Pasung Tuan Muda

Pasung Tuan Muda
64. Pesona Lelaki Berkumis Tipis


__ADS_3

Setelah pergi cukup lama, Tante Risma pun kembali dengan membawa dua kantong plastik di tangan kanan. Namun, aku tidak pernah tau dia sedang membawa apa, karena sejak awal dia keluar hanyalah tangan kosong dan tiada membawa apa pun. Seketika wanita berbandana merah itu mendudukkan badan di samping kananku, lalu dia menyodorkan seplastik bungkusan tersebut.


Secara saksama, aku memerhatikannya seraya menatap kedua netranya tajam. Karena sedari tadi dia bertingkah sangat aneh dan membuatku merasa canggung dalam berekspresi.


“Tan, ini apa, ya? Kenapa kamu memberikannya padaku?” tanyaku dengan nada suara lirih.


“Kalian sudah makan belum pagi ini? Nih, saya sengaja beli di luar sana untuk kalian berdua.” Selepas menjawab, wanita yang mengenakan bandana merah itu meletakkan bungkusan yang ternyata nasi di bangku tunggu.


“Wah, kebetulan sekali, nih, aku lapar banget. Nissa, yuk, kita makan saja. Lagian daritadi capek karena lari-lari dan lompat pagar, ada rezeki,” sambar Ziva dengan sangat senang.


“Hus, ini makanan punya Tante, bukan punya kita,” aku pun menyibak tangan Ziva yang telah mengambil satu kantong nasi.


“Udah, makan saja. Lagian saya membelikan ini dua bungkus memang untuk kalian,” jawab Tante Risma lagi.


“Tuh, kan, Tante Risma memang baik, dia membelikan kita nasi bungkus agar enggak kelaparan. Emang kamu mau, sakit juga di sini karena kelaparan. Mama kamu udah sakit di dalam sana, ditambah lagi kamu. Entar buat repot orang lain tau,” omel Ziva.


Iya juga, ya, aku harus makan dan tetap sehat. Agar nanti bisa merawat mama yang lagi sakit, kalau aku sakit juga, siapa dong yang merawatnya, batinku bersenandika.


Selepas bersenandika, aku mengambil sekantong nasi yang telah tersedia di dalam plastik. Ziva yang sudah mengambil nasi itu lebih cepat, memakan hampir habis dan meminum teh yang telah dibungkus rapi menggunakan plastik kecil. Sementara aku hanya sekadar memerhatikan Ziva yang sedari tadi tidak pernah sungkan jika ada orang lain memberikan sesuatu.


“Oh, ya, kalian enggak sekolah hari ini?” tanya Tante Risma.


“Ah, enggak, Tan. Kami cabut dari sekolah,” jawab Ziva sangat polos.


“Loh, kenapa kalian cabut? Nanti kalau kena marah guru bagaimana?” tanya Tante Risma lagi.


“Habisnya, aku kasihan lihat Anissa yang tiba-tiba gelisah membaca pesan Whatsapp. Ya, udah, kami keluar dari pintu belakang aja barengan.” Ziva pun menjawab tanpa ragu kali ini.


Mendengar ucapan Ziva, aku merasa sangat malu karena harus ketahuan oleh Tante Risma. Apalagi dia mengaku kalau dia adalah teman dekat mamaku, kemungkinan dia akan memberitahukan mama apa yang aku lakukan pagi ini. Namun, semua kami lakukan karena kekhawatiran yang teramat dalam, tidak lebih.

__ADS_1


Jangankan untuk cabut karena masalah sekolah, sekadar ke kantin saja rasanya aku malas. Ya, begitulah kami. Saking ingin tahunya keadaan mama di rumah sakit, sampai harus mengambil jalan yang salah dengan melompat pagar dari belakang sekolah.


“Tan,” panggilku lirih.


“Iya, Nissa, ada apa?” jawabnya seraya memutar kepala.


“Selepas ini, jangan beritahukan mama kalau kami lompat pagar, ya. Karena aku enggak mau dia tahu,” ucapku melas penuh harap.


“Iya, saya tidak akan membuka cerita ini pada siapa pun. Asal kalian janji, jangan pernah ulangi kesalahan seperti ini.”


“Beres, Tan. Oh, ya, kalau boleh tahu kenapa Tante bisa sampai di sini? Emang enggak kerja apa?” tanya Ziva bertubi-tubi.


