
Refal POV
Anissa, kok, sikapnya seperti itu? Enggak seperti biasa sewaktu gue kenal. Ya, sudahlah, mungkin saat ini ia lagi banyak masalah, batinku berkata.
Tak lama setelahnya, bel berbunyi sangat keras. Dari ambang penglihatan, tampak ramai siswa dan siswi memadati lokasi koridor lantai dua. Satu persatu para siswa menghambur masuk.
Aku pun mengikuti siswi terakhir yang sedari tadi menoleh ke arahku sedang duduk, entah apa maksudnya melakukan tatapan semringah seperti itu. Membuatku merasa sangat geli, bukan karena wajahnya saja, akan tetapi dandanannya juga enggak masa kini banget.
Setelah lantai dua sunyi, barulah aku masuk melalui pintu akses utama ruang kelas. Cewek dengan rambut berkepang dua mengikuti dari belakang, tepat di bangku tempat Anissa duduk, aku menoleh seketika. Sementara kedua kaki masih tetap berjalan dan duduk di kursi paling belakang.
Pagi ini adalah hari pertama aku memutuskan untuk pindah sekolah ke SMA Tunas Bangsa. Setelah sebelumnya pindah dari SMA Gemilang, karena aku telah melanggar peraturan sekolah. Ya, maklum saja anak laki-laki. Kalau enggak pernah melakukan kesalahan, berarti bukan pria sejati.
Beberapa menit setelahnya, aku mengambil buku pelajaran kedua. Matematika adalah sebuah palajaran yang paling menyebalkan dalam hidup ini, akan tetapi aku sudah berjanji untuk berubah menjadi anak yang giat belajar. Karena, kalau aku melakukan kesalahan sekali lagi, maka bokap akan mencabut semua fasilitas yang aku punya saat ini.
"Assalam' mualaikum ...," sapa pak guru dengan senyum semringah, ia juga mengedarkan sedikit tawa.
"Waalaikum' sallam ...," respons seisi ruangan.
"Pagi ini kita akan belajar seputar hitungan aljabar, dan saya akan menjelaskan beberapa materi untuk penyelesaian setiap soal-soal berikut ini."
Pak guru berkata-kata tanpa henti di depan kelas. Sementara aku, selalu memekik gelisah dan melirik tanpa henti arloji di tangan kiri. Waktu terasa sangat lama berganti, aku menanti setiap detik hingga menuju jam pulang.
Seketika pundak seperti ada yang menyentuh dari arah belakang. Dengan tangan kanan, aku mengusir orang jahil tersebut.
"Siapa, sih? Jangan sentuh gue! Anak tampan seantero enggak bakal tertarik dengan kamu," ucapku sambil memekik dengan sedikit merubah posisi duduk.
Akan tetapi, orang tersebut sepertinya tidak punya telinga. Ia tetap menyentuh pundakku tanpa henti, kali ini rasanya sedikit berbeda. Sentuhan itu terasa lumayan sedikit keras dan membuat emosi memuncak.
"Jangan ganggu gue! Lu enggak punya telinga, ya!" pekikku dengan mengubah posisi badan menjadi berdiri tegap, akan tetapi pandangan masih lurus ke arah depan.
Di kursi guru paling depan telah kosong. Lalu, kutoleh kanan dan kiri para siswa sedang menutup mulut mereka seraya meringis geli. Kedua alis mengernyit ke atas kening, salah seorang siswi berambut panjang di depan bangku—menatap ke arah belakang tubuhku.
Ia juga seperti tengah tertawa kekeh, aku pun menoleh ke belakang secara spontan. Setelah tubuh memutar tiga ratus enam puluh derajat, kedua bola mata mandapati penglihatan sangat menyeramkan. Bagaimana tidak, Pak Burhan sudah ada di sana sambil menenteng berkasnya berwarna hijau.
Ia pun mendelik, kemudian berkata. "Kamu lagi apa di belakang?"
__ADS_1
"Ah, ini, Pak. Anu ...," kugantung ucapan. Kemudian, aku menggaruk kepala tiga kali.
"Silahkan kamu kerjakan soal nomor satu," suruhnya, ia pun meletakkan spidol bertinta hitam di samping kiri badanku.
"Tapi, Pak ...."
"Enggak ada tapi-tapian, kerjakan atau kamu ...," Pak Burhan menggantung ucapan, ia pun berjalan dua langkah ke depan dan melipat kedua tangan.
"Atau apa, Pak?" timpalku, bertubi-tubi.
"Atau kamu akan cuci WC," lanjutnya dengan wajah penuh kemenangan.
Seketika para siswa dan siswi tertawa kekeh. Baru kali ini orang setampan aku menjadi bahan ledekkan, biasanya juga di sekolah lama, mereka takut dengan aku yang merupakan anak konglomerat tajir melintir seantero.
"Kamu kenapa masih berdiri?" tukas Pak Burhan, ia juga memukul meja sedikit keras.
Aku gemetar seketika. Tanpa membalas ucapannya, akhirnya aku maju dan menuju papan tulis. Memperhatikan secara seksama soal-soal terpajang sangat rapi, akan tetapi satu pun enggak ada yang aku pahami. Alhasil, badan hanya berdiri dan menatap mantap semua nomor berisikan soal-soal matematika.
