soalnya, tas miliknya juga enggak ada, tuh!" Ia menunjuk posisi meja yang sudah kosong tanpa ada satu benda pun yang tersisa.


Dengan langkah lebar, aku berlari meninggalkan ruang kelas. Sementara tas ransel, sengaja aku letakkan di dalam laci meja belajar. Setelah sampai di depan parkiran, aku membawa mobil dan bergegas keluar dari akses satu-satunya untuk para siswa pulang ke rumah.


Mengendarai mobil dengan tingkat volume lambat, aku membuka jendela kaca dan menoleh ke arah kanan dan kiri. Nissa ... lu lagi di mana, sih? Kenapa lu lakuin ini sama gue? Lu enggak tahu apa, kalau gue suka sama lu, batinku.


Beberapa menit mencari di pinggir jalan aspal, seseorang melintas secara tiba-tiba dari depan mobilku. Seketika rem pun kuinjak.


"Tidak ...," teriak seseorang yang berada di depan mobil.


Membuka pintu sebelah kanan, aku bergegas berlari menemui siluet seseorang yang menyebrangi jalan tanpa menoleh kanan dan kiri. Dari balik pintu, rupanya orang itu adalah wanita berjilbab sedang jongkok sambil menekan wajahnya. Mungkin ia takut tertabrak.


"Mbak, kamu enggak apa-apa?" ucapku dengan nada suara sangat gemetar.


Lalu, lawan bicara menoleh dan mendongakkan kepalanya.


"Astaga! Nissa? Lu, kok, bisa sampai sini?"


"Fal, lu sengaja mau nabrak gue?" tanyanya.


Dari arah depan, aku menelan ludah dan menarik napas panjang. "Nis, gue enggak lihat kalau lu tiba-tiba nyebrang. Lagian, lu juga salah, sih. Seperti enggak punya aturan kalau mau melintas," omelku.


"Lu, ya, udah mau nabrak gue malah nyalahin lagi. Resek banget tau enggak." Anissa pun memukul seragamku dengan menatap jijik.


"Sorry ... gue enggak sengaja. Ya, udah, lu bangkit gih, biar gue antar ke rumah lu," ajakku seraya menarik tangan kanan lawan bicara.


Setelah berdiri, Nissa tidak berkata sedikit pun. Ia malah menatap wajahku sangat emosi. "Fal, gue enggak mau pulang sama lu. Karena lu cowok jahat, ngeselin."


"Nissa! Gue salah apa sama lu? Sampai-sampai lu jijik banget sama gue." Setelah berkata, aku menyentuh pipi lawan bicara perlahan.


Kemudian, Anissa menepis tangaku. "Jangan sentuh gue!"


Cewek berjilbab putih itu pun membuang tatapan, ia bergegas melintasi jalan raya dan menyebrang tanpa menghiraukan kendaraan yang lalu lalang. Karena merasa sangat bersalah, aku mengejarnya dan menghentikan beberapa mobil di tengah aspal.


"Permisi! Permisi! Permisi!"


"Woi! Anak muda, kalau nyebrang pakai otak lu!" bentak seseorang yang ada di dalam mobilnya.

__ADS_1


Tanpa menghiraukan mereka, aku tetap mengejar Anissa. Cewek itu pun berhenti di salah satu kedai kopi. Ia menatap satu gelas kopi dan memainkan ponselnya. Tanpa permisi, aku duduk tepat di kursi paling depan. Posisi masih saling tukar tatap.


"Nissa ...," panggilku sangat lembut.


Tanpa basa-basi, lawan bicara mencetuskan ucapannya dengan nada ngegas. "Fal! Lu ngapain, sih, ngikuti gue mulu?"


"Nissa! Gue cuma ...."


"Cuma apa? Cuma mau membuat gue muak tiap hari lu ikuti, iya?" pekiknya.


