
🍁🍁🍁
Pagi hari telah tiba, semburat arunika memboyong indahnya suasana di pesisir ibukota. Hari ini, aku harus bersiap-siap untuk menjalankan rutinitasku seperti biasanya. Bekerja di sebuah kafe yang terletak di pinggir kota. Untuk mengawali segala sesuatunya, aku selalu panjatkan doa pada Tuhan agar segalanya dapat dilalui dengan mulus tanpa ada rintangan.
Demi mencukupi biaya hidup yang serba mahal, aku rela merangkap menjadi office girl, serta mencuci piring di tempat saat ini. Lelah memang, tetapi apa boleh buat, semua harus aku lakukan demi kelangsungan hidup dan masa depan putri semata wayangku.
Ketika aku keluar dari dalam kamar, langkah pun sedikit gontai untuk pergi pagi ini. Pasalnya, Anissa—anakku, dia ingin mengajak untuk berkumpul satu harian. Namun, aku telah berjanji untuk tidak bolos lagi bulan ini. Jika ketentuan itu tetap aku langgar, otomatis aku akan kehilangan pekerjaan.
Sesampainya di ambang pintu, aku menbuka perlahan pintu tersebut. Tiba-tiba, “Ma.”
Suara panggilan pun terdengar dari belakang badan, dari nada suaranya aku sangat kenal. Ya, siapa lagi kalau bukan anak semata wayangku. Karena telah tertangkap basah, aku menoleh sedikit ke arahnya, sementara ekspresi diri ini telah berubah.
“Eh, kamu kenapa, Sayang?” tanyaku dengan nada pura-pura tidak tahu.
“Mama mau pergi ke mana?” Anissa malah balik nanya.
“Mama mau pergi bekerja, Sayang. Bukankah, hal itu adalah rutinitas mama?”
“Tapi, Ma, bukankah Mama udah janji untuk tidak bekerja hari ini. Nissa ingin menghabiskan waktu bersama Mama,” jawabnya penuh harap.
“Nak, mama harus bekerja. Ini demi kehidupan kita, demi masa depan kamu juga. Kalau mama enggak kerja, bos di kafe bisa mengganti posisi mama.”
“Mama lebih sayang dengan pekerjaan Mama dibanding Nissa,” titahnya.
“Anak manis, jangan begitu. Apa yang dibilang Nyonyah benar, dia melakukan itu untuk kamu juga,” sambar Bi Ira menengahi.
“Tapi, Bi ....”
“Bibi mengerti. Pasti kamu ingin menghabiskan waktu bersama Nyonyah, kan? Tetapi masa depan kamu juga lebih penting daripada sekadar berdiam diri di rumah. Ingatlah, waktu adalah uang,” tambah Bi Ira.
“Ya, udah, deh. Tapi, Ma, selepas pulang bekerja, tolong daftarkan Nissa ke sekolah baru. Seperti yang Mama janjikan kemarin,” pintanya.
“Siap, Sayang. Kalau untuk sekolah kamu, apa yang enggak. Yang penting, kamu bagus-bagus belajarnya. Menjadi anak berprestasi lagi, dan tidak pacar-pacaran.”
“Iya, Ma, kalau mau bekerja silakan. Hati-hati,” jawab anak semata wayangku.
__ADS_1
Karena merasa sangat sedih, aku pun mencoba untuk berjalan menemui Anissa yang sedang berada di samping Bi Ira. Dengan lembut, aku memeluk serta mengecup keningnya.
“Mama sayang sama kamu, Nak,” ucapku spontan.
“Nissa juga sanya sama Mama,” jawabnya.
“Ya, udah, mama pergi dulu. Assalammualaikum ....”
“Wa’alaikumsallam ...,” jawab Bi Ira, dan Anissa serempak.
Kini kepergianku mendapatkan doa dari mereka, orang-orang yang aku sayangi. Pagi hari ini, rasanya aku lebih bersemangat dari hari sebelumnya. Tak berapa lama menunggu di tepian trotoar, sebuah angkutan umum pun melintas.
Dengan sangat cepat, aku memasuki angkutan umum untuk segera sampai di tempat bekerja. Membutuhkan waktu sekitar setengah jam, untuk sampai di lokasi. Sementara udara di dalam angkutan sangat panas, tidak seperti dulu yang jika ke mana-mana aku selalu membawa mobil pribadi.
