Pasung Tuan Muda

Pasung Tuan Muda
38. Dia Bukan Ayah Kandungku


__ADS_3

Arloji sakana klasik berdecak seirama dengan denyut jantung. Suasana di ruang kamar seakan nyaman dengan kehadiran seorang pria yang tak begitu kukenal. Dia adalah Om Revan, memiliki paras tampan, serta lekuk wajahnya hampir sama denganku.


Kedua bola matanya juga sedikit kecokelatan, dibalut jas hitam yang sangat rapi, persis dengan aku yang sangat suka dengan seragam demikian. Namun, entah kenapa, sang mama sangat melarang aku untuk dekat-dekat dengannya.


Meskipun aku tahu, kalau dia adalah suami dari mamaku, tetapi rasa-rasanya tidak mungkin. Dari raut wajahnya, Om Revan tampak sangat penyayang dan tidak seperti lelaki penjahat di luar sana.


Walaupun, dia sempat memasung mamaku di ruang bawah tanah, mungkin di balik itu semua ada cerita besar yang sengaja disembunyikan oleh sang mama. Kini aku tak tahu harus berbuat apa, akibat dari perkataan mama dan rasa bencinya teramat dalam, membutakan mata hati ini untuk menerimanya dalam hidup.


Kali ini dia ada di samping badanku, menatap sayup dengan kedua bola mata yang mulai berkaca-kaca. Parasnya juga sama persis dengan Reval—anaknya yang saat ini aku suka. Mencerminkan laki-laki yang sangat bijaksana.


“Nissa,” panggil Om Revan.


Seketika aku membuyarkan lamunan. “I-iya, Om.”


“Dari tadi saya perhatikan, sepertinya kamu sedang menatap saya?”


“Ah, enggak, Om. Saya cuma melihat jam dinding di belakang badan Om saja, karena sebentar lagi mama saya akan pulang.” Dengan sigap, aku mencari alasan kuat untuk membuatnya pergi dari rumah.


Apabila mama pulang dan Om Revan ada di rumah, sudah pasti mama akan marah besar padaku. Soalnya, selama dia pergi, aku dilarang mempersilakan siapa pun untuk datang ke rumah.


“Kamu tidak suka kalau saya ada di sini?” tanya Om Revan.


“Bu-bukan begitu, Om. Bagaimana, ya, soalnya ... tadi mama pesan untuk tidak menerima tamu siapa pun yang datang ke rumah.”


“Hmmm ... apakah mama kamu tidak mau menerima saya juga untuk bertamu? Emang, salah saya apa?” tanyanya bertubi-tubi.


Om Revan masih menyangkal lagi kesalahannya apa pada mama. Jelas-jelas, dia yang memperlakukan mama layaknya seekor binatang, gerutuku dalam hati.


Tak berapa lama, Om Revan pun membangkitkan badannya seraya memperbaiki jas hitam dan dasi loreng di lehernya.


“Kalau begitu, saya pamit pergi dulu,” kata lelaki berbadan maskulin itu.


“I-iya, Om, terima kasih sudah menyempatkan waktunya untuk singgah di rumah kumuh ini,” jawabku.


Mendengar ucapan dariku, tampak dari wajah lelaki berjas hitam itu seperti tengah sedih. Namun, aku tidak sedikitpun merasa iba padanya. Mungkin karena rasa sakit hati dan dendam ini telah mendarah daging, sehingga tak peduli lagi dia merasakan seperti apa saat ini.


“Kamu istirahat saja di rumah, kalau ada apa-apa, kamu telepon nomor saya. Karena, kamu masih tanggung jawab saya,” titah Om Revan.

__ADS_1


“Ma-maksudnya, tanggung jawab Om bagaimana?” tanyaku pura-pura tidak tahu.


“Nissa, apakah kamu tidak mengenali siapa ayah kamu dahulu?”


Mendengar pernyataan itu, aku menggelengkan kepala dua kali. “Kata mama saya, ayah kandung Nissa sudah meninggal dunia lima belas tahun lalu.”


Deg—


Terdengar petir dan gemuruh menyambar di luar rumah, sepertinya murka alam mendengar ucapanku yang telah durhaka pada orangtua. Namun, semua ini aku lakukan hanya murni ingin memberikan pelajaran pada Om Revan, tidak lebih.


“Kalau begitu, Om pamit. Assalammualikum ....”


“Wa’alaikumsallam ...,” jawabku dengan lirih.


