
“Siapa yang tadi melintas di depan mobil aku dengan gaya sok-sokan. Naik motor gede dengan knalpot oblong?” tanya Ziva menaikan nada suara.
Tanpa ada tanggapan sama sekali, beberapa siswa laki-laki di perkiran sepeda motor hanya sekadar memerhatikan. Namun, mereka tidak berkata sedikit pun perihal siapa pelaku dari perbuatan yang hampir membuat orang lain celaka. Dari samping kanan, aku pun berjalan mencoba menyibak beberapa siswa lainnya yang berada di barisan depan.
“Aku tanya sekali lagi. Siapa yang tadi melintas dari depan aku memakai seragam berkibar, dengan knalpot motor dioblong?” Ziva pun kembali menatap seluruh siswa di sana, lalu dia berkata lagi, “jawab!”
Tepat di samping kanan, aku berdiri seraya ingin menenangkan emosinya. Selama aku di SMA Tunas Bangsa, tak pernah mendapati hal seperti ini. Tetapi tidak sekarang, emosi itu datang menerpa cewek yang telah lama tidak menyuarakan aksinya. Ternyata di balik wajah imut Ziva, dia adalah anak yang sangat ditakuti di sekolah.
“Ka-kami enggak tahu apa-apa,” titah kelima siswa itu yang tengah menggerompok.
“Ziva ...!” teriakku.
Lawan bicara pun menatap seorang siswa yang duduk santai di samping sebuah gudang, kerah seragam yang dia keluarkan dan blush baju berkibar seperti upacara bendera seakan membuat penampilannya sangat tidak layak dikategorikan siswa sekolah. Namun, sedari tadi dia bersikap sangat santai seperti orang yang tidak punya salah apa-apa.
“Oh, jadi ini orangnya. Kenapa kalian tidak berani memberitahuku kalau dia di sana? Awas kalian, jangan sampai membuat emosi aku memuncak. Tulang kalian aku patahin jadi lima bagian,” pungkas Ziva dengan menunjuk beberapa siswa di hadapan.
“Ziva, udah, dong. Kita masuk aja, malu tau enggak dilihatin sama mereka,” ujarkku menenangkan sahabat di samping kiri.
“Enggak bisa, Nissa. Bagaimanapun mereka harus diberikan pelajaran. Biar enggak seenak jidatnya aja berlaku di sekolah ini, emang ini sekolah punya nenek moyang dia.”
“Iya ... aku tahu soal itu. Tetapi enggak hari ini juga, dong! Entar kita kena marah Bu Intan bagaimana?” tanyaku lagi seraya meyakinkan.
Akan tetapi, sepertinya Ziva tidak memedulikan sama sekali ucapanku. Sedari tadi cewek yang menjadi sahabat sejatiku malah mencoba untuk menantang siswa baru itu. Karena merasa terpanggil, siswa yang tadinya mendudukan badan pun berdiri dari kursi. Dengan tapakan laju, dia mengarah ke parkiran tempat di mana kami sedang tertegun.
Para siswa dan siswi di halaman, tengah sedang menggerompok dengan menbulatkan barisan. Mereka pun terpusat dengan menatap kami yang saat ini masih bergeming tanpa suara, bahkan sebagian siswa ada yang menatap kedatangan Refal dari jarak jauh. Cowok dengan gaya cool itu pun bergerak melawan angin, dia seakan tidak memedulikan apa pun di hadapannya.
Sementara Ziva, masih berkacak pinggang dengan memutar sedikit posisi badannya dengan menatap sejurus orang yang tadinya menjadi pusat penglihatan. Lelaki berperawakan tampan dengan wajah seperti artis Korea itu pun kini hampir sampai di parkiran motor. Beberapa siswa dan siswi tampak sangat menyukai lelaki itu karena bergaya sangat maco.
__ADS_1
“Kamu memanggil saya?” Tepat di hadapan Ziva, anak baru itu bertanya seraya membulatkan kedua netranya.
“Oh, jadi kau yang tadi hampir menabrak kami? Punya nyali juga kamu di sekolah ini. Kau enggak tahu aku ini siapa?” tanya Ziva seraya bergaya dengan tangan dilipat di dada.
“Lah, kenapa aku harus tahu siapa kamu? Lagian ..: siapa suruh jalan enggak lihat-lihat. Punya mata enggak, sih?” tanyanya balik.
“Hu ...!” teriak para siswa dan siswi di tepian barisan, mereka seakan senang dengan perlawanan dari siswa baru itu.
Ziva membungkam sejenak, akan tetapi dia seakan membuang cengir jijik pada lawan bicara. Aku yang hanya mampu membungkam dan memerhatikan, tidak bisa berbuat banyak. Apalagi sekarang, peristiwa besar pun sepertinya akan terjadi jika di antara mereka tidak ada yang mengalah.
“Ziv, sepertinya kita harus menyudahi semua ini. Yuk, masuk kelas.” Tanpa menunggu lama, aku menarik tangan sang sahabat.
“Bentar, aku mau kasih pelajaran sama siswa songong ini.” Ziva pun menolak tanganku dan menyibak keras.
Kala itu aku tak mampu berbuat apa-apa lagi, sang sahabat hanya berjalan dengan tatapan pongahnya ke arah siswa baru itu. Sesampainya mereka pada posisi saling tukar tatap, Ziva pun menampar pipi siswa baru itu dengan sangat keras.
Plak!
Sementara aku hanya menelan ludah karena tak tahu harus berkata apa lagi. Selama ini, Ziva adalah siswi yang baik dan tidak kasar. Namun, entah apa yang merasukinya hingga membuat aliran darahnya menjadi sangat brutal dan menghilangkan penampilan imutnya.
“Apa maksudmu menampar aku!” pekik siswa itu.
“Kau hampir menabrak aku dan teman aku di sana, apakah kau lupakan itu! Emang sekolah ini milik nenek moyangmu!” pekik Ziva sangat lantang.
“Iya, sekolah ini milik nenek moyang aku.” Selepas berkata, siswa baru itu pun menarik tangan seperti ingin membalas tamparan Ziva.
Karena sangat khawatir, aku berlari kencang seraya ingin menyelamatakan Ziva dari pukulan tersebut. Tepat di depan cowok bermata sipit itu, pukulan pun mendarat di pipiku sebelah kanan dengan sangat kuat.
__ADS_1
Plak!
“Astaga! Kok, dia menampar Anissa?” Terdengar teriakan para siswa dan siswi di belakangku.
Rasa sakit yang mendarat di bagian pipi membuat aku membuang tatapan menuju sebuah lantai, akan tetapi tidak ada respons dari kedua belah pihak yang saat ini berbuat sebuah masalah. Akibat pertikaian itu aku belajar, betapa diri ini tidak lagi harus dekat dengan mereka.
Apakah salahku? Mengapa semua ini terjadi dan Ziva hilang kendali tak mau mendengarkan aku lagi?
Selesai bersenandika, sebuah sentuhan mendarat lembut di pundakku sebelah kanan. “Nissa, kamu enggak apa-apa?”
Dari nada suaranya, orang itu sangatlah tidak asing. Ya, siapa lagi kalau bukan Pak Reza. Kehadiran guru matematika itu seakan membuat malu diri ini yang harus terlibat dalam masalah sepele, akibat dari sifat manusia yang tidak tahu bagaimana caranya berdamai.
“Nissa, ka-kau enggak apa-apa?” tanya Ziva.
“Aku naik dulu, kalian lanjutkan pertikaian ini.” Tanpa menunggu lama, aku pun memutar badan seraya menatap depan.
Di jalan menuju sebuah bangunan kosong itu, para guru telah bergeming dan memadati peristiwa pagi ini. Sementara Bu Intan—selaku guru BK pun menatap sedih ke arahku, bahkan Pak Reza juga seakan tidak membiarkan diri ini berlama-lama dalam situasi pertikaian.
“Nissa. Nissa!” teriak Pak Reza.
Tanpa menjawab sama sekali, aku tetap berjalan meninggalkan lokasi halaman sekolah.
“Kalian berdua, ikut saya ke ruang BK.” Terdengar keras, Pak Reza membentak kedua siswa yang masih berdiri di depan parkiran.
Tepat di atas kursi, aku meluapkan rasa kesal itu dengan menulis diary. Perlahan, siswa dan siswi pun mulai berdatangan dan memadati ruang kelas.
Bersambung ..:
__ADS_1