
“Nissa, kita pergi ke sana, yuk,” ajak Ziva seraya membulatkan kedua netranya dalam menatap.
“Ah, enggak, deh. Kayaknya aku akan pergi ke kelas aja, soalnya hari ini akan ada ujian dari Pak Reza.” Selepas menolak, aku pun menatap lantai dua, tepat di ambang pintu yang sudah dipenuhi siswa laki-laki.
“Ah, kamu enggak asyik banget, sih, aku penasaran dengan apa yang terjadi di depan perpustakaan,” rengek Ziva lagi.
“Jangan bilang kalau kamu pengen lihat cowok yang pakai baju seragam berkibar bagai bendera upacara. Males banget tau enggak, sebaiknya kita naik aja, deh.”
“Plis ... sebentar saja, barangkali aku kenal dengan cowok tadi,” sungut lawan bicara.
Karena wajah Ziva mendadak melas, aku pun tidak tega untuk membiarkannya sendiri menemui siapa anak baru itu. Padahal aku tidak tertarik sama sekali, jangankan untuk melihat, sekadar tahu dia siapa saja rasanya tidak penting. Apalagi hari ini ada jadwal ujian Pak Reza, orang yang terkenal sangat galak, akan tetapi tidak untukku.
Selama aku bersekolah di SMA Tunas Bangsa, dia adalah guru satu-satunya yang paling lembut. Bukan hanya bertutur kata, akan tetapi bersikap sudah seperti abang sendiri. Memang aku tidak pernah merasakan punya abang, darinya rasa itu ada dan timbul natural.
Sementara di samping kanan, Ziva memekik dan gelisah ingin segera pergi dari depan parkiran. Akhirnya kami melangkah seiringan seraya membungkam ucap karena ingin melihat siapa gerangan, cowok yang mendadak viral di SMA Tunas Bangsa pagi ini. Dari gelagatnya, biasa saja. Namun, dia punya kulit yang putih, bersih, dan lumayan keren untuk ukuran cowok di tanah air.
Akan tetapi, aku hanya menatapnya dari kejauhan. Tidak terlalu jelas dan terfokus pada pusat penglihatan, karena aku sibuk memperbaiki hijab yang sekarang acak-acakan karena Ziva telah menarik tanganku sangat erat, kami pun sedikit laju dalam menapak kali ini.
Setibanya di depan perpustakaan, kedua netraku celingukan di sepanjang siswi berderet rapi. Sudah seperti permaianan catur, senggol sedikit akan ada mangsa yang termakan. Dalam batin ini, semua yang mereka lakukan terlalu berlebihan. Namun, karena ajakan Ziva, akhirnya kami sampai juga di samping para siswi.
“Minggir ... tepi ... orcan mau lewat. Orang cantik mau lewat,” teriak Ziva.
“Ziv, enggak usah teriak-teriak juga kali, malu dilihatin sama siswi SMK,” omelku memberikan nasihat.
“Ah, bodo amat. Anak SMK memang ganjen, sok cantik. Padahal biasa aja, masih mending kita lagi. Kelas paling elite anak sultan,” jawabnya menaikkan nada suara.
Mendengar ucapan itu, aku hanya sekadar menggeleng dua kali. Tak mampu rasanya memperpanjang perdebatan dengannya di situasi saat ini, karena sebuah pemandangan yang biasa saja. Cowok itu terlihat lumayan manis, sangat wangi dan layak dikatakan dengan anak orang kaya.
Namun, aku tidak tertarik sedikitpun padanya, apalagi sampai ingin kenal lebih jauh. Ziva pun berkacak pinggang di posisinya, menatap secara saksama dan memerhatikan gelagat cowok dengan wajah sedikit ngondek itu.
__ADS_1
“Ya, elah ... aku kira tampan bener ini cowok, ternyata kamse upay,” kata Ziva mencibir.
“Ziva, jangan keras-keras. Nanti kalau dia dengar bagaimana?” Menggunakan lengan kanan, aku menyiku Ziva dengan keras.
“Biarin aja dengar kenyataan, kok.”
“Ya, udah, kita balik aja ke kelas, yuk. Ngapain di sini lama-lama,” ajakku.
