
Setibanya di ruang dengan suhu udara yang teramat dingin, aku memekik bersama Ziva karena tidak mengetahui di mana mama dirawat saat ini. Yang ada hanyalah para tenaga medis yang lalu lalang tanpa berkata sedikit pun, entah kenapa pagi yang cerah dengan dibalut anggunnya awan biru banyak para warga terserang penyakit.
Karena tak tahan untuk berdiri lebih lama, aku dan Ziva menelusuri tiap koridor rumah sakit seraya celingukan tanpa henti. Tepat di portal dengan tulisan Ruang Jenazah, kami terdiam dan sangat kepo.
Cahaya di dalam ruangan itu juga kemerlap jingga kemerahan, menambah adrenalin kami untuk membuka pintu depan ruangan. Namun, aku bukanlah orang yang terlalu berani melakukan itu, sehingga tatapan hanya saling tukar tatap pada sahabat di samping kanan.
“Ziv, kamu yakin ruangannya di sini,” ucapku memperjelas.
“Nissa, emang yang meninggal siapa? Ini ruang jenazah, mana mungkin mama kamu dirawat di sini,” jawabnya sedikit mencibir.
“Lah, terus, kita harus mencari ke mana lagi dong? Kan, kita udah mutar-mutar tiap sudut ruangan tapi enggak nemu juga,” bantahku sedikit ngegas.
Menggunakan tangan kanan, Ziva menyentuh keningku yang sedari tadi meneteskan keringat dingin. Namun, kami belum juga mendapatkan ruangan yang dicari. Bahkan untuk bertanya pada tenaga medis lainnya, rasanya sangat takut. Setelah kedua kaki lelah dalam melangkah, akhirnya kami berhenti di portal yang menghadirkan para suster berbaju putih.
Sementara kami masih mengenakan pakaian seragam SMA karena memang kami berdua cabut dari sekolah, meskipun tanpa permisi. Aku sangat takut apabila ada guru yang mengenali kami, atau bahkan kepala sekolah yang menurut Ziva dia adalah saudara pemilik rumah sakit tersebut.
Wanita sebagai perawat itu mendorong pasien yang ada di atas dipan, kami berpas-pasan dan Ziva menarik sedikit seragam surter tersebut.
“Sus,” panggilnya dengan lembut, kemudian lawan bicara berhenti dan menatap kami berdua secara saksama.
“Iya, ada apa? Kalian ngapain ada di depan ruang jenazah?” jawabnya sembari membuang pertanyaan.
“Sus, ada pasien yang bernama Marissa enggak? Soalnnya dia baru saja kecelakaan pagi ini,” sambarku dengan napas tak lagi netral.
“Marissa, ya?” Tampak sedari tadi, suster itu hanya sekadar berkacak pinggang karena berpikir keras. Namun, sepertinya dia tidak tahu akan kehadiran pasien dengan nama yang kami sebutkan tadi.
Tak berapa lama, suster itu bergerak kembali ke ruang paling depan, akan tetapi dia lama menemui kami. Karena bosan menunggu, aku dan Ziva hanya sekadar saling tukar tatap. Sementara untuk beringsut pergi, rasanya tidak mungkin. Kendatipun kami pergi, pasien yang berada di atas dipan bagaimana nasibnya.
__ADS_1
Selang beberapa menit setelahnya, datang seorang dokter mengenakan stetoskop. Kehadirannya membuat sekujur tubuh sangat gemetar, bagaimana tidak, dia membawa jarum suntik berukuran lumayan besar serta sarung tangan yang sudah berlumuran darah. Aku yang mendadak kepo pun membangkitkan badan seraya menatap tajam dokter tersebut.
“Dok,” ucapku menahan pria tampan berseragam hijau itu.
Lawan bicara pun menghentikan aksinya seraya menatap wajahku tajam. “Iya, ada yang bisa saya bantu?”
“Dok, tadi ada pasien bernama Marissa yang masuk ke rumah sakit ini?” tanyaku penuh harap.
Dari arah depan, si dokter seperti berpikir keras. Namun, sedari tadi hanya terpaku tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Alhasil aku dan Ziva mengikuti gelagatnya saja. Dari arah belakang, suster tadi datang lagi seraya membawa secarik kertas. Entah apa yang dia bawa saat ini, karena sangat tergesa-gesa dalam melangkah.
