
Ziva POV
Waktu terus bergulir, aku masih menghabiskan hari ini bersama sahabat baru yang kukenal hari ini. Memang kami sudah bertemu di dalam kelas sekitar sepekan lalu, akan tetapi aku merasa sangat dekat dengan Anissa dikarenakan dia anak yang lembut, baik hati, dan tidak pernah berkata kasar. Bahkan untuk sekadar menyombongkan diri, dari sekian banyak siswi di SMA, dia adalah orang yang membuat aku betah.
Sekian lama aku belajar di SMA Tunas Bangsa, baru kali ini mendapatkan sahabat sepertinya. Biasa aku tidak suka berteman di kelas, sehingga diri ini hanya sendirian ke sana dan ke mari. Apalagi di sekolah banyak teman-teman yang sok kaya, sombong, bahkan suka mengejek orang lain. Hal seperti inilah yang membuatku tidak mencari teman.
Lain halnya dengan Anissa, meskipun dia terlahir dari anak yang sederhana, akan tetapi sangat baik dalam bertutur kata. Aku sempat ingin mengenalnya lebih jauh secara diam-diam. Namun, akibat kejadian pagi ini, aku tidak perlu melakukan itu. Dengan sendirinya, sang waktu membawaku untuk mengenal Anissa lebih dekat, meskipun dengan cara yang tidak begitu baik.
Tepat di dalam kantin rumah sakit, aku menghabiskan menu ayam goreng sebagai kesukaan, di samping kanan masih ada Anissa dan Tante Risma yang kelihatannya juga sangat baik. Belum pernah aku dekat dengan orang baru, apalagi bisa dibilang aku bukanlah anak yang biasa saja.
Dalam arti, aku bukan siswi yang kalem, karena kehidupan di rumah membuat diri ini melebihi anak laki-laki jika bersikap. Bahkan papaku juga marah, jika diri ini terlalu tomboi. Karena yang dia tahu, sejak kepergian mama beberapa tahun silam, dia lebih menginginkan anak perempuan dalam kehidupan ini.
Jika aku bertanya perihal jodoh baru, papa bukanlah laki-laki yang gampang memberikan keputusan itu. Namun, aku masih mencoba untuk membuatnya mencari wanita baik hati untuk mendampingi hidup, karena dia juga butuh penyemangat dalam hidupnya.
Tiba-tiba, ponsel yang ada di dalam kantong seragam sekolahku berdering. Dengan sigap, aku membuka ponsel dan menatap notifikasi yang datang dari papa. Namun, rasanya diri ini tak ingin mengangkat, dikarenakan pasti dia akan bertanya di mana aku berada.
Bukan belajar di sekolah, akan tetapi malah berada di kantin rumah sakit. Namun, setelah aku mematikan ponsel, Anissa pun mendelik di samping kanan. Tatapannya membuat aku takut, karena dia pasti kepo dengan ponsel yang sedari tadi menyala tak kunjung ada jawaban.
“Ziva,” panggil Anissa sangat lirih.
“I-iya, Niss, ada apa, ya?” tanyaku penuh selidik.
“Kenapa telepon itu enggak kamu angkat? Entar dari papa kamu atau ibu kamu,” ucap Anissa seraya menyibak hijab putihnya.
“Ah, enggak, ini cuma orang iseng aja. Selepas ini, pasti enggak akan menyala lagi,” jawabku mengalihkan pembicaraan.
Tak berapa lama, ponsel kembali berdering dan membuat Anissa kembali menatapku sangat tajam. Mampus aku, kenapa, sih, ponsel ini terus menyala.
__ADS_1
Selepas bersenandika dalam batin, aku pun mengambil ponsel seraya menatap mantap layar putih dengan wallpaper ketika liburan bersama papa. Namun, aku tak kunjung mengangkat telepon itu karena takut.
“Nunggu apa lagi, Ziva ... angkat aja!” seru Anissa.
Tanpa menjawab, aku mengangguk dua kali seraya mengangkat telepon. Sementara untuk beringsut pergi, rasanya tidak mungkin, karena di sini masih banyak orang tua yang mendampingi.
Sebagai sopan santun yang diajarkan papa, untuk tidak meninggalkan meja makan sehabis makan. Karena membuat etika kita kurang baik dipandang teman, bahkan keluarga.
[Hallo.]
[Sayang, kamu lagi di mana? Kok, kedengarannya ramai orang?]