“Iya, tadi pagi saya dan Marissa pergi ke pasar. Biasalah belanja kebutuhan kafe, setibanya kami di depan teras kafe, ada mobil yang sepertinya sengaja menabrak Marissa. Ya, mau enggak mau kami menghindar, dong, tetapi malah kena tabrak juga. Memang, sih, harusnya yang tertabrak saya. Tetapi Marissa mendorong saya dan dia yang tertabrak, begitu ceritanya.”


“Oh, jadi mama Marissa menolong Tante untuk menghindari mobil itu ya?” tanya Ziva lagi.


“Iya, seperti itulah kronologinya. Tetapi kata dokter, Marissa enggak apa-apa, kok.”


Tak berapa lama, seorang dokter yang tadi masuk telah keluar dengan bersama suster berseragam putih. Mereka berdua tertegun di ambang pintu seraya menoleh ke arah kami. Dengan gerak cepat, kami membangkitkan badan seraya berlari menemui dokter itu.


Setibanya kami berdiri dengan barisan rapi, tatapan pun hanya menatap kedua netra dokter di hadapan. Kemudian kami ingin bertanya seputar keadaan mamaku yang tengah tertidur bersama infusnya.


“Dok, bagaimana dengan keadaan mama?” tanyaku penuh selidik.


“Mama kamu tidak apa-apa, dia hanya terbentur sedikit. Sebentar lagi juga sembuh dan bisa pulang,” jawab dokter itu.


“Alhamdulillah ... kepalanya enggak ada masalah apa-apa, kan, Dok?” tambah Tante Risma.


“Enggak apa-apa, beliau hanya kecapean dan butuh istirahat. Oh, ya, saya harap jangan ada yang masuk dulu menemuinya, karena beliau sedang pemulihan tenaga. Nanti sore atau malam, silakan masuk jika ingin melihatnya.” Selepas berkata, dokter itu memperbaiki seragam kerjanya dan mengajak si suster untuk pergi.

__ADS_1


Kami pun kembali mendudukkan badan seraya saling tukar tatap satu sama lain. Ternyata doa yang kami panjatkan di bangku tunggu telah didengar oleh Allah yang Maha Kuasa. Begitu besar keajaiban dari doa, sehingga secepat kilat mampu membuat keadaan mamaku baik-baik saja di rumah sakit.


Tapakkan lembut pun terdengar merayap melalui indra pendengaran kami bertiga. Tatapan spontan kami toleh menuju samping kanan, tempat di mana lantai dua dari lantai dasar rumah sakit. Ya, kehadiran seorang lelaki tampan paruh baya dengan kumis tipis menghias wajahnya. Namun, sampai saat ini aku tidak kenal padanya.


Tetapi tidak dengan Tante Risma, dia pun menatap lebih serius seperti mengenalinya. Kemudian dia tertegun dan terpaku menghadap lelaki itu. Tatapan yang tadinya terfokus pada orang itu, seketika terhempas menuju lantai, Tante Risma seperti sangat takut pada sesosok orang di hadapannya.


“Bagaimana keadaan Marissa, apakah dia baik-baik saja?” tanya pria misterius itu.


“Marissa sudah baik-baik saja, Bos,” jawabnya.


Mendengar ucapan itu, aku berpikir keras karena Tante Risma mengatakan bahwa lelaki itu adalah bos.


“Syukurlah kalau begitu, saya sempat khawatir dia kenapa-kenapa.” Selepas menjawab, lelaki berjas hitam itu menoleh ke arahku dan Ziva secara saksama.


Setelah dipandang-pandang, lelaki tampan itu terlihat sangat lembut. Namun, dia hanya membuang senyum simpul tanpa berkata sedikit pun.


“Mereka berdua siapa?” tanyanya.


“Ini adalah Anissa, Bos, anak dari Marissa.” Tante Risma menunjuk kami berdua.


“Oh, ternyata Marissa sudah punya anak gadis?” tanya lelaki itu lagi.


“Iya, mereka sangat khawatir karena saya tadi pagi mengirimkan pesan singkat untuknya, kalau Marissa sedang dirawat.”


Tak berapa lama, pria tampan itu beringsut dan menuju ke arahku dan Ziva. Saking takutnya, kami berdua hanya saling rangkul dengan membuang tatapan datar padanya.


“Kalian sudah makan?” tanyanya.


Tanpa menjawab, kami hanya sekadar mengangguk dua kali saja.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2