Pasung Tuan Muda

Pasung Tuan Muda
32. Napas di Ujung Hela


__ADS_3

Menadahkan kepala di atas kursi tempat menunggu. Aku meratapi untuk kesekian kalinya sebuah karma yang datang secara bertubi-tubi dalam hidup ini, sepertinya Tuhan benar tidak tidur untuk mengatur sebuah strategi pada umatnya yang salah.


Buktinya, untuk urusan rumah tangga yang sempat kunodai kini terungkap. Datangnya semua masalah karena akibat dari ulahku dulu yang kini lupa dalam ingatan. Di samping kiri, sang istri hanya terpaku bagai patung batu. Dia seakan tak habis pikir bahwa semuanya telah terjadi begitu saja.


Aku menatap sangat lirih arloji di tangan kiri, pukul 24.00 malam telah tiba. Larut malam membawa dingin menyergap ke dalam tulang.


"Sayang," kupanggil sang istri dengan nada menyeret.


Dia pun mendongak, 'kan kepala seraya menatap wajahku sangat penuh hati-hati. "Iya, Mas. Ada apa, ya?"


Duduk mendekat dengan sang istri yang masih menangis tanpa henti, aku pun mendekapnya sangat lembut. "Sayang ... kamu tidur aja, biar saya yang jaga anak kita."


"Enggak, Mas. Saya mau melihat Refal sampai sadar," sahutnya. Lalu dia membalas sedikit pelukan dariku.


"Sayang ... kamu jangan terlalu meratapi ini semua. Karena ini adalah cara Tuhan untuk mengungkap segala kebenaran tentang apa yang kita perbuat salah ketika dahulu," celetukku tanpa berpikir panjang tentang ucapan.


Dari pelukan, sang istri malah menatap jijik dan membuang badan. Dia menggeser posisi badan tiga puluh senti meter ke samping, tak lupa dia juga melipat kedua tangannya, sangat angkuh dan tak mau menyadari kalau ini adalah salahnya.


"Mas, kalau akhirnya kamu akan kembali bersama Marissa, saya rela."


"Ma ... bukan begitu maksud saya."


"Lantas! Di saat seperti ini saja kamu masih sanggup menyalahkan bahwa semua adalah salah saya, Mas! Ini karma kamu yang sudah mencampakkan dia dulu."


"Siska! Kamu jangan malah balik nyalahkan saya. Karena dari dulu juga kamu yang mengaku hamil, padahal saya enggak melakukan apa-apa malam itu."


Siska pun berdiri seketika, dia menatap tajam menuju wajahku. Tak mau kalah dalam berdebat, aku sebagai suami seakan dihina olehnya. Akhirnya, tanpa basa-basi aku menuruti gelagatnya.


"Mas! Sekarang kamu tetap mempertahankan pernikahan kita, atau hubungan ini berakhir sampai sini!" bentaknya. Dengan tangan kanan, Siska menyentuh wajahnya dengan kedua tangan.


"Kamu jangan gila Siska! Kamu kira pernikahan itu semudah yang kamu pikirkan, sesuka hati kamu untuk mengakhiri," balasku. Menggunakan tangan kanan, aku menyentuh pundaknya.


Dia pun menepis sentuhan dariku. "Jangan sentuh saya, Mas. Silahkan pergi dan temui Marissa, mungkin dia adalah yang terbaik."


Aku pun menarik tangan sang istri dan dia menepis seketika. "Siska! Apa-apaan kamu? Saya ini suami kamu!"


Dari ujung koridor, seseorang berteriak dengan nada suara yang sangat keras. "Revan ...!"


Seketika kedua bola mata mendelik dan menatap ke belakang badan. Ia adalah—Sinta—ibu kandung Siska. Dengan langkah lebar, wanita paruh baya itu datang bersama dengan Bi Ira yang merupakan pembantu di rumahku. Sesampainya di pusat lokasi, mereka berdua menatap kami secara bersama-sama.


Bu Sinta pun menampar pipi sang istri dengan sangat keras.

__ADS_1


Plak!


Kemudian, setelah menampar pipi sang istri, dia juga menampar keras pipi kananku.


Plak!


"Kalian bikin malu keluarga! Sudah saya bilang dari awal Siska, kalau Revan masih punya istri. Tapi kamu enggak mau mendengar ucapan ibu kamu sendiri, sekarang kamu sudah merasakan karma itu, 'kan?"


Dari samping kanan posisi Bu Sinta. Bi Ira menyentuh pundak wanita sebayanya. "Mbak, sabar ... ini rumah sakit. Jangan dilanjutin, malu di dengar orang-orang."


"Biar Ira! Biar kedua manusia ini sadar, kalau ucapan orang tua itu adalah doa."


