
Rasa penasaran yang kian menghujani, membawaku untuk menemui sesosok bayangan hitam bergerak anggun menuju sebuah koridor. Di sana, tepat di sebuah ruangan dengan sedikit—cahaya, menghadirkan hiruk pikuk.
Dengan langkah yang sedikit gontai, aku pun menatap mantap sebuah pintu yang dilapisi kaca. Tampak jelas sebuah beaker glass tengah tersusun rapi. Namun, tubuh ini masih saja bergeming karena tak ingin melangkah lebih jauh.
Sementara di samping kanan dan kiri, suasana terasa sangat sunyi. Bahkan dokter dan satpam yang menjaga pun tidak ada seperti biasanya. Tak seperti malam-malam kebanyakan, kalau tingkat keamanan di rumah sakit H. Anwar Mangunkusumo sangatlah ketat 24 jam.
Malam yang hanya ada aku, dan beberapa suara aneh datang dari ruangan bernuansa temaram itu, akhirnya membayar rasa penasaran dan aku mencoba untuk membuka pintu secara perlahan. Terbukanya pintu, membuat kedua netraku tercengang. Bagaimana tidak, berbagai golongan darah di dalam beaker glass tersusun tak lagi rapi.
Ada satu ruangan yang sepertinya sangat rahasia, akan tetapi tertutup rapat dan tidak ada lampu. Bahkan penerangan di ruangan tersebut hanya menggunakan sebuah laser berwarna—bergerak ke sana dan ke mari.
Saking penasarannya, aku tetap melangkah menuju meja bundar dan menyentuh beaker glass. Batin masih berkutat pada penglihatan tak lazim itu. Tiba-tiba, sebuah kertas pun melayang dan terjatuh di atas lantai.
Kertas apa ini? Kok, sepertinya sangat asing, ya? tanyaku dalam hati.
Lalu, aku mengambil secarik kertas itu dan membolak-balikkannya secara bersamaan. Tepat di atas kop surat itu, terdapat sebuah tulisan yang sepertinya nama seseorang. Namun, aku tidaklah ahli dalam membaca tiap tulisan.
Mungkin para dokter bisa menjelaskan apa isi surat itu, karena tulisan seperti ditulis oleh seorang dokter. Dengan sangat cepat, aku melipat kertas itu dan memasukkan ke dalam kantong celana.
Aksi selanjutnya adalah memasuki ruangan yang tadinya terlihat sangat asing. Berjalan penuh hati-hati, serta pandanganku pun hanya sejurus pada pintu saja. Sesampainya di ambang pintu, ternyata ruangan itu tidak dikunci, melainkan hanya ditutup saja.
Mungkin dokter di sini lupa untuk mengunci ruangan ini, sehingga aku bisa membukanya dengan mudah.
Setelah bersenandika dalam hati, aku pun melangkah satu tapakkan ke depan. Namun, ketika aku mulai menjalankan aksi itu, sebuah sentuhan lembut mendarat di pundakku.
“Apa yang Anda lakukan di sini, Pak?” tanya seseorang di belakang badan.
Karena aku telah tertangkap basah, akhirnya aksi pun berhenti. Kutoleh orang tersebut dengan penuh hati-hati. “Dok, saya kira siapa.”
“Maaf, kalau boleh tahu, apa yang Anda lakukan di ruangan ini?” tanyanya bertubi-tubi.
“I-ini, Dok, tadi saya ... melihat ada kucing yang masuk. Iya, kucing.”
Mendengar ucapanku, si dokter tampak sangat tidak percaya, dia celingukan dan ingin memastikan perkataan itu. Tepat arloji menunjukkan tengah malam, tidak ada suara apa pun di dalam ruangan tersebut.
__ADS_1
“Sepertinya tidak ada kucing di sini, Pak.”
“Tapi tadi saya melihat kucing masuk sini, Dok, jadi saya kejar,” jawabku seakan meyakinkan.
“Mungkin bapak salah lihat kali,” katanya.
“Oh, mungkin saja, Dok.” Lalu aku menggaruk kepala tiga kali.
“Ya, sudah, kita keluar saja dari sini. Karena ruangan ini sangat rahasia, bisa-bisa Anda terkena sanksi bila ketahuan yang lainnya,” titah si dokter yang tampak sangat tampan itu.