“Sus, kamu kenapa?” tanya dokter tersebut.
“Dok, pasien atas nama Marissa sedang gawat di ruang anggrek,” jawabnya seraya memberikan secarik kertas itu.
“Astaga! Marissa itu, kan, nama mama aku,” sambarku dengan menekan mulut menggunakan kedua tangan.
“Boleh, tetapi kalian tidak boleh masuk, ya, hanya tenaga medis saja yang bisa masuk ke ruangan.” Selepas berkata, kami pun bergegas meninggalkan depan ruang jenazah.
Ternyata, untuk menuju ke ruangan anggrek tidaklah di lantai satu, kami harus menaiki anak tangga untuk dapat sampai di ruangan tersebut. Saking penasarannya aku, Ziva yang merupakan sahabat dari SMA tidak terhiraukan lagi dan tertinggal di anak tangga lantai dua.
Tibalah kami di depan dengan portal bertuliskan Ruang Anggrek, dokter dan suster masuk ruangan lebih dulu seraya menutup pintu ruangan. Sementara aku dan Ziva hanya menunggu di luar bersama dengan seorang wanita yang aku sendiri tidak kenal. Entah apa yang dilakukan wanita berbandana merah itu, karena sedari tadi dia hanya sekadar memainkan ponselnya tanpa henti.
Ziva menarik tanganku untuk kami mendudukkan badan di atas kursi tunggu. “Nissa, kamu yang sabar, ya.”
“Ziv, aku enggak tenang kalau belum melihat mama aku di sana,” jawabku sedikit merengek sedih.
“Tuhan pasti akan melindungi mama kamu, kita berdoa yang terbaik saja di luar sini. Mudah-mudahan, Tuhan mengabulkan doa kita,” jawabnya lagi.
__ADS_1
“Terima kasih, Ziv, kamu sudah menyemangati aku hari ini.” Dengan sangat lembut, aku memeluk Ziva yang berada di samping kanan.
Tak berapa lama, wanita berbandana merah di samping kiri mendekat dengan menatap kami berdua sangat lirih. Namun, sampai saat ini kami tidak mengenali siapa wanita itu. Yang pasti dia seperti tengah menunggu seseorang juga di bangku rumah sakit.
“Kamu siapa, Tan?” tanya Ziva.
“Saya adalah Risma, teman saya lagi di dalam sana untuk mendapatkan perawatan dokter,” katanya seraya menatap pintu ruangan.
“Loh, emang Tante siapanya Tante Marissa?” tanya Ziva lagi.
“Saya adalah rekan kerjanya, tadi pagi saya yang membawa Marissa ke rumah sakit ini,” jawab tante berbandana merah itu.
“Terima kasih, ya, Tan. Karena Tante udah membawa mama saya ke sini, coba kalau enggak ada Tante, apa jadinya mama saya.” Selepas menjawab, aku memeluk wanita berbandana merah yang sedang mendudukkan badan.
“Loh, kamu adalah anaknya Marissa?” tanyanya.
“Iya, Tan, saya adalah anaknya mama Marissa. Nama saya Anissa,” jawabku seraya memperkenalkan nama.
“Wah, pantas saja kau begitu mirip dengan mamamu. Sangat lembut dan cantik, tetapi tenang saja. Para dokter telah memberikan perawatan terbaik untuk mama kamu.”
“Terima kasih semua, kalian telah membantu saya dan mama saya. Enggak tahu lagi mau ngomong apa, karena di zaman saat ini masih ada malaikat yang memiliki hati mulia seperti kalian.”
Setelah menangis tanpa henti, tante Risma pun membangkitkan badan seraya berjalan menuruni anak tangga. Entah apa yang dilakukannya, mungkin dia akan kembali bekerja karena aku dan Ziva telah sampai di rumah sakit untuk menjaga mama.
Namun, aku masih ingin berkenalan padanya dan dekat. Karena aku tidak tahu seperti apa kronologi kejadian pagi ini. Belum pun sempat kubertanya, tante Risma tampaknya sangat buru-buru dengan urusannya.
Tak disangka, orang yang tadinya telah pergi datang kembali, di tangan kanan dan kirinya seperti membawa sesuatu yang aku tidak tahu apa.
__ADS_1
Bersambung ...