Pasung Tuan Muda

Pasung Tuan Muda
79. Ujian Pelajaran Fisika


__ADS_3

“Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak Reza. Soalnya, masih banyak yang harus saya selesaikan.” Wanita bersanggul satu itu pun mulai beringsut dari peredaran.


“Bu Intan enggak mau saya antar?” tanya Pak Reza seraya cengengesan.


“Ah, enggak usah, Pak. Lagian ... nanti muridnya pada nunggu kalau kita pergi,” ujarnya.


“Emang selama apa, sih?”


“Lama, dong, Pak. Kalau kita pergi harus mempersiapkan pernikahan lagi, bulan madu ke luar negeri lagi, dan beli pakaian pengantin lagi.”


“Cie ... yang mau menikah dengan Pak Reza ...!” ledek seisi ruangan.


“Ih, kalian remeh banget dengan saya, awas aja kalau Pak Reza entar naksir wanita tercantik di Indonesia, pasti kalian akan iri,” jawab Bu Intan dengan bangganya.


“Iyain aja, Bu ...,” teriak para sahabat lagi.


Tak berapa lama, Bu Intan pun pergi dari posisinya seraya berjalan ke ambang pintu. Wanita dengan senyum lebar dan bincu tebal di bibirnya itu sangat membuat kami terhibur. Pasalnya, dia adalah guru wanita yang sampai saat ini mampu membuat komedi. Bukan sekadar ucapannya saja, bahkan wajahnya pun membuat kami sangat ingin tertawa.


Pagi ini, kami akan melaksanakan ujian mata pelajaran pertama dari Pak Reza. Ya, dia adalah guru Fisika yang merangkap sekaligus guru Matematika. Pelajaran di ujian pertama pun disambut sangat seram, karena harus menguras otak untuk berpikir lebih dari pelajaran umum lainnya.


Bersama dengan bacaan basmallah, aku menatap pena di atas meja seraya membolak balikkan tangan. Pagi ini adalah hari pertama aku melaksanakan ujian di sekolah baru, harapan yang tersalip dalam jiwa adalah, dapat menakhlukan semua pelajaran dan bisa kembali juara umum seperti di sekolah lama.


Akan tetapi, sepertinya itu tidak mungkin terjadi. Karena di dalam kelas IPA-1 sangatlah banyak saingan. Tidak hanya itu, Ziva adalah salah satu siswi yang berhasil menjadi lawan terberat aku ketika olimpiade Fisika tahun ini. Tidak hanya itu, Monica juga pernah menjuarai olimpiade Sains dan Matematika tahun sebelumnya.


Untuk unjuk gigi di sekolah SMA Tunas Bangsa sangatlah menguras pikiran. Namun begitu, aku tidak lantas menyerah dan pasrah. Apalagi aku juga menjuarai olimpiade tahun ini untuk Fisika, sekaligus peraih juara umum di sekolah lama, yaitu SMA Gemilang.


“Anak-anak, bisa kita mulai ujian pagi ini ...?” tanya Pak Reza lagi.

__ADS_1


“Bisa, Pak ...,” jawab seisi ruangan.


“Oke, saya akan membagikan soal ujian mata pelajaran Fiska, kalian harus menjawabnya sampai tuntas dalam waktu 60 menit. Jangan pakai suara, dan tidak lirik kanan dan kiri.” Selepas berkata, Pak Reza berjalan untuk membagikan soal ujian.


Senyuman lelaki berkumis tipis itu membuat aku sangat ngilu, karena tatapan yang dia lempar mampu membius wanita jika melihatnya. Bisa dibilang, Pak Reza adalah salah satu guru termuda dan sangat tampan di SMA Tunas Bangsa.


Tak berapa lama, Pak Reza melintasi lorong yang akan membawa ke bangku di mana aku duduk. Namun, dia tidak lantas memberikan secarik kertas dengan berisikan soal ujian. Karena merasa sangat penasaran, aku mendongak Pak Reza yang bergeming di posisinya.


“Ini soal untuk kamu, Nissa,” ucap Pak Reza seraya menyodorkan soal ujian.


Menggunakan tangan kanan, aku mengambil soal itu dan meletakkannya di atas meja. “Terima kasih, Pak.”