“Oke, aku juga sangat muak lihat cowok model begini. Kita masuk aja ke kelas, pada norak banget siswi di sekolah ini. Cowok masih bau kencur juga direbutin,” omelnya seraya menyibak beberapa siswi SMK.
Tanpa sengaja, sepertinya Ziva menginjak kaki siswi SMK yang berbaris di depan.
“Auch, kalau jalan pakai mata, dong!” cibir siswi itu ngegas.
“Menurut loh, gue jalan pakai dengkul?!” balas Ziva.
“Udah-udah, jangan dilanjutkan. Yuk, kita ke kelas aja, sebelum Bu Intan datang,” jawabku menengahi.
Tak berapa lama, bel masuk kelas berbunyi sangat keras. Para siswa dan siswi yang tadinya menggerompok di bawah, menaiki anak tangga dan menghambur pergi. Sementara aku dan Ziva, telah berada di bangku masing-masing seraya menatap sebuah buku kosong di atas meja.
“Selamat pagi anak-anak ...,” ucap Pak Reza tiba-tiba.
“Wa’alaikumsallam, Pak ...,” jawab seisi ruangan.
“Bagaimana kabar kalian hari ini?” tanyanya.
“Baik, Pak ... and you ...?”
“Baik, to ... bisa kita mulai sekarang ujiannya?” tanyanya lagi.
__ADS_1
“Bisa, Pak!”
Belum pun berhenti berkata, Bu Intan datang dengan memboyong seorang cowok berambut cepak di ambang pintu. Kehadiran wanita berbincu merah tebal itu selalu membuat jantungan, sudah seperti pemeran wanita hantu dalam film horror di sebuah bioskop.
Kehadiran Bu Intan membungkam seisi ruangan, termasuk Pak Reza, dia hanya terpaku menatap siswa baru yang masih bergeming bersama senyum simpul. Sementara siswi di dalam kelas, memekik heboh dan bersuara sangat ribut. Hingga suara itu tak terkendali akibat hadirnya siswa yang tadi ada di depan perpustakaan.
Namun, aku tidak memerdulikannya. Bersama dengan sebuah buku dan tinta hitam, aku bergeming seraya menatap beberapa materi yang kemungkinan akan masuk di soal ujian.
“Bu Intan, kenapa masih berdiri di situ?” tanya Pak Reza.
“He-he-he ... Pak, saya mau mengantar siswa baru di sekolah ini. Kata bu kepsek, dia bergabung di kelas IPA-1.” Bersama cengir, Bu Intan menjawab semringah.
“Oh, begitu. Saya kira anak Bu Intan tadi,” jawab Pak Reza.
“Ah, Bapak bisa aja. Kan, saya masih single, belum ada pasangan. Bisa kali, orang yang di situ peka dengan ucapan saya,” sambar Bu Intan dengan senyum lebarnya.
Mendengar ucapan Bu Intan, seisi ruangan mendadak mual karena menahan tawa. Ya, ucapan serta ekspresinya sangat bisa mengundang rasa yang berbeda. Apalagi kalau bertemu dengan Pak Reza, mereka sering adu komedi jika bertemu. Namun, keseriusan Bu Intan dapat terpancar dari netranya, kalau dia benar-benar menyukai Pak Reza.
“Silakan masuk, Nak, kamu duduk di belakang sana.” Menggunakan jemari sebelah kanan, Pak Reza menunjuk bangku kosong di sampingku.
Seketika aku mengernyit kesal, karena harus duduk dengan seorang cowok. Sepanjang hidup, aku tidak pernah dekat dengan siapa pun selain sesama jenis. Entah kenapa, Pak Reza membuat aku sangat kesal pagi ini.
“Pak, saya tidak mau!” teriakku seraya membangkitkan badan.
“Loh, emang kenapa, Nissa?” tanya Pak Reza.
“Dia adalah cowok, dan saya Cewek. Enggak baik kalau duduk satu tempat,” sambarku menaikkan nada suara.
“Oh, oke, saya tadi hanya bercanda.” Selepas berkata, Pak Reza membuang senyum kecil.
__ADS_1
“Nissa bodoh banget, ya, sebangku dengan cowok ganteng begini malah ditolak. Sebenarnya dia mati rasa atau bagaimana.” Terdengar samar, siswi di ruangan mencibirku secara spontan.
Bersambung ...