Pasung Tuan Muda

Pasung Tuan Muda
15. Jalan Kebenaran Yang Ternodai


__ADS_3

Bunyi ponsel berdering sangat keras beberapa kali, dari layar ponsel terlihat bahwa panggilan itu datang dari—Bram—mantan kekasihku beberapa bulan yang lalu. Batin pun berkata, 'brengsek! Ngapain, sih, Bram pakai acara nelphone segala. Ia enggak tahu kali, ya, kalau gue lagi sama Revan.'


Dari arah depan, pemuda berkumis tipis itu mengernyitkan kedua alis. Ia menyentuh ponsel milikku yang berdering sedari tadi tanpa jeda. Kemudian, aku merampas begitu saja.


Menggunakan jari tangan kiri, aku mematikan ponsel dan kembali meletakkan di atas meja. Revan pun seperti tengah memikirkan sesuatu, akan tetapi ia tak mau berkata. Beberap menit menarik napas panjang, akhirnya calon suami angkat bicara.


"Sayang, kenapa enggak diangkat telphone-nya?" tanyanya, kemudian ia menyentuh tangan kananku.


Aku pun sedikit mendesah, seraya mengalihkan topik pembicaraan. "Ah ... enggak. Ini Sinta yang menelepon, ia enggak tahu kali kalau kita lagi dinner malam ini."


"Ya, udah, anggkat aja. Lagian saya enggak merasa terganggu, kok."


Selesai berbicara, ponsel kembali berdering.


"Mas, saya permisi ke belakang dulu, ya, mau angkat telphone ini."


"Oke," responsnya singkat.


Tanpa basa-basi, aku langsung bergegas menuju arah belakang resto. Dengan jari tangan kiri, aku mengangkat panggilan dari Bram.


[Hallo ....]


[Hallo, Mama cantik.]


[Mama cantik kepala lu.]


[Wes, jangan galak-galak ngomongnya ...?!]


[Bram! Lu mau apa lagi nelphone gue?]


[Gue cuma mau sepuluh juta rupiah.]


[Gila lu, Bram. Ada hak apa lu minta uang sama gue, ikatan juga enggak ada.]


[Kalau lu mau acara pernikahan lu baik-baik aja, buruan transfer uangnya. Kalau enggak—]


[Kalau enggak. Apa, Bram? Lu mau lapor polisi, silahkan!]


[Gue bukan orang yang sebodoh lu pikirkan, Siska. Gue akan bongkar kebusukan lu kalau anak yang sekarang lu kandung adalah anak gue, bukan benih dari Revan. Bagaimana ...?]


[Brengsek lu, Bram.]


[Jadi bagaimana? Masih mau melawan atau tidak?]


[Oke, gue akan transfer uang itu. Kalau sampai lu buka mulut soal anak ini, gue akan melaporkan lu karena lu udah lari dari tanggung jawab.]


[Gue tunggu satu jam dari sekarang.]


Tut-tut-tut!

__ADS_1


Seketika ponsel mati, bembicaraan terputus dengan sendirinya. Aku pun menoleh kanan dan kiri seraya memantau keadaan. Ruangan sangat sunyi tanpa ada suara sedikit pun.


"Pembicaraan gue aman. Brengsek banget Bram. Mau meras gue ternyata ia."


Dengan langkah lebar, aku pun kembali menuju tempat semula. Di sana masih ada Revan yang setia menunggu, kedua tangan membereskan rambut yang sempat acak-acakan. Membanting tubuh di kursi paling depan, kutatap arloji di tangan kiri. Waktu bergulir sangat cepat, sekarang sudah pukul 23.00 malam.


"Mas, kita enggak pulang? Udah larut malam soalnya, enggak enak dilihatin tetangga," ucapku seraya menatap mantap lawan bicara.


Pemuda berkumis tipis itu membalas tatapan, ia merogoh sesuatu dari dalam kontong celananya. "Oke, kalau gitu kita pulang sekarang."


Tanpa membalas kata, aku mengangguk dua kali untuk mengiyakan perkataannya. Revan langsung berjalan menuju kasir pembayaran, sementara aku membuka dompet dan menatap nominal uang yang masih tersisa. Karena uang tidak cukup unruk men-transfer menuju rekening Bram, aku memekik gelisah di atas kursi.


Sesampainya Revan di samping kiri, ia menatap isi yang ada di dalam dompetku. "Kenapa sama dompetnya?" tanyanya, ia pun menyentuh tas berwarna cokelat milikku.


"Ah, ini, Mas. Tadi ibu mau beli sesuatu, tetapi uangnya kurang. Jadi, ia mau minjam. Eh, malah uang saya juga enggak ada."


"Emang berapa ibu mau pakai?"


"Banyak, Mas."


"Berapa?"


"Sepuluh juta, Mas," lanjutku dengan wajah gemetar.


"Oh, ya, udah. Pakai duit saya aja dulu," balasnya sangat lembut.


"Tapi, Mas. Saya pasti sedikit lama untuk mengembalikannya."


"Entar ngerepotin, Mas," timpalku bertubi-tubi.


"Enggak ... kalau cuma segitu aja, sih, kecil."