Selang beberapa menit kepergian Om Revan, air mata pun keluar bergerak sejurus dari lekuk pipiku. Rasanya, hati ini seperti tengah dihujam besi panas dan melelehkan semua akal sehat untuk membenci ayah sendiri secara paksa.


Aku tahu, tetapi keadaan ini mengajari untukku tidak tahu. Apabila saatnya tiba, mungkin semua akan baik-baik saja, atau malah sebaliknya.


Ketukan pintu pun terdengar tiga kali dari luar kamar, kemungkinan sang mama telah pulang dari urusannya.


“Assalammualaikum ...,” sapa mama dengan sangat semringah.


“Sayang, kamu lagi apa?” tanyanya.


“Nissa lagi main hp aja, Ma. Tapi bosan, enggak bisa sekolah seperti teman-teman.”


“Sayang, sebentar lagi kamu bisa sekolah, kok. Yang sabar, ya, soalnya mama datang membawa kabar gembira.”


“Wah, kabar apa, Ma?” tanyaku penuh selidik.


“Mulai minggu depan, kamu sudah bisa sekolah, dan kamu tahu kenapa mama sangat gembira banget?”


Tanpa menjawab, aku menggelengkan kepala dua kali.


“Kamu mendapat beasiswa tahun ini, mama bangga sekali sama prestasi kamu,” kata sang mama.


“Benarkah, Ma?”

__ADS_1


“Iya, enggak sia-sia selama ini mama suruh kamu belajar giat. Soalnya, kamu akan menjadi anak yang akan membanggakan mama di dunia ini.”


“Assalammualaikum ....” Tiba-tiba, suara seseorang pun terdengar dari luar ruang kamarku.


Tepat di ambang pintu, Bi Ira—mantan pembantu yang merawat aku ketika kecil telah bergeming menatap wajah kami sangat sayup. Yang membuatku merasa sangat bahagia adalah, wanita paruh baya itu mau mendedikasikan dirinya untuk membantu kehidupan kami dahulu.


“Bi Ira,” panggil mama seraya membangkitkan badan dan menemuinya.


“Nyah, maafkan saya, kalau saya datang ke rumah ini,” jawabnya.


“Bi, kok, nangis? Emangnya, Bibi enggak bekerja lagi di rumah Revan?” tanya mama bertubi-tubi.


“Nyah, saya enggak betah di sana kalau enggak ada Nyonya dan Non Anissa. Jadi, saya melarikan diri dan pergi.”


“Astaga! Mari masuk, Bi. Kan, di rumah Revan sangat mewah, kenapa enggak betah?” tanya mama lagi.


“Nyah, saya ingin bekerja di sini saja. Apakah boleh?” tanyanya sangat melas.


“Bi, saya enggak bisa membayar Bibi dengan bayaran seperti Revan berikan.”


“Saya digaji berapa saja pun tidak apa-apa, Nyah. Asal saya tidak berpisah dari Non Anissa,” jawabnya lagi.


Sejenak mama berpikir keras, dia pun menatap lantai karena tak tahu harus berkata apa. Aku sangat kasihan melihat Bi Ira yang sudah tidak punya siapa pun di dunia ini. Bahkan keluarga. Yang kutahu, selama ini keluarganya adalah kami.


“Ma, tolong terima Bi Ira, karena Nissa enggak mau kalau dia menderita seperti ini.”


“Nissa, rumah kita kumuh. Enggak mungkin kalau Bibi tinggal di rumah seperti ini,” bantah mama.


“Nyah, saya ikhlas kalau harus tinggal di rumah ini. Yang penting hati saya tentram, tidak mendengar pertengkaran setiap hari,” papar wanita berbaju kuning itu.


“Baiklah, kalau Bibi mau tinggal di sini dengan keadaan yang seperti ini, saya izinkan. Asal tali persaudaraan kita enggak akan putus seperti yang pernah kita lalui dulu,” kata mama, kemudian dia memeluk wanita paruh baya itu dengan sangat erat.


“Terima kasih, Nyah, saya akan membantu semua yang menjadi pekerjaan saya di rumah ini.”


“Bi, jangan terlalu berlebihan. Kami di sini adalah keluarga untuk Bibi, jadi kita akan lakuin semuanya bersama-sama,” sambarku dengan memperjelas.


“Masya’allah ... Non, kamu enggak pernah berubah dari dulu. Tetap menjadi anak yang memiliki hati mulia,” puji Bi Ira seraya meneteskan air mata.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2