Pasung Tuan Muda

Pasung Tuan Muda
70. Lelaki Bijaksana Dan Berwibawa


__ADS_3

🍁🍁🍁


Pagi telah tiba, semburat arunika memboyong indahnya suasana di sekitar nusantara. Apalagi hari ini membuat aku begitu bergairah untuk menjalani aktivitas, entah kenapa terasa sangat menyenangkan dan ingin segera keluar dari dalam kamar. Dengan cepat, aku melompat dari atas dipan seraya berjalan gontai menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi, aku berjalan menuju cermin di pojok kamar.


Dari pantulan sosok diri, terlihat jelas wajah tampanku yang tiap hari menunjukkan karisma layaknya lelaki perkasa. Namun, sampai saat ini aku tidak begitu tertarik untuk mempersunting wanita setelah kejadian puluhan tahun lalu. Rasa traumatis yang teramat dalam mengakibatkan selera untuk mencintai telah musnah. Kini, aku hanya fokus mengurus anak semata wayangku yang saat ini duduk di bangku SMA.


Kendatipun jodoh itu akan datang menghampiri, aku berpikir keras untuk melupakan segala pengkhianatan wanita di masa lalu. Takutnya, setelah kesuksesan yang aku miliki hanya ada benalu yang ingin menguasainya. Sebisa mungkin aku berdoa pada Tuhan, agar senantiasa dijauhkan dengan orang-orang yang akan berbuat demikian.


Setelah puas memandang pantulan sosok diri, aku pun mengambil kacamata hitam di atas nakas, lalu aku memakainya dilengkapi dengan sisiran rambut dengan pangkas cepak ala anak muda era saat ini. Bersama dengan ponsel dan tas di tangan, aku keluar dari dalam kamar seraya berjalan sedikit kencang menuju ruang tamu.


Tak disangka, Ziva dan Anissa telah berada di sana lebih dulu. Sungguh pemandangan yang jarang aku lihat, karena Ziva adalah anak yang susah untuk bangun pagi. Namun, kali ini dia terlihat tampak cantik dengan mengikat rambutnya.


“Selamat pagi, Sayang ...,” sapaku seraya mencium kening anak semata wayangku.


“Selamat pagi, Pa. Oh, ya, kenapa pagi ini nampak berbeda?” tanyanya seraya mengernyitkan alis.


“Berbeda bagaimana?”


“Papa seperti lagi jatuh cinta gitu, ganteng banget pakai jas dan jam tangan. Biasa juga enggak pakai jam segala, mana parfumnya banyak banget lagi.”


“Emang papa selama ini enggak ganteng? Kan, papa emang ganteng,” ledekku seraya mendudukkan badan.


“Iyain aja, deh, biar bahagia. Oh, ya, Papa enggak makan dulu?” tanyanya lagi.


“Enggak, Sayang. Papa lagi ada rapat di kantor, jadi Papa temani kalian minum susu aja, ya,” ucapku memperjelas.


“Pah, kesehatan itu yang utama. Buat apa kalau kerja cape cari uang mulu tapi kesehatan tidak terjaga, ingat kata dokter. Papa harus memakan sedikit untuk mengganjal perut sebelum bekerja, ingatkan?” jelas anakku yang sekarang dapat berkata lebih dewasa.


“Iya, iya, papa makan roti panggang aja, deh.”


“Nah, gitu, dong.”


“Oh, ya, Nissa tambah lagi makannya.”


“I-iya, Om, saya udah tambah dua kali,” jawabnya malu-malu.

__ADS_1


“Ziva, berikan selai untuk Anissa itu,” suruhku.


“Oke, Pa ....”


Setelah selesai makan roti, aku pun membangkitkan badan seraya memperbaiki jas. Sementara kacamata telah menempel di wajah, ditambah parfum yang sengaja aku beli dari Negara Paris. Meskipun pagi ini begitu singkat pertemuan pada sang buah hati, akan tetapi puas sudah bercengkerama dengan mereka sebelum menjalani aktivitas.


“Sayang, papa pamit duluan, ya?”


“Iya, Pah, hati-hati bawa mobilnya.” Aku pun mengecup kening Ziva dengan lembut.


“Nissa, Om, pergi dulu.”


“Iya, Om, hati-hati.”


“Assalammualaikum ....”


“Wa’alaikumsallam ....”


Bersama sopir pribadi, aku pun keluar dari dalam rumah seraya berjalan menuju depan teras. Kami berdua keluar dari halaman rumah seraya bergerak menuju jalan lintas. Pagi ini tampak suasana di pasar tidak terlalu padat, sehingga kami bisa sampai ke kantor dengan cepat.