"Iya, Mbak ... tapi ini rumah sakit."


"Sakit hatiku, Mbak ... punya anak perebut suami orang. Bukan begini didikanku dulu," rengek ibu mertua dengan isak tangis yang tersedu-sedu.


Sungguh dramatis kejadian malam ini, mulut seakan bungkam untuk berkata-kata. Dari posisi depan, sang istri melangkah maju dan menyentuh pipi orang tuanya.


"Bu, maafin Siska," ucapnya sangat lirih.


Seketika wanita paruh baya itu menepis tangan anaknya. "Lepasin tangan kamu, Siska! Saya tidak pernah punya anak sebagai perebut suami orang."


Duar!


Mungkin dia selama ini berdoa yang terbaik untuk hubungan kami. Akan tetapi, Tuhan berkata lain dan tetap ingin mencambuk umatnya yang salah dengan menyia-nyiakan istri sah sekian lamanya.


"Nenek ...!"


Teriakan terdengar dari dalam ruang UGD.


"Bi Ira ... Refal ingin pulang."


Kedua wanita paruh baya itu berhenti menangis. Secara bersamaan, mereka mendekat ke depan pintu ruang UGD dan menatap mantap siluet cucu dari—anaknya. Rupanya—anakku telah sadar, mungkin dia telah melewati masa kritisnya seperti yang dikatakan dokter.


"Revan!" teriak ibu mertua.


"I-iya, Bu," responsku singkat.


"Panggil dokter! Refal—cucuku sudah sadar."


"I-iya, Bu."

__ADS_1


Dengan langkah lebar, aku turun menuju anak tangga lantai satu. Tepat di depan ruang praktikum, para tenaga medis masih simpang siur berjalan ke sebuah tempat praktik mereka.


Dari kejauhan, aku berteriak. "Dokter ... Dok ...!"


Kemudian, orang yang menjadi pusat panggilan berhenti berjalan. Mereka menoleh ke arahku yang berlari dengan napas ngos-ngosan.


"Dok, tolong anak saya, Dok."


"Iya, Pak. Ada apa dengan anak Anda," jawabnya ringan.


"Anak saya sudah bangun dari koma, sekarang dia berteriak di ruang UGD."


"Pak, tidak mungkin pasien dapat membaik dari masa komanya dengan rentan jarak yang sangat singkat," papar dokter dengan kacamata berbentuk bulat itu.


Karena tak terima dengan ucapannya, aku menarik kerah baju lawan bicara. "Dok! Enggak ada yang enggak mungkin di dunia ini. Jadi, Anda mendoakan anak saya mati. Iya!"


Dari posisi samping kanan, rekan sesama tenaga medis rumah sakit melerai tindakan anarkisku yang tiba-tiba muncul.


"Pak, sabar. Ini rumah sakit, jangan buat kekacauan."


Karena aku tak ingin membuat masalah lagi, akhirnya dengan segera aku mengalah dan melepas cengkeraman tangan kananku.


"Oke, maafkan saya, Dok."


"Baiklah, kita menuju ruangan anak Anda saat ini," jawabnya dengan wajah sedikit gemetar.


Berjalan mengikuti kedua tenaga medis itu, aku hanya fokus menatap lantai tanpa menoleh kanan dan kiri. Sesampainya di depan ruang UGD, kedua tenaga medis masuk dan ditemani dengan dua perawat yang datang secara tiba-tiba. Karena pintu telah terbuka, aku pun ikut masuk ke dalam ruangan.


Lalu, perawat wanita itu menahan langkah pertamaku di depan pintu. "Pak, jangan masuk ke dalam. Biarkan kami yang akan menanganinya lebih dulu."


"Sus, saya mau menemani anak saya," desakku dengan sedikit memaksa.


"Tidak boleh, Pak. Ini adalah peraturan dari rumah sakit," balasnya. Kemudian, dia menutup pintu dengan sangat rapat.


Seketika aku membanting tubuh di atas kursi tunggu. Menekan kepala dengan kedua tangan dan air mata kembali menetes. "Ya, Allah ... mengapa ujian ini begitu berat hamba rasakan. Tolong beri saya jeda dan bernapas lebih tenang."


"Baru sadarnya sekarang kamu, Van! Setelah anak kamu hampir kehilangan nyawanya," cibir ibu mertua dari ujung tempat duduk.


"Mbak, sabar ...," sambar Bi Ira.


"Aku, kok, kesal, Ra ... punya anak yang buat malu keluarga. Enggak bisa menurut ibunya."

__ADS_1


"Iya, udah ... inilah ujian kita sebagai umat, Mbak," respons Bi Ira sangat lembut.


Bersambung ...


__ADS_2