“Kamu kerjakan soal ini baik-baik, jangan membuat saya kecewa. Kamu harus bisa menorehkan prestasi kamu seperti ketika di sekolah lama, selamat mengerjakan.” Selepas berkata, lelaki mengenakan seragam pegawai negeri itu berjalan lurus menuju bangkunya.


Sepanjang hidup ini, tak pernah aku mendapatkan perhatiam lebih dari seorang guru. Apalagi datang dari sekolah yang baru saja aku datangi, akan tetapi tidak pada Pak Reza. Di balik wajah tampannya, dia sangat menyayangi para siswanya dan memberikan support. Namun, aku merasa kalau ucapan itu hanya diberikan padaku saja.


Waktu terus bergulir, akhirnya aku selesai mengerjakan ujian lebih cepat dari waktu yang telah ditentukan. Tampak dari samping kanan, seorang pemuda yang tidak lain adalah anak baru itu memekik dengan memerhatikan aku secara tipis-tipis. Sedari tadi aku sudah mengetahuinya, akan tetapi gelagat ini sama dan hanya terfokus pada soal.


Sepertinya dia juga telah selesai mengerjakan soal, karena terlihat santai dan meletakkan penanya di atas meja. Tak berapa lama, sebuah potongan kertas yang telah dibentuk bola kecil-kecil terlempar di hijabku. Dengan cepat, aku menoleh kanan dan kiri karena penasaran dengan pelaku.


Akan tetapi, ruangan tetap saja sunyi. Tidak ada yang terlihat mencurigakan. Di ruangan, yang biasa melakukan hal itu adalah Ziva. Namun, dia tampak biasa saja dan menulis di bangkunya tanpa pergerakan. Lalu, aku mencoba untuk tenang dan kembali menujup wajah menggunakan telapak tangan kanan.


Tak berapa lama, lemparan benda yang sama kembali mendarat. Siapa, sih, yang iseng banget sama aku. Atau jangan-jangan sekolah ini berhantu, ya, soalnya enggak ada yang dicurigai melemparku.


Ketika kedua tangan ini menekuk wajah secara bersamaan, bel pun berbunyi hingga membuat aku terkejut. Jam istirahat telah tiba, otomatis jam ujian juga harus selesai. Pak Reza pun patroli seraya mengambil kertas jawaban dan soal ujian, dia bergerak ke sana dan ke mari.


“Nissa, mana soal kamu?” tanya Pak Reza.

__ADS_1


“Ini, Pak,” jawabku seraya memberikan lembar jawaban dan soal padanya.


“Apakah sangat sulit soal seperti ini untuk seorang Anissa?” tanyanya lagi.


“Lumayan, Pak. Soal yang Bapak berikan membuat saya berpikir keras untuk mencari jawaban,” jawabku.


“Tetapi saya perhatikan dari bangku, kalau kamu biasa saja dalam mengerjakannya. Di mana letak berpikir kerasnya?”


Tanpa menjawab, lalu Pak Reza memutar badan seraya berjalan cepat ke bangku. Dia pun pergi dari ruangan lebih awal, sementara para siswa dan siswi menghambur keluar mengikuti guru Fisika itu. Aku yang masih betah duduk di ruangan, masih terfokus pada diary dan pena sebagai teman duduk.


Pergerakan tanpa bergeser sedikit pun, kedua kaki terdiam serta ucapan terbungkam.


“Nissa ... kamu lagi sibuk enggak?” tanya seseorang tiba-tiba.


Kehadiran Ziva membuat aku selalu tidak bisa menebak, karena kemunculannya seperti hantu dalam sebuah film horror yang ada di bioskop baru-baru ini.


“Aku enggak terlalu sibuk, Ziva,” jawabku seraya membolak-balikkan pena.


“Emang kamu enggak ke kantin?” tanyanya.


“Kayaknya aku enggak akan ke kantin pagi ini.”


“Hmmm ... kenapa? Aku sangat lapar sekali. Yuk, kita makan sesuatu pagi ini,” ajaknya sedikit memaksa.


“Aku hanya menemani saja, ya, soalnya lagi enggak mood banget makan di kantin.” Sehabis berkata, aku pun membangkitkan badan.


Tak lupa, aku membereskan buku-buku yang ada di meja dengan sangat rapi di dalam tas. Kemudian, kami bersama-sama keluar dari dalam ruangan dan menuju lantai satu gedung sekolah.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2