“Baiklah, Dok, kalau begitu saya mohon keluar dulu.”
“Silakan,” jawabnya singkat.
Dengan sangat cepat, aku pun keluar dari ruangan tersebut dan menyentuh kening menggunakan tangan akan. Kemudian, kusentuh dada dengan getaran jantung tak lagi netral.
Syukur saja dokter itu tidak curiga. Kalau dia curiga, bisa mampus aku di dalam sana, batinku bersenandika.
Harapanku kali ini adalah, semoga esok akan lebih baik dan Refal—putraku bisa mengingat semua kenangannya bersamaku dulu.
...🍁🍁🍁...
Pagi telah tiba, semburat arunika menembus kaca dan menghadirkan kicauan burung-burung yang sedang bersenandung riang. Waktu sangat cepat berlalu, bahkan arloji pun seperti berlari untuk mengganti suasana menjadi lebih baik, atau bahkan menjadi lebih buruk.
Para perawat pun memasuki ruang inap seraya membawa sarapan pagi. Kala itu, aku membangkitkan badan seraya mengikuti wanita bertopi putih itu dari belakang badan.
Sampailah kami berdua di samping kanan, sementara Refal, sudah bangun dan dia hanya sekadar menatap keluar jendela kaca.
“Selamat pagi, Nak,” sapaku lembut.
Namun, Refal hanya membungkam mulutnya. Dia terpaku dan bergeming dengan tetesan air mata yang ternyata mengalir dari kedua bola matanya. Bahkan kehadiranku pun, dia tidaklah peduli.
Karena sangat merasa sedih, aku mendudukkan badan tepat di hadapannya. Anak yang paling aku sayangi itu, tak mau sedikitpun menatap wajahku.
__ADS_1
Dengan sangat lembut, aku mengelus rambutnya. “Nak.”
“Lepaskan! Jangan sentuh aku!” bentaknya seraya menepis tangan kanan ini.
“Refal, kamu kenapa, Nak?” tanyaku penuh selidik.
“Kenapa kau masih ada di sini!?”
“Sayang, ini ayah. Kamu lupa dengan ayah?”
“Ayah saya sudah mati, tolong jangan sebut-sebut lagi nama itu.” Mendengar ucapan yang memungkas hati, aku terpaku dan hanya mampu menadahkan wajah.
Tak disangka, air mataku keluar bersamaan dengan degup jantung yang tak lagi netral. Seumur hidup, tak pernah aku merasa sangat sesedih ini. Namun, pagi cerah bersama semburat arunika menembus melalui lubang ventilasi, mampu menghujam dan melemahkan gairah hidupku saat ini.
“Refal, ayo, sarapan pagi,” ajak perawat itu.
“Saya hanya mau makan kalau orang ini keluar dari ruangan saya!” Menggunakan tangan kanan, putra semata wayangku menunjuk kedua bola mata ini.
“Pak, bolehkah Anda meninggalkan kami berdua?” tanya perawat itu.
Karena aku tak mau melihat Refal bertambah sakit karena tidak mau makan, akhirnya aku pun memutuskan untuk membangkitkan badan seraya berjalan meninggalkannya.
Tepat di ambang pintu, kembali kutoleh wajah Refal dengan penuh kesedihan. Ternyata, dia masih menatapku dari atas dipan seraya membuang tatapan sinis.
Akhirnya aku keluar dari ruangan bersama deraian air mata. Kehidupan di rumah telah kacau, beberapa proyek pun telah kacau, sekarang hubunganku dengan anak sendiri telah kacau.
Sepertinya tujuan Tuhan hanya ingin membuat kacau hidupku. Tiba-tiba, ponselku berdering sangat keras. Panggilan itu datang dari Vanes dan Olivia—selaku karyawan di kantor. Pagi ini, aku tidak ingin diganggu oleh siapa pun. Sehingga, semua panggilan yang masuk, secara otomatis akan ditolak.
Pasien dari berbagai ruangan pun simpang siur di hadapanku. Mereka tampak sangat bahagia walau sedang sakit. Bahkan ada seorang ayah yang memeluk anaknya, bercanda riang, dan sangat tulus.
Tidak sepertiku saat ini. Bahkan anak kandungku pun, menolak kehadiranku mentah-mentah. Yang ada hanyalah deraian air mata sebagai penghibur manusia lemah.
Bersambung ...
__ADS_1