Aku pun mengubah posisi menjadi berdiri, tanpa basa-basi aku langsung memeluk Revan dengan sangat erat.


"Terima kasih, Mas. Kamu memang suami terbaik saya," ucapku seraya membulatkan mata jijik.


"Iya ... sama-sama."


'Mampus lu! Emang enak gue bohongi, bodoh banget jadi laki-laki. Dengan mudah gue bisa mengambil semua harta yang lu miliki, sebentar lagi kita akan mulai permainannya,' celotehku dalam hati.


Kami pun bergegas menuju parkiran mobil, masuk melalui pintu kanan dan kiri, kami melesat dengan sangat kencang. Sesekali aku melirik lelaki tampan berkumis tipis di samping kiri, seketika adrenaline-ku memuncak. Dengan duduk mendekati tubuhnya, aku langsung meluapkan jiwa manja dan menyandar di pundaknya.


Beberapa menit di perjalanan, kami akhirnya sampai di rumah sekitar pukul 24.00 malam. Pintu gerbang yang sudah terbuka lebar membawa kami masuk. Sementara pintu sudah tertutup sangat rapat, perkiraan bahwa ibu sudah tidur dengan lelap.


Biasanya kalau sudah jam segini wanita paruh baya itu tak lagi ada di ruangan. Keluar secara bersamaan, Revan mendekat dengaku dan mencium mesrah kening ini.


"Sayang ... kamu istirahat, ya. Jangan tidur larut malam, karena besok kita akan menikah," celetuknya seraya mengedarkan senyum semringah.


Dari posisi depan, aku mengangguk dua kali. "Iya, Mas. Kamu hati-hati pulangnya, jangan ngebut-ngebut."

__ADS_1


"Ngebutnya selesai nikah di atas ranjang," sambarnya, meringis geli.


Dengan tangan kanan, aku mencubit perutnya. "Ih, genit banget."


"He he he ... oke, deh, saya pulang dulu, ya."


"Iya, Mas."


"Assalam' mualaikum ...," pamitnya sambil memasuki mobil.


"Waalaikum' sallam, Suamiku."


Selesai melepaskan salam perpisahan malam ini, aku bergegas melangkah menuju rumah. Lampu ruang tamu tak seperti biasanya, malam ini masih menyala di larut malam. Akan tetapi, kedua bola mata tak mendapati siapa pun di ruangan tersebut. Berjalan mengendap-endap, tiba-tiba suara terdengar dari belakang.


"Siska!" teriak seseorang, dari suaranya seperti wanita.


Kutoleh menuju belakang badan, perkiraan benar bahwa di sana sudah ada ibu yang memasang wajah sangat sinis.


"Dari mana aja kamu sampai sekarang baru pulang!" pekik wanita paruh baya itu sambil mengedarkan ekspresi jijik.


"Bukannya ... Ibu udah lihat kalau saya keluar dengan Mas Revan."


"Sejak kapan kamu pulang tengah malam seperti ini, Sis?" tanyanya bertubi-tubi.


"Beli pakaian pengantin, Bu."


"Berapa kali Ibu katakan, kalau kamu jangan menikah sama suami orang lain. Itu sama aja dengan PELAKOR, ngerti kamu!" hardiknya menaikkan nada suara.


"Ibu kenapa, sih, selalu mengatakan anak sendiri pelakor? Atau jangan-jangan, Siska bukan anak kandung Ibu!"


Wanita paruh baya yang selalu mengikat rambutnya dengan tali rafia itu berdiri, ia berjalan dan mendekat menuju tubuhku. Tatapan tajam juga ia lemparkan, membuat tubuh sangat gemetar.


"Kamu sudah berani melawan ibu, Sis. Ini adalah didikan almarhum bapakmu dulu—bajingan itu."


"Cukup, Bu! Bapak sudah meninggal, jangan libatkan ini karena bapak! Siska benar, 'kan, Bu, kalau Siska bukan anak kandung Ibu! Iya, 'kan!" bentakku ngegas.


Seketika wanita paruh baya itu melemparkan tamparan keras di pipi sebelah kananku.


Plak!


"Dasar anak enggak tahu diuntung kamu, dinasihati orang tua agar hidup jangan jadi PELAKOR malah kurang terima, mulai detik ini kamu jangan anggap saya sebagai ibu kamu lagi. Kejar bangkai dunia yang kamu cintai itu, dan jangan sekali-kali kamu pijak rumah saya."


Aku pun menyentuh pipi sebelah kanan dengan perlahan, bekas tamparan itu memerah dan sangat sakit. Tanpa membalas kata, aku bergegas meninggalkan ibu di ruang tamu. Air mata pun mengalir sangat deras tak bisa terbendung lagi.


Sesampainya di ruang kamar, aku menangisi semua yang terjadi.


"Tidak ...."


"Tidak ...."

__ADS_1


Kubanting semua yang terlihat oleh kedua bola mata. Badan membanting tubuh dan merebahkan kedua sayap, masih bersama tangis tersedu-sedu, aku mencoba untuk menutup kedua bola mata. Suasana dingin malam ini, membuatku mudah untuk tertidur.


Bersambung ...


__ADS_2