Sungguh Tuhan maha adil, bahwa yang berada di atas tak selamanya akan menduduki posisi itu. Setelah beberapa menit di perjalanan, aku pun sampai di depan kafe. Tempat tersebut telah ramai pengunjung yang mampir. Padahal, sekarang masih sangat pagi sekali.
Setelah memberikan ongkos, aku pun pergi menuju kafe melalui pintu paling belakang. Kemudian, aku mengganti seragam seraya berjalan melintasi bartender. Sesampainya di bartender, aku pun menabrak tanpa sengaja orang yang sedang melintas.
Brug!
Dengan cepat, aku mengumpulkan buku menu dan menyusun kembali. Setelah selesai, kutatap wajah orang yang telah menabrakku tadi, karena dia membantu untuk menyusun beberapa buku menu tersebut.
Lirikan mata pemuda itu sangatlah misterius, tampan, juga memebuat jiwa ini merasa terpesona. Brewok yang menghias wajahnya, serta kumis tipis itu menggetarkan jantungku. Peristiwa ini sama ketika aku kenal dengan Revan di masa SMA. Namun, aku tidak mau terlalu cari perhatian atau apa pun.
“Ma-maaf,” ucapku terbata-bata.
“Tidak apa-apa,” jawabnya.
Lalu, aku pun meninggalkan pemuda yang sedari tadi tertegun menatap mantap wajahku. Dari jarak kejauhan, dia masih memantau dengan membuang senyum simpul. Akan tetapi, rasanya aku tak mau terlalu kenal dengan orang asing. Bagiku, laki-laki itu sama saja, hanya sekadar manis di depan. Selebihnya seperti hewan.
Setelah sampai di ambang pintu ruang toilet, aku bertemu dengan rekan kerja bernama—Risma.
“Mbak, kok, buru-buru gitu jalannya?” tanyanya.
“Ah, ini, aku lagi enggak konsen,” jawabku.
__ADS_1
“Enggak konsen kenapa?”
“Tadi ada orang asing yang nabrak, wajahnya misterius. Aku takut banget,” paparku dengan penuh kegelisahan.
“Mana, sih, orangnya?” tanyanya lagi.
Menggunakan tangan kanan, aku menunjuk posisi yang tadi telah menjadi tumpuan lelaki tersebut. Risma pun menatap ke arah tanganku secara saksama.
“Enggak ada siapa-siapa, Mbak. Kamu mimpi kali,” katanya memperjelas.
“Benar, Ris, aku tadi ditabrak di sana.”
“Ya, sudahlah, jangan dipikirkan. Lagian ini masih lagi, mana ada hantu pagi-pagi buta,” jelasnya seraya menggandeng tanganku.
Akhirnya kami berdua menuju halaman belakang kafe bersama-sama. Dengan sigap, Risma mengambil kain lap yang terlelak di atas pintu. Kami pun mulai membersihakan beberapa piring dan sendok. Serta meja-meja tamu yang sebentar lagi akan dibawa ke depan oleh pekerja laki-laki.
Tak berapa lama, Diki pun datang dengan senyum simpulnya. Anak yang masih terbilang muda itu selalu membuat aku salah tingkah. Bagaimana tidak, menurut pengakuan rekan yang lain, dia menyukaiku dan sangat membuat aku salah dalam berpikir.
“Hallo ... wanita-wanita cantik,” ucapnya spontan.
Tanpa memedulikan ucapan itu, aku tetap mengelap meja dengan bersih.
“Eh, Diki, ngapain kamu di sini?” tanya Risma.
“Ya, jelaslah,” jawabnya seraya menatap ke arahku sedikit.
Dari ekor netranya, membuat aku ingin muntah. Karena usia kamo terpaut sangat jauh, karena Diki berusia dengan anakku—Anissa.
“Ih, lagi kangen sama Mbak Marissa, toh,” ledek Risma.
Aku pun menyiku Risma dan berkata sedikit berbisik, “ih, kamu apa-apaan, sih.”
“Lihat, Mbak, udah ditungguin sama Mas Diki,” jawab Risma lagi.
Karena merasa sangat aneh, aku pun berjalan meninggalkan Risma dan Diki di posisinya. Aku tak ingin menberikan harapan apa pun untuk laki-laki. Apalagi, pada anak onces yang usianya jauh di bawahku.
__ADS_1
Bersambung ...