[Iya, Pah, ini lagi di kantin.]
[Loh, jam segini kenapa sudah di kantin? Bukannya, jam istirahat kamu masih lama, Sayang?]
[Maksud Ziva, bukan di kantin sekolah, Pa.]
[Di kantin rumah sakit, Pa. Ya, udah, Papa enggak usah ke sini, karena Ziva baik-baik aja, oke.]
[Beritahu papa di mana kamu berada, jangan buat papa khawatir sama kamu, Nak!]
[Oke-oke, di rumah sakit H. Anwar.]
[Tunggu papa ke sana, ya, kamu di situ aja. Jangan pergi ke mana-mana.]
Tanpa menjawab, ponsel pun mati dengan sendirinya. Sementara Anissa pun mendekatkan duduknya menjadi sedikit merapat, kedua netranya menatapku dengan sangat serius.
__ADS_1
“Kamu lagi telponan sama siapa, Ziv? Kelihatannya sangat serius?” tanyanya bertubi-tubi.
“Biasalah, papa aku. Dia khawatir dan ingin ke sini, kepo banget, kan, jadi orang.”
“Ziva, papa kamu itu bukan kepo, tetapi dia sangat sayang pada kamu. Jangan seperti itu, karena orang tua sangat khawatir pada putrinya ketika di luar sendirian,” sambar Om itu.
“Tetapi, Om, Ziva enggak lagi sendiri. Kita ramai, kan, di sini.”
“Jangan bantah, Ziva, entar kalau papa kamu udah seperti mama aku, emang kamu bisa bilang dia kepo lagi!?” bentak Anissa dengan lantangnya.
Mendengar ucapan itu aku tak bisa berkata-kata, karena yang dia alami sekarang sangat membuat diri menguras air mata. Mungkin yang dia bilang ada benarnya, karena selama ini aku belum merasakan apa yang dia rasakan.
“Maaf, ya, Nissa. Aku enggak bermaksud berkata seperti itu, hari ini kalian mengajari aku betapa berharganya orang tua untuk kita,” jawabku sangat lirih.
“Enggak apa-apa, yang penting kamu sayangi papa kamu. Karena dia adalah orang berjasa untuk hidup kamu sekarang, meskipun kehidupan kita sudah berada di puncak kejayaan, tetaplah menjadi Ziva yang seperti ini.”
“Iya, Nissa. Aku bangga berteman dengan kamu, karena kalian sudah aku anggap sebagai saudara sendiri. Sedangkan ibu aja enggak pernah menganggap anaknya ada atau tidak di dunia ini.”
“Ziva, maksud kamu enggak menganggap itu bagaimana, ya?” tanya Anissa lagi.
“Iya, nyokap aku pisah sama papa ketika aku dilahirkan di rumah sakit ini beberapa minggu. Dan sampai sekarang, aku enggak tahu bagaimana bentuk wajah ibu. Kalau kalian punya orang tua yang baik, terkadang iri juga melihatnya.”
“Apakah aku harus mengatakannya padamu, Ziv. Kalau kamu tidak bisa melihat ibumu, aku rasa itu hal yang aku pilih. Daripada menyaksikan ibu aku ketika dulu dipasung oleh ayah, sakit rasanya. Hidup kami dikurung dalam ruang bawah tanah, demi apa? Karena ayah lebih memilih istri baru yaitu sekretarisnya. Menurutmu itu hal yang mudah buat aku?”
Setelah mendengar ucapan Anissa, aku, Tante Risma dan Om berjas hitam itu terdiam seribu bahasa. Tak pernah terbayangkan sebelumnya, bahwa kisah hidup Anissa membuat aku ingin meneteskan air mata. Menurut pengakuannya barusan, kalau hidup dia dan mamanya telah terpasung di ruang bawah tanah selama tujuh belas tahun.
Hatiku, bahkan jantungku terasa ingin meledak mendengar ucapan itu. Air mata pun mengalir begitu saja dari lekuk pipiku, begitu kejam seorang ayah yang memperlakukan darah dagingnya seperti hewan.
__ADS_1
Tuhan ... apakah aku pantas untuk mengeluh, mendengar pengakuan itu terasa membunuh akal sehat ini. Sungguh manusia kejam telah merenggut kebahagiaan darah dagingnya sendiri selama tujuh belas tahun.
Bersambung ...