"Apa kamu tidak bisa mengerjakan soal?" tanya pak guru. Tak berapa lama, pria berkumis tipis itu merampas spidol di tangan kananku dan berdiri menghadap depan.
"Anissa!" panggilnya singkat.
"Maju dan kerjakan soal nomor satu," ucap Pak Burhan.
Tanpa menunggu lama, dan tak membawa apa-apa, Anissa pun datang menghadap pak guru. Ia mengambil spidol bertinta hitam itu dari sodoran pria berkumis tebal itu.
"Kerjakan soal nomor satu," suruh Pak Burhan, kemudian Anissa mengangguk dua kali.
Cewek berjilbab putih itu berjalan menuju samping kananku, ia membuka tutup spidol dan menatap mantap menuju arah badan saat ini berpijak.
"Minggir lu." Aku pun menggeser posisi berdiri dua langkah, kemudian. "Soal seperti ini aja enggak bisa ngerjakan. Makanya kalau sekolah modal otak, jangan modal uang," lanjutnya dengan mencibir di samping kanan.
Dengan waktu beberapa menit saja, Anissa menyelesaikan kelima soal-soal tersulit di papan. Aku pun mendongk, 'kan kepala dan tercengang. Rupanya ia tak berubah sejak kami dulu duduk di sekolah dasar. Masih sangat pintar dan tetap cantik.
Anissa pun memberikan spidol itu pada pak guru, kemudian cewek berjilbab putih dengan arloji berwarna hitam—duduk di atas bangkunya.
__ADS_1
Pak Burhan pun menuju papan tulis tempat ketika Anissa mengerjakan soal, ia tak meragukan hasil dari jawaban-jawaban di sana. Tanpa berpikir panjang, guru matematika itu hanya memberikan ceklis dan nilai di papan.
"Jawaban yang sempurna," ucap pria paruh baya itu.
"Jelas, Anissa adalah aset terbaik sekolah ini, Pak. Jangankan lima soal, untuk seratus soal aja ia kerjakan dalam waktu beberapa menit." Dari ujung tempat duduk siswa laki-laki itu berkata.
Sementara dari depan, siswi perempuan juga angkat bicara. "Kalau Nisa enggak bisa matematika, mana mungkin ia juara olimpiade terus, Pak. Juara umum di sekolah ini juga ia yang pegang setiap tahunnya."
"Nah! Dari situ kalian harus mencontoh, jangan mau kalah bersaing dengan Nisa. Jangan kalian banggakan harta orang tua untuk berpoya-poya, tuntut pendidikan dengan serius, agar orang tua kalian bangga dengan apa yang kalian raih."
Selesai berkata, bel pulang berbunyi. Kala itu, Pak Burhan mempersilakanku untuk kembali ke tempat duduk. Dengan sigap, aku membereskan buku-buku pelajaran hingga tak ada yang tersisa.
Satu persatu para siswa dan siswi menghambur keluar, suasana yang tadinya ramai, berubah menjadi sangat sunyi. Aku adalah orang terakhir yang keluar pintu hari ini. Berjalan dengan sangat kencang, langkah kaki membawa tubuh menuju parkiran mobil.
Tepat di ujung penglihatan, Anissa sedang menunggu angkutan umum di depan halte. Membuka pintu mobil dengan tangan kanan, aku segera pergi meninggalkan halaman sekolah. Dari jendela kutoleh wajah cantik di balik jilbab putih itu. Tanpa malu-malu, aku menawarkannya untuk pulang bareng.
"Nisa!" panggilku, dan pemilik nama menoleh seketika.
"Iya, ada apa." Ia menjawab, akan tetapi membuang tatapan menuju kendaraan yang ramai melintas.
"Pulang bareng sama gue ... mau enggak?" ajakku sambil membuang senyum semringah.
"Gue masih bisa pulang sendiri."
"Yakin? Entar kalau enggak dapat taksi, bagaimana?"
"Ojek online juga ada," tolaknya lagi.
"Kalau ojek online enggak ada, bagaimana?"
"Gue naik pesawatlah, emang jalan menuju Roma cuma satu apa!" pekiknya. Tak berapa lama, taksi berwarna kuning berhenti, ia pun segera masuk dan meninggalkan aku di pinggir trotoar.
Gila, nih, cewek. Baru kali ini ada yang menolak ajakan gue, biasanya juga kalau udah diberikan tawaran bakal ngikut aja. Gue semakin penasaran sama Anissa, kalau akhirnya suatu saat nanti gue bisa mendapatkannya, betapa beruntungnya gue! batinku berkata.
Aku pun menginjak gas mobil sangat kencang. Tak berapa lama, sampailah aku di depan pintu rumah. Dari halaman depan tampak sebuah mobil terparkir sangat rapi. Mobil dengan plat cantik itu seperti kukenal.
__ADS_1
Turun dengan segera, kedua bola mata menatap plat nomor di belakang mobil itu. Ini mobil Miranda bukan, sih? Ngapain lagi ia datang ke sini, bosan banget gue lihat, tuh, cewek. Udah ditolak juga, celotehku dalam hati.
Bersambung ...