"Gue cuma mau lu jadi pacar gue! Karena gue suka sama lu, paham!" Secara spontan, ungkapan isi hati terucap hari ini.


Cewek di hadapan hanya mendelik tanpa berkedip. Tampak jelas bahwa Anissa tengah kehabisan kata-kata. Akhirnya, lawan bicara membungkam dan seketika salah tingkah.


"Ah, u, hmmm ...."


"Hayo, mau ngomong apa lu?" sambarku.


"Lu pasti lagi bercanda, 'kan?"


"Enggak, Nis. Gue serius suka sama lu, dan gue berharap kalau lu bisa terima gue."


Lawan bicara memekik tanpa mau menjawab, ia pun kembali meneguk kopi hangat yang ada di hadapannya. Dengan mengubah posisi duduk, aku mendekat sedikit demi sedikit. Pembicaraan pun terasa nyaman setelah beberapa menit pengungkapan. Perasaan menjadi legah dan suasana hati juga sangat nyaman.


Inikah yang namanya cinta? Meski aku belum tahu jawaban pasti Anissa, setidaknya aku sudah berkata jujur dan enggak selalu main kucing-kucingan dengan perasaan, batinku.


Meneguk dua gelas kopi secara bersamaan, kami saling bercanda dan kedekatan itu mulai terasa. Sekarang, tinggal waktu yang akan menentukan kapan hubungan itu menjadi kenyataan. Harapan dalam hati adalah, aku bisa memiliki Anissa dan memperkenalkannya pada kedua orang tuaku.


"Nis, gue boleh nanya sama lu?"


"Boleh, mau tanya apa, Fal?"


"Lu udah punya cowok belum di sekolah?"


"Belum. Tetapi, gue lagi dekat sama seseorang. Meski gue belum jawab apa yang tengah orang itu utarakan."


"Siapa?" timpalku singkat.


"Brama."


"Apa? Pria bajing*n itu suka sama lu?" Aku pun menekan nada suara.


Nissa tampak memekik gelisah akan ucapanku barusan.


"Gue enggak peduli cowok itu bajing*n atau enggak. Lu bisa ngomong gitu karena ia bertato? Ingat, ya, Fal. Orang bertato belum tentu bajing*n. Banyak, kok, pemuda baik-baik dan memiliki wajah lembut berhati iblis."


"Mak-sudnya ...."


"Salah satunya nyokap lu, Fal," jelasnya, lalu aku menarik napas panjang dan menadahkan kepala.


"Nis, jadi lu udah tahu kalau nyokap gue adalah orang yang—"


"Fal, penampilan tidak menjadi ukuran. Tetapi hati, karena pelac*r pun bisa menikmati surga hanya karena membantu anji*g yang sedang kehausan di padang pasir."


Hadist, yang menerangkan riwayat wanita pezina yang mendapatkan ampunan dari Allah. Dan riwayat itu diceritakan Rasullullah SAW.


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ غُفِرَ لِامْرَأَةٍ مُومِسَةٍ مَرَّتْ بِكَلْبٍ عَلَى رَأْسِ رَكِيٍّ يَلْهَثُ قَالَ كَادَ يَقْتُلُهُ الْعَطَشُ فَنَزَعَتْ خُفَّهَا فَأَوْثَقَتْهُ بِخِمَارِهَا فَنَزَعَتْ لَهُ مِنْ الْمَاءِ فَغُفِرَ لَهَا بِذَلِكَ

__ADS_1


Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dari Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Seorang wanita pezina telah mendapatkan ampunan. Dia melewati seekor anji*g yang menjulurkan lidahnya dipinggir sumur. Anji*g ini hampir saja mati kehausan, (melihat ini) si wanita pelac*r itu melepas sepatunya lalu mengikatnya dengan penutup kepalanya lalu dia mengambilkan air untuk anji*g tersebut. Dengan sebab perbuatannya itu dia mendapatkan ampunan dari Allâh Azza wa Jalla.


Bersambung ...


__ADS_2