Di sepanjang perjalanan, aku menghabiskan waktu dengan menatap cermin dan memainkan ponsel. Tak habis-habisnya aku memandang wajah tampan yang menempel di diri ini. Setelah sekian menit di perjalanan, kami pun sampai di sebuah perusahaan yang sejak lama aku kelola.


Bersama tapakkan kaki yang sedikit kencang, aku memasuki kantor seraya bersandung. Tepat di ambang pintu, para karyawan pun tertegun menatap heran ke arahku. Entah apa yang mereka lakukan, karena hal seperti ini tak pernah aku dapati sebelumnya.


“Hallo, Rizal, kamu kenapa?” tanyaku pada karyawan yang menjabat sebagai asisten.


“Ah, Bos, maaf. Saya tidak sengaja, aduh ....”


“Enggak sengaja kenapa, kan, kamu enggak melakukan kesalahan.”


“Saya enggak sengaja melihat ketampanan, Bos,” pujinya dengan ucapan terbata-bata.


Bersama senyum simpul, aku buang menuju ke beberapa karyawan yang sedang bergeming tanpa pergerakan.


“Emang saya setampan itu, ya?” tanyaku.

__ADS_1


Mendengar ucapanku barusan, karyawati yang lalu lalang pun seperti meringis malu. Dangan berjalan seiringan, aku dan Rizal sama-sama menaiki anak tangga untuk menuju ruang kerja. Sementara Rizal, sedari tadi sangat sibuk dengan berkasnya.


“Zal, kalau berjalan yang fokus, bisa celaka nanti,” ucapku mengawali pembicaraan.


“Iya, Bos, pagi ini kita akan ada rapat pada perusahaan milik Pak Revan, mereka sangat menuntut kita bekerja sangat sempurna.”


“Ah, emang kita manusia setengah dewa yang bisa bekerja sempurna. Kalau memang mereka menuntut seperti itu, batalkan saja kerjasamanya.”


Mendengar ucapanku, Rizal menoleh sedikit. Kemudian dia kembali memperbaiki jas yang dia pakai.


“Di mana kita laksanakan rapat?” tanyaku.


“Di ruangan biasa, Bos, karyawan lain telah berkumpul. Pak Revan juga sudah berada di tempat,” jelasnya.


“Oke, saya akan ke sana sekarang. Kamu di depan saya,” kataku seraya mempersilakan.


Kami pun berjalan seiringan seraya membuka pintu ruang rapat. Setibanya di lokasi, seluruh tamu yang berhadir berdiri setelah mendapati kehadiranku. Dalam rapat kali ini, aku yang pimpin karena mengenai proyek baru.


Sementara beberapa petinggi dari perusahaan lain telah berkumpul dan mendengarkan apa yang menjadi pembahasan pagi ini. Di samping kanan, telah ada Revan sang pemilik perusahaan ternama di kota ini. Sementara di samping kiri, telah ada petinggi dari luar negeri.


Selepas berkata panjang kali lebar, aku berhenti sejenak seraya menarik napas.


“Apakah ada pertanyaan tentang proyek kali ini,” ucapku mengawali pembicaraan.


Tepat di sebelah kanan, Revan pun mengunjukkan tangannya. “Pak, maaf sebelumnya. Saya mau bertanya tentang bagi hasil berapa persen untuk ke perusahaan yang lainnya, terima kasih.”


“Tenang saja, Pak, untuk masalah bagi hasil telah kami sepakati bersama dalam pertemuan beberapa hari lalu. Emang, Anda tidak hadir?” tanyaku.


“Maaf, Pak, saya tidak dapat menghadiri rapat yang pertama,” jawabnya.


“Berarti Anda adalah pemimpin yang kurang disiplin dalam menjalani kerjasama, seharusnya bertanya dong pada bawahan yang menjadi perwakilan. Agar apa yang saya sampaikan tidak perlu ada pengulangan lagi di forum ini,” tukasku seraya mengernyitkan alis.


“Maaf, Pak, ini adalah kesalahan saya.”


“Iya, bagus kalau Anda mengakui kesalahan berarti masih normal. Asal jangan mau menang sendiri, Pak, karena bawahan kita adalah penentu maju atau mundurnya perusahaan.”

__ADS_1


Mendengar ucapanku, para karyawan pun tampak sangat senang. Karena aku adalah sosok pemimpin yang sangat menghargai jasa para pekerja, bahwa mereka tidaklah harus mendapat tekanan dalam bekerja.


Bersambung ...


__ADS_2