
Marco POV
Malam ini aku merasa sangat canggung bisa duduk dengan anak dari Marissa, sejak perkenalan kami beberapa hari lalu, sekarang diri ini merasakan betapa benar pernyataan yang dia katakan waktu itu, bahwa anak perempuannya sangatlah lembut dan anggun. Untuk sekadar mengajaknya berkata, aku sangatlah malu, apalagi dia tampak akrab dengan Ziva—anakku.
Namun, selama bersekolah di SMA Tunas Bangsa, aku tak pernah melihat Ziva mengajak temannya untuk datang ke rumah. Bahkan hanya sekadar berteman saja dia tak mau, entah apa gerangan yang menyelinap di dalam hatinya, sampai mau mengajak Anissa datang ke rumah ini. Tepat dalam suasana rumah yang penuh dengan kegembiraan, kami bertiga menyantap menu makan malam.
Untung saja aku telah memberitahukan pada pembantu untuk memasak sedikit lebih banyak, agar ketika Ziva pulang dia bisa memilih menu makanan sesuai kesukaannya. Ternyata Anissa juga datang ke rumah, sehingga aku tidak lagi memesan makanan di luar rumah. Tampak sedari tadi Anissa sangat malu ketika memakan menu di atas mejanya, mungkin karena aku hadir di sini lebih awal.
“Nissa, kamu tambah lagi makannya. Biar kenyang,” ucapku pada Anissa.
“Eh, iya, Om. Nissa sudah kenyang, kok,” jawabnya dengan malu-malu.
“Iya Nissa, kamu enggak usah takut. Anggap aja rumah sendiri, kan, Pa?” sambar Ziva.
“Hmmm ...,” kataku singkat.
Suasana rumah sangat nyaman, sejak kehadiran Anissa ada di sini, padahal ketika aku pulang bekerja, Ziva tidak pernah mau makan malam denganku. Biasanya semua aku lakukan sendiri, dan dia sibuk dengan ponselnya di dalam kamar. Tetapi tidak untuk sekarang, mereka sangat tampak akrab dan Anissa pun sangat akrab pada Ziva.
Dampak yang dibawa oleh Anissa memberikan aura positif di rumah ini. Kemungkinan aku akan lebih dekat dengan ibunya, agar kami bisa menjalin hubungan lebih serius. Namun, aku masih merasa takut bertanya pada Ziva perihal hubungan kami.
Karena yang aku tahu, Ziva sangat membenci ketika aku mendekati wanita lain. Mungkin karena rasa trauma yang dia hadapi saat ini masih belum terobati, kalau wanita akan membuat hancur kekeluargaan. Karena aku sudah selesai makan, ingin rasanya untuk segera ke kamar mandi dan membersihkan diri.
Keringat dan bau badan menempel selepas bekerja seharian di kantor. Tak pernah aku makan malam sebelum mandi, untuk momen malam ini aku lakukan sendiri.
“Ziva, papa mandi dulu, ya, kalian lanjutkan makan malamnya,” ucapku seraya membangkitkan badan.
__ADS_1
“Iya, Pa, pantesan aja dari tadi ada yang bau,” katanya seraya meledek.
“Enak aja, papa walau belum mandi masih tetap ganteng dan wangi.”
“Ih ... Papa percaya diri banget, sudah sana Papa mandi dulu,” usir Ziva.
Tampak di atas bangkunya, Anissa meringis malu. Sikap putriku sangatlah pemberani, dia bahkan mengusir aku untuk pergi dari hadapan mereka. Dengan lembut, aku menyentuh rambut Ziva dan menatap Anissa dengan sangat penuh kasih sayang.
“Saya ke atas dulu, ya?” ucapku.
“Iya, Om,” jawabnya sangat lembut.
Ditemani dengan senandung, aku pun bernyanyi di sepanjang jalan menuju kamar menuju lantai dua. Untuk dapat sampai di sana, aku harus menaiki anak tangga dengan cepat. Tepat di tengah anak tangga, Inem—asisten rumah tangga pun berjalan melintasiku saat ini.
“Tuan, itu yang lagi main sama Non Ziva siapa?” tanyanya sangat kepo.
“Anaknya lugu sekali, Tuan. Dari gaya bahasanya juga sangat sopan dan santun,” titah si bibi.
“Iya, saya juga membiarkan Ziva berteman dengannya. Karena dari dulu, dia tidak pernah mau berteman dengan siapa pun. Kalau Anissa adalah anak yang baik, biarkan saja.”
“Iya, Tuan, biar Non Ziva bisa memakai hijab juga kayak Anissa itu.”
“Bi, kalau mereka perlu apa-apa, kamu yang berikan. Soalnya saya malam ini enggak bisa memantau mereka, ada kerjaan di luar.”
“Baik, Tuan.”
__ADS_1
Selepas berdialog sebentar dengan Bi Inem, aku pergi dan meninggalkan percakapan. Tepat di depan kamar, netraku tercengang setelah mendapati kamar yang berbeda dari biasanya. Ya, kamar sang putri tampak sedikit rapi. Kemudian, aku berjalan gontai dan memasuki kamar tersebut.
Pakaian seragam sekolah tergantung sangat rapi, serta sepatu tidak lagi manjat di atas dipan. Sungguh pemandangan yang tak pernah aku lihat sebelumnya. Kertas dan tisu juga tidak ada di atas lantai, semua telah masuk ke dalam tempat sampah.
Ternyata dia mendapatkan teman yang tepat untuk membersihkan kamar sendiri, Ziva-Ziva, dari dulu begini pasti aku enggak repot lagi membersihkan kamarmu.
Setelah berdialog dalam batin, aku memutar badan seraya menarik sedikit selimut di atas kasur. Tanpa sengaja, aku menjatuhkan sebuah buku yang ada di dalam sebuah tas ransel.
Brug!
Ternyata, itu adalah sebuah buku diary berukuran sedang. Berwarna merah muda, dan sudah pasti bukan milik Ziva. Karena sangat penasaran, aku mengambil buku diary itu dan membukanya sesaat. Tampak dari segi tulisan, sangatlah rapi seperti milik Anissa.
Secara saksama, aku menatap tiap bait tulisan yang menceritakan kesedihan seseorang. Semakin mendalam aku menatap, semakin mendalam pula isi dari tulisan itu. Ternyata curhatan Anissa terpampang jelas di sana, disertai dengan sebuah foto seorang wanita dan laki-laki mengenakan jas hitam.
Dalam benak, aku berpikir keras dengan orang yang ada di dalam foto itu, karena mirip seorang pria yang sepertinya aku kenali. Namun, karena foto sedikit tersobek di bagian atas, membuat wajah dari orang tersebut susah untuk dikenali. Saking keponya, aku masih terus membaca hingga dua halaman buku diary.
Tulisan indah tetapi sangat menyimpan sejuta kisah sedih, tanpa terasa air mataku juga menetes seiring bait yang mengatakan betapa sakitnya memiliki seorang ayah. Entah apa maksud dari ucapan itu, yang pasti tulisan tersebut menggambarkan sebuah peristiwa hidup Anissa.
Tak berapa lama aku membaca, sebuah tapakkan kaki terdengar memasuki telinga. Sudah pasti Ziva dan Anissa tengah berjalan menuju kamar, lalu aku menutup diary dan meninggalkan kamar dengan segera, karena aku tidak mau terpergok telah membaca curhatan orang lain.
Meskipun dalam batin masih berkecamuk pada kata-kata tadi, aku mencoba menetralisir ucapan perihal ayah sebagai penghancur hidup. Tepat di dalam kamar, aku mendudukkan badan seraya menatap cermin, terlihat pantulan sosok diri yang menggambarkan situasi itu dalam bayangan semu.
Kemarin Marissa bilang telah menjanda sejak lama, dan memiliki seorang anak bernama—Anissa. Namun, ketika aku membaca diarynya, dia curhat kalau hidupnya telah hancur dibuat oleh sang ayah. Maksud dari ucapan itu apa, ya? Atau jangan-jangan, Anissa dan Marissa telah siusir dari rumah? tanyaku dalam hati.
Ah, sudahlah, untuk apa aku mengkaji rumah tangga orang, karena rumah tanggaku juga telah hancur begitu saja, batinku lagi.
__ADS_1
Selepas berkata dalam hati, aku membangkitkan badan seraya memasuki kamar mandi dan membersihakan diri.